
Malam itu setelah menyelesaikan urusannya dengan relasi bisnis sang tuan, Weslyn nampak tak sabar masuk ke dalam kamarnya.
Lebih tepatnya kamar yang sudah di siapkan oleh Alan untuknya menghabiskan malam panjang bersama wanita yang selama ini berani menghinanya.
"Akan ku pastikan kamu akan menarik kata-katamu itu jika milikku ini tak seberapa bagimu." lirihnya seraya memindai seorang wanita yang nampak terlelap di atas ranjangnya.
"Akan ku buat kau berteriak minta ampun semalaman seperti halnya Samantha atau wanita lainnya." imbuhnya lagi seraya duduk di tepi ranjang tersebut.
Matanya nampak berbinar seakan mendapatkan sebuah harta karun yang sangat berharga.
Kemuduan pria itu mengulurkan tangannya untuk menyingkap selimut yang menutupi tubuh wanita itu.
Sepertinya Merry tak merasa terganggu oleh perbuatan pria itu, karena wanita itu tetap terlelap dengan pakaian pesta yang masih menempel di tubuhnya.
Sebuah gaun malam dengan belahan dada rendah itu nampak sangat seksi di mata tuan Weslyn.
Sepanjang pesta tadi pria itu nampak tak sabar untuk segera mencicipinya hingga membuatnya tak berkonsentrasi dalam membicarakan bisnis.
Kemudian pandangannya jatuh ke arah kaki mulus wanita itu hingga membuatnya langsung menelan ludahnya, lalu di ulurkan tangannya untuk menyentuhnya.
"Sangat halus." gumamnya sembari mengelus naik turun kaki Merry.
Lalu pandangannya naik ke atas dan berhenti tepat di gundukan kenyal wanita itu yang sedikit menyembul.
"Itu pasti sangat nikmat." gumamnya dengan membayangkan hal mesum.
Setelah puas menikmati pemandangan di depannya itu, Weslyn segera melepaskan pakaiannya satu-persatu dengan tak sabar.
Di mulai dari kemejanya, kemudian berlanjut dengan celana kerjanya dan menyisakan celana boxer pendek ketat yang menyembunyikan kejantanannya yang mulai terasa sesak di dalam sana.
Pria tambun dengan perut buncit itu sepertinya sudah siap untuk mengarungi malam panjang bersama wanita yang akhir-akhir ini menjadi objek fantasinya tersebut.
Tak ingin terburu-buru dan membuat kaget wanita itu, tuan Weslyn nampak membuka pakaian wanita itu dengan sangat pelan lalu melemparnya ke sembarang arah.
Hingga kini menyisakan pakaian dalam serta bra wanita itu. "Benar-benar seksi." gumamnya saat memindai setiap inci tubuh wanita itu.
Kemudian pria itu kembali duduk di tepi ranjang, lalu mulai mengusap pergelangan kaki wanita itu juga. Mengelusnya dengan gerakan pelan lalu mulai mengecupinya jari-jari kakinya.
Rupanya pria itu sangat memuja tubuh lawan mainnya atau hanya wanita itu saja yang di perlakuan seperti itu.
__ADS_1
Sementara itu Merry yang merasakan udara dingin menusuk kulitnya nampak mulai gelisah apalagi saat merasakan beberapa kecupan di kakinya hingga membuat wanita itu langsung mengerjapkan matanya.
Deg!!
Merry langsung melotot saat melihat Weslyn sedang berada di ujung ranjangnya dengan sebelah kakinya berada di atas pangkuan pria itu.
Dengan gerakan reflek wanita itu langsung menendang pria bertubuh tambun itu hingga jatuh ke lantai.
Brukk
"Ah sial." teriak tuan Weslyn kesakitan.
"A-apa yang sedang kamu lakukan padaku ?" teriak Merry histeris, wanita itu segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang hampir polos itu.
"Apa ini mimpi ?" Merry berkali-kali mencubit lengannya dan ia meyakini jika ini semua bukanlah mimpi.
"Lalu kenapa ada pria itu di sini ?" wanita itu nampak mengingat kejadian sebelum ia terlelap.
Tidak mungkin pihak hotel mau bekerja sama dengan pria itu untuk menjebaknya, kecuali orang lain yang memang sudah merencanakan ini sebelumnya.
"Alan." gumamnya, seketika Merry mengingat ucapan mantan suaminya perihal tunangannya itu.
Namun jika semua ini adalah ulah Alan sesuai dengan perkataan mantan suaminya itu, Merry tidak akan pernah memaafkan pria itu.
"Wanita sial, berani-beraninya kau menendangku." umpat tuan Weslyn dengan geram setelah bangkit dari lantai.
Merry yang sudah turun dari ranjangnya dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut nampak berlari menjauh.
"Tolong, tolong !!" teriaknya seraya menggedor pintu.
"Sekeras apapun kamu berteriak tidak akan ada yang mendengarnya sayang, karena kamar ini kedap suara." Tuan Weslyn nampak berjalan mendekati Merry, sepertinya pria itu sangat menikmati kepanikan wanita itu.
Pria itu sudah tak sabar untuk menariknya ke atas ranjang lalu mengungkung tubuhnya di sana dan bermain hingga esok pagi.
Membayangkan saja, miliknya di bawah sana sudah meronta seakan tak sabar mencicipi rumah barunya.
"Pergi !!"
"Jangan mendekat !!" teriak Merry saat pria itu semakin mengikis jarak di antara mereka.
__ADS_1
Merry langsung berlari menjauh saat pria itu hendak menangkapnya, hingga beberapa menit mereka terlihat kejar-kejaran dan Weslyn yang sudah hilang kesabaran langsung mengambil sesuatu dari saku celananya.
"Menurutlah jika tak ingin peluru ini menembus jantungmu." ucapnya seraya mengangkat senjata apinya.
"Itu tidak akan pernah terjadi." balas Merry dengan berteriak.
"Dasar munafik, pura-pura menolak padahal setelah merasakan kamu menikmatinya juga." cibir pria itu.
"Lebih baik aku mati dari pada menyerahkan kehormatan ku pada pria kurang ajar sepertimu." teriak Merry yang kini berada di sudut ruangan di dekat ranjangnya.
"Wanita sial, rupanya kau sangat keras kepala." Dengan geram Weslyn langsung mendekati wanita itu lalu menarik selimutnya dengan sekuat tenaga hingga membuat wanita itu terpelanting lalu jatuh tengkurap ke atas ranjangnya.
"Harusnya ini menjadi mudah jika kamu mau menurut, tapi rupanya kamu ingin bermain-main dulu denganku sayang." Weslyn nampak tersenyum menyeringai saat berhasil mengungkung punggung wanita itu, meski sudah berkepala empat pria itu masih sangat bertenaga.
Hingga membuat Merry yang kedua tangannya di kunci ke atas kepalanya tak bisa berbuat banyak.
Tuan Weslyn nampak mengusap punggung mulus wanita itu hingga membuat darahnya berdesir dan ingin segera memasukinya.
Tadinya ia ingin bermain lembut namun melihat wanita itu yang terus menerus memberontak membuatnya tertantang untuk bermain kasar.
"Sepertinya memasukimu dari arah belakang dengan kasar dan kuat itu lebih nikmat." ucapnya seraya menarik kain penutup surgawi wanita itu, namun sebelum berhasil menarik kain hitam berbentuk segitiga itu tiba-tiba pintu di buka dengan kasar dan....
Dorr
Dorr
Tuan Weslyn langsung berteriak kesakitan saat kedua kakinya di tembak oleh seseorang hingga membuat pria itu langsung berguling di sisi Merry.
William yang melihat mantan istrinya itu dalam keadaan setengah polos nampak meradang, kemudian segera menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Will, maafkan aku." Merry langsung menangis histeris saat melihat kedatangan William.
"James, bawah bajingan itu ke ruang bawah tanah. Beri dia pelajaran sebelum menyerahkannya pada polisi !!" perintah William kemudian.
"Baik, tuan." sahut James lalu memerintahkan beberapa anak buahnya untuk segera membawa pria itu.
Setelah James bersama anak buahnya pergi dari sana, William nampak menatap datar mantan istrinya yang sedang meringkuk di ujung ranjangnya.
"Maafkan aku." ucap Merry sekali lagi dengan perasaan bersalah, harusnya ia tak keras kepala dan lebih mempercayai ucapan pria itu.
__ADS_1