Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~69


__ADS_3

"Mereka...." Merry menjeda ucapannya dan seketika peristiwa di mana pembantaian kedua orang tuanya terjadi berputar lagi di ingatannya dan bersamaan itu ponsel gadis itu berdering nyaring.


"Nyonya, tuan William menyuruh anda untuk segera pulang." ucap James dari ujung telepon.


"Baiklah, aku akan segera kembali." sahut Merry kemudian mengakhiri panggilan tersebut.


"Sepertinya aku harus pulang, Ar. Terima kasih untuk semuanya." ucap Merry seraya beranjak dari duduknya, sepertinya gadis itu tak ingin melanjutkan obrolan mereka.


Menceritakan kisah orang tuanya hanya akan mengusik luka hatinya dan ia berharap suaminya kelak bisa membantunya.


Sementara itu Artha terlihat kecewa, namun pria itu segera mengangguk setuju. Masih banyak waktu untuk ia berbicara dan saat itu tiba ia pastikan gadis di hadapannya itu akan benar-benar membenci William.


"Baiklah, hati-hati dan sampai berjumpa lagi." ucapnya kemudian.


Sesampainya di Mansion Merry tak melihat keberadaan William, lalu untuk apa pria itu menyuruhnya pulang jika dirinya sendiri pun tak ada di rumah.


Hingga malam hari pun tiba William tak kunjung pulang dan ponselnya pun tak bisa Merry hubungi.


"Apa yang di lakukan oleh William saat ini bersama wanita itu ?" gumamnya, memikirkan hal itu Merry merasa kesal sendiri.


"Awas saja sampai dia macam-macam, aku tidak akan memaafkannya. Dasar suami terkutuk, tidak bisakah dia hidup dengan satu wanita saja. Ku kutuk jadi kodok baru tahu rasa." imbuhnya lagi berapi-api.


"Apa lebih baik aku ke rumah sakit saja dan melabrak mereka bedua? Aaarrgghhh harga diriku seperti di renggut begitu saja." gumamnya menimbang rencananya namun bersamaan itu ia merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya.


Rupanya gadis itu terlalu asyik berspekulasi dengan pikirannya sendiri hingga tak menyadari kedatangan sang suami.


"Jangan berpikir macam-macam." lirih William yang kini meletakkan dagunya di bahu istrinya itu.


"Ka-kapan kamu datang ?" Merry menelan ludahnya, semoga suaminya itu tak mendengar sumpah serapahnya.


Tapi jika mendengar sepertinya itu lebih baik agar pria itu sadar jika perbuatannya selama ini sudah menyakiti hatinya.


William nampak terkekeh, kemudian ia memutar tubuh istrinya itu menghadap padanya.


"Sejak istriku yang cantik ini mengutuk suaminya sendiri menjadi kodok, apa itu berarti kamu mau tidur dengan kodok hm ?" ledek William yang langsung membuat pipi istrinya itu merah merona.


"Aku hanya kesal, kamu sedikit pun tak bisa tegas dengan wanita itu." cebik Merry.

__ADS_1


"Nanti kita bahas lagi, saat ini aku sedang kangen sama kamu." terang William seraya menyentuh rahang istrinya itu lalu mendekatkan wajahnya dan mulai menautkan bibirnya.


William m3lum4t lembut bibir ranum yang selalu membuatnya candu itu, dengan mata saling terpejam mereka nampak saling berbalas ciuman, saling menyesap bibir satu dengan yang lainnya dan berakhir dengan tautan lidah yang saling membelit.


William merapatkan pinggang istrinya seiring ciuman mereka yang semakin dalam dan menuntut.


Tak menunggu lama kini keduanya sudah nampak polos tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh mereka dan nafasnya pun terengah-engah karena ciuman rakus dan menuntut itu.


"Will, jangan membuatku frustasi." rintih Merry saat wajah suaminya itu kini berada di antara kedua pahanya.


Merry yang terlentang di atas ranjangnya, nampak menggeliat saat lidah panjang pria itu menusuk-nusuk intinya yang telah basah.


"Saatnya ke hidangan utama, honey." William segera beranjak lalu tersenyum kecil saat melihat istrinya sudah tak berdaya meski hanya dengan sentuhannya saja.


Kemudian pria itu segera mengarahkan kejantanannya ke pusat inti gadis itu dan tak berapa lama penyatuan mereka kembali terjadi setelah beberapa hari tak melakukannya semenjak peristiwa penyiksaan waktu itu.


Malam pun telah larut namun sepasang suami istri yang sedang merengkuh nikmatnya penyatuannya itu nampak enggan mengakhiri.


William yang sudah candu dengan tubuh istrinya nampak tak puas jika hanya sekali melakukannya.


Begitu juga dengan Merry, gadis itu nampak sangat menikmati setiap sentuhan dan hentakkan suaminya itu hingga melupakan segala protesnya.


Dan d3s4han panjang dari keduanya pun menandakan mereka telah sampai pada pelepasannya.


Dengan menahan bobot tubuhnya menggunakan satu tangannya, William nampak ambruk di atas tubuh istrinya itu.


Napas mereka terdengar berat dan detak jantungnya pun berdenyut lebih cepat seusai pelepasannya.


"Apa kamu akan tetap di sini ?" ucap Merry saat suaminya enggan beranjak.


"Satu ronde lagi mungkin lebih baik, honey." goda William yang masih enggan mencabut miliknya meski cairan percintaannya sudah habis tak bersisa.


"No, kamu berhutang penjelasan padaku Will." tolak Merry menatap tegas suaminya itu.


"Ok, baiklah." William segera beranjak dari tubuh istrinya itu lalu berguling di sisi gadis itu.


Napasnya nampak naik turun dengan cepat, pria itu nampak puas setelah melakukan percintaan dengan dahsyat.

__ADS_1


"Baiklah, katakan kamu ingin penjelasan seperti apa ?" ucap William kemudian, pria itu nampak tidur miring menghadap istrinya dengan sebelah tangannya menopang kepalanya.


Tangan satunya yang bebas terlihat merayap ke atas tubuh istrinya itu lalu berhenti di puncak bukit kembar milik gadis itu.


Sedikit memilinnya hingga membuat sang istri mengerang nikmat.


"Will, please. Aku ingin bicara serius kondisikan tanganmu." protes Merry dengan galak dan itu membuat William tergelak.


"Galak sekali istriku ini." ledeknya kemudian.


"Diamlah dan dengarkan perkataan ku !!" perintah Merry dengan tegas.


"Hm baiklah." sahut William namun matanya nampak menjelajahi tubuh polos istrinya itu.


"Matamu juga kondisikan !!" teriak Merry dengan kesal karena suaminya itu seakan sengaja menggodanya.


"Astaga honey, mataku takkan bisa di kondisikan saat ada tubuh seindah ini di hadapanku atau aku merem saja tapi jangan salahkan jika aku ketiduran." terang William dengan menahan senyumnya saat melihat istrinya itu nampak bersungut-sungut.


Kemudian Merry segera beranjak untuk menarik selimutnya tapi kaki William sudah menendang selimut itu ke lantai terlebih dulu.


"Kalau kamu tak cepat berbicara aku keburu tidur, honey." ancam William yang pada akhirnya membuat istrinya itu berhenti mencari selimut dan merebahkan tubuhnya kembali, meski ia tak yakin suaminya itu akan beneran tidur.


"Baiklah, dengarkan perkataan ku baik-baik dan jangan menyelanya." tegas Merry kemudian.


"Pertama, aku benar-benar tak sengaja mendorong Natalie dan aku merasa doronganku tak begitu kuat tapi entah kenapa dia bisa luka separah itu, lagipula aku melakukan itu juga demi melindungi diriku sendiri saat suamiku tak bisa melakukannya." ucap Merry yang langsung membuat William akan membuka bibirnya namun Merry sudah menyelanya.


"Kedua, bisakah kamu bersikap tegas pada wanita itu meski dia pernah menyelamatkan nyawamu? aku tidak suka dia tiba-tiba menyentuhmu." imbuh Merry dengan nada memohon.


"Hanya itu ?" William menaikkan sebelah alisnya menatap istrinya itu.


"Sebenarnya banyak tapi kamu tidak mungkin juga bisa mengabulkannya." gerutu Merry dengan kesal.


"Baiklah katakan apa saja !!" perintah William kemudian.


"Karena kamu yang minta jadi aku tidak akan berbasa-basi lagi, tuan William." tegas Merry.


"Aku ingin kamu menyingkirkan wanita itu dari hidupmu dan wanita-wanita lain yang selama ini mengejarmu, aku ingin kamu tidak mengotori tanganmu lagi dengan menghabisi nyawa orang lain, aku juga ingin kamu segera berobat serta melakukan terapi sesuai saran dokter dan aku ingin kamu mencari kedua orang tuaku juga." ucap Merry dengan nada memohon menatap suaminya itu.

__ADS_1


"Apa kamu bisa melakukan semua itu ?" imbuh Merry kemudian.


William nampak menatap istrinya dengan serius. "Baiklah aku berjanji akan melakukan itu semua tapi jika nanti orang tuamu tak menyetujui hubungan kita apa yang akan kamu lakukan ?" tanyanya balik dan tentu saja membuat Merry nampak tercengang.


__ADS_2