Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~43


__ADS_3

"Segera ganti baju, nanti kamu juga tahu !!" ujar William saat istrinya itu mengikuti langkahnya.


"Katakan kamu akan membawaku menemui mommy dan Daddy kan ?" desak Merry ingin tahu.


"Kenapa masih di sini, apa kamu ingin melihat ku berganti pakaian hm ?" William tersenyum miring, pria itu nampak melepaskan celananya hingga membuat Merry langsung berbalik badan.


"Dasar mesum." umpat Merry lalu segera berlalu pergi menuju walk in closet di mana semua pakaiannya di simpan di sana.


William nampak terkekeh melihat kepergian istrinya itu, kemudian ia segera berganti pakaian.


Beberapa saat kemudian Merry terlihat cantik dengan dress selutut melekat di tubuhnya.


"Apa kamu tahu, Daddy dan Mommy sangat suka jika aku berpenampilan feminim seperti sekarang." ucapnya seraya mendekati suaminya yang nampak duduk di sofa menunggunya.


Pria itu terlihat tampan dengan celana jeans serta hoodie hitam menempel di tubuh kekarnya.


Melihat penampilan sang istri bukannya kagum William justru menatap tajam gadis itu.


"Siapa yang menyuruhmu berpakaian seperti itu ?" ucapnya kemudian.


"Aku sendiri, bagus kan ?" sahut Merry dengan polos.


"Ganti atau kita tidak usah pergi." sinis William yang langsung membuat Merry mencebikkan bibirnya.


"Baiklah." Merry nampak melangkah dengan lemas, kemudian gadis itu mengganti pakaian sesuai keinginan suaminya.


Sebuah hoodie dan celana jeans, pakaian wajib saat dirinya pergi kuliah.


"Jangan protes lagi." ucapnya setelah mendekati suaminya itu.


William nampak menatap penampilan istrinya lalu pria itu segera beranjak dari duduknya.


"Pakai ini !!" perintahnya seraya memberikan sebuah topi dan masker pada gadis itu.


"Untuk apa ?" Merry nampak tak mengerti.


"Tugasmu cukup pakai itu honey, bukan untuk membuat pertanyaan." cibir William.


Merry nampak mencebik namun gadis itu tetap memakai topi dan masker tersebut.


Saat melihat William yang juga memakai masker dan topi yang sama membuat gadis itu sedikit terperanjat.


Sekilas bayangan masa lalu terlintas di benaknya, di mana waktu itu seorang pria telah menolongnya saat jatuh dari sebuah wahana hingga membuatnya memiliki trauma terhadap ketinggian.


"Apa saya terlalu tampan hingga membuatmu terpesona ?" cibir William saat istrinya itu menatapnya tanpa berkedip.

__ADS_1


"Apaan sih." gerutu Merry lalu segera berlalu pergi.


Sedangkan William yang melangkah di belakangnya nampak tersenyum kecil.


Beberapa saat kemudian mobil yang di kemudikan oleh James nampak melaju kencang dan berhenti di sebuah taman hiburan dengan berbagai macam wahana di sana.


"Mau ngapain kesini? aku sedang tidak ingin makan es krim." ucap Merry saat melihat taman hiburan di depannya itu.


"Saya tidak mengajakmu makan es krim, ayo turunlah !!" perintah William saat istrinya enggan untuk turun dari mobilnya.


"Lalu mau ngapain ?" Merry menatap curiga suaminya itu.


"Turun sendiri atau ku gendong !!" ancam William yang langsung membuat Merry menelan ludahnya, lalu gadis itu segera turun dari mobilnya.


William nampak menggenggam erat tangan istrinya itu lantas membawanya masuk ke dalam taman hiburan tersebut.


"Aku tidak mau." Merry mulai berkeringat dingin saat James membawakan sepasang tiket kereta gantung untuknya dan juga sang suami.


"Naik kereta itu takkan membuatmu mati." sarkas William.


"Aku tidak mau, pokoknya aku tidak mau." tolak Merry mulai histeris.


Bayangan masa lalunya yang terjun bebas dari wahana itu membuatnya benar-benar trauma meski pada akhirnya dulu ia di selamatkan oleh seseorang.


William nampak memegang erat bahu istrinya lalu menundukkan wajahnya agar sejajar dengan wanita itu.


"Tapi aku takut." Merry nampak terisak.


"Apa nyonya Merry Smith yang katanya super women ini akhirnya kalah dengan wahana itu. Hm? bukankah sebuah trauma harus di lawan bukan di biarkan begitu aja ?" cibir William dengan tersenyum miring.


Merry nampak terdiam tak peduli dengan cibiran pria itu.


"Jadi apa selamanya kamu akan merasa kalah? bagaimana jika suatu saat anak-anakmu menginginkan ibunya untuk menemaninya menaiki wahana itu, apa kamu akan menjadi seorang ibu yang pengecut dan mengecewakan mereka ?" terang William yang langsung membuat Merry mengangkat kepalanya menatap pria itu lalu menggelengkan kepalanya.


"Genggam tangan saya dan yakinlah semua akan baik-baik saja." imbuh William seraya mengulurkan telapak tangannya di hadapan wanita itu.


Merry nampak ragu namun ucapan pria itu ada benarnya juga, lalu gadis itu menggenggam erat tangan suaminya.


Setelah itu William segera mengajaknya memasuki area wahana tersebut.


Merry terus saja menggenggam tangan pria itu saat wahana mulai berjalan.


"Aku takut, aku takut." teriaknya seraya memejamkan matanya dengan rapat, genggemannya pada tangan William pun semakin kencang.


"Aku takut, tolooooong." Merry berteriak saat kereta gantung berjalan semakin naik ke atas.

__ADS_1


Saat berada di ketinggian paling atas tiba-tiba wahana itu berhenti hingga membuat Merry semakin ketakutan.


"Will tolong bawa aku pergi dari sini, aku takut." mohon Merry sembari terisak.


William yang melihat wajah pucat istrinya nampak iba kemudian pria itu memegang rahang wanita itu lalu m3lum4t bibir tipisnya dengan lembut.


William terus saja mencium wanita itu meski wahana mulai berjalan kembali.


Merry yang mulai merasa nyaman nampak membalas ciuman sang suami hingga wanita itu melupakan sejenak ketakutannya.


"Buka matamu honey, lihatlah sangat indah bukan !!" William menunjuk sebuah pemandangan bukit yang terlihat indah dari atas ketinggian saat baru melepaskan panggutannya.


"Tak sebanding dengan rasa takutmu bukan ?" imbuhnya lagi.


Merry mulai membuka matanya perlahan, sejenak gadis itu nampak terpanah dengan pemandangan di depannya itu.


Beberapa bukit dengan padang savana layaknya bukit teletabis yang ia tonton waktu kecil.


"Sangat indah." ucapnya dengan kagum.


"Apa masih takut, hm ?" tanya William kemudian.


"Sedikit." sahutnya dengan mengulas senyum tipisnya, gadis itu terlihat lebih baik saat menikmati pemandangan dari atas kereta gantung tersebut.


Beberapa saat kemudian kereta mulai turun dan setelah itu mereka segera meninggalkan tempat tersebut.


"Senang, hm ?" ucap William saat melihat istrinya menikmati es krim dalam perjalanan pulang.


"Tadi aku seperti akan mati." sahut Merry.


"Selagi ada aku itu tidak akan terjadi, honey. Kau belum mengandung anakku jadi mana mungkin mati secepat itu." sahut William lalu mengusap lelehan es krim di sudut bibir gadis itu lantas memakan sisa es krim di jarinya itu.


Merry yang melihat itu nampak menelan ludahnya. "Apa kamu mau ?" tawarnya dengan mulut penuh es krim.


William yang merasa gemas langsung m3lum4t bibir wanita itu hingga kini es krim tersebut sudah pindah di mulutnya.


"Rasanya lebih enak." ucapnya kemudian yang langsung membuat Merry melotot menatapnya.


"Dasar modus." gerutunya dengan kesal.


Sedangkan William nampak terkekeh kecil, lalu pandangannya tak sengaja melihat mobil Natalie yang terparkir di luar gerbang rumahnya.


Setelah masuk ke dalam gerbangnya, William segera mengajak istrinya itu turun lalu membawanya masuk ke dalam mansionnya.


"Nona, mulai hari ini anda di larang datang ke Mansion ini lagi." hadang James saat Natalie memaksa minta di bukakan gerbang untuknya.

__ADS_1


"Siapa kamu berani sekali memerintahku, ingat aku ini calon istri William dan saat itu terjadi kamu orang pertama yang akan ku pecat." hardik Natalie dengan menatap tajam pria itu.


__ADS_2