Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~254


__ADS_3

Elsa Muller



"Saya ingin bertemu dengan tuan Bennedict di kamar 201B." ucap Elsa to the poin pada seorang wanita sesampainya di meja resepsionis hingga membuat wanita tersebut langsung berpandangan dengan rekan di sebelahnya.


"Apa beliau ada ?" imbuh Elsa lagi ketika kedua penjaga resepsionis itu tak kunjung menjawabnya bahkan terkesan sangat terkejut.


"Apa saya perlu membuat janji terlebih dahulu ?" ucap Elsa dengan tak sabar.


"Ti-tidak Nona, saya rasa anda orang terdekatnya. Silakan saja langsung naik lift di sebelah sana." balas penjaga resepsionis tersebut seraya menunjuk ke arah lift berada.


"Lantai ?" tanya Elsa sebelum pergi.


"Beliau ada di lantai 21 nona, tapi lift akan berhenti di lantai 20. Anda bisa bertanya lagi pada petugas yang berjaga di sana." terang resepsionis tersebut.


"Baiklah." Elsa menatap wanita itu sejenak, setelah itu segera melangkah pergi.


"Dia tinggal di lantai 21, tapi kenapa lift hanya sampai lantai 20. Apa rusak? atau....."


Elsa menjeda ucapannya, semoga tidak seperti apa yang ada dalam dugaannya namun ia siap dengan kemungkinan yang akan terjadi nanti.


Saat Elsa menekan angka 20 nampak beberapa pengunjung langsung menelan ludahnya dan itu tak luput dari perhatian wanita itu, sebenarnya ada apa di lantai 20 gumamnya kemudian.


"Anda yakin mau ke lantai 20 nona ?" tiba-tiba seorang pria menegur Elsa.


"Hm." Elsa mengangguk yakin.


Pria itu nampak menatap Elsa dari ujung kaki sampai ke ujung rambut, meskipun penampilan Elsa sangat seksi namun juga berkelas.


Tentu saja, bertahun-tahun Elsa selalu belajar bagaimana cara berpenampilan seperti wanita penggoda, namun tetap berkelas hingga semua pria hanya bisa mengaguminya namun enggan menggodanya.


Beberapa saat kemudian beberapa pengunjung keluar satu persatu hingga kini menyisakan Elsa seorang diri, semakin mendekati lantai yang ia tuju entah kenapa dadanya semakin berdebar kencang.


Ia harus kuat, ia harus berani melakukan ini semua. Ia sudah menunggu ini sejak lama dan kesempatan takkan datang kedua kali.


Ting


Bunyi lift berdenting nyaring ketika telah sampai di lantai 20 dan bersamaan itu pintu lift langsung terbuka.


Elsa yang melihat pemandangan di depannya nampak terdiam di tempatnya, bagaimana tidak di lantai tersebut terdapat sebuah bar mewah menyambut kedatangannya.

__ADS_1


"Sejak kapan ada bar di sini ?" gumamnya, karena saat ia mencari tahu sebelumnya tower ini hanya sebuah Apartemen biasa dengan fasilitas seadanya.


Tak ingin menerka-nerka, Elsa segera keluar dari lift. Mengedarkan pandangannya sejenak lalu segera masuk ke dalam bar itu. Namun tiba-tiba dua pria bertubuh gempal menghadangnya di depan pintu.


"Selamat sore, nona. Bisa tunjukkan kartu keanggotaan anda ?" ucap seorang pria dengan pakaian jas lengkap.


"Kartu anggota ?" Elsa nampak mengernyit, apa hanya khusus anggota yang boleh memasuki wilayah ini?


"Benar nona, tolong tunjukkan kartu anggota anda. Jika tidak, kami tak bisa mengizinkan anda masuk." tegas petugas tersebut.


Elsa langsung menelan ludahnya, lalu kenapa petugas resepsionis tadi tak menanyakan kartu anggota padanya? bahkan mereka terkesan mempermudah aksesnya untuk masuk sini.


"Saya bukan anggota di sini." tegas Elsa kemudian.


"Maaf nona, kalau begitu silakan kembali." ucap pria tersebut.


"Apa sebenarnya pekerjaan resepsionis itu hingga bisa teledor seperti ini." gerutu pria lainnya dan itu masih terdengar di telinga Elsa.


"Silakan nona." pria itu hendak menarik lengan Elsa menjauh dari sana, namun Elsa langsung menepisnya karena ia memang tak menyukai tubuhnya di sentuh oleh sembarang orang.


"Aku ingin bertemu tuan Bennedict di kamar 201B." tegas Elsa kemudian yang langsung membuat kedua pria itu nampak saling menatap dengan pandangan yang sulit di artikan lalu keduanya memberikan isyarat saling mengangguk kecil.


"Baiklah nona, silakan ikut kami. Tuan Ben baru saja selesai berolah raga sore." pria tersebut langsung mengajak Elsa untuk masuk.


Saat melewati bar, Elsa melihat sebuah kolam renang besar di sebelahnya dan di tepinya nampak seorang pria sedang berjemur di temani oleh dua wanita seksi di sebelah kanan dan kirinya.


"Kak Ben !!"


Elsa langsung menelan ludahnya saat memandang seorang pria yang rupanya juga sedang menatapnya, pria yang tadinya bersandar di sebuah kursi panjang kini langsung menegakkan tubuhnya.


"Kau !!" ucapnya dengan suara baritonnya.


"Halo mantan kakak ipar, apa kau terkejut melihatku ?" Elsa langsung tersenyum sinis menatap pria di hadapannya itu.


Tak ada yang berubah dengan pria tersebut, tetap bersikap angkuh seperti biasanya.


Kemudian Bennedict langsung mengusir dua wanita yang menemaninya tadi dengan mengibaskan tangannya, entah menemaninya berenang atau olah raga lainnya sungguh Elsa tak peduli dengan itu semua.


Pria itu juga memerintahkan kedua bodyguardnya untuk segera meninggalkan mereka berdua dan itu membuat Elsa nampak senang karena takkan ada gangguan untuk melancarkan aksinya menghabisi pria itu dengan tangannya sendiri.


"Wow, apa aku sedang bermimpi ?" ujar Bennedict kemudian, lantas beranjak dari duduknya. Matanya nampak tak berpaling dari mantan adik iparnya tersebut.

__ADS_1


Lima tahun tak berjumpa, gadis itu telah berenkarnasi menjadi seorang wanita yang sangat cantik dan sempurna.Tubuhnya yang molek membuat semua pria seketika ingin memilikinya.


"Bermimpilah kakak ipar sampai kau tak bisa terbangun lagi." sarkas Elsa seraya mengangkat senjata apinya tepat ke arah pria itu.


"Kau !!"


Bennedict langsung melebarkan matanya. "Jangan bermain-main dengan senjata itu, cepat turunkan !!" perintahnya kemudian.


Namun bukan Elsa jika menuruti keinginan pria itu, semakin pria itu terancam maka akan semakin besar nyalinya.


Klik


Elsa nampak menarik pelatuk senjatanya dan itu membuat Bennedict seketika menelan ludahnya.


Dorr


Dorr


Arrrhhhgggg


Elsa langsung terkejut saat senjata apinya terlempar menjauh, tadinya ia yang telah melepaskan timah panas ke arah mantan kakak iparnya itu tiba-tiba seseorang menembak senjatanya dari belakang hingga peluru tersebut menembus sebuah dinding kaca.


"Rupanya kau ingin bermain-main denganku, musang kecil." Bennedict langsung menyeringai menatap Elsa.


Sementara Elsa nampak menelan ludahnya lalu melirik ke sekitarnya di mana banyak sekali pria dengan pakaian yang sama seperti kedua bodyguard tadi sedang mengelilinginya dengan senjata api mengarah padanya.


Kini ia benar-benar seperti seorang terdakwa yang siap di eksekusi.


Sialan, rupanya tempat ini tepat seperti dugaannya dan ia tak bisa mengandalkan keberuntungannya saja. Namun bukannya takut Elsa justru memasang wajah angkuh menatap mantan kakak iparnya tersebut.


"Ku rasa kau tetap pria pengecut seperti dahulu." cibirnya kemudian dan itu membuat seorang Bennedict langsung tertawa nyaring.


Bahkan di saat sudah terancam pun gadis di hadapannya itu masih berani menghinanya, benar-benar menarik.


Kemudian pria itu melangkahkan kakinya mendekat. "Ck, aku tak menyangka kamu tumbuh menjadi wanita yang bahkan lebih cantik dari kakakmu. Ku rasa dia akan senang jika kau bisa menggantikannya." lirihnya seraya mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Elsa, tapi wanita itu langsung menepisnya dengan kasar dan itu membuat beberapa bodyguard yang mengelilinginya langsung menarik pelatuk senjatanya dan bersiap melepaskan tembakan ke arahnya.


"Katakan apa kau ingin melakukannya dengan sukarela atau dengan paksaan ?" ucap Bennedict yang tentu saja membuat Elsa melebarkan matanya, tapi wanita itu berusaha menyembunyikan rasa khawatirnya.


Karena ia sudah memikirkan baik-baik sebelum datang kesini, entah itu kemungkinan terbaik atau terburuk sekalipun.


"Jika aku tidak mau ?" ucapnya kemudian dengan tersenyum mengejek menatap pria itu.

__ADS_1


"Baiklah, sepertinya kau sangat menyukai sebuah tantangan dan aku menyukai itu." Bennedict kembali tertawa nyaring, kemudian pria itu melepaskan jubah yang menutupi tubuh kekarnya dan membiarkan teronggok di atas lantai begitu saja.


__ADS_2