
"Aku takkan melakukan apapun sebelum kalian menjelaskannya padaku." ucap Merry setelah kepergian William dari ruangan tersebut, rupanya tingkat kewasdaan wanita itu begitu tinggi.
Seorang wanita cantik berseragam dokter langsung tersenyum menanggapi. "Tuan William memerintahkan kami untuk melakukan sedikit perawatan pada tubuh anda nyonya." terangnya kemudian.
"Perawatan bagaimana? aku baik-baik saja dan aku merasa sangat sehat." ucap Merry dengan menohok.
"Maksud saya perawatan untuk kulit anda, oh ya kenalkan saya dokter kulit dan kecantikan di sini. Saya akan melakukan beberapa treatment agar anda lebih mempesona." terang dokter tersebut menjelaskan hingga membuat Merry mulai paham.
Merry akui sejak kepindahannya ke Indonesia beberapa tahun lalu dirinya memang tak terlalu peduli dengan penampilannya karena hari-harinya ia habiskan hanya untuk bekerja dan mengurus sang putra.
"Hm, baiklah." ucapnya kemudian, kali ini ia ingin mencoba mempercayai mantan suaminya itu toh setelah ia pikir-pikir tak ada satupun perbuatan pria itu yang menjerumuskannya.
Akhirnya Merry pasrah saat beberapa terapis dan dokter tersebut mulai melakukan tugasnya.
Sementara itu di tempat lain William nampak kembali ke kamar hotelnya, masih banyak yang harus ia kerjakan di tempat itu karena setelah ini ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama sang istri.
Saat pria itu sedang fokus dengan pekerjaannya tiba-tiba bel kamarnya berbunyi dan mau tak mau ia beranjak untuk melihat siapa yang datang.
"Kau ?" William langsung memicing saat melihat Celine sudah berdiri di depan pintunya dengan senyum menawannya, pakaiannya yang selalu terbuka membuat William enggan untuk menatapnya lebih lama.
"Selamat sore tuan William." sapa Celine kemudian.
"Apa yang kau lakukan di sini ?" tanya William to the point.
"Saya membawa beberapa foto yang anda minta tapi saya kurang tahu mana yang bagus jadi saya berinisiatif agar anda memilihnya sendiri dan ada beberapa dokumen titipan dari pusat untuk anda tanda tangani segera." terang Celine.
"Kau bisa menyerahkannya pada James." sahut William.
"Apa anda lupa jika tuan James sedang berada di pusat bahkan dokumen-dokumen ini juga beliau yang menitipkan." terang Celine lagi.
William nampak menghela napasnya sejenak, pikirannya terlalu fokus dengan sang istri hingga melupakan keberadaan James saat ini yang ia perintahkan untuk membawa putranya liburan selama ia menghabiskan waktunya bersama wanita itu.
"Baiklah, masuklah !!" perintahnya kemudian seraya membuka pintu kamarnya dengan lebar.
Celine yang mendapatkan kesempatan masuk ke dalam kamar pria itu nampak sangat senang, kemudian wanita itu segera melangkah masuk mengikuti pria itu dan tak lupa ia menutup pintunya kembali.
Celine nampak mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar yang sangat luas itu, selain sebagai tempat tidur kamar itu juga di sulap menjadi tempat kerja pria itu.
Ada sofa panjang juga di sana yang mungkin di pakai saat pria itu ingin bersantai, benar-benar lengkap dalam satu ruangan pikir Celine.
"Bawa sini !!" perintah William kemudian yang langsung membuat Celine sedikit terkejut karena kaget, rupanya wanita itu terlalu fokus mengamati isi ruangan tersebut hingga melupakan tujuan utamanya datang ke sini untuk apa atau mungkin ia mempunyai tujuan lain.
__ADS_1
"Baik tuan." Celine langsung melangkah mendekati William yang kini sudah kembali duduk di kursi kerjanya lalu meletakkan barang yang ia bawa di atas meja kerja pria itu.
"Sepertinya anda sangat lelah, tuan ?" ucap Celine seraya memperhatikan William yang sedang memeriksa pekerjaannya itu.
"Tidak juga." sahut William.
"Jika anda mau saya bisa memijit anda, pijatan di bahu dan leher mungkin bisa sedikit meredakan saraf anda yang tegang." tawar Celine yang berusaha menggoda pria itu.
"Tidak, terima kasih." sahut William lagi-lagi tanpa melihat wanita itu dan itu sukses membuat Celine kesal, karena tak hanya penolakan tapi juga pria itu seakan tak menganggapnya ada di sana.
"Sudah ku periksa semuanya dan kau bisa memberikannya pada sekretarisku." ucap William kemudian seraya mengembalikan berkas tersebut pada Celine.
"Lain kali kalau untuk urusan begini bukankah bisa memerintahkan managermu tanpa harus lelah-lelah menemuiku." sambungnya lagi menatap wanita cantik di depannya itu.
Celine nampak menghela napasnya sejenak. "Bisakah kita berbicara sebagai teman maksudku selain berhubungan dengan pekerjaan ?" ucapnya memberanikan diri.
"Katakan aku sedang tidak banyak waktu." sahut William.
"Will, sebenarnya sejak lama aku menyukaimu dan itu menjadi satu-satunya alasan kenapa aku menerima tawaran kerja darimu." ucap Celine yang langsung membuat William mengangkat wajahnya menatap wanita itu.
"Bisakah kita lebih dekat maksudku dari sekedar partner kerja, aku yakin aku bisa menjadi orang yang sangat menyenangkan bagimu." sambung Celine lagi.
"Aku sedang tidak berminat Cel, jika sudah tak ada urusan lagi kau bisa pergi dari sini." perintah William seraya beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu untuk wanita itu.
"Apa aku kurang cantik? atau kurang seksi? dan menurutku apa yang ada di mereka aku juga punya." Celine nampak membanggakan dirinya sendiri.
"Bahkan aku bisa memuaskan mu di ranjang jika kamu mau." imbuhnya seraya mengusap dada bidang William dari balik kemejanya itu.
"Mungkin kamu belum pernah mencoba dengan wanita Asia sepertiku tapi jika sudah mencobanya aku jamin kamu akan ketagihan." ucap Celine lagi dan kini tangannya semakin berani melepas satu kancing kemeja pria itu.
"Hentikan Cel !!" ucap William seraya mencekal pergelangan tangan wanita itu saat hendak membuka kancing lainnya.
"Jika masih ingin bekerja denganku jaga sikapmu." tegas William kemudian menghempaskan tangan Celine lalu segera membuka pintu kamarnya agar wanita itu segera keluar.
Celine yang merasa di tolak mentah-mentah nampak menghentakkan kakinya keluar dari sana, namun ia takkan menyerah. Semakin William menolaknya maka semakin membuatnya ingin mendapatkan pria itu.
Malam harinya....
Tak terasa malam pun telah tiba kini Merry telah selesai dengan rangkaian perawatan tubuhnya, ia merasa lebih segar setelah mendapatkan beberapa pijatan dan juga perawatan di tubuhnya.
"Anda sangat cantik nyonya." puji seorang wanita yang baru selesai mengoles makeup di wajah cantik Merry.
__ADS_1
"Terima kasih." sahut Merry.
"Semoga acara anda malam ini lancar." ucap wanita itu.
"Hm." Merry hanya mengangguk kecil, entah apa tujuan William membawanya kesini ia pun tak mengerti.
Dan melihat penampilannya saat ini ia seperti akan menghadiri sebuah pesta. Lalu pesta apa?
"Apa nona Vivian sudah selesai di make up ?" ucap seorang wanita saat menghubungi seseorang di telepon hingga membuyarkan lamunan Merry.
"Baiklah aku akan segera datang kesana, aku tidak ingin beliau kecewa di pesta pernikahannya." ucap wanita itu lagi lalu mengakhiri panggilannya.
"Vivian? menikah? apa itu artinya William melakukan ini semua padaku hanya untuk mengundangku datang ke pesta pernikahannya ?"
Tiba-tiba banyak sekali praduga di benak Merry dan bersamaan itu nampak seorang pria bertubuh tegap yang ia tahu sebagai bodyguard William datang.
"Nyonya Merry, tuan memerintahkan saya untuk menjemput anda." ucap pria itu yang langsung di angguki oleh Merry.
Sepanjang perjalanan Merry nampak terdiam, sungguh ia tak mengerti dengan jalan pikiran William yang sebelumnya ia merasa sangat di cintainya namun sesaat kemudian ia seakan di hempaskan dari kenyataan.
"Silakan nyonya." pria itu segera mempersilakan Merry untuk keluar setelah membuka pintu mobilnya.
Merry nampak menatap hotel bintang lima milik William yang ada di hadapannya itu, terlihat beberapa tamu undangan keluar masuk dari sana dan ia yakini di dalam sana memang benar-benar ada pesta besar.
Dengan langkah ragu wanita itu segera masuk ke dalam sana, nampak beberapa rekan kerjanya menatapnya dengan terkejut dan juga iri.
"Silakan nyonya, tuan William sudah menunggu anda di sana." ucap sang bodyguard seraya menunjuk ke arah pesta yang berada di ballroom hotel tersebut.
Deg!!
Baru beberapa langkah Merry nampak menghentikan langkahnya saat melihat Vivian yang berada tak jauh dari sana dengan gaun pengantinnya. Wanita itu terlihat sangat bahagia dan itu membuatnya tak kuasa untuk melanjutkan langkahnya.
Meski ia tak melihat keberadaan William di sana, namun membayangkan pria itu akan segera menikah dengan wanita lain membuatnya tak sanggup juga.
Akhirnya Merry memutuskan untuk segera pergi dari sana dan saat berbalik badan untuk pergi tiba-tiba ia tak sengaja menabrak seseorang.
Brukk
"Kau baik-baik saja ?"
.
__ADS_1
Sorry part yang kalian tunggu belum terealisasi, tadinya mau nulis part uwu tapi lupa caranya🤣🤣🤣