
"A-apa yang ingin kau lakukan ?" tanya Anne saat melihat suaminya itu mulai melepaskan dasinya lalu kancing kemejanya satu persatu hingga kini dada liat pria itu terpampang jelas di hadapannya.
Anne bergegas memundurkan tubuhnya ke belakang seiring pria itu naik ke atas ranjang dengan bertelanjang dada.
"Tentu saja ingin mengajarimu bagaimana menjadi istri yang patuh." sahut James dengan tersenyum miring dan itu membuat Anne semakin ketakutan, jangan sampai malam itu kembali terjadi.
"Kamu sedang becandakan? kita tidak bisa melakukan itu jika tak ada cinta." Anne langsung meronta saat suaminya tiba-tiba mencekal kedua tangannya lalu menariknya ke atas kepalanya dan mengikatnya dengan sebuah dasi yang tadinya pria itu pakai.
"Jangan banyak bergerak jika tak ingin tanganmu patah." sinis James dengan tak berperasaan.
"Kau benar-benar kejam !!" teriak Anne saat pria itu mulai melepaskan pakaian kerjanya, tangannya yang terikat membuatnya hanya bisa pasrah ketika satu persatu kain yang menempel di tubuhnya di lepas oleh suaminya itu dan di lemparkannya begitu saja ke sembarang arah.
"Kejam ?" James langsung menyeringai saat mendengar umpatan wanita itu.
"Iya kejam, karena tega memperkosa istrimu sendiri." rutuk Anne dengan berapi-api.
"Bukankah lebih kejam seorang istri karena menolak melayani suaminya, hm ?" sambungnya seraya melempar kain terakhir berbentuk segitiga yang menutupi area sensitif wanita itu.
Melihat itu Anne segera memalingkan wajahnya, pipinya memerah karena amarah bercampur malu.
"Beda cerita jika suami istri yang saling mencintai." ucapnya lirih, nampak butiran kristal mulai luruh dari sudut matanya.
Namun James yang sudah di kuasai oleh hasratnya mengabaikan ucapan wanita itu, pandangannya nampak berkabut saat melihat tubuh polos di hadapannya itu, tubuh yang pernah ia rasakan sekali dan sejak saat itu tidur malamnya sedikit pun tak pernah tenang.
Tak peduli bagaimana penolakan wanita itu, James langsung m3lum4t bibirnya. Namun pria itu tak ingin terburu-buru melakukannya apalagi berlaku kasar, ia ingin di setiap sentuhannya akan meninggalkan kenikmatan bagi wanita itu.
Entah ada apa dengan dirinya, James pun tak mengerti. Ia selalu kesulitan mengendalikan dirinya ketika bersama istrinya itu.
Awalnya ia hanya ingin menjadikan wanita itu sebagai pelampiasan atas amarahnya terhadap Grace yang diam-diam menghianatinya. Namun semakin ia menyentuhnya ia merasa semakin candu hingga membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Akhir-akhir ini ia pun berusaha menjauhinya, namun melihat wanita itu bersama pria lain tiba-tiba dadanya bergemuruh.
James sama sekali tak mengerti dengan perasaannya, apa dia menyukai wanita itu? atau hanya ingin membalas dendam pada Grace karena telah menghianatinya hingga ia juga berhianat.
Setelah berhasil melakukan penyatuannya, pria itu mulai menggerakkan pinggulnya dengan perlahan seraya menatap banyaknya tanda merah hasil perbuatannya di setiap jengkal tubuh wanitanya itu.
Ada perasaan puas saat ia berhasil memperdaya wanita itu di bawah kungkungannya, di setiap d3s4h4n yang keluar dari bibir mungil istrinya adalah suatu kebanggaan tersendiri baginya.
__ADS_1
Tak ingin menyakiti wanita itu lebih jauh James segera melepaskan ikatan di kedua tangannya, ia ingin merasakan tangan itu merengkuhnya di setiap rasa nikmat yang ia berikan.
Hingga d3s4h4n panjang dari keduanya menandakan mereka telah sampai pada puncaknya dan lagi-lagi James membuang seluruh cairan percintaannya di dalam rahim wanita itu.
Nafas keduanya nampak terengah-engah, peluh keringat pun membasahi tubuh mereka. James segera merebahkan dirinya di samping istrinya itu, membiarkannya terlelap kelelahan akibat gempurannya yang bertubi-tubi.
Pria itu terlihat kurang puas karena hanya melakukan sekali, namun ia harus segera kembali ke kantornya. Toh ia masih mempunyai banyak waktu untuk melakukannya lagi, karena mulai malam ini ia sudah memutuskan untuk tidur sekamar dengan wanita itu.
Mendengar dengkuran halus istrinya, James segera beranjak dari duduknya. Membenarkan selimut wanita itu lalu ia bergegas membersihkan tubuhnya di kamarnya sendiri.
Sore ini ia ada meeting penting menggantikan sang tuan karena akhir-akhir ini pria itu selalu mengandalkannya mengingat istrinya sedang hamil.
Kadang James heran, meski Merry tak ingin dekat-dekat dengan suaminya itu tapi William sedikit pun tak ingin meninggalkannya. Berbeda sekali dengannya, entah kenapa sedikit pun tak ada rasa khawatir yang berlebihan pada Grace.
Apalagi mengingat bagaimana wanita itu telah menghianatinya, namun ia harus tetap menahan gejolak amarahnya mengingat ada bayi tak berdosa dalam perut wanita itu.
Bagaimana jika janin yang di kandung wanita itu adalah darah dagingnya? memikirkan hal itu James nampak mengacak rambutnya dengan frustasi.
Ia begitu mencintai Grace, dapatkah ia memaafkannya demi sang buah hati?
"Dokter, apa tidak bisa di lakukan tes DNA secepatnya ?" ucap James setelah sambungan teleponnya tersambung, kini pria itu sudah berada di kantornya untuk bersiap-siap meeting.
"Baik, dok. Terima kasih atas waktunya."
James segera mengakhiri panggilannya, tangannya nampak mengepal saat mengingat perbuatan wanita yang sangat ia cintai itu. Kemudian pria itu segera beranjak dari duduknya karena meeting akan segera di mulai.
Sementara itu Anne yang masih tertidur di dalam kamarnya nampak mengerjapkan matanya saat merasakan getaran di ponselnya.
"Ya, Ndrew." jawabnya setelah melihat siapa yang menghubunginya.
"Apa ibu baik-baik saja? karena sejak pergi tadi siang ibu belum juga kembali ke kantor dan sepertinya nyonya Darrien marah karena hal itu makanya saya langsung menghubungi ibu." ucap Andrew dengan nada khawatir dari ujung telepon.
"Aku sedikit kurang enak badan Ndrew, maaf tak sempat memberitahumu." balas Anne beralasan.
"Baiklah, ibu istirahat saja nanti biar saya yang memberitahukan pada nyonya Darrien." ucap Andrew kemudian.
"Terima kasih, Ndrew." sahut Anne, kemudian mengakhiri panggilannya. Wanita itu nampak memeriksa ponselnya dan di sana terdapat lima belas kali panggilan dari asistennya tersebut dan beberapa pesan yang masuk.
__ADS_1
Ia yang memang sengaja hanya memberikan nada getaran pada ponselnya, membuatnya tak mendengar siapa yang menghubunginya saat ia tertidur.
Kemudian Anne segera beranjak dari ranjangnya untuk membersihkan sisa-sisa percintaannya bersama suaminya tadi siang. Wanita itu nampak miris saat mengingat bagaimana tak berdayanya ia dengan setiap sentuhan lembut pria itu.
Ada perasaan marah namun jujur ia juga sangat menikmatinya, meski awalnya bersikap kasar tapi setelah itu suaminya memperlakukannya dengan begitu lembut seakan ia adalah wanita yang sangat berharga.
Namun semua itu tak berarti apa-apa ketika mengingat pria itu sudah memiliki kekasih, ia hanya di jadikan pemuas hasrat pria itu dengan mengatasnamakan seorang suami padahal tak ada perasaan apapun padanya.
Tak ingin lebih jauh meratapi nasibnya, Anne segera mematikan air shower lalu segera memakai kimono mandi. Perutnya yang terasa keroncongan membuatnya segera berganti pakaian.
Kemudian melangkahkan kakinya keluar kamarnya dan di lihatnya beberapa makanan yang sudah terhidang di atas meja makan.
"Siapa yang memasaknya ?" gumamnya, tak mungkin kan suaminya itu bahkan mobil pria itu tak ada di luar dan sudah ia pastikan tak ada pria itu di rumahnya saat ini.
"Selamat malam, nyonya." tiba-tiba seorang wanita berpakaian pelayan muncul dari dapurnya hingga membuat Anne berjingkat kaget.
"Si-siapa kamu ?" teriak Anne dengan melebarkan matanya.
Pelayan tersebut langsung mengulas senyumnya. "Mulai hari ini saya di perintahkan oleh tuan James untuk bekerja di sini nyonya dan setelah selesai menyiapkan makan malam baru saya akan pulang." terangnya kemudian.
"Oh." Anne nampak lega ia pikir wanita itu sejenis makhluk tak kasat mata yang tiba-tiba muncul di rumahnya.
"Aromanya sangat enak, apa kau yang membuatnya ?" tanyanya kemudian seraya menghempaskan bobot tubuhnya di kursi.
"Benar nyonya, semua makanan ini favorit tuan James." sahut pelayan tersebut.
"Tapi yang makan aku bukan dia." timpal Anne mengingat suaminya itu jarang makan malam di rumah.
"Itu sepertinya beliau sudah datang, nyonya." pelayan tersebut segera berlalu ke depan saat mendengar suara mesin mobil.
"Mau ngapain dia pulang ?" gerutu Anne seraya memutar bola matanya malas.
"Terima kasih bibi Ester, bibi boleh pulang sekarang." ucap James seraya melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Anne yang melirik kedatangan pria itu nampak tak peduli bahkan kini ia telah memenuhi piringnya dengan berbagai menu makanan.
"Aku mandi sebentar." ucap James saat melihat istrinya itu sudah duduk di meja makan, namun karena di abaikan pria itu segera menaiki anak tangga.
__ADS_1
"Kamu mau mandi atau mati pun aku tak peduli." gumam Anne seraya meniup-niup makanannya yang masih panas.