
"Pulanglah, ini sudah malam !!" ucap Elsa malam itu setelah mereka pulang dari rumah sakit.
Axel yang telah di nyatakan sembuh kini kembali ceria seperti sediakala apalagi saat ia sudah mengetahui siapa ayah kandungnya.
"Apa aku tidak boleh menginap di sini? aku masih sangat merindukan putraku." mohon Alex rasanya ia tak ingin berpisah dengan putranya barang sekejap.
Seorang putra yang ia dambakan sejak pernikahannya dengan istrinya terdahulu.
"Apa kebersamaan kalian di rumah sakit belum cukup juga ?" Elsa mulai kesal karena selama di rumah sakit pria itu telah menguasai putranya seorang diri.
Alex nampak menghela napasnya. "Aku sangat bersungguh-sungguh dengan perasaanku El, apa kamu mau memberikan ku kesempatan demi putra kita." ucapnya dengan menatap manik hazel wanita itu.
"Tuan Alex, jika itu soal kejadian di rumah sakit waktu itu tolong lupakan saja karena aku hanya terbawa suasana." timpal Elsa mengingat ciuman singkat mereka di rumah sakit waktu itu.
"Kita sama-sama menikmatinya jika kamu lupa." tukas Alex, entah harus dengan cara apa ia meluluhkan hati wanita itu.
"Aku sudah memutuskan untuk tidak menikah sepanjang hidupku, jadi lebih baik lupakan hal itu dan mari kita menjadi partner untuk putra kita." tegas Elsa seraya mengulurkan tangannya pada pria itu untuk meminta persetujuan.
Lagi-lagi Alex menghela napasnya. "Baiklah, tapi besok aku boleh kesini lagikan ?" ucapnya dengan membalas jabat tangan wanita itu.
"Hm, tentu saja. Besok aku harus bekerja jadi kamu tolong yang jaga Axel." sahut Elsa.
"Bekerja ?" Alex nampak mengernyit.
"Tentu saja bekerja, aku perlu uang untuk kebutuhan sehari-hari." terang Elsa.
"Bekerja di mana dan dengan siapa ?" Alex nampak begitu penasaran.
"Max memintaku mendesain pakaian untuk para karyawan kantornya dan besok aku ada meeting dengannya." sahut Elsa tanpa ada yang ia tutupi.
"Max? pria yang berdansa denganmu waktu itu ?" tanya Alex memastikan.
"Hm." Elsa mengangguk lalu melangkah ke arah pintu agar pria itu segera pulang.
"Apa dia kekasihmu ?" tanya Alex dengan mengikuti langkah wanita itu.
"Mantan." sahut Elsa.
"Bekerja dengan mantan apa kalian berniat untuk menjalin hubungan kembali ?" cibir Alex yang langsung membuat Elsa langsung berbalik badan menatapnya.
__ADS_1
"Tuan Alex, tolong ketahui batasanmu. Hubungan kita hanya sebagai orang tua bagi Axel dan tidak lebih dari itu, jadi tolong jangan terlalu ikut campur urusan pribadiku." tegas Elsa dengan menatap tajam ke arahnya.
Alex mendesah kesal. "Baiklah, aku pulang." ucapnya seraya melangkahkan kakinya keluar dari apartemen tersebut, namun baru beberapa langkah pria itu kembali berbalik badan.
Mengambil dompetnya di dalam saku celananya lalu mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dengan garis keemasan.
"Ambillah, gunakan sesukamu untuk keperluan putra kita !!" perintahnya kemudian.
Elsa yang melihat kartu tanpa limit di hadapannya itu nampak melebarkan matanya. "Kamu tidak perlu berlebihan, jika Axel membutuhkan sesuatu dia akan bilang padamu nanti." tolaknya kemudian.
"Aku tidak suka penolakan." Alex mengambil tangan wanita itu lalu meletakkan kartu tersebut di telapak tangannya.
"Pinnya gabungan tanggal lahir kita." imbuhnya lalu segera berlalu dari sana.
"Tang-tanggal lahir kita ?" Elsa nampak menelan ludahnya mendengar ucapan pria itu.
"Bagaimana bisa dia melakukan itu ?" imbuhnya seraya menatap kartu di tangannya itu lalu beralih menatap punggung pria itu yang semakin menjauh dari hadapannya.
Keesokan harinya.....
"Kamu di mana? aku harus segera berangkat."
Elsa nampak mengirim sebuah pesan pada Alex pagi itu, matahari mulai beranjak namun pria itu belum kunjung datang.
"Kamu mengetik sambil mengemudi ?"
"Tentu saja, mana mungkin aku mengetik dengan kaki."
"Apa kau sudah bosan hidup ?"
"Terima kasih sudah sangat perhatian padaku."
"Omong kosong !!"
Elsa langsung menyudahi mengirim pesan pada pria narsis itu, karena pasti akan mengganggu perjalanannya dan jika terjadi sesuatu pasti putranya akan menyalahkannya.
Elsa benar-benar belajar menurunkan egonya demi kebahagiaan sang buah hati kecuali menjalin hubungan dengan pria itu rasanya tidak mungkin.
"Axel tidak menyukai orang asing tolong jangan di tinggal kemana-mana." mohon Elsa saat Alex akan membawa putranya itu pergi ke kantornya.
__ADS_1
"Dia bersama ayahnya jadi jangan khawatir." Alex meyakinkan, kemudian segera meninggalkan Apartemen wanita itu.
Sementara Elsa segera bersiap-siap untuk bertemu dengan Max, ia mendapatkan proyek yang lumayan dari pria itu dan ia akan mengerjakannya dengan sebaik mungkin.
"Aku dengar dari Carla kamu sudah menemukan ayah kandung Axel, apa pria di pesta waktu itu ?" tanya Max setelah mereka selesai meeting.
"Hm." Elsa mengangguk kecil.
"Jadi kalian akan tinggal bersama, maksudku kalian akan menikah dan tinggal bersama ?" tanya Max lagi.
"Max, apa kamu tahu kenapa aku dulu menyudahi hubungan kita kan ?" Elsa menatap mantan kekasihnya itu dengan lekat.
"Kamu trauma dengan sebuah pernikahan." sahut Max mengingat alasan wanita itu dulu saat meminta berpisah.
"Dan begitu juga dengan sekarang." timpal Elsa meyakinkan.
"Lalu kau memutuskan untuk tidak menikah seumur hidupmu? itu sangat lucu El, lihatlah di luaran sana masih banyak pasangan yang bisa bertahan sampai kakek dan nenek bahkan sampai maut memisahkan." cibir Max kemudian.
"Tapi banyak juga yang berakhir dengan perceraian." ralat Elsa.
"El, sampai sekarang perasaanku tak pernah berubah. Ku mohon beri aku....." Max langsung menggantung ucapannya saat tiba-tiba Axel datang bersama sang ayah dan dengan sesuka hati langsung duduk di meja mereka.
"Sayang, kok di sini ?" Elsa langsung terkejut melihat kedatangan putranya itu.
"Dia ingin makan es krim bersamamu." timpal Alex tanpa perasaan bersalah karena telah mengganggu acara meeting wanita itu.
Lagipula sudah hampir dua jam mereka meeting jadi Alex yakin mereka tak hanya membahas perihal pekerjaan, mereka adalah mantan kekasih dan ia tak ingin benih-benih cinta mereka kembali tumbuh.
Sementara Max terlihat kesal, ini pasti ulah pria itu. Sengaja datang membawa putranya untuk mengganggunya bersama Elsa.
"Max, sepertinya meeting kita sampai di sini saja ya untuk desain lanjutannya aku akan kirim lewat email." ucap Elsa menatap mantan kekasihnya itu.
"Tentu saja, hubungi aku jika membutuhkan sesuatu." sahut Max, kemudian pria itu beralih menatap Alex dengan pandangan permusuhan sebelum meninggalkan Cafe tersebut.
"Kamu sedang meeting atau kencan ?" cibir Alex saat melihat bekas makan mereka berdua di atas meja.
"Bukan urusanmu, tuan Alex." sahut Elsa lalu segera menggandeng putranya pergi dari sana.
Mereka nampak menyusuri jalan menuju kedai es krim langganan favorit Axel, lalu segera memesan tiga porsi es krim lantas memakannya di sebuah taman tak jauh dari sana.
__ADS_1
Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia namun sesungguhnya tak seperti itu keadaannya.
Semoga saja Alex bisa meyakinkan hati Elsa di tengah Max yang mulai gencar mengejar wanita itu kembali.