
"Apa kamu yakin tak memberikan kopi ini racun ?" ucap Alex saat melihat secangkir kopi di tangannya itu.
"Ck, becandamu sangat tidak lucu tuan Alex. Lagipula memang kamu lihat aku semalam membawa racun ?" sinis Elsa tak terima, bahkan pria itu sudah membuatnya hampir polos semalam jadi bagaimana bisa menuduhnya membawa barang mematikan itu.
Meski ia ingin sekali memberikan pada pria itu agar tidak mengganggu hidupnya lagi.
"Tapi aku tak percaya, cobalah dahulu." Alex langsung memberikan secangkir kopi itu pada Elsa dan tentu saja itu membuat wanita itu langsung melotot.
"A-aku tidak mau, aku tidak suka kopi." tolaknya kemudian.
"Bagaimana kamu bisa tidak menyukainya kalau belum mencoba? ayo cobalah !!" dengan setengah memaksa Alex meletakkan cangkirnya tersebut di tangan Elsa.
"A-aku tidak mau." Elsa langsung meletakkannya kembali di atas meja, gila saja ia harus minum kopi pahit yang asin itu pasti rasanya sangat aneh.
"Baiklah, sepertinya kau menginginkannya dengan cara lain." Alex mengambil cangkir kopinya lalu segera menyesapnya dan tentu saja itu membuat Elsa langsung menahan tawanya.
"Kena kamu." gumamnya, namun detik selanjutnya wanita langsung melebarkan matanya saat tiba-tiba pria itu menarik tengkuknya lalu segera m3lum4t bibirnya atau lebih tepatnya memindahkan kopi yang sangat asin itu ke dalam mulutnya.
Elsa langsung memukuli dada bidang Alex, namun pria itu tetap m3lum4t bibirnya dan membiarkan cairan hitam pekat itu melewati tenggorokannya.
"A-apa kamu sudah gila ?" protes Elsa yang hampir saja tersedak oleh kopi buatannya sendiri itu, benar-benar sangat asin juga bercampur pahit.
Apa ini yang namanya senjata makan tuan? sial, rupanya pria itu tak kalah licik darinya.
Belum sempat menetralkan rasa asin bercampur pahit di lidahnya, tiba-tiba Elsa merasakan bibirnya kembali di lum4t oleh pria itu.
Di sesapnya bibir atas dan bawahnya bergantian hingga membuat sekujur tubuhnya seketika meremang, kemudian lidah pria itu kembali menusuk masuk ke dalam rongga mulutmu untuk memporak-porandakan pertahanannya.
Lama sekali mereka berciuman seakan sedang melampiaskan rasa rindu yang menggebu serta emosi yang akhir-akhir ini membelenggu mereka.
Setelah merasa hampir kehabisan oksigen, baru mereka saling melepaskan panggutannya. Ada desiran aneh yang mereka rasakan hingga membuat wajah keduanya nampak bersemu merah.
"Sangat manis." gumam Alex dalam hati.
__ADS_1
"A-aku minta maaf karena sengaja meletakkan garam dalam kopimu, aku hanya merasa kesal saja karena kamu tak membiarkan ku pulang." ucap Elsa salah tingkah seraya beranjak dari duduknya, wanita itu merasakan jantungnya berdegup tak karuan hingga membuatnya tak berani menatap pria itu lagi.
"Astaga, perasaan apa ini ?" gumamnya dalam hati.
"Baiklah aku memaafkanmu, tapi dengan satu syarat." tegas Alex yang langsung membuat Elsa mau tak mau menatap pria itu kembali.
"Jangan aneh-aneh, putraku sedang menungguku di Apartemen." Elsa langsung bersungut-sungut.
"Buatkan aku sarapan dahulu !!" ucap Alex dan sontak membuat Elsa semakin jengah, namun wanita itu enggan protes lebih jauh kemudian segera berlalu ke dapur.
Membuka lemari pendingin lalu mengambil beberapa telur dan sayuran dari sana.
"Benar-benar sangat merepotkan." gumamnya dengan kesal.
Sementara itu di Apartemen milik wanita itu nampak seorang bocah sedang memegang pistol mainannya lalu mengarahkannya pada seorang pria.
"Kamu pasti penjahat yang diam-diam menyusup ke dalam rumahku kan ?" ucap Axel pada asistennya Alex itu.
"Bukan Nak, aku teman ibumu." pria itu mencoba membujuknya.
Entah dapat ide dari mana bocah kecil itu, senjata mainan yang seharusnya berisi air kini di gantinya dengan saus tomat.
"Stop nak jangan lakukan lagi, aku akan terlihat seperti monster halloween nanti." mohon pria itu, bocah kecil itu benar-benar tak mudah untuk di bujuk.
"Baiklah, katakan siapa kamu? apa kamu mau mencuri ?" desak Axel tak menyerah.
"Astaga, aku tidak mungkin mencuri Nak. Aku cuma di perintahkan untuk menjagamu saja." asisten Alex kembali membujuk.
"Aku tidak percaya, jika pamam bohong aku masih mempunyai senjata yang lain." Axel kembali menunjukkan pistol mainannya yang lain dan sontak membuat pria itu nampak menelan ludahnya, entah apa lagi isi dari pistol tersebut.
"Katakan paman!! jika tidak, pistol lada ini akan ku tembakan pada wajah paman." ucap Axel yang langsung membuat pria itu melotot, benar-benar bocah cerdik pikirnya.
"Ba-baiklah, ayahmu yang menyuruhku untuk menjagamu. Jadi bisa tolong turunkan pistolmu sekarang, Nak." sahutnya berdusta, karena ia sendiri pun tak mengerti kenapa bisa mengatakan hal itu.
__ADS_1
Mungkin karena wajah bocah itu sangat mirip dengan sang tuan hingga membuatnya asal berbicara.
"Daddy? jadi Daddy ku yang menyuruhmu ?" ucap Axel dengan wajah terkejut.
"I-iya Nak, ayahmu yang menyuruh jadi bisa turunkan pistolmu itu sekarang juga ?" bujuk pria itu, ia tak bisa membayangkan bagaimana jika cairan lada itu akan menyemprot seluruh wajahnya. Pasti akan terasa sangat panas dan perih jika mengenai matanya.
"Kalau begitu katakan di mana Daddy ?" ucap Axel dengan masih menggenggam pistol ke arah pria itu.
"Baiklah, aku akan mengatakannya tapi turunkan dahulu pistolnya." bujuk asisten Alex lagi hingga membuat bocah itu akhirnya menurut lalu menurunkan pistol mainannya tersebut.
"Jadi Daddy ku sudah pulang, aku sudah tak sabar ingin bertemu dengannya." ucap Axel dengan penuh harap.
"Jadi kamu belum pernah bertemu dengan ayahmu sebelumnya, Nak ?" Dengan perlahan pria itu mulai mendekati bocah itu.
Axel langsung menggeleng. "Kata Mommy, Daddy sedang bekerja di luar negeri. Apa paman tahu bagaimana wajah Daddy? apa dia mirip denganku? aku benar-benar sangat merindukannya." ucapnya ingin tahu.
"Ten-tentu saja sangat mirip denganmu Nak, sangat mirip sekali." pria itu tak habis pikir bagaimana bisa wajah bocah itu sangat mirip sekali dengan tuan besarnya, apa di masa lalu sebenarnya mereka mempunyai hubungan? Entahlah, hanya tuan besarnya itu yang tahu.
"Jadi kapan aku akan bertemu dengan Daddy ?" ucap Axel dengan wajah memohon dan itu membuat pria itu lagi-lagi harus mencari alasan untuk menjawabnya.
Dan beruntung sekali karena tiba-tiba pintu apartemen tersebut di buka dari luar. "Astaga sayang, kenapa berantakan sekali ?" Elsa yang baru datang nampak terkejut saat melihat rumahnya seperti kapal pecah.
Beberapa barang dan mainan putranya itu berserakan di mana-mana hingga tak ada celah untuknya lewat.
"Jangan marah Mommy, aku hanya berusaha mengusir seorang penjahat." ucap Axel membela diri.
"Tidak ada penjahat di sini sayang." Elsa benar-benar sangat lelah menghadapi tingkah putranya itu.
"Ayah dan anak benar-benar kompak membuatku kerepotan." gerutunya keceplosan dan itu tak sengaja di dengar oleh asisten Alex.
"Anda mengatakan sesuatu, nona ?" tanyanya memastikan dan tentu saja itu membuat Elsa langsung panik.
"Ti-tidak, lupakanlah. Sekarang pergilah dari sini dan lain kali jangan masuk ke dalam rumah orang sembarangan." kilah Elsa lalu segera mengusir pria itu dari apartemennya.
__ADS_1
"Maafkan kelancangan saya nona, tapi saya hanya menjalankan perintah tuan Alex." terang pria itu, setelah itu ia segera pamit undur diri.
"Apa aku tadi tidak salah dengar? ayah dan anak? apa itu berarti mereka adalah? tidak mungkin, bagaimana itu bisa terjadi? Sepertinya aku harus segera mencari tahu." gumam pria itu seraya melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Apartemen tersebut.