
James mengurai pelukannya lalu menghela napasnya sedikit panjang, saat sang istri mencerca perihal hubungannya dengan Jennifer dan juga Marco.
"Aku sudah tahu sejak kami duduk di bangku kuliah." ucapnya kemudian yang tentu saja membuat Anne melotot tak percaya, rasanya sia-sia saja ia mencari tahu jika suaminya memang sudah mengetahui hubungan di antara Jennifer dan Marco.
"Tapi...." Anne rasanya masih tak terima dengan kenyataan yang baru saja ia dengar itu.
"Jangan suka memotong pembicaraan orang lain itu kurang sopan." tegur James seraya menyentil istri keras kepalanya itu hingga membuat wanita itu mengusap keningnya.
"Meski mereka saudara kandung Jennifer dan Marco sudah terpisah sejak kecil, setelah orang tuanya bercerai Marco ikut ayahnya dan Jennifer ikut ibunya. Namun tak lama setelah itu ibunya meninggal dunia dan nyonya Darrien lah yang menjadi walinya hingga sampai sekarang." terang James kemudian.
"Nyonya Darrien selalu bekerja keras untuk hidup Jennifer yang lebih baik hingga kami di pertemukan di sebuah kampus yang sama, aku beruntung waktu itu di pungut oleh tuan William dari jalanan hingga aku juga mendapatkan pendidikan yang bagus di sana. Dia adik kelasku waktu itu dan hubungan kami semakin dekat karena nyonya Darrien bekerja di kantor tuan William." imbuh James lagi.
"Kami merasa kisah kami hampir sama, sama-sama tidak memiliki orang tua dan beruntung bertemu dengan orang baik. Mungkin dari sana kita menjadi dekat, aku sudah menganggap dia seperti adikku sendiri."
"Lalu ?" Anne mendengarkan dengan seksama, ia merasa iri rupanya Jennifer juga memiliki tempat spesial di hati suaminya itu.
"Bahkan saat Marco tiba-tiba datang dan mengaku sebagai kakaknya pun Jennifer tetap memilih bersamaku, berkali-kali Marco mengintimidasi dan mengancamnya saat Jennifer enggan ikut bersamanya dan aku selalu menjadi orang terdepan yang melindunginya."
"Sampai suatu ketika Marco mengancam akan menculiknya jika Jennifer tak ikut bersamanya tapi aku berhasil membuatnya kabur dari negara ini dan pindah kuliah ke luar negeri di mana pria itu tak dapat menemukannya." James nampak sangat detail bercerita hingga membuat Anne semakin iri dengan Jennifer karena begitu di perhatikan oleh pria itu.
"Kenapa Marco terobsesi sekali dengan Jennifer ?" tanyanya penasaran.
"Entahlah." James menggeleng kecil.
"Apa kamu tidak takut jika suatu saat Jennifer akan berubah dan menghianatimu diam-diam? kamu seperti memelihara anak harimau yang suatu saat bisa saja menyerangmu." Anne langsung memperingatkan.
"Perlu kamu ketahui sayang, Jennifer manusia bukan harimau dan aku percaya dia takkan melakukan itu." terang James.
"Tapi bagaimana....."
"Sudah jangan di bahas lagi aku tahu bagaimana cara melindungi diriku sendiri, jadi hentikan memata-mataiku lagi." sela James tak memberikan kesempatan istrinya itu untuk berbicara.
__ADS_1
"Aku merasa iri dengan Jennifer." ucap Anne tiba-tiba yang langsung membuat James mengangkat sudut bibirnya.
"Kamu sudah memilikiku jadi apa yang harus kamu irikan hm ?" timpal James seraya menautkan alisnya menatap istrinya itu.
"Hati manusia suatu saat bisa saja berubah, kau terus-menerus bertemu Jennifer di kantor jadi siapa tahu perlahan kamu akan berpaling padanya." tuding Anne dengan kesal.
"Jadi istriku ini sedang cemburu, hm ?" goda James yang membuat Anne semakin kesal lalu mengerucutkan bibirnya.
"Aku senang kamu cemburu, tapi interaksiku dengan Jennifer hanya perihal pekerjaan tidak lebih jadi jangan pernah mengkhawatirkan hal itu." tegas James namun tetap saja membuat Anne tidak merasa lebih baik.
"Ya baiklah, aku lelah mau ke kamar saja." Anne langsung beranjak namun James kembali menarik tangannya hingga membuat wanita itu kembali terduduk.
"Kita belum selesai sayang, kamu tidak bisa melarikan diri begitu saja setelah apa yang kamu perbuat hari ini." ucap James kemudian.
"Astaga, bukankah semua sudah selesai ?" sungut Anne.
"Kamu harus bertanggung jawab karena telah membuat suamimu ini sangat khawatir." ucap James seraya melepaskan kancing teratas pakaian wanita itu.
"Hm, kenapa memangnya ? aku bahkan ingin membuat kenangan kita di setiap sudut rumah ini." timpal James yang kini menarik pakaian istrinya itu lalu melemparnya ke sembarang tempat.
Melihat sepasang gundukan indah milik wanita itu yang masih terbungkus oleh bra, membuat James langsung menelan salivanya. Jakunnya naik turun seiring hasratnya yang mulai menggebu.
Tak ingin menunggu lama pria itu langsung m3lum4t bibir tipis istrinya itu dengan lembut dan tak terburu-buru, karena ia ingin menikmati saat menyentuh setiap jengkal tubuh wanita itu.
Puas bermain-main di bibirnya, James mulai menyusuri leher putih wanita itu. Memberikannya beberapa kecupan kecil lalu sesekali menyesapnya hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.
Tangannya yang bebas nampak merayap turun ke punggungnya lalu melepaskan pengait bra wanita itu hingga kini sesuatu yang menjadi favoritnya terpampang jelas di matanya.
"Aku sangat menginginkan mu." lirihnya dengan suara berat lalu segera membopong istrinya itu menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Sementara itu di tempat lain Marco yang masih berada di Bar nampak di temani oleh seorang wanita, lalu pria itu memutuskan segera membawanya untuk menghangatkan ranjangnya malam ini.
__ADS_1
Persetan dengan wanita asing itu, ia bukanlah tipe pria yang mudah menggilai seorang wanita tapi wanitalah yang harus menggilainya.
Sesampainya di kamar hotel, Marco langsung menyerang wanita itu dengan tak sabar. Ia akan memuaskan hasratnya pada wanita penghibur yang telah siap ia masuki itu.
Marco nampak memejamkan matanya saat mulai penyatuannya, bayangan wanita asing yang tiba-tiba hadir di benaknya membuatnya semakin bergairah.
"Ah sial, kenapa kamu nikmat sekali." racaunya seraya membayangkan jika wanita yang berada di bawahnya itu adalah seorang wanita yang ia temui di pesta tadi.
"Malam ini anda perkasa sekali, tuan." puji wanita itu yang nampak tak bisa mengimbangi permainan Marco yang entah kenapa malam ini sangat berbeda sekali.
Wanita itu sampai berkali-kali keluar hingga tubuhnya langsung terkulai lemas padahal ia belum mendapatkan giliran untuk memuaskan pria itu.
"Ah, tuan ampun saya tak sanggup lagi." racaunya saat Marco tak henti menghujamnya terus menerus dengan kepala mendongak ke atas.
Posisinya yang berdiri di tepi ranjang membuatnya leluasa menghujam wanita itu dengan sekuat tenaganya.
"Ah Tuan saya sudah tidak kuat lagi." racau wanita itu lagi dengan nyaring yang langsung membuat Marco menghentikan hentakkannya, lalu menatap wanita di bawahnya itu yang sudah nampak tak berdaya.
"Sial, apa yang sedang kamu lakukan di sini ?" hardik Marco saat menyadari jika wanita yang sedang ia gauli itu bukanlah wanita yang ia temui di pesta tadi, rupanya alkohol yang ia minum sebelumnya sudah memengaruhi kesadarannya.
"Saya Amora tuan, apa anda lupa ?" wanita bernama Amora itu nampak ketakutan saat melihat mata nyalang Marco.
"Enyah dari sini !!" perintahnya kemudian.
"Tapi tuan, anda belum selesai." Meski sangat lelah Amora enggan untuk pergi karena pria itu selalu membayarnya dengan mahal.
"Enyah dari hadapanku, sebelum kau menyesal !!" sentak Marco tanpa perasaan yang langsung membuat wanita itu segera beranjak lalu bergegas memunguti pakaiannya yang berserakan di atas lantai.
"Segera temukan wanita itu dan bawa ke hadapanku !!" perintah Marco kemudian saat menghubungi anak buahnya.
"Wanita si4l4n, kau harus tunduk padaku." ucapnya dengan mengepalkan tangannya.
__ADS_1