
Sungguh Merry sangat merindukan mansionnya, setelah peristiwa pembantaian waktu itu baru kali ini gadis itu menginjakkan kakinya kembali di sini.
"Senang ?" tanya Martin saat melihat putrinya nampak antusias ketika baru keluar dari mobilnya, pandangan anak gadisnya itu tak terlepas dari Mansion yang berada tak jauh dari hadapannya tersebut.
"Hm." angguk Merry namun wajahnya langsung pias saat tak mendapatkan ibunya di sana, karena biasanya sang ibu selalu menyambutnya dengan senyum lebarnya.
Mendapati putrinya nampak muram, Martin segera membawa gadis itu masuk ke dalam mansionnya tersebut.
"Percayalah Mommy pasti akan baik-baik saja." ucapnya seraya menuntun putrinya masuk ke dalam kamarnya.
"Tentu saja, Mommy adalah wanita yang paling kuat." sahut Merry.
Kemudian Merry nampak mengulas senyumnya saat baru membuka pintu kamarnya, kamar yang selama ini selalu ia rindukan bahkan tak pernah berubah dan tetap bersih serta rapi seperti sebelum ia tinggalkan dulu.
"Apa Arthur menyakitimu ?" tanya Martin setelah putrinya itu merasa lebih baik dan kini duduk di tepi ranjangnya.
"Tidak Dad, aku baik-baik saja jangan khawatir." Merry berusaha meyakinkan ayahnya itu.
"Maafkan Daddy yang tak mampu menjagamu dengan baik." Martin nampak sangat bersalah karena telah membuat putrinya itu mengalami kesusahan selama beberapa bulan terakhir.
"Aku baik-baik saja Dad, percayalah." Merry menggenggam tangan ayahnya dengan erat.
Martin menatap putrinya yang sudah banyak berubah, gadis itu tak lagi bersikap manja padanya.
Rupanya William telah banyak merubah anak gadisnya itu dan saat mengingat penyakit pria itu Martin langsung terbesit rasa khawatir.
"Apa William pernah menyakitimu ?" tanyanya to the point.
Mendengar perkataan sang ayah Merry nampak terdiam, meski awal kisahnya dengan William sangat menyakitkan baginya tapi dengan berjalannya waktu ia merasa bahagia dengan pria itu.
Merry langsung menggelengkan kepalanya. "William sangat baik, Dad." sahutnya kemudian, ia tidak mungkin menceritakan segala perbuatan sang suami padanya karena ayahnya itu pasti tidak akan terima.
"Kamu tidak bohongkan ?" Martin masih tak begitu mempercayai perkataan putrinya tersebut.
"Aku bahagia Dad, William sangat mencintaiku dan aku juga sangat mencintainya." Merry mencoba meyakinkan, ia menatap sang ayah dengan seksama berharap pria itu melihat betapa besar cintanya pada William.
Martin menghela napasnya, putrinya itu masih terlalu muda untuk mengerti cinta bahkan berumah tangga sekalipun.
Selain mempunyai penyakit mental akut yang sewaktu-waktu bisa kambuh dan membahayakan orang lain, William juga selalu di kelilingi oleh banyak wanita di sampingnya.
__ADS_1
Martin tidak ingin anak gadisnya itu akan menderita di kemudian hari jika ia tetap membiarkannya bersama pria itu.
"Dia sudah mempunyai putri." ucap Martin kemudian, berharap putrinya itu mempertimbangkan perasaannya.
"Aku tahu, Dad. Emely gadis kecil yang sangat menggemaskan." sahut Merry saat mengingat Emely putri satu-satunya William.
"Jadi kamu sudah tahu ?" Martin nampak menaikkan sebelah alisnya.
"Hm, saat liburan musim panas William membawa Emely ke Mansion." sahut Merry, gadis itu terlihat bahagia saat menceritakan apapun tentang William dan itu membuat Martin tiba-tiba cemburu.
Rasanya belum rela jika kasih sayang putrinya terbagi dengan pria lain, baginya Merry akan selalu menjadi gadis kecil kesayangannya.
"Bersama Elena ?" tanya Martin ingin tahu.
"Daddy mengenalnya ?" Merry langsung mengernyitkan dahinya menatap ayahnya itu.
"Tentu saja, bukankah Elena mantan kekasih William dan ku rasa pria itu akan menikahinya setelah istrinya meninggal beberapa tahun silam." dusta Martin, meski ia tak mengetahui hubungan mereka seperti apa tapi lebih baik mulai sekarang ia akan membuat putrinya itu perlahan membenci William.
"Itu tidak mungkin Dad, Elena hanya sebatas pengasuh Emely dan aku mempercayai William sepenuhnya." keukeh Merry, meski ia juga ragu perihal hubungan sang suami dengan adik iparnya tersebut.
"Nak, William seorang pria dewasa. Jauh sebelum sama kamu dia sudah berhubungan dengan banyak wanita dan ku rasa banyak media yang sudah memberitakannya." Martin mencoba mempengaruhi putrinya itu lagi.
"Natalie maksud Daddy? tentu saja aku tahu dan hubungan mereka sudah berakhir Dad. William lebih memilihku dan menyingkirkan wanita itu." terang Merry.
"Beristirahatlah, Daddy tahu tak mudah bagimu tinggal bersama Arthur." perintah Martin seraya beranjak dari duduknya, kemudian pria itu melangkahkan kakinya keluar dari kamar sang putri.
"Aku ingin pulang, Dad." ucap Merry yang langsung membuat Martin menghentikan langkahnya lantas berbalik badan menatap putrinya tersebut.
"Pulang? bukankah ini rumahmu nak ?" ucapnya kemudian.
"Aku ingin pulang ke rumah suamiku Dad. Aku akan mengajaknya untuk bertemu Mommy." sahut Merry beralasan dan itu membuat Martin sangat terluka, ternyata putrinya itu mengalami banyak sekali perubahan.
"Beristirahatlah, biar William yang mencarimu kesini jika dia memang benar-benar mencintaimu." sahut Martin, kali ini nadanya sedikit tegas dan itu membuat Merry mengangguk pasrah.
Kemudian Martin segera melangkah keluar lalu menutup pintu kamar putrinya dengan rapat.
"Lex, perintahkan para penjaga untuk tidak membiarkan William datang kesini dan suruh pelayan untuk mengawasi Merry. Aku tidak ingin dia menemui William diam-diam." perintahnya pada Alex saat Martin baru menuruni anak tangga.
"Baik, Dad. Aku sudah melakukannya sebelum Daddy menyuruhku." sahut Alex.
__ADS_1
"Bagus, Daddy tahu kamu bisa di andalkan." Martin menatap bangga putra angkatnya itu.
"Lalu kapan kita akan meninggalkan tempat ini Dad? sepertinya Mommy sudah sangat merindukan kita." tanya Alex, mengingat tak ada lagi kerjaan yang bisa ayahnya kerjakan di sini karena perusahaannya sudah di serahkan ke William.
"Secepatnya, ada beberapa hal yang ingin Daddy urus." sahut Martin.
"Perihal klan ?" tanya Alex kemudian, bagaimana pun juga Daddynya memiliki banyak anak buah dari berbagai penjuru negeri ini.
"Hm, Daddy berniat untuk membebaskan mereka semua." sahut Martin, ia benar-benar ingin keluar dari dunia hitam yang selama ini membesarkan namanya.
"Itu tidak boleh, Dad." tolak Alex, meski belum lama ia menggantikan sang ayah memimpin klannya tapi sungguh ia sangat tertarik dengan dunia barunya itu.
Martin langsung memicing. "Apa maksudmu ?" tanyanya kemudian.
"Apa Daddy tak kasihan dengan mereka, selama ini mereka menggantungkan hidupnya pada Daddy. Jika Daddy mengakhiri semua lalu bagaimana dengan nasib mereka ?" sahut Alex.
"Daddy sudah tak seperti dulu lagi Lex, biarlah mereka mencari labuhan baru." sahut Martin.
"Bagaimana kalau aku yang menjadi labuhan baru mereka, Dad ?" saran Alex namun langsung di tentang oleh ayahnya itu.
"Daddy tidak setuju, itu sama saja kau menghancurkan usaha Daddy selama ini." tegas Martin, mengingat bagaimana ia mengirim Alex dan adik-adiknya keluar negeri agar tak mengikuti jejaknya di dunia hitam.
"Percayalah Dad, aku akan baik-baik saja. Aku berencana akan membuka cabang perusahaanku di sini bersama mereka." Alex mencoba meyakinkan.
"Lebih baik pikirkan lagi dengan matang." ucap Martin seraya menepuk bahu putranya itu, kemudian pria itu berlalu pergi dari sana.
Sementara itu William yang baru selesai meeting penting membahas penggabungan perusahaan Martin dengan perusahaannya langsung masuk ke dalam ruangannya.
Pria itu nampak melonggarkan dasinya lalu menghempaskan bobot tubuhnya di kursi kerjanya.
"Siapkan mobil James, aku ingin bertemu dengan istriku !!" perintahnya pada James.
Tadi pagi setelah menyelamatkan istrinya itu dari Arthur, William langsung meninggalkan gadis itu bersama ayahnya.
Selain harus menghadiri meeting penting dengan para pemegang saham, pria itu juga ingin memberikan waktu pada sang istri untuk bertemu dengan ayahnya yang sudah lama tak pernah bertemu.
William juga tidak ingin gadis itu mengetahui hubungannya dengan Martin sedang tidak baik-baik saja.
"Baik, tuan. Semoga tuan Martin akan mempertimbangkan hubungan anda dengan nyonya muda." sahut James memberikan dukungan.
__ADS_1
"Hm." William terlihat menghela napasnya dengan berat.
"Semoga saja."