Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~253


__ADS_3

"A-Anne, kau di sini ?" Marco nampak salah tingkah ketika di hampiri oleh Anne beserta bayinya.


"Kebetulan aku lewat sini." sahut Anne.


"Kalian saling kenal ?" Celine nampak mengernyit melihat gaya bahasa Marco pada Anne seakan mereka sebelumnya sangat akrab, padahal saat bertemu di pesta waktu itu mereka seolah tak saling mengenal.


"Hm." Anne langsung mengangguk.


"Ngomong-ngomong, apa yang kalian lakukan di sini ?" imbuh Anne lagi seraya menatap ceceran dokumen di bawah kaki Celine.


"Tidak, tidak ada." menyadari tatapan Anne, Celine langsung memunguti dokumen tersebut lalu menyimpannya.


"Kami tadi tak sengaja berpapasan." imbuhnya beralasan.


"Oh, ku pikir kalian sedang ada masalah karena suara kalian terdengar sampai sana." timpal Anne yang langsung membuat Celine maupun Marco nampak menelan ludahnya, ceroboh sekali mereka.


"Kita hanya becanda tadi, benar begitu tuan Marco ?" ujar Celine memulai aktingnya.


"Tidak, kita tak sedekat itu dan aku tak tertarik becanda denganmu." timpal Marco yang tentu saja membuat Celine nampak meradang.


"Kau sangat tidak bisa di ajak becanda, tuan Marco." sinisnya kemudian, lalu segera menghentakkan kakinya pergi dari sana.


"Dia tak pernah berubah." gumam Anne seraya menggelengkan kepalanya menatap kepergian wanita itu.


"Sepertinya kau mengenalnya dengan baik." timpal Marco basa-basi seraya mengedarkan pandangannya mencari sosok seseorang yang bersama wanita cantik di hadapannya kini.


"Tentu saja, kadang aku tidak rela tuan Alex yang sangat baik itu mendapatkan istri seperti wanita itu." sahut Anne kemudian.


"Aku cemburu kau memuja pria lain." timpal Marco dengan wajah datarnya dan itu membuat Anne nampak terkekeh.


"Mau bagaimana lagi bahkan setiap hari aku selalu memuja suamiku dan apa kau harus cemburu juga? ayolah tuan Marco segera cari pendampingmu." ucapnya kemudian.


"Jangan terlalu memikirkan hal itu, aku baik-baik saja." tukas Marco, tak ingin larut dalam kekecewaan pria itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah bayi mungil di dalam kereta yang sepertinya baru saja terbangun.


Kemudian pria itu nampak bersimpuh dengan satu kakinya. "Hai Sofia, kau baru bangun princess ?" ucapnya seraya memegang jarinya yang mungil.


"Jeslin, dia lebih suka di panggil Jeslin." timpal Anne menyela.


"Apa kau keberatan jika aku memanggilnya Sofia ?" Marco nampak mendongakkan kepalanya menatap Anne yang berdiri di samping kereta sang bayi.

__ADS_1


"Tidak, itukan nama dia juga. Tapi kami lebih suka memanggilnya Jeslin." sahut Anne menjelaskan.


"Tapi aku lebih suka memanggilnya Sofia dan lihatlah dia tersenyum padaku, apa kau meminta paman untuk menggendongmu hm ?" Marco nampak terkekeh saat baby Jeslin tertawa menatapnya.


"Astaga, dia tak pernah tertawa selebar itu asal kamu tahu bahkan dengan ayahnya sendiri." timpal Anne keceplosan ketika melihat bayinya nampak tertawa bahagia menatap Marco.


James yang terlalu datar jarang sekali mengajak putrinya becanda bahkan pria itu selalu menampakkan ketegasannya sebagai seorang ayah.


Ehm


Tiba-tiba seseorang berdehem hingga membuat Marco yang akan menggendong baby Jeslin urung ia lakukan.


"Menjauhlah dari bayiku !!" hardik James seraya menatap nyalang pria itu.


"Ck." Marco langsung tersenyum sinis.


"Kau benar-benar tak layak sebagai seorang ayah, lihatlah Sofia sampai takut mendengar suaramu." timpalnya kemudian seraya bangkit dari duduknya.


"Ku rasa kau belum tuli, jadi aku tak perlu mengulangi lagi perkataanku." tegas James kemudian.


"Tentu saja." Marco segera melangkahkan kakinya.


James yang masih berdiri di tempatnya nampak mengepalkan tangannya, pria itu benar-benar mampu memancing emosinya.


"Ka-kami tadi tak sengaja bertemu, tolong jangan berpikiran macam-macam." Anne langsung memegang lengan kemeja suaminya itu dengan wajah pias.


"Jika kamu tak menanggapinya bajingan itu pasti takkan bersikap sok akrab seperti itu apalagi kepada putriku." ucap James menatap istrinya itu sejenak, kemudian pria itu membungkukkan tubuhnya untuk meraih putri kecilnya.


"Kau baik-baik saja sayang, apa ada yang terluka hm? apa pria tadi menyakitimu? maafkan Daddy ya datang terlambat, tadi meetingnya sedikit lama." imbuhnya seraya membawa bayinya itu ke dalam gendongannya.


"Maafkan aku." mohon Anne, harusnya ia tadi pura-pura tak melihat keberadaan Celine dan Marco saja jika pada akhirnya suaminya itu akan menegurnya habis-habisan.


Namun apa yang ia lihat dan dengar tadi membuatnya penasaran hingga mau tak mau ia menyapa mereka.


Tadi Celine dan Marco terlihat sedang bertengkar, lagipula sejak kapan mereka saling mengenal bukankah waktu di pesta itu mereka sama sekali tak bertegur sapa?


Anne semakin penasaran hingga membuatnya ingin tahu, apalagi pembahasan mereka tadi perihal proyek yang di curi diam-diam oleh wanita itu dari suaminya.


"Astaga, apa dia sedang mencurangi suaminya sendiri ?"

__ADS_1


"Jika masih ingin melamun, pulanglah bersama Mark." ucap James saat melihat sang istri terdiam di tempatnya, kemudian pria itu berlalu pergi dari sana bersama sang putri.


Menyadari dirinya di tinggal begitu saja oleh sang suami, tentu saja Anne sangat kesal lalu mengejar pria itu.


"Sayang, tega benar ninggalin aku." protesnya kemudian.


"Aku tidak suka mengganggu seseorang yang masih terbayang-bayang oleh masa lalunya, jadi nikmati saja lamunanmu. Aku dan baby Jeslin akan pulang." sarkas James tak berperasaan.


"Kenapa begitu? kalau aku di gangguin pria jahat di luaran sana bagaimana ?" cebik Anne dengan kesal.


"Mark akan mengatasi semuanya." sahut James seraya melangkah menuju mobilnya.


"Semua Mark, terus tugasmu sebagai seorang suami apa ?" protes Anne lagi, ia langsung menghentikan langkahnya dan itu membuat James nampak menahan kekehannya lalu berbalik badan.


Sebenarnya ia tak marah pada istrinya itu hanya saja ia sedang cemburu karena wanita itu di dekati oleh pria lain.


"Tugasku hanya memastikan mu dan bayi kita hidup bahagia." ucapnya kemudian.


"Tapi bagaimana aku bisa bahagia jika kamu bersikap seperti itu ?" Anne langsung bersungut-sungut dan jika sudah seperti itu tentu saja James terpaksa menurunkan egonya dari pada nanti malam ia berakhir tidur di luar.


"Baiklah, sepertinya kita mempunyai tugas baru sayang. Ayo kita kiss mommy." bisik James pada sang putri lalu melangkah mendekati istrinya itu.


Kemudian dua orang berbeda generasi itu nampak mengecup pipi wanita itu bersama-sama hingga membuat Anne langsung melebarkan senyumnya.


Tak bisa di pungkiri kehidupan rumah tangga mereka memang tak pernah lepas dari masalah, namun keduanya selalu menyikapi dengan saling menurunkan ego masing-masing.


Sementara itu di tempat lain, Elsa terlihat berada di depan sebuah tower Apartemen di mana mantan kakak iparnya itu tinggal.


Wanita itu nampak tersenyum sinis seraya melirik sebuah senjata api yang ia bawa di dalam tasnya, sudah cukup pria itu bersenang-senang dan saatnya harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.


"Nona, apa anda yakin mau melakukannya ?" Sam nampak sangat khawatir.


"Uangku cukup banyak dan aku yakin takkan lama mendekam di penjara." sahut Elsa tanpa perasaan takut.


"Tapi nona, biarkan saya yang melakukannya." mohon Sam, ia merasa seperti asisten yang tak berguna saat nona besarnya itu yang bertindak seorang diri.


"Ini urusanku dengan bajingan itu Sam, lebih baik kamu tak usah ikut campur. Jika terjadi sesuatu padaku tolong jaga dia untukku, aku tahu kamu sangat menyayanginya." tegas Elsa kemudian.


Wanita itu nampak menghela napasnya sejenak, kemudian segera melangkah masuk ke dalam gedung apartemen tersebut.

__ADS_1


__ADS_2