
"Tuan, tolong bertahanlah." Mark nampak khawatir saat baru saja membawa tuannya itu masuk ke dalam mobilnya, lengannya yang di ikat dengan kain nampak mengucur darah segar akibat timah panas yang bersarang di sana.
Sejak kemarin sore James memang sedang memburuh Nick ketika keberadaan pria itu telah di temukan.
Setelah menangkapnya ia dan anaknya buahnya segera membawanya ke sebuah gudang yang terletak di pinggiran kota dan jauh dari pemukiman.
"Katakan, sejak kapan kamu mulai menghianatku ?" ujar James malam itu saat menginterogasi pria itu.
Sementara Nick yang sedang duduk di kursi dengan kedua tangannya di ikat ke belakang nampak tersenyum kecut, tawaran Marco agar bergabung dengan klannya rupanya sia-sia belaka karena ia hanya di gunakan sebagai tumbal oleh pria itu.
Dan mungkin nyawanya sebentar lagi akan lenyap entah di tangan mantan sang tuan atau tuan barunya yang ternyata lebih bajingan lagi.
"Apa kau tuli, katakan sejak kapan kamu menghianatiku ?" ulang James kali ini pria menekan senjatanya tepat di pelipis pria itu, mungkin dengan sekali tarikan peluru itu akan menembus kepalanya.
"Saya tidak pernah menghianati anda, tuan." sahut Nick kemudian, namun langsung mendapatkan sebuah hantaman dari James hingga darah segar nampak mengalir dari sudut bibirnya.
"Katakan atau peluru ini tak segan meledakkan kepalamu !!" James semakin menekan ujung senjata apinya di pelipis mantan orang kepercayaannya itu.
"Saya benar-benar tidak menghianati anda tuan, karena sebelum Grace menjadi kekasih anda dia adalah kekasih saya." ucap Nick tanpa perasaan bersalah bahkan ketika mantan tuannya itu menarik pelatuk senjatanya dan siap menembakkannya.
"Apa ?"
James nampak mencengkeram senjatanya itu dengan kuat, jadi selama ini ia telah di bodohi oleh wanita itu.
"Dan pengroyokan waktu itu memang sudah di rencanakan oleh Grace dan nyonya Barbara, karena beliau mengetahui jika anda paling pantang berhutang budi." imbuh Nick lagi dan tentu saja membuat James nampak terkejut, seketika cengkeraman di senjata apinya mulai mengendur.
"Bedebah !!" James kembali mencengkeram senjata apinya kembali dan siap meledakkan kepala pria itu, pria yang sudah ia pungut dari jalanan tapi tega menghianatinya.
"Tuan tolong jangan lakukan, saya akan memberikan informasi penting jika anda mau melepaskan saya." mohon Nick dengan suara bergetar saat merasakan James hendak melepaskan pelatuk senjatanya.
James nampak tersenyum miring. "Ck, apa aku harus percaya perkataan penghianat sepertimu ?" geramnya kemudian.
"Saya tahu saya salah tuan, tapi ini sangat penting karena menyangkut perusahaan tuan William dan ini semua berhubungan langsung dengan tuan Marco." ucap Nick meyakinkan.
"Katakan atau peluru ini akan benar-benar menembus otakmu !!" lirih James namun terdengar mematikan di telinga Nick hingga membuat pria itu nampak pucat pasi.
"Sebenarnya, nona Jen..."
Dorr
Dorr
__ADS_1
"Aaarrgghhh."
Tiba-tiba dua buah timah panas langsung bersarang di tubuh Nick hingga membuat pria itu tak dapat melanjutkan perkataannya dan berakhir tewas di tempat.
Selanjutnya tempat tersebut sangat menegangkan, karena tiba-tiba banyak penyusup masuk ke dalam gudang tersebut. Aksi tembak menembak pun tak bisa di hindari saat beberapa orang tiba-tiba menyerang James dan beberapa anak buahnya.
"Sial."
James langsung mengumpat saat lengannya tak sengaja tertembak oleh salah satu dari mereka.
"Tuan, anda baik-baik saja ?" Mark nampak khawatir saat melihat lengan tuannya mengucur darah segar.
"Urusi merek Mark, jangan pedulikan saya." James nampak meringis kesakitan, kini mereka berada di balik sebuah papan sebagai tempat melindungi diri.
"Bagaimana saya tidak khawatir tuan ?" Mark langsung merobek lengan kemejanya untuk mengikat luka di lengan tuannya tersebut.
"Bagaimana mereka bisa mengetahui gudang ini Mark ?" ucap James dengan menahan rasa sakit.
"Sepertinya tuan Marco sengaja mengumpan Nick untuk menjebak kita, tuan." timpal Mark.
"Bajingan !!"
"Bagaimana dengan mereka Jack ?" tanya Mark pada pria tersebut.
"Kami berhasil melumpuhkan mereka tuan dan sebagian dari mereka ada yang berhasil melarikan diri." lapor pria bernama Jack tersebut.
"Apa anggota kita ada yang terluka ?" tanya James kemudian.
"Ada beberapa, tuan." terang Jack.
"Segera bawa mereka ke rumah sakit !!" perintah Mark kemudian.
"Maafkan keteledoran kami tuan, hingga anda bisa terluka seperti ini dan jumlah mereka juga dua kali lipat dengan anggota kita." ucap Jack dengan wajah bersalahnya.
"Tidak, ini semua salahku. Aku terlalu berambisi pada Nick hingga melupakan keadaan yang sebenarnya jika dia telah pindah pengabdian." James nampak mengejek dirinya sendiri, karena di pikirannya hanya bagaimana membuat pria itu mengakui kesalahannya tanpa berpikir jika pria itu membawa misi dari tuannya yang baru.
"Lebih baik kita segera ke rumah sakit, tuan." Mark langsung membantu James untuk berdiri.
Keesokan harinya....
Pagi itu James nampak mengerjapkan matanya saat merasakan kedatangan seseorang.
__ADS_1
"Tuan William ?" ucapnya setelah melihat tuannya tersebut.
"Kamu baik-baik saja, kenapa bisa ceroboh seperti ini ?" cecar William dengan nada meninggi.
"Maafkan saya, tuan." James nampak menyesal menatap atasannya tersebut.
"Wanita itu akan membawa kesialan buatmu James, sudah berapa kali ku katakan ?" William masih nampak geram.
"Maaf tuan, saya terlambat menyadarinya." James semakin merasa bersalah, harusnya sejak lama ia mendengarkan pria itu untuk meninggalkan Grace.
William nampak menghela napasnya dengan kasar lalu menatap lengan James yang di perban. "Bagaimana keadaanmu ?" ucapnya kemudian.
"Saya baik-baik saja, tuan." terang James.
"Tak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah dan kamu bilang baik-baik saja ?" sinis William.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya tuan." timpal James dengan menahan senyumnya.
"Saya sedang tidak memperhatikan mu." ucap William.
"Baiklah aku harus kembali ke kantor, beristirahatlah dan jangan muncul di hadapanku jika belum pulih." imbuh William lalu melangkahkan kakinya keluar namun saat di ambang pintu pria itu berhenti dan kembali bersuara.
"Apa kamu telah mengganti manager pemasaran di kantor ?" ucapnya kemudian yang langsung membuat James menyadari sesuatu.
"Sungguh licik sekali akalmu menjadikan istrimu sendiri sebagai asisten pribadimu." imbuh William dan setelah itu berlalu keluar dari sana.
"Anne."
James nampak menelan ludahnya saat menyadari jika belum mengabari istrinya itu sejak kemarin, kesibukannya yang berakhir dengan ia terbaring di ranjang rumah sakit membuat pria itu sejenak melupakan wanita kesayangannya tersebut.
Saat akan menghubungi ponsel milik istrinya tersebut, tiba-tiba Mark datang dengan terburu-buru. "Tuan, nyonya Grace telah melahirkan secara prematur." lapornya yang langsung membuat James nampak terkejut.
"Bagaimana bisa, kandungannya baru tujuh bulan ?" geramnya kemudian.
"Dokter mengatakan jika nyonya Grace akhir-akhir ini banyak mengkonsumsi wine, tuan." terang Jack.
"Sial." James segera beranjak dari ranjangnya.
"Tuan, anda mau kemana ?" Mark langsung menghentikan tuannya itu saat hendak mencabut jarum infus di tangannya.
"Aku ingin melihat keadaan bayiku, Mark. Wanita itu harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padanya."
__ADS_1