
"Tuan Weslyn mengabarkan jika proyek yang gagal kita dapatkan di Singapore waktu itu kini pengerjaannya telah berhenti, tuan." ucap James pagi itu saat William baru tiba di kantornya.
"Terus ?" ucap William seraya melangkahkan kakinya menuju ruangannya.
Di sebelah kirinya nampak bergelayut manja seorang wanita, dia adalah Vivian yang hampir dua bulan ini menjadi tunangan William.
Setelah satu bulan kepulangan James dari Singapore, pria itu tak menyangka sang tuan telah membuat keputusan yang menurutnya sangat tiba-tiba.
Bagaimana tidak, waktu itu William tiba-tiba menyatakan jika akan menikahi Vivian. Wanita yang akhir-akhir ini dekat dengannya.
"Apa anda sudah memikirkannya baik-baik tuan ?" ujar James waktu itu, jujur pria itu masih menginginkan sang tuan kembali pada mantan istri kecilnya tersebut.
Meski ia sendiri juga tidak tahu bagaimana kehidupan wanita itu saat ini.
"Tentu saja, Vivian wanita yang baik dan aku juga mengenal ayahnya dengan baik." sahut William, mengingat ayah Vivian adalah relasi bisnisnya.
"Lalu bagaimana dengan nyonya muda,...." ucapan James terjeda saat William mengangkat tangannya agar dirinya tak melanjutkan ucapannya tersebut.
"Bukankah saya sudah pernah bilang padamu James, jangan bicarakan dia lagi." potong William.
"Biarkan dia bahagia dengan pria pilihan orang tuanya karena itu yang terbaik untuknya." imbuhnya lagi, sejak memutuskan pergi 4 tahun silam William benar-benar tak ingin tahu kabar tentang mantan istrinya itu.
Ia bukannya membenci wanita itu tapi justru sangat mencintainya, namun ia tahu sampai kapan pun hubungan mereka takkan pernah mendapatkan restu.
James nampak terdiam, padahal ia ingin mengatakan jika selama di Singapore pernah melihat mantan istri bossnya tersebut.
"Keputusanku menikah dengan Vivian sudah mutlak jadi jangan mencoba menggoyahkannya." tegas William, 4 tahun lebih pria itu menahan kesakitannya dan sekarang ia ingin bangkit dengan memulai hubungan baru bersama wanita lain.
"James !!" panggil William hingga membuyarkan lamunan James tentang keputusan atasannya waktu itu.
"I-iya, tuan." sahut James sedikit gelagapan.
"Kau baik-baik saja ?" William nampak mengernyit menatap asistennya yang bersikap tak biasa.
"Saya baik-baik saja tuan, jadi apa kita ambil saja proyek itu tuan ?" terang James kemudian.
"Tentu saja, itu proyek yang sangat besar dan pasti akan membuat cabang perusahaan kita di sana semakin berkembang." sahut William yang langsung membuat James nampak menarik sudut bibirnya ke atas, entah kenapa ia tiba-tiba merasa lega.
"Jika anda setuju izinkan saya yang langsung mengurusnya tuan, karena sepertinya tuan Weslyn kurang bisa di andalkan." mohon James, pria itu memang ingin sekali bisa mengunjungi negara itu lagi dan ia tak mengerti kenapa.
Namun tiba-tiba bayangan wajah jutek seorang wanita melintas di pikirannya, bisa di pastikan pria itu ingin pergi kesana karena hal itu meski hatinya bersikeras mengingkari.
"Tidak." ucapan tegas William sontak membuat James tersentak.
"Tapi tuan...."
__ADS_1
"Saya yang akan mengurusnya sendiri, James. Saya tidak menyukai kegagalan untuk kedua kalinya, mengurus satu wanita saja kalian benar-benar tidak pecus." sela William namun itu justru membuat seorang James nampak lega.
"Baik tuan, saya akan segera mempersiapkan semuanya." ucap James kemudian.
"Jadi kalian mau ke Singapore lagi? aku ikut ya ?" kali ini Vivian yang sedari tadi duduk di sofa dengan sebuah majalah di tangannya ikut menimpali.
"Aku tidak sedang liburan Vi." balas William.
"Ku mohon, aku janji tidak akan mengganggumu." mohon Vivian dengan memasang wajah sedihnya dan itu terlihat menggemaskan bagi William, sekilas bayangan mantan istrinya kembali menari-nari di pikirannya.
Harusnya dengan kehadiran Vivian di hidupnya, pria itu bisa melupakan mantan istrinya itu namun setiap kali Vivian bersikap manja ia justru teringat dengan mantannya itu.
"Baiklah." sahut William pada akhirnya, sepertinya pria itu sangat berusaha untuk segera move on dari bayang-bayang masa lalunya.
Sementara itu di belahan bumi lainnya, waktu telah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.
Merry yang sedang menunggu seseorang di Cafe nampak memijit pelipisnya yang akhir-akhir ini sering nyeri.
Wanita itu sedang tidak baik-baik saja, selain kondisi keuangan perusahaannya sedang kacau saat ini sang ayah juga sedang jatuh sakit.
Ingin sekali ia meminta bantuan Alex, namun pria itu sudah mempunyai keluarga sendiri dan juga harus menanggung kehidupan adik-adiknya yang lain.
Selama ini Alex sudah cukup membantu keuangan keluarganya, mengingat semenjak kepindahannya dari Amerika mereka benar-benar memulainya dari awal.
Mengelolah sebuah perusahaan kecil yang di wariskan ayah angkat sang ibu dan sejak itu Merry bekerja keras mengembangkannya meski harus jatuh bangun.
"Apa yang harus aku lakukan ?"
Merry terlihat prustasi, ia tak mungkin berbagi beban dengan ayahnya karena kondisi pria itu akhir-akhir ini kurang sehat.
"Sudah lama menunggu ?" ucapan Alan yang tiba-tiba langsung mengagetkan Merry yang sedari tadi nampak melamun.
"Aku baru selesai meeting." imbuh Alan lagi seraya menghempaskan bobot tubuhnya di kursi seberang wanita itu.
"Tidak juga." sahut Merry, entah ia sudah berapa lama menunggu. Pikirannya yang melayang kemana-mana membuat wanita itu tak memperhatikan waktu.
"Makan dulu ya, aku lapar nih dan jangan nolak." ucap Alan lalu memanggil seorang pelayan dan segera memesan beberapa makanan.
"Aku sudah kenyang, Al." tolak Merry saat Alan memesan juga untuknya.
"Sudah ku bilang aku tidak suka di tolak." tegas Alan, lalu kembali berbicara pada pelayan tersebut.
Sikap Alan yang seperti itu membuat Merry langsung teringat pada mantan suaminya itu, pria itu juga sangat posesif padanya.
Meski dahulu ia merasa tak nyaman tapi jujur, ia saat ini sangat merindukan hal itu.
__ADS_1
Dan tak terasa sudut matanya nampak mengembun dan Merry segera mengalihkan perhatiannya agar tak terlihat oleh pria di depannya itu.
"Sepertinya ada hal penting, tapi kita makan dulu ya." ucap Alan kemudian.
"Sepertinya akhir-akhir ini kamu sering telat makan malam." timpal Merry menanggapi.
"Hanya beberapa kali dan jangan khawatir soal itu." kilah Alan, jauh dalam lubuk hatinya ia senang karena di perhatikan oleh wanita itu.
Selanjutnya mereka nampak berbincang kecil seraya menyantap beberapa menu yang terhidang di atas meja.
"Jadi ada apa kamu mengajakku bertemu malam-malam seperti ini ?" tanya Alan setelah mereka selesai dengan makan malamnya.
"Aku sedang kacau Al, aku tidak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa." sahut Merry kemudian.
"Sepertinya serius ada apa ?" tanya Alan penasaran.
"Aku di ambang kebangkrutan." ucap Merry yang berusaha untuk tegar.
"Bukankah bulan lalu kau bilang baik-baik saja ?" Alan terlihat mengernyitkan dahinya.
"Waktu itu aku sudah berhasil mendapatkan beberapa investor namun entah kenapa mereka tiba-tiba membatalkannya." terang Merry.
"Baiklah, lalu apa yang bisa ku bantu ?" Alan nampak kasihan dengan wanita di hadapannya itu.
"Aku tahu ini sangat tidak tahu diri tapi bisakah kau memberiku pinjaman, aku janji setelah proyek itu selesai dan aku mendapatkan keuntungan pasti akan segera ku kembalikan." mohon Merry.
Mendengar ucapan Merry, Alan nampak terdiam sejenak. "Berapa yang kamu butuhkan ?" tanyanya kemudian.
"1M." sahut Merry yang langsung membuat Alan melebarkan matanya.
"Baiklah, akan ku bicarakan dengan papa dulu. Secepatnya akan ku kabari." janji Alan yang langsung membuat Merry seperti mendapatkan angin segar.
Ia tidak mungkin melepaskan proyek itu begitu saja karena dirinya pasti akan sangat rugi mengingat pengerjaannya sudah hampir 60 persen, jadi mau tak mau ia harus menyelesaikannya sampai akhir.
Beberapa hari setelah itu Alan yang kini sedang berada di luar negeri belum kunjung memberikannya kabar.
Sedangkan proyek yang sedang di kerjakan olehnya telah berhenti dari dua minggu lalu.
"Bu, ada utusan dari PT WS Corporation ingin bertemu." ucap Anne pagi itu saat baru masuk ke dalam ruangan atasannya tersebut.
Merry yang sedang duduk di kursi kerjanya langsung mengernyitkan dahinya.
Sejak ia mempertahankan proyek tersebut, perusahaan itu tak lagi mengganggunya dan setelah tiga bulan kini tiba-tiba muncul kembali.
"Suruh masuk !!" perintahnya kemudian.
__ADS_1
"Baik bu." sahut Anne lalu bergegas memanggil tamunya tersebut.