Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~44


__ADS_3

"Maaf nona tapi ini perintah tuan William." terang James.


"Apa William menyembunyikan seseorang di dalam sana hah ?" tuding Natalie.


"Tidak nona, tuan William hanya mengizinkan keluarga inti saja yang boleh masuk." sahut James.


"Tidak bisa di percaya, apa ini semua karena Elena ?" hardik Natalie.


"Apa wanita itu ada di dalam sana ?" imbuhnya lagi dengan menunjuk ke arah Mansion.


"Lebih baik anda pulang nyonya." tegas James kemudian pria itu segera masuk ke dalam gerbang.


"Tunggu dulu, James !!" Natalie langsung mengejar James, namun James telah menutup gerbang baja setinggi 3 meter tersebut.


"Sial." teriaknya dengan menendang gerbang tersebut, lantas wanita itu melangkah menuju mobilnya.


Setelah menghempaskan tubuhnya di balik kemudi, Natalie nampak meraih ponselnya lalu menghubungi William.


Namun sepertinya ponsel pria itu sedang tidak aktif.


"Sial !!" umpat Natalie lagi seraya memukul setir mobilnya.


Pandangan wanita itu nampak tertuju pada laci dashboard mobilnya lalu membukanya dan mengambil sebuah kalung kecil dengan leontin inisial 'M' di sana.


"Selamanya kamu tidak akan bisa menjauh dariku Will." gumamnya dengan tersenyum sinis saat menatap kalung tersebut.


Kemudian Natalie melempar kembali kalung tersebut ke dalam laci dashboard, lalu segera melajukan mobilnya dengan kencang.


Wanita itu nampak uring-uringan apalagi periode menstruasi yang ia alami saat ini membuat moodnya semakin memburuk.


Natalie terus saja melajukan kendaraannya dengan kencang hingga 30 menit kemudian wanita itu menghentikan mobilnya di depan sebuah Cafe.


"Kamu sedang ada masalah ?" tanya seorang wanita saat Natalie menghempaskan bobot tubuhnya di hadapannya.


"Masalah besar." sahut Natalie yang nampak kesal, kemudian ia memanggil seorang pelayan lalu memesan segelas alkohol.


"Maksud kamu ?" wanita yang di ketahui bernama Ginny itu nampak mengernyit menatap sahabatnya itu.


"Asisten William tiba-tiba melarangku masuk ke dalam Mansion." sahut Natalie berapi-api.


"Benarkah? bisa jadi William yang menyuruhnya." ujar Ginny.


"Tidak mungkin, asisten kurang ajar itu pasti sudah bekerja sama dengan Elena untuk menjauhkanku dari William." tuding Natalie lalu mengambil segelas minuman yang baru di hidangkan oleh pelayan lantas segera menyesapnya.


"Ya sudah hubungi saja William dan adukan semuanya." Ginny memberikan saran.


"Ponselnya tidak aktif." Natalie menunjukkan ponselnya yang tertera sebuah panggilan ke ponsel William.


"Aku harus membuat perhitungan pada Elena, dia itu musang berbulu domba. Di depan William saja sok lembut dan baik." imbuhnya dengan kesal.


"Tumben kamu seperti ini, biasanya kamu selalu mengatasi masalah dengan otak bukan otot." Ginny menaikkan sebelah alisnya tak mengerti dengan sikap sahabatnya itu.

__ADS_1


"Entahlah, mungkin karena aku sedang haid." sahut Natalie yang langsung membuat Ginny nampak terkejut.


"Kamu serius sedang haid, bukannya kamu sedang memakai alat pencegah kehamilan ?" Ginny mengingatkan jika selama ini sahabatnya itu tidak mendapatkan siklus haid akibat alat pencegah kehamilan yang wanita itu gunakan.


"Aku sudah melepasnya." sahut Natalie.


"Kamu serius ?" Ginny melebarkan matanya tak percaya.


"Bulan lalu aku melepasnya dan sudah lima hari ini aku haid." sahut Natalie.


"Kenapa melakukan itu, bukankah dari dulu kamu tidak ingin mempunyai bayi ?" Ginny terlihat penasaran dengan alasan sahabatnya itu yang tiba-tiba.


"Aku berubah pikiran dan sekarang aku ingin mempunyai anak dari William." sahut Natalie.


"Apa William sudah setuju ?" ucap Ginny.


Natalie nampak menggeleng kecil. "Akhir-akhir ini William berubah, aku merasa sepertinya dia ingin menjauhiku. Maka dari itu satu-satunya jalan aku harus mengandung anaknya." sahutnya kemudian.


"Apa kamu lupa dengan satu-satunya senjata yang kamu miliki, gunakan itu dan sampai kapanpun William tidak akan ninggalin kamu." Ginny memberikan saran.


"Dia memang tidak akan meninggalkan ku, tapi dia juga tidak akan menikahiku. Aku sudah menunggunya cukup lama dan sekarang aku mulai tidak sabar, apalagi ada Elena yang membuat posisiku di samping William tidak aman." terang Natalie.


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu, tapi saranku berhati-hatilah menghadapi William. Semua pria sangat menyukai wanita lemah lembut dan gunakan itu untuk memikatnya." ujar Ginny menatap sahabatnya itu, lalu mengulurkan segelas alkohol pada wanita itu.


"Minumlah, kamu akan lebih baik !!" ucapnya kemudian.


Sementara itu di kursi lain, tepat di belakang Natalie nampak seorang wanita sedang tersenyum menyeringai.


"Dan aku akan menjadi satu-satunya wanita pemilik hati dan kekayaan William." imbuhnya lagi seraya bangkit dari duduknya, kemudian segera melangkahkan kakinya keluar dari Cafe tersebut tanpa menoleh ke arah Natalie yang nampak sedang memijat pelipisnya.


...----------------...


Sore itu Merry yang baru selesai membersihkan dirinya nampak melangkahkan kakinya menuju ruang kerja sang suami.


Ia ingin berterima kasih pada pria itu karena telah menyadarkannya jika ketinggian tidak selalu menyeramkan dan lain kali mungkin ia akan mencobanya kembali.


Kebetulan ruang kerja pria itu sedikit terbuka hingga membuat Merry tak perlu mengetuk pintu terlebih dahulu.


Namun saat akan melangkahkan kakinya masuk, samar-samar ia mendengar pria itu sedang berbicara dengan seseorang di telepon.


"Daddy kapan pulang ?" teriak Emely dari ujung telepon.


"Emely rindu Daddy." imbuh Emely yang langsung membuat Merry yang sedang mencuri dengar di balik pintu nampak mengulas senyumnya saat mendengar celoteh gadis kecil itu.


"Aku juga merindukanmu, sayang." sahut William.


"Cepatlah pulang Will, apa kamu tidak ingin ikut merayakan hari ulang tahun Emely hm? dan dia menginginkan hadiah spesial darimu." timpal Elena.


"Jadi Emely sedang berulang tahun ?" gumam Merry.


"Baiklah, aku akan segera pulang." sahut William.

__ADS_1


"Yeaah Daddy pulang." Emely berteriak senang.


"Memang kesayangan Daddy menginginkan hadiah apa, hm ?" William terlihat gemas menatap putri kecilnya itu.


"Aku ingin seorang adik Daddy, aku ingin mommy segera hamil adikku." sahut Emely dengan polos yang langsung membuat William terkejut begitu juga dengan Merry.


"Di sekolah semua teman-temanku sudah mempunyai adik Daddy, sedangkan aku belum. Aku ingin mommy segera memberiku seorang adik, tapi kata Mommy hanya Daddy yang bisa melakukannya." Emely mengadu dengan mimik sedih bahkan gadis cilik itu hampir menangis.


"Bisakan, Daddy ?" imbuhnya lagi dengan nada memohon.


William nampak gemas bercampur iba melihat putri kesayangannya itu.


"Baiklah Daddy akan segera pulang, kita bahas nanti lagi ya." janji William pada sang putri.


"Baiklah, Daddy." Emely terlihat riang kembali.


Sedangkan Merry yang mendengar ucapan William nampak tersenyum sinis, ada perasaan tidak rela jika Elena akan mengandung anak pria itu.


"Nyonya, apa anda akan masuk ?" tanya James tiba-tiba hingga membuyarkan lamunan Merry.


Merry langsung menggeleng lalu gadis itu melangkah pergi dari sana.


Malam harinya saat Merry sedang belajar tiba-tiba William masuk ke dalam kamarnya.


"Saya ada urusan selama beberapa hari, kuliahlah yang benar dan jangan macam-macam." ucapnya seraya menatap gadis itu.


"Hm." sahut Merry tanpa menoleh ke arah suaminya itu.


"Pengawal akan terus mengawasimu dan akan selalu melapor padaku." ucap William lagi.


"Hm." sahut Merry lagi yang terlihat fokus dengan buku di hadapannya itu.


"Habiskan makananmu juga, saya tidak ingin mendengar ada laporan dari Hanna jika kamu tidak mau makan." ucap William.


"Hm."


"Apa kamu tidak mempunyai mulut untuk menjawab ?" William nampak tak sabar saat perkataannya di abaikan oleh istrinya itu.


"Aku sudah menjawabnya." sahut Merry seraya menatap suaminya itu.


William nampak menghela napasnya. "Baiklah kalau begitu saya pergi dulu." ucapnya seraya menelisik wajah gadis itu yang nampak tak peduli padanya.


"Hm." sahut Merry tak peduli.


"Kamu tidak keberatan saya pergi ?" tanya William kemudian.


"Tidak." sahut Merry singkat.


William terlihat kesal, kemudian pria itu mendekati istrinya itu lalu mengecup keningnya.


Setelah itu William segera melangkahkan kakinya pergi.

__ADS_1


"Semoga dia cepat hamil." ucap Merry yang membuat William yang berada di ambang pintu langsung berhenti lalu berbalik badan menatapnya.


__ADS_2