Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~165


__ADS_3

"Will, tadi pagi ada Anne berkunjung ke sini." ucap Merry malam itu saat mereka hendak beranjak tidur.


William yang sedang duduk di atas sofa tak jauh dari ranjang istrinya itu nampak menyimak ucapan wanita itu. "Benarkah, kenapa tadi pagi aku tidak bertemu ?" ucapnya menanggapi.


"Setelah kamu pergi dia baru datang, tadi Anne sempat mengeluh jika dia sangat kesepian di rumahnya. Bagaimana jika kamu menerimanya bekerja di kantor, percayalah Anne wanita yang sangat cerdas." tukas Merry sembari menatap suaminya itu.


"Tidak, itu tidak mungkin sayang." tolak William dan tentu saja itu membuat sang istri menatap curiga.


"Kenapa tidak bisa, apa kalian para lelaki ketakutan jika bekerja bersama istri ?" tudingnya to the point.


"Bukan seperti itu sayang, James sudah mempunyai segalanya masa dia tega membiarkan istrinya lelah bekerja." William langsung meralat ucapannya.


"Tapi dia benar-benar ingin bekerja, jadi tolong berikan dia kesempatan. Aku yakin kamu tidak akan kecewa, dia selalu mempunyai ide-ide di luar nalar yang pasti akan membuat perusahaanmu semakin maju. Seandainya dulu aku bisa lebih mendengarkan pendapatnya mungkin perusahaan ku juga tidak akan gulung tikar." mohon Merry dengan memuji kemampuan Anne.


"Baiklah, akan ku pikirkan." sahut William, sebenarnya ia memang sedang membutuhkan manager pemasaran karena manager yang lama baru saja ia pecat.


"Terima kasih." Merry terlihat sangat senang, akhirnya ia punya mata-mata untuk mengawasi suaminya itu. Sebenarnya ingin sekali ia memeluk pria itu dan bermanja di dada bidangnya namun baru saja memikirkan hal itu ia sudah mual duluan.


Kehamilannya kali ini benar-benar merepotkannya dan itu yang membuatnya selalu khawatir jika suaminya mencari kesenangan di luaran sana.


Beberapa hari kemudian....


Pagi itu Anne nampak bersiap dengan pakaian kantoran, rok span hitam selutut dan di padu dengan blazer. Akhirnya mulai hari ini ia bekerja di kantor William.


Semalam pria itu sendiri yang menghubunginya karena di kantornya mendadak membutuhkan seorang manager marketing.


Dirinya yang memang sangat pandai bergaul dan berbicara membuatnya merasa cocok dengan pekerjaan yang di haruskan bertemu dengan banyak orang itu.

__ADS_1


Dan apakah suaminya setuju? entahlah beberapa hari ini pria itu tak pulang ke rumahnya dan Mark sopir pribadinya itu mengatakan jika bosnya sedang meninjau proyek di luar kota.


"Selamat pagi tuan James." sapa beberapa karyawan menyambut kedatangan pria yang sudah beberapa hari ini tak hadir di kantornya tersebut.


"Pagi." ucap James dengan singkat seraya melangkahkan kakinya.


Sebenarnya selain William, James adalah pria kedua yang menjadi idola di kantor mereka. Sejak William menikah mereka beralih mengidolakan sosok nomor dua di kantornya tersebut, selain karena tampan pria itu juga sangat irit bicara hingga membuat banyak karyawan wanita di sana menjadi penasaran.


Meskipun akhir-akhir ini ada desas-desus pria itu sudah menikah tapi mereka takkan percaya sebelum pria itu sendiri yang mengklarifikasinya.


"Bagaimana, apa kita sudah mendapatkan manager marketing yang baru ?" tanya James saat sang HRD ikut menyambut kedatangannya.


"Sudah tuan." sahut seorang wanita bertubuh gempal.


"Bagus, apa dia seorang wanita ?" tanyanya lagi.


"Sesuai syarat-syarat yang anda minta tuan dan setelah kami interview beliau sangat cocok dengan posisi ini meski usianya sedikit muda yaitu 25 tahun."


Karena manager sebelumnya seorang pria yang pekerjaannya kurang memuaskan dan baru kali ini ia ingin mencoba merekrut seorang wanita yang tentunya bukan wanita sembarangan, karena ia mempunyai standar tinggi dalam merekrut karyawan.


Namun melihat dari usianya yang tergolong masih muda, James kurang yakin wanita itu bisa menjadi seorang manager yang mampu memimpin salah satu departemen dengan membawahi puluhan karyawan.


"Apa dia sudah datang ?" tanyanya kemudian, lebih baik ia harus mengetes kemampuan wanita itu sendiri.


"Belum tuan, sepertinya sedikit terlambat." HRD tersebut nampak tak enak hati setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, 10 menit sudah berlalu namun karyawan baru itu belum kunjung datang.


"Bagaimana kau bilang dia kompeten jika di hari pertamanya saja sudah terlambat ?" hardik James yang sedikit pun tak mentolerin sebuah kesalahan, pria itu selalu datang ke kantornya tepat waktu agar di tiru oleh semua karyawannya.

__ADS_1


"Sebentar tuan, saya hubungi dahulu." sang HRD segera mengeluarkan ponselnya dan bersamaan itu nampak seorang wanita berlari mendekat.


"Itu dia wanita itu tuan." HRD yang biasa di panggil nyonya Darrien itu segera melangkah mendekati seorang wanita yang sedang berlari ke arahnya.


"Maaf nyonya Darrien saya terlambat." ucap wanita itu yang tak lain adalah Anne, Anne sengaja tak meminta Mark untuk mengantarnya agar pria itu tak mencari masalah di hari pertamanya bekerja hingga membuatnya harus naik kereta api dan berakhir terlambat sampai kantornya.


"Bukankah kemarin sudah saya peringatkan kamu harus tiba di kantor 10 menit sebelum kantor buka dan kamu lihat jam berapa sekarang ?" Nyonya Darrien menunjukkan jam di pergelangan tangannya pada wanita itu.


"Maafkan saya nyonya, saya janji mulai besok akan tepat waktu dan untuk mengganti waktu keterlambatan saya akan pulang sedikit lambat hari ini." Anne mencoba meyakinkan, jangan sampai di hari pertamanya bekerja ia sudah di pecat.


"Tolong jangan pecat saya, bukankah anda belum melihat bagaimana kinerja saya." imbuhnya lagi dengan nada memohon.


Sementara nyonya Darrien memandangnya dengan pandangan remeh, seakan tak mempercayai wanita muda di hadapannya itu bisa bekerja.


"Semua keputusan ada di tangan wakil direktur, jadi silakan menghadap beliau sendiri." wanita bertubuh gempal itu langsung menggeser tubuhnya hingga membuat Anne bisa melihat siapa wakil direktur tersebut.


"Bukannya dia sedang berada di luar kota, gawat jika pria datar itu langsung memecatku."


Anne langsung menelan ludahnya saat melihat suaminya yang terlihat berdiri di belakang HRD tersebut, rupanya sedari tadi ia hanya fokus pada wanita itu hingga membuatnya tak menyadari keberadaan sang suami.


"Tuan William, tolong aku." Anne nampak mengedarkan pandangannya mencari sosok penyelamat dirinya.


"Tuan James, ini karyawan baru yang akan menempati manager pemasaran. Sebenarnya saya kurang yakin dengan kemampuannya selain pandai bicara, namun beliau membawa surat rekomendasi dari tuan William. Entah ada hubungan apa wanita itu dengan beliau, sepertinya anda lebih tahu." terang nyonya Darrien dengan pandangan curiga ke arah Anne, seakan wanita itu telah menjual dirinya untuk mendapatkan pekerjaan.


James menatap Anne dari ujung kaki hingga rambut, lalu pria itu baru membuka suaranya. "Ikut ke ruangan saya !!" perintahnya dengan dingin, lalu berbalik badan dan melangkah pergi.


Anne masih berdiri di tempatnya, perintah pria itu seperti sebuah eksekusi yang membuat tubuhnya langsung menegang.

__ADS_1


"Kamu tunggu apalagi cepat ikuti tuan James dan jangan terlalu percaya diri jika kamu akan di terima bekerja di sini, tuan James mempunyai standar tinggi dalam merekrut karyawan meski tuan William merekomendasikan mu sekalipun." sinis nyonya Darrien.


"Baik nyonya." Anne segera berlari kecil mengikuti James, semoga pria itu tak menyulitkannya.


__ADS_2