
"Arthur ?" gumam Merry tak percaya saat melihat pria yang pernah ia temui di pantai waktu itu.
"Tuan Arthur kan ?" Merry memastikannya lagi.
"Arthur ?" pria itu nampak mengernyitkan dahinya seakan tak mengenali nama tersebut.
"Iya tuan Arthur, kita pernah bertemu di pantai waktu itu bukan ?" Merry mengingatkan.
"Aku sangat senang kamu masih mengingatku, tapi namaku Artha bukan Arthur." terang Arthur yang sontak membuat Merry nampak bingung.
"Seingatku dulu namanya Arthur." gumamnya kemudian.
"Mungkin karena waktu itu suara ombak lumayan kencang jadi kamu salah mendengar namaku." pria yang mengaku bernama Artha itu mencoba meyakinkan Merry.
"Ya mungkin kamu benar, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi." ucap Merry kemudian.
"Dunia ini sangat kecil nona, kita bisa saja berkali-kali bertemu dengan orang yang sama. Bukan begitu ?" terang Artha.
"Tentu saja." Merry mengangguk setuju.
"Jadi apa yang kamu lakukan di sini ?" imbuh Merry yang terlihat penasaran.
"Mulai hari ini aku mengajar di sini." sahut Artha.
"Benarkah ?" Merry nampak tak percaya.
"Tentu saja, apa kamu meragukan kemampuanku ?" kelakar Artha.
"Tidak-tidak, aku percaya itu." sahut Merry sembari tertawa kecil.
"Mer, kamu masih di sini ternyata." teriak Sarah saat melihat sahabatnya itu belum pergi.
Artha yang melihat Sarah berjalan ke arahnya segera memakai kacamatanya kembali lalu merapikan rambutnya.
"Eh pak Artha." Sarah nampak terkejut saat melihat Artha bersama dengan Merry.
"Hallo." Artha dengan ramah menyapa Sarah, bahkan pria itu tak segan mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan gadis itu.
"Kalian saling mengenal." selidik Sarah setelah berkenalan dengan dosen barunya itu.
"Kebetulan kita pernah bertemu sekali." Merry memberikan penjelasan.
"Oh begitu." sahut Sarah, kemudian menatap Artha dengan pandangan kagum.
"Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu sampai jumpa di kelas nanti siang." ucap Artha kemudian.
Pria itu nampak menatap Merry sejenak dan itu tak luput dari pengawasan Sarah, kemudian Artha segera berlalu pergi.
"Sepertinya pak Artha menyukaimu." ucap Sarah to the point.
"Itu hanya perasaanmu saja." sahut Merry tak peduli seraya melangkahkan kakinya bersama wanita itu.
"Kamu mana paham seperti itu, karena yang ada di mata dan hatimu hanya ada tuan William seorang." ledek Sarah yang langsung mendapatkan cubitan dari sahabatnya itu.
__ADS_1
Sementara itu Artha yang belum pergi jauh nampak berbalik badan saat mendengar percakapan mereka.
Pria itu menatap Merry yang semakin menjauh dengan pandangan penuh arti.
Saat Merry baru akan menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya tiba-tiba terdengar notifikasi di ponselnya secara beruntun hingga membuatnya urung untuk makan.
"Mengganggu saja." gerutunya, kemudian mengambil ponselnya yang ia letakkan di sisih piringnya.
"Sudah makan siang ?"
"Lagi di mana ?"
"Kirim fotonya sekarang juga !!"
Bunyi pesan dari William yang baru saja Merry baca, gadis itu nampak menggerutu kesal karena makan siangnya terganggu oleh pria itu.
Kemudian Merry segera mengambil fotonya sendiri dengan latar belakang Cafe kampusnya lalu segera mengirimnya.
"Kenapa tidak tersenyum? kaku seperti kanebo kering." balas William.
Merry nampak melotot. "Ngomongin diri sendiri, tuan ?" balas Merry kemudian.
Tak berapa lama William langsung membalas pesannya.
"Saya perintahkan kirim foto yang saya minta sekarang juga !!"
Merry langsung bersungut-sungut. "Tidak bisakah dia lembut sedikit." gerutunya dengan kesal.
"Dasar kanebo kering." umpatnya kemudian.
"Kamu kenapa ?" Sarah yang baru datang dari toilet nampak mengernyit menatap sahabatnya itu.
Malas menjawabnya, Merry langsung menunjukkan pesan di ponselnya.
"Astaga, sweet banget tuan William." Sarah nampak senyum-senyum sendiri saat membaca pesan dari William.
"Apanya yang sweet? dia itu seperti es batu, udah dingin kaku lagi." gerutu Merry sambil mengunyah makanannya.
"Justru cowok cool itu yang keren." ucap Sarah dengan kagum, gadis itu seperti sedang membayangkan sesuatu.
"Berarti pak Artha bukan kriteriamu dong ?" ledek Merry dengan menahan senyumnya yang langsung membuat sahabatnya itu melotot.
"Enak saja, dia bagianku kamu jangan serakah." gerutu Sarah dengan kesal, kemudian gadis itu beranjak dari duduknya untuk mencuci tangannya.
Tak berapa lama terdengar notifikasi dari ponsel Merry dan sudah gadis itu pastikan jika itu adalah suaminya karena di kontaknya hanya ada dua nama yaitu Sarah dan pria itu.
Karena sebelumnya William sudah menghapus semua kontak teman-temannya dan kontak Sarah pun berhasil ia simpan setelah memohon pada pria itu.
"Sudahi tebar pesonamu di kantin honey, cepat kembali ke kelas atau aku akan datang dan menyeretmu pulang."
Bunyi pesan dari William hingga membuat Merry langsung menelan ludahnya.
"Sial, bahkan saat dia jauh pun tetap merampas kebebasanku." gerutu Merry seraya beranjak dari duduknya dan segera meninggalkan kantin tersebut.
__ADS_1
Keesokan harinya....
"Pagi." ucap Artha seraya mensejajarkan langkahnya dengan langkah Merry hingga membuat gadis itu terkejut menatapnya.
"Pagi pak Artha." Merry membalas sapaan dosen barunya itu.
"Jika kita sedang berdua bisakah kamu memanggil namaku saja ?" pinta Artha.
"Ba-baiklah." angguk Merry dengan memaksakan senyumnya, matanya nampak mengedarkan pandangannya mencari sosok pengawalnya yang nampak sedang berjaga di gerbang kampusnya.
"Jika ada mata kuliah yang kurang kamu pahami, katakan saja padaku." tawar Artha yang langsung membuat Merry nampak mengulas senyumnya.
"Sepertinya kamu harus mengajariku karena banyak hal yang kurang ku mengerti." terang Merry yang nampak mengulas senyumnya semakin lebar.
"Lebih banyak itu lebih bagus." gumam Artha lirih namun tak terdengar jelas oleh Merry.
"Kamu mengatakan sesuatu ?" Merry menatap pria di sebelahnya itu.
"Maksudku kamu banyak bertanya juga tidak apa-apa." ralat Artha, pria berwajah tampan itu membalas senyum Merry.
Senyuman tipis namun bisa membuat seluruh wanita di kampus terpesona padanya.
"Baiklah terima kasih banyak." ucap Merry bersyukur di pertemukan dengan sosok Artha.
Dari kecil Merry bercita-cita ingin menjadi seorang polisi wanita, namun ayahnya sangat tidak setuju. Karena itu sangat berseberangan dengan sepak terjang ayahnya selama ini dan sekarang pun William menyuruhnya kuliah mengambil jurusan bisnis yang sama sekali tidak ia sukai.
Namun Merry beruntung bertemu dengan sosok Artha yang dengan telaten membimbingnya.
Sosok Artha sangat bertolak belakang dengan suaminya, sifat mereka seperti bumi dan langit hingga membuat Merry merasa nyaman saat dengan pria itu.
Dan sejak saat itu Merry dan Artha semakin dekat, namun Merry juga selalu mengajak Sarah jika sedang berdiskusi dengan dosennya tersebut.
Karena gadis itu juga tidak ingin para pengawalnya mencurigainya dan akan melaporkannya pada suaminya.
Beberapa hari pun sudah berlalu dan William pun tak kunjung kembali, namun Merry sudah mulai tak peduli.
Gadis itu pergi kuliah seperti biasanya dan kembali pulang saat sudah selesai.
"Kalian pasti lelahkan, istirahatlah. Aku juga ingin istirahat." perintah Merry pada kedua pengawalnya saat baru pulang dari kampus.
Merry mampak membawakan mereka beberapa gelas jus buah yang terlihat sangat menggoda tenggorokan.
Setelah itu Merry segera naik ke kamarnya, namun bukannya istirahat gadis itu nampak memakai gaun setelah membersihkan dirinya.
Merias tipis wajahnya lalu mengucir kuda rambut panjangnya.
"Baiklah, waktunya bersenang-senang di mulai." ucapnya dengan semangat, kemudian segera keluar dari kamarnya.
Gadis itu nampak berjalan mengendap-endap, kemudian masuk ke dalam ruang kerja suaminya lalu mencuri sebuah kunci mobil di sana.
Pandangannya nampak berhenti di pintu rahasia di balik rak tersebut, namun gadis itu langsung menggeleng dan mengubur rasa penasarannya untuk sementara waktu.
Beberapa hari ini ia sangat giat belajar di kampusnya dan saat ini adalah waktunya gadis itu bersenang-senang.
__ADS_1
Setelah memastikan beberapa pengawalnya tertidur karena pengaruh obat tidur yang ia letakkan dalam minuman mereka.
Merry segera menghidupkan salah satu mesin mobil sport milik suaminya itu lalu segera mengemudikannya meninggalkan mansionnya tersebut.