Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~119


__ADS_3

"Berhenti, An !!" Merry langsung memerintahkan Anne untuk menepikan kendaraannya.


Melihat William dan sang kekasih berpelukan membuat sudut hati Merry terasa sakit.


Namun ia tak boleh egois, bagaimana pun juga pria itu sudah mempunyai tunangan dan rasanya tak pantas jika ia mengharapkan pria itu kembali padanya setelah apa yang ia perbuat.


"Kita putar balik saja." ucapnya kemudian, lalu ia menoleh ke kursi belakang melihat sang putra yang nampak tertidur pulas dengan botol susu masih berada di mulutnya.


"Anda yakin bu ?" tanya Anne memastikan.


"Hm, aku tidak ingin merecoki hubungan mereka." sahut Merry.


Anne nampak mengangguk kecil, kemudian wanita itu memutar balik mobilnya lalu segera meninggalkan kompleks perumahan tersebut.


"Aku yang salah dan kamu lebih pantas mendapatkan wanita yang lebih baik daripada aku." gumam Merry.


Sepanjang perjalanan wanita itu nampak terdiam, mulai menyalahkan dirinya sendiri karena tak pernah belajar dari pengalaman masa lalunya.


Seburuk-buruknya William, pria itu selalu berusaha melindunginya meski dengan caranya yang kurang bisa ia terima.


"Maafkan aku." ucapnya dan bersamaan itu ponselnya berdering nyaring.


"Iya selamat siang." jawabnya setelah melihat siapa yang menghubunginya.


"Nona, tuan Regi ingin bertemu anda siang ini di kantor." ucap seorang wanita dari ujung telepon.


Mendengar itu Merry nampak menghela napasnya sejenak. "Baiklah saya akan segera datang." sahutnya kemudian.


Beberapa saat kemudian setelah mengantar putranya pulang, Merry pergi ke kantor mantan calon mertuanya tersebut.


"Selamat siang om." sapanya saat baru masuk ke dalam ruangan pria tersebut.


"Duduklah !!" perintah tuan Regi dari kursinya, pria itu nampak duduk dengan angkuh menatap Merry.


"Terima kasih." sahut Merry setelah menghempaskan bobot tubuhnya di atas kursi depan meja pria itu.


Kemudian tuan Regi memberikan sebuah dokumen padanya. "Bacalah !!" perintahnya lagi yang langsung di ambil oleh Merry.


Deg!!

__ADS_1


Merry nampak terkesiap setelah membaca dokumen tersebut, di mana ia harus mengembalikan uang yang dulu pernah ia pinjam beserta bunganya yang fantastis.


"Om tidak sedang becanda kan? ini berkali-kali lipat dari pokok pinjamannya dan saya...." ucapan Merry terjeda saat pria paruh baya itu memotong protesnya.


"Kamu sudah menandatanganinya dan itu berarti kamu sudah menyetujuinya." ucapnya dengan tersenyum licik.


Merry langsung menatap sebuah tanda tangan miliknya namun ia tidak pernah merasa menandatangani itu semuanya.


"Anda menjebak saya." ucapnya tak terima, ia mengingat beberapa waktu lalu Alan memintanya untuk menandatangani sebuah berkas kerja sama dengan relasi bisnis pria itu dan ternyata itu hanya akal-akalan pria itu saja.


"Saya kasih kamu waktu dua hari untuk menyelesaikan pembayaran itu, karena saya membutuhkan dana itu secepatnya untuk pembebasan putra saya." tegas tuan Regi tanpa belas kasih.


"Tapi saya tidak mungkin mendapatkan dana sebanyak itu dalam waktu dua hari om." Merry nampak frustasi bahkan seandainya ia menjual perusahaannya pun takkan cukup menutup hutang-hutangnya tersebut.


"Saya tidak mau tahu dalam dua hari kamu tidak memenuhinya maka serahkan perusahaan dan aset-aset berhargamu bahkan itu mungkin juga belum cukup untuk menutup hutangmu itu." perintah tuan Regi.


"Anda benar-benar kejam." Merry langsung bangkit dari duduknya lalu membawa dokumen hutang piutang perusahaannya tersebut.


"Bu, anda baik-baik saja ?" Anne yang sedari tadi menunggunya di luar nampak khawatir.


"Kita di jebak An." sahut Merry seraya menyerahkan berkas yang ia bawa tadi.


"Aku tidak tahu An kenapa tiba-tiba tanda tanganku bisa berada di sana." Merry benar-benar frustasi.


"Lebih baik ibu masuk dulu kita bicarakan lagi di kantor saja." Anne langsung menuntun bosnya itu masuk ke dalam mobilnya.


Beberapa hari kemudian.....


Pagi itu William nampak duduk termenung di kursi kerjanya, selepas mengantar Vivian ke bandara pria itu langsung pergi ke kantornya.


Pria itu telah memutuskan untuk mengakhiri pertunangannya dengan Vivian, meski wanita itu berkali-kali menolaknya namun setelah ia memberikan beberapa ganti rugi wanita itu langsung menyetujuinya.


Wanita di mana-mana memang sama mengejarnya hanya demi sebuah harta.


Dan kini pria itu ingin kembali mengejar mantan istrinya, sudah cukup ia memberikan beberapa waktu untuk wanita itu menenangkan dirinya.


Kemudian William merogoh sesuatu dari dalam celana kerjanya lalu di ambilnya sebuah kotak beludru berwarna merah.


Cincin pertahtakan permata itu akan ia gunakan untuk melamar wanita itu kembali.

__ADS_1


Lantas William segera beranjak dari sana, pria itu nampak tak sabar untuk bertemu dengan dua orang kesayangan dalam hidupnya itu.


"Tuan, apa anda sudah melihat berita pagi ini ?" ucap James yang baru masuk ke dalam ruangannya, wajah pria itu nampak tegang seakan ada hal penting yang mengusiknya.


"Belum, ada apa ?" tanya balik William.


James langsung memberikan ipadnya pada bosnya itu. "Pagi ini tuan Regi mengumumkan jika telah mengakuisisi perusahaan nyonya Merry." ucapnya menjelaskan.


Deg!!


William langsung memicing. "Sejak kapan berita ini terbit? kenapa aku tidak mengetahuinya ?" ucapnya dengan murka.


"Baru beberapa menit yang lalu tuan dan sepertinya tuan Regi melakukan prosesnya dengan senyap hingga kita tak bisa mengendus jejaknya atau bisa jadi beliau sudah merencanakan ini sejak lama." sahut James, mengingat beberapa hari ini ia mengawasi pria itu agar kasus Alan berjalan lancar dan tak di manipulasi.


"Segera cari tahu James, Merry pasti sedang tidak baik-baik saja saat ini." perintah William.


Kemudian pria itu segera meninggalkan ruangannya tersebut lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, ia yakin mantan istrinya itu pasti masih berada di rumah pemberiannya.


"Tuan, anda mencari siapa ?" tanya seorang wanita saat William nampak beberapa kali menekan bel rumah sebelahnya.


"Saya mencari penghuni rumah ini apa mereka ada di dalam ?" sahut William, meski tak ada mobil Merry terparkir di sana tapi pria itu berharap wanita itu ada di dalam bersama putranya dalam keadaan baik-baik saja.


"Apa anda tuan William ?" tanya balik wanita tersebut.


"Benar, nyonya." sahut William.


"Rumah ini sudah di jual tuan dan bu Merry menitipkan sesuatu buat anda, sebentar saya ambil dulu." wanita itu segera masuk ke dalam rumahnya kembali yang berada di sebelah rumah tersebut.


"Ini tidak mungkin." William langsung mengepalkan tangannya, pandangannya nampak memindai rumah dua lantai yang terlihat sepi itu.


"Ini tuan." ucap tetangga Merry seraya menyerahkan sebuah amplop putih.


"Terima kasih." sahut William, lalu segera berlalu ke dalam mobilnya.


Setelah duduk di kursi kemudinya pria itu segera membuka amplop tersebut.


"Saat kamu membaca ini mungkin aku sudah pergi jauh, terima kasih sudah banyak menolongku. Aku memang bodoh karena tak pernah mempercayaimu. Aku juga ingin meminta maaf karena menjual rumah pemberianmu ini, tapi aku janji suatu saat pasti akan menggantinya. Maaf ku bawa Ariel pergi untuk sementara waktu."


William nampak m3r3m4s secarik kertas tersebut setelah selesai membacanya, kemudian ia memukul setir mobilnya karena kesal. Lagi-lagi ia kehilangan wanita itu dan kali ini ia takkan pernah melepaskannya apapun yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2