
"Will, kita mau kemana ?" Merry nampak mengikuti langkah William saat pria itu membawanya ke sebuah dermaga sore itu.
Namun William tak mengucapkan sepatah kata pun dan pria itu terlihat sedang terburu-buru.
"Will !!" teriak Merry lagi saat pria itu tak mengindahkan perkataannya.
"Diamlah honey atau ku tutup mulutmu di sini agar menjadi tontonan banyak orang." sarkas William yang langsung membuat Merry menelan ludahnya, wanita itu tahu apa yang di maksud pria itu dengan menutup mulut.
Saat William sedang serius seperti saat ini, Merry pun sedikit takut dan akhirnya memilih tak banyak protes.
Tadinya ia yang sedang berada di sebuah pertokoan untuk berbelanja, tiba-tiba suaminya itu menarik tangannya keluar dan di sinilah mereka sekarang berada.
Sebuah yacth yang tengah bersandar menjadi tujuan William membawa istrinya itu pergi.
"Tuan Alex senang bertemu dengan anda kembali, semoga di bawah kepemimpinan anda perusahaan tuan Martin semakin berkembang." puji seorang pria saat Alex baru memasuki yacth tersebut.
"Terima kasih tuan Andrew, saya sangat senang bisa bekerja sama dengan anda lagi." Alex menyambut relasi kerja ayahnya itu dengan ramah.
Sementara itu William yang sedang berada di balik pilar nampak mengumpat dalam hati.
Sebelumnya William sengaja mengajak istrinya itu untuk berjalan-jalan berduaan tanpa di kawal oleh James atau para pengawalnya.
Sejak menikah mereka tidak pernah melakukan hal romantis dan kini saat mereka sudah mengetahui isi hati masing-masing, William ingin memberikan kesan terindah pada sang istri.
William ingin merasakan bagaimana sebuah kencan tanpa di ganggu orang lain, jalan-jalan di sore hari sambil bergandengan tangan sepertinya sangat romantis dan ia ingin melakukan hal itu dengan istrinya itu.
Namun rencananya gagal total saat dirinya tak sengaja melihat keberadaan Alex di pusat pertokoan yang ia kunjungi.
Kemudian ia segera membawa istrinya pergi dari sana dan bersembunyi di sebuah yacth yang sedang bersandar di dermaga.
Tapi siapa sangka Alex juga datang kesana dan itu membuatnya nampak kesal.
"Alex." gumam Merry, ia sepertinya tak asing dengan suara seorang pria yang berada tak jauh darinya itu.
"Kak Alex." ucap Merry lagi namun William sudah menarik tangannya menjauh.
Sementara itu Alex yang sedang berbicara dengan relasi kerjanya langsung menoleh saat terdengar seseorang memanggil namanya.
"Tuan, apa anda sedang mencari seseorang ?" tanya Andrew saat Alex nampak gelisah.
__ADS_1
"Tidak, tidak tuan." Alex kembali fokus dengan lawan bicaranya, sepertinya ia tadi hanya salah mendengar saja.
Di tempat lain, William yang kini membawa istrinya itu ke lantai teratas Yacth tersebut nampak menghela napasnya lega.
"Kamu baik-baik saja ?" tanya Merry saat suaminya itu baru menyusulnya, karena dirinya tadi di perintahnya oleh pria itu untuk duluan naik ke lantai teratas yacth tersebut bersama seorang pelayan.
"Aku baik-baik saja, honey. Aku hanya senang saja, kita seperti berbulan madu sekarang." sahut William dengan mengulas senyumnya.
Sebelumnya William memang memerintahkan istrinya itu untuk pergi dahulu bersama seorang pelayan saat ia sedang bernegosiasi dengan manager yacht tersebut agar bisa menyewa lantai paling teratasnya.
"Will, anginnya sangat kencang." keluh Merry, gaun yang ia kenakan nampak tertiup angin.
"Sebentar lagi matahari akan terbenam honey dan ku pastikan kau akan takjub melihat keindahannya dari atas sini." terang William seraya menunjuk ke arah matahari yang tak lama akan kembali ke peraduannya.
"Benar, sangat indah. Apa karena ini kamu tadi membawaku dengan sangat terburu-buru ?" Merry terlihat takjub dengan pemandangan di depannya itu.
"Begitulah." sahut William berdusta, belum saatnya istrinya itu bertemu dengan Alex maupun keluarganya.
Karena William belum rela jika akan kehilangan wanita itu, kisah mereka baru saja di mulai dan ia tak ingin berakhir secepat itu.
Meski pada akhirnya mungkin mereka tidak akan pernah bisa bersatu tapi William ingin mengukir kisah indah setiap detik yang mereka lewati bersama.
"Kenapa di sini sepi? apa mereka tidak mengetahui ada tempat indah di tempat ini ?" tanya Merry kemudian seraya mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya yang terlihat sepi.
"Masih beberapa hari lagi kapal ini berlayar jadi belum banyak tamu yang datang." sahut William, lagi-lagi pria itu berdusta karena sebelumnya ia telah membooking tempat tersebut.
"Kenapa, bukannya lebih bagus? karena kita bisa berduaan di sini tanpa ada yang mengganggu." imbuh William lagi seraya meletakkan dagunya di bahu istrinya itu.
William nampak mengintip belahan dada wanita itu yang terlihat dari balik gaunnya.
Sedangkan Merry pandangannya nampak jauh ke arah matahari yang dengan perlahan mulai turun ke peraduannya.
Merry yang sedang berdiri di tepi yacth dengan berpegang pagar besi itu nampak tersenyum senang saat melihat matahari yang akan terbenam di temani oleh sang suami.
Angin yang lumayan kencang pun menambah syahdu suasana sore itu.
Kemudian William memutar tubuh istrinya hingga kini menghadap padanya.
"I love u." ucapnya seraya menyelipkan anak rambut wanita itu yang menutupi wajahnya karena hembusan angin sore itu.
__ADS_1
"I love u too." sahut Merry seraya menatap suaminya itu.
Mereka nampak saling bertatapan dan wajahnya pun saling mendekat hingga kini bibir mereka saling menempel satu sama lainnya.
Selanjutnya sepasang suami istri itu nampak saling berciuman dengan lembut, saling m3lum4t dan bertukar saliva bersama.
William semakin merapatkan tubuh istrinya seiring ciuman mereka yang semakin dalam.
Merry yang bersandar di pagar besi belakangnya nampak mengeratkan tangannya di bahu suaminya.
Sepertinya wanita itu sedikit takut saat William menekan tubuhnya ke belakang sampai melewati batas pagar seraya m3lum4t bibirnya dengan rakus.
"Kamu takut, hm ?" ucap William setelah melepaskan panggutannya, pria itu langsung mengusap dahi istrinya yang berkeringat.
"Aku takut jatuh." sahut Merry dengan jujur seraya menoleh ke belakangnya yang nampak curam.
"Paling juga di tangkap oleh hiu." sahut William dengan nada menggoda.
"Jadi kamu rela aku di tangkap oleh hiu ?" cebik Merry dengan kesal dan itu terlihat mengggemaskan di mata William.
"Aku pasti sudah meledakkan kepalanya sebelum itu terjadi." terang William yang langsung membuat Merry mengulas senyumnya kembali.
"Terima kasih dan aku sangat bahagia saat ini, bisakah kita seperti ini selamanya ?" mohon Merry kemudian.
"Aku takut di tinggalkan." imbuhnya lagi.
"Kamu tahu dahulu aku mempunyai seorang teman dan aku memanggilnya Paman tampan, karena dia tak ingin aku tahu namanya. Tapi tiba-tiba dia pergi begitu saja meninggalkan ku dan itu pertama kalinya aku kehilangan seorang teman." ucap Merry, pikirannya nampak melayang jauh ke masa kecilnya beberapa tahun yang lalu.
"Kamu masih ingat siapa pria itu ?" pancing William, ia ingin tahu sejauh mana istrinya itu mengingatnya.
Merry nampak menatap William dengan seksama. "Sepertinya dia mirip denganmu tapi entahlah itu sudah lama sekali jadi aku sudah lupa dan pasti wajah dia juga berubah jauh sekarang." sahut Merry kemudian.
"Sepertinya kau tidak perlu ingat, honey. Karena jika itu terjadi maka akan banyak sekali pertanyaan yang tak mungkin bisa ku jawab." gumam William.
Pria itu nampak menatap istrinya sejenak, kemudian ia mengedarkan pandangannya agar kesedihannya tak di lihat oleh istrinya itu.
Namun saat menoleh ke arah pintu, ia melihat pintu nampak di buka.
"Damn."
__ADS_1
William nampak mengumpat lalu ia mendorong tubuh istrinya hingga jatuh ke sofa yang berada tak jauh di sana lalu segera mengungkung tubuhnya.
"Will." protes Merry namun pria itu langsung membungkam bibirnya dengan ciumannya.