
"Anak baik, nungguin mommy pulang ya." ucap Merry seraya membawa Ariel ke dalam gendongannya, kemudian segera mengajaknya pergi dari sana.
Sedangkan James yang sedari tadi memperhatikan Merry nampak melihat wanita itu melangkah masuk ke dalam lift.
Wajahnya yang terhalang oleh Ariel membuat James tak bisa melihatnya dengan jelas.
"Ternyata itu ibunya." gumam James lalu pandangannya tak sengaja bersitatap dengan wanita yang tadi menumpahkan kopi di kemejanya.
"Sial." gumam James lagi saat wanita itu menatapnya dengan angkuh, baru kali ini ia bertemu sosok wanita seperti itu.
Biasanya wanita di luaran sana jika bertemu dengannya akan takut atau justru melemparkan tubuhnya dengan sukarela ke ranjangnya.
Namun tidak dengan wanita itu yang nampak tidak menyukainya dan bahkan seolah sedang menantangnya dengan terang-terangan.
"Tuan James, senang bertemu dengan anda." ucap tuan Weslyn yang membuat James langsung menoleh ke arahnya.
"Silakan duduk !!" James mempersilakan direktur utama cabang perusahaannya itu untuk duduk.
"Terima kasih, tuan. Saya pribadi memohon maaf tidak bisa menjemput anda di bandara karena ada beberapa hal penting yang harus saya kerjakan." ujar tuan Weslyn mulai membuka pembicaraan.
"Masalah perusahaan ?" tanya James saat melihat wajah pias tuan Weslyn, sepertinya pria itu sedang menghadapi masalah besar.
"Benar tuan, wanita itu benar-benar cari masalah." sahut Weslyn dengan geram.
"Wanita ?" James nampak mengernyit tak mengerti.
"CEO PT Bumi Nirwana itu telah membuat ulah, proyek besar yang harusnya kami menangkan tiba-tiba saja wanita itu yang mendapatkannya." sahut Weslyn.
"Bukankah itu hal biasa dalam berbisnis ?" James menanggapi dengan santai, pria itu seakan tak terusik saat anak buahnya gagal mendapatkan sebuah proyek.
"Saya tahu tuan, tapi itu proyek besar yang akan membuat nama perusahaan ini semakin di kenal. Saya yakin janda itu pasti sudah menjual tubuhnya untuk mendapatkan proyek itu." geram tuan Weslyn.
"Janda ?" lagi-lagi James tak mengerti dengan penuturan pria di depannya itu.
"Benar tuan, wanita itu seorang janda muda beranak satu dan kemampuannya berbisnis pun masih di bawah rata-rata." sahut tuan Weslyn dengan nada merendahkan.
"Ck, lawanmu hanya seorang wanita tuan Weslyn jadi tak seharusnya kau kalang kabut seperti ini." cibir James.
"Tapi wanita itu sangat pemberani tuan, bahkan beberapa hari lalu sempat datang ke kantor mengancam saya karena sebelumnya beberapa investor yang ingin kerja sama dengannya beralih ke perusahaan kita." terang tuan Weslyn.
"Benarkah? sepertinya sangat menarik." ucap James dengan wajah penasarannya.
__ADS_1
"Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan tuan." Tuan Weslyn nampak pasrah.
"Apa itu perusahaan besar ?" tanya James kemudian.
"Hanya sebuah perusahaan kecil dari Indonesia tuan, namun sangat berani sekali menyaingi perusahaan kita." sahut Tuan Weslyn.
"Indonesia." gumam James, sejenak pikirannya melayang ke mantan istri tuannya yang berasal dari negara itu juga.
"Jadi saya harus bagaimana tuan ?" ucap tuan Weslyn lagi.
"Hanya perusahaan kecilkan ?" tanya James yang langsung di angguki oleh Tuan Weslyn.
"Hancurkan !!" perintah James kemudian.
"Jangan berikan dia ruang di sini, pengaruhi semua investor untuk menolak kerja sama dengan begitu dia akan menyerah dengan sendirinya. Karena saya yakin perusahaan itu hanya mengandalkan investor luar dan tidak mampu berdiri sendiri." tegas James kemudian.
"Baik tuan, terima kasih atas sarannya." Tuan Weslyn seperti mendapatkan angin segar berkat saran dari kaki tangan boss besarnya itu.
Sementara itu di tempat lain Merry yang sedang berada di kamarnya nampak sibuk bekerja dengan sang asisten.
"Ibu serius tidak akan mengikuti saran tuan Alan untuk datang ke acara peresmian kantor WS Corp ?" tanya Anne di sela mereka bekerja.
"Lalu apa rencana ibu untuk menggaet investor? kita tidak mungkin mengerjakannya sendiri untuk proyek sebesar itu." tanya Anne.
"Kita pasti bisa An, aku juga tidak ingin mengecewakan tuan Alan karena sudah mempercayai perusahaan kita untuk mengerjakan proyeknya padahal masih banyak perusahaan lain yang mampu melakukannya. Mungkin aku akan mendatangi satu persatu investor untuk ku ajak kerja sama, tolong siapkan saja proposalnya." terang Merry.
"Baik bu, saya percaya anda pasti bisa melakukannya." Anne berusaha menyemangati.
"Hm, terima kasih." Merry merasa bersyukur mempunyai asisten seperti Anne.
Sore harinya Ariel yang baru bangun tidur sore nampak di bawa oleh pengasuhnya jalan-jalan di lobby hotel setelah mendapatkan persetujuan dari sang ibu tentunya.
Bocah kecil itu terlihat sedang duduk di Cafe dan makan es krim dengan tenang.
Sesekali ia melihat sekelilingnya dan langsung terkejut saat melihat seorang pria yang duduk tak jauh darinya itu.
Pria yang tadi siang tak sengaja ia tabrak saat berada di lorong toilet.
"Kenapa melihat saya seperti itu ?" tegur James.
"Puna mata kan utuk meyihat, Paman." sahut Ariel tanpa rasa takut.
__ADS_1
"Maaf tuan, anak majikan saya tidak bermaksud menyinggung anda." pengasuhnya Ariel langsung meminta maaf pada James atas perbuatan anak asuhnya itu.
"Tidak apa-apa." sahut James seraya beranjak dari duduknya lalu berpindah duduk di depan Ariel, rupanya pria itu terlihat penasaran dengan bocah kecil tersebut.
"Sedang apa ?" tanya James kemudian.
"Mandi." sahut Ariel dengan mulut penuh es krim.
"Mandi? bukankah kamu sedang makan ?" James nampak menaikkan sebelah alisnya menatap Ariel.
"Itu Paman udah tahu, telus napa nanya agi." sahut Ariel yang langsung membuat James ingin sekali menggetok kepala bocah kecil tersebut.
"Baiklah kau anak lelaki yang sangat pandai jadi boleh Paman tahu siapa namamu ?" tanya James kemudian, rupanya pria itu belum menyerah menghadapi bocah kecil itu.
Bukannya menjawab Ariel justru menatap intens pria dewasa di hadapannya tersebut.
"Iya, siapa nama kamu ?" ulang James lagi saat Ariel tak segera menjawabnya.
"Paman nanya ?" ucap Ariel dengan wajah polosnya yang langsung membuat James benar-benar ingin menggetoknya sekarang juga.
"Nggak, lagi makan saya." sahut James lalu segera beranjak dari duduknya, sebelum emosinya memuncak karena di permainkan oleh bocah tersebut.
James nampak melangkah menuju lift seraya mengumpat terus menerus, baru kali ini ia di permainkan oleh anak kecil.
"Sial." gumamnya dan bersamaan itu ponselnya berdering nyaring.
"Ya, tuan." jawabnya kemudian.
"Kau belum mengabariku James, bagaimana perkembangan cabang perusahaan di sana? saya harap sesuai perkataan Weslyn." ujar William dari ujung telepon.
"Sepertinya kurang baik tuan, tuan Weslyn baru saja kehilangan proyek besarnya hanya karena kalah melawan seorang wanita." terang James.
"Benarkah? itu sangat memalukan James, kamu tahu sendirikan saya tidak menyukai kekalahan apalagi hanya melawan seorang wanita."
"Baik tuan, saya mengerti. Saya akan mengurus semuanya." sahut James memastikan.
"Baiklah aku percaya padamu James, kinerjamu tak pernah gagal selama ini. Jika wanita itu melawan hancurkan saja." perintah William kemudian.
"Baik tuan." sahut James lalu segera mengakhiri panggilannya.
Kemudian pria itu nampak menghubungi seseorang. "Buatkan saya janji untuk bertemu dengan tuan Alan." perintahnya pada seseorang di ujung telepon.
__ADS_1