Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~75


__ADS_3

Merry langsung menghentikan langkahnya saat mendengar penuturan Artha tentang ayahnya.


"Kamu mengenal ayahku ?" tanyanya setelah berbalik badan lalu mendekati dosennya tersebut, akhirnya ada secercah harapan meski ia tak yakin pria itu mengetahui keberadaan sang ayah saat ini.


"Tentu saja." sahut Artha.


"Katakan sejauh mana kamu mengenal ayahku ?" Merry semakin penasaran.


"Aku akan mengatakan jika kamu mau menjadi kekasihku." sahut Artha, rupanya licik sekali pria itu.


"Aku sudah menikah dan kamu tahu itu kan." Merry menolak dengan halus, ia mencoba bersikap setenang mungkin agar bisa mengorek informasi dari pria itu.


"Kau mencintai William ?" tanya Artha kemudian.


"Tentu saja dia suamiku." sahut Merry dengan yakin.


"Meskipun dia ada hubungannya dengan pembantaian itu ?" ucap Artha yang langsung membuat Merry melotot.


"Jadi kamu tahu ada pembantaian di rumahku waktu itu ?" Merry nampak terkejut, ia semakin yakin jika pria di hadapannya ini tahu banyak tentang keluarganya maupun William.


Sedari kecil ayahnya selalu membatasi kebebasannya hingga membuatnya tidak mengenal siapa saja yang menjadi teman maupun rekan kerjanya.


"Sudah ku bilang aku tahu banyak, tapi aku tidak akan mengatakannya sebelum kamu mau menjadi kekasihku atau lebih tepatnya tinggalkan William dan kita bisa memulai hubungan baru." terang Artha seraya berjalan mendekati Merry lalu mengulurkan tangannya untuk menyelipkan anak rambut di telinga gadis itu tapi tangannya langsung di tepis dengan kasar.


"Jangan menyentuhku." hardik Merry seraya berjalan menjauh.


"Baiklah aku akan sabar menunggu saat itu tiba." Artha nampak tersenyum menyeringai dan itu membuat Merry langsung berlari keluar kelasnya.


Jantung gadis itu berdetak dengan cepat seiring napasnya yang naik turun karena berlari.


"Nona, anda baik-baik saja ?" tanya Dalle saat berpapasan dengan nyonya mudanya itu di lorong kampusnya.


"Aku baik-baik saja, kamu kenapa bisa ada di sini bukannya aku menyuruhmu untuk menungguku di gerbang saja ?" tegur Merry saat melihat pengawalnya itu.


"Maaf nyonya, ada tuan William sedang menunggu anda di luar." terang Dalle yang langsung membuat Merry terkejut.


"Apa ?" teriaknya.


"Benar nyonya, sebaiknya anda segera menemuinya." saran Dalle kemudian.

__ADS_1


"Hm." Merry segera melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari kampusnya tersebut.


Dari kejauhan ia melihat William sedang bersandar di badan mobilnya.


Pria itu nampak tampan dengan kemeja yang lengannya sengaja di gulung sebatas siku hingga memperlihatkan sebagian otot-otot tangannya yang kekar.


Serta kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya membuat pria itu semakin bertambah tampan dan tentu saja membuat Merry terpesona begitu juga dengan beberapa mahasiswi yang diam-diam memperhatikan William.


Ingin sekali Merry mencolok mata mereka satu persatu karena berani-beraninya mencuri pandang ke arah suaminya.


Namun saat mengingat perkataan Artha tadi membuat gadis itu langsung menyurutkan senyumnya.


Benarkah suaminya itu mengenal ayahnya? lalu apa hubungan pria itu dengan pembantaian ayahnya waktu itu? apa pria yang waktu itu sangat mirip dengan James itu memang benar-benar James? jadi apa pelaku sesungguhnya adalah suaminya sendiri?


Banyak sekali pertanyaan dalam benaknya dan sepertinya ia harus segera mencari tahu.


Ia tidak akan mempercayai perkataan Artha begitu saja sebelum mendapatkan bukti.


"Kau sangat terlambat honey, apa yang kau lakukan di dalam? jangan karena aku memberikan mu sedikit kebebasan hingga membuatmu lepas kendali." cerca William saat istrinya itu baru datang.


"Hanya 15 menit Will dan aku tidak lepas kendali, aku sedang mengerjakan tugasku di kelas." terang Merry.


"Tentu saja, kamu pikir aku ngapain ?" Merry sengaja bersungut-sungut untuk menghilangkan kegugupannya, jangan sampai suaminya itu curiga dan mencari tahu.


William nampak gemas saat melihat istrinya itu marah, bibirnya yang ranum dan kemerahan itu membuatnya ingin segera m3lum4tnya.


"Baiklah, kali ini ku ampuni. Ayo masuklah, kamu tidak ingin pulang jalan kaki kan ?" sarkas William lalu segera membuka pintu mobilnya dan Merry yang masih mencebikkan bibirnya nampak segera masuk dan di ikuti oleh pria itu.


Meski hubungan mereka telah membaik tapi Merry tetap saja merasa tunduk dengan seorang William yang selalu mendominasi dalam segala hal.


"Jalan James dan tulikan pendengaranmu !!" perintah William setelah menghempaskan bobot tubuhnya di kursinya.


Merry langsung melotot mendengar ucapan suaminya itu pada sang asisten namun setelahnya ia baru paham saat pria itu menarik pinggangnya mendekat lalu m3lum4t bibirnya dengan rakus.


William nampak menjelajahi bibir sang istri yang sedari tadi ia rindukan, seharian ini ia sama sekali tak konsentrasi bekerja.


Hasratnya untuk segera menyentuh sang istri begitu menggebu, bahkan saat meeting penting di kantornya tadi ia malah sibuk melihat video panasnya bersama gadis itu.


"Ahhh."

__ADS_1


Merry mendesis saat suaminya mengulum bibirnya lalu menyesapnya bergantian dan tangan pria itu pun nampak menulusup masuk ke dalam hoodie gadis itu lalu m3r3m4s gundukan kenyal di dalam sana hingga membuat istrinya itu menggeliat nikmat.


Saat Merry tersengal karena kehabisan napas, William baru mengakhiri ciumannya.


Dengan hanya berciuman saja pria itu sudah merasa sangat bergairah apalagi saat melihat istrinya itu mendesah saat ia memilin puncak bukit kembar gadis itu yang telah mengeras dengan sempurna dan sontak membuat hasratnya semakin terbakar.


"Will, apa kau tidak punya malu ?" Merry memukul dada suaminya pelan saat pria itu melepaskan tautan bibirnya.


Bukannya menanggapi William justru tersenyum kecil saat melihat bibir istrinya sedikit bengkak karena ulahnya.


"Bagaimana kuliahmu hari ini ?" William segera mengalihkan pembicaraannya, jika tidak ia bisa menerkam istrinya itu sekarang juga.


Tapi tentu saja pria itu takkan melakukannya mengingat saat ini ada James bersama mereka.


William kembali duduk bersandar di kursinya kemudian merapikan kemejanya yang sedikit berantakan lalu pandangannya lurus ke jalanan depannya.


"Seperti biasanya." sahut Merry seraya membenarkan pengait branya yang terlepas karena ulah suaminya itu tadi.


Beruntung ia pura-pura kehabisan napas jika tidak mungkin hoodienya pun sudah melayang dari tubuhnya karena setiap suaminya berciuman dengannya maka tangan pria itu selalu aktif menjelajahi setiap inci kulitnya.


"Sudah tidak perlu di perbaiki, sampai rumah juga tidak akan berguna lagi." ucap William dengan santai dan tentu saja membuat Merry ingin menenggelamkan dirinya di dasar laut.


Benar-benar tak tahu malu, apa pria itu menganggap James hanya sebuah patung?


Merry langsung membuang wajahnya ke jendela sampingnya, wajahnya nampak memerah karena malu.


Beruntung hari ini ia memakai celana jeans jika tidak mungkin akan menjadi sasaran pria itu juga.


Namun saat mengingat perkataan Artha di kelasnya tadi, Merry langsung mengumpulkan keberaniannya.


Ia harus segera memastikan apa suaminya itu mengenal Artha juga, karena dosennya itu sangat mengenal pria itu bahkan mungkin lebih dari kenal.


"Will, apa aku boleh bertanya sesuatu ?" ucapnya kemudian seraya menatap suaminya yang terlihat sibuk membalas pesan email di ponselnya.


"Katakan, apa kau ingin bertanya gaya apa yang akan kita pakai sesampainya di rumah nanti ?" sahut William yang sontak membuat Merry melotot dan kali ini bukan ia yang ingin menenggelamkan dirinya di dasar laut tapi suaminya itu yang memang harus di tenggelamkan karena otaknya terlalu mesum.


"Bukan itu." teriak Merry dengan kesal.


"Aku mau tahu apa kau kenal dengan seorang pria yang bernama Artha ?" imbuh Merry.

__ADS_1


William langsung memicing menatap istrinya itu dan tentu saja membuat Merry semakin yakin jika pria di hadapannya itu mengenal dosennya.


__ADS_2