
Pagi itu Elsa yang baru saja mendarat di New York langsung pergi ke rumah Alex, setelah beberapa hari tanpa kabar ia ingin memberikan kejutan pada pria itu.
"Maaf nona, apa anda sudah membuat janji ?" tanya seorang wanita paruh baya dengan pakaian kerja rapi saat membuka pintu gerbang.
"Belum." sahut Elsa, dirinya memang belum membuat janji lagipula untuk apa juga ia membuat janji jika kedatangannya adalah ingin memberikan kejutan pada sang pemilik mansion tersebut.
"Maaf nona, anda tidak bisa menemui tuan Alex. Karena beliau masih tidur." tegas wanita itu tak mau di bantah.
"Ya sudah aku akan menunggunya di dalam saja." timpal Elsa seraya memaksa masuk, namun wanita tersebut yang di ketahui sebagai kepala pelayan di mansion itu langsung sigap melarangnya.
"Tidak bisa nona, silakan pergi dari sini !!" tegas kepala pelayan itu lagi dengan menatap tajam ke arah Elsa.
"Kamu tahu siapa aku ?" ucap Elsa tak menyerah.
"Siapa pun anda saya tak peduli nona." timpal pelayan tersebut.
"Dengarkan baik-baik, aku adalah kekasih tuan Alex dan saat ini aku sedang mengandung buah hatinya. Jadi ku rasa kau takkan mempertaruhkan pekerjaanmu kan dengan mengusir ibu dari calon pewaris tunggal rumah ini ?" terang Elsa dengan nada angkuh dan tentu saja itu membuat kepala pelayan tersebut langsung terkejut.
Kemudian wanita itu menatap Elsa dari ujung kaki hingga rambut, semua barang yang melekat di tubuh wanita itu adalah merk ternama dan limited edition. Bahkan nyonya besarnya pun takkan mampu mendapatkannya jika tanpa koneksi orang dalam.
Ia yakin wanita di hadapannya itu bukan orang biasa, jika memang benar wanita itu telah mengandung buah hati sang tuan.
Betapa bahagianya tuan besarnya itu karena setelah 7 tahun dalam penantian, akhirnya pria itu mendapatkan seorang keturunan meskipun bukan dari rahim istri sahnya.
"Jadi kau tetap tak mengizinkanku masuk? baiklah kalau begitu aku pergi saja, padahal baby dalam perutku sangat merindukan ayahnya." imbuh Elsa saat kepala pelayan tersebut belum kunjung memberikan jawaban, kemudian wanita itu pura-pura pergi dengan wajah sedihnya.
"Tunggu nona !!" ucap pelayan itu yang langsung menghentikan langkah Elsa, wanita itu nampak menahan senyumnya. Ia yakin seribu persen, setelah ini ia pasti akan di izinkan masuk.
"Apalagi, bukankah kau melarang seorang anak bertemu dengan ayahnya ?" ucap Elsa dengan nada sedih, tanpa berbalik badan.
"Maafkan saya nona, baiklah ayo silakan masuk." ucap pelayan itu yang tentu saja langsung membuat Elsa berbalik badan kembali dengan mengulas senyumnya.
"Silakan masuk nyonya, akan saya panggilkan tuan." perintah pelayan itu seraya memberikannya jalan.
__ADS_1
"Terima kasih, bayiku ini pasti akan sangat senang bisa bertemu dengan ayahnya." timpal Elsa seraya mengusap perut ratanya yang belum terisi oleh apapun hingga tanpa sengaja mengeluarkan bunyi akibatnya perutnya yang keroncongan.
"Astaga, apa anda belum sarapan nona ?" ucap pelayan itu saat mendengarnya.
"Aku baru mendarat dari Jerman dan langsung kesini." sahut Elsa jujur.
"Baiklah, silakan duduk nona. Sebentar lagi tuan besar pasti akan turun." ucap sang pelayan setelah menatap jam yang terpatri di dinding, ia yakin tuan besarnya itu saat ini pasti sedang bersiap-siap ke kantor.
"Bisakah aku menunggu di sana saja, ku rasa sinar matahari pagi sangat bagus untuk bayiku." Elsa menunjuk sebuah ruangan bersantai dengan dinding kaca menghadap sebuah taman, iya yakin itu tempat favorit Alex dan istrinya.
"Tapi nona, itu tempat pribadi milik tuan dan nyonya besar. Maaf saya tidak memberikan izin." terang sang pelayan kemudian.
"Bukankah bayi yang ku kandung saat ini juga akan menjadi bagian keluarga ini ?" timpal Elsa lagi-lagi dengan memasang wajah sedihnya hingga membuat pelayan tersebut nampak berpikir keras.
"Ba-baik nona, ku rasa tuan Alex juga pasti tak keberatan." Akhirnya kepala pelayan itu mengizinkan Elsa untuk menunggu Alex di ruang keluarga tersebut.
"Aku sangat lapar, bisakah kau memberiku beberapa kudapan ?" ucap Elsa lagi setelah menghempaskan bobot tubuhnya di atas sofa empuk.
"Tentu saja nona, tolong tunggu sebentar." pelayan itu bergegas pergi lantas memerintahkan para koki di dapurnya untuk menyiapkan kudapan buat ibu dari calon tuan muda di rumah tersebut.
Beberapa saat kemudian saat Elsa sedang fokus mengisi perutnya tiba-tiba di kagetkan oleh Alex yang baru saja menuruni anak tangga.
"Kau !!" ucap Alex dengan menatap nyalang wanita itu, sementara Elsa membalasnya dengan senyuman manisnya.
"Apa yang kau lakukan pagi-pagi di rumahku ini ?" imbuhnya seraya berjalan mendekati wanita itu.
"Ini sudah hampir siang tuan Alex, apa semalam kau terlalu menikmati waktumu bersama istrimu itu hingga bangun sangat telat? sungguh aku sangat cemburu." timpal Elsa dengan tersenyum sinis.
"Omong kosong." Alex nampak jengah, namun jauh dalam lubuk hati ia senang bisa melihat wanita itu kembali setelah hampir seminggu menghilang tanpa jejak.
Tiba-tiba kepala pelayan berjalan tergopoh-gopoh saat mendengar suara tuan besarnya tersebut. "Maaf tuan, tadi nona ini mengaku kekasih anda dan saat ini sedang mengandung buah hati kalian. Karena itu saya mengizinkannya masuk." ucapnya menjelaskan.
Mendengar itu Alex nampak terkejut, rupanya licik sekali j4l4ng kecil ini. "Pergilah dan jangan biarkan para pelayan berkeliaran di sekitar sini !!" perintahnya kemudian.
__ADS_1
"Baik tuan."
Kemudian kepala pelayan tersebut segera berlalu pergi dari sana, menutup pintu dengan rapat dan membiarkan mereka berdua berada di sana.
Sementara Alex langsung menghempaskan bobot tubuhnya di samping Elsa yang masih dengan santainya menikmati kudapan buatan para kokinya.
"Katakan drama apa yang sedang kau mainkan ?" ucap Alex dengan menatap lekat wanita itu.
"Aku sedang tidak bermain drama, kau pikir aku istrimu yang pintar sekali berakting." sahut Elsa.
"Lalu ini semua apa? masuk rumah orang sembarangan, mengaku menjadi kekasihku dan sedang mengandung anakku? ck." Alex nampak tak habis pikir dengan kelicikan wanita itu.
"Itu hanya sebagian kecil usahaku untuk bisa menemuimu, lagipula aku juga tak keberatan jika itu terjadi." timpal Elsa mengalir begitu saja.
"Kau !!" Alex nampak menghela napasnya kesal.
"Katakan apa yang kau inginkan ?" imbuhnya kemudian.
"Ku rasa kau belum terlalu pikun tuan Alex, keinginanku tetap sama. Aku menginginkan mu dan juga kehancuran istrimu." sahut Elsa dengan tegas.
"Kenapa kau ingin menghancurkan istriku ?" kali ini Alex harus tahu apa motif sebenarnya wanita itu, karena istrinya pun tak mengenalnya.
"Ini urusanku dengan istrimu dan bukan urusanmu." sahut Elsa lagi.
"Bagiku masalah istriku adalah masalahku juga, jadi cepat katakan jika tidak...." Alex menjeda ucapannya saat tiba-tiba Elsa menyelanya.
"Jika tidak apa ?" Elsa nampak menatap lekat pria di sampingnya itu.
"Aku bisa melakukan apapun tanpa bisa kamu tebak." tegas Alex kali ini dengan menekankan kata-katanya.
"Ck, kau pikir aku tidak bisa? bahkan jika aku mau aku bisa saja melenyapkan istrimu itu namun itu terlalu mudah baginya karena ia harus membayar semua kesakitan seperti yang...." Elsa menjeda ucapannya dan enggan melanjutkannya hingga membuat Alex nampak geram.
"Katakan, seperti siapa !!" geramnya tak sabar seraya bangkit dari duduknya lalu mengurung Elsa dengan kedua tangannya yang ia letakkan sisi kiri dan kanan sandaran sofa, napasnya nampak naik turun menahan amarahnya.
__ADS_1
Namun tanpa ia duga bukannya menjawab, wanita itu justru melingkarkan kedua tangannya di lehernya lalu membungkam bibirnya dengan bibir wanita itu dan tentu saja membuat Alex nampak terkejut di buatnya.