Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~141


__ADS_3

Hari itu juga Anne dan James telah resmi menjadi suami istri dan setelah urusan administrasi mereka beres James akan segera membawa wanita itu tinggal di Amerika bersamanya.


"Will, apa keputusan kita sudah benar ?" Merry nampak menghampiri suaminya yang sedang duduk di meja kerjanya setelah ia masuk ke dalam ruangan pria itu, kini mereka telah berada di Singapura sebelum kembali ke Amerika.


William yang sedang memeriksa berkas-berkas di tangannya langsung mengangkat wajahnya menatap istrinya itu.


"Kenapa, hm ?" William menepuk pahanya agar wanita itu duduk di sana.


"Aku khawatir jika Anne nanti tak bahagia hidup bersama James." Merry berucap dengan wajah sedih.


"Aku yakin mereka bahagia dengan berjalannya waktu." sahut William.


"Kenapa kamu melakukan ini semua? bukannya kita juga tahu mereka tidak melakukan apapun saat itu, melihat penolakan Anne aku yakin ia terpaksa menerima pernikahan itu." Merry masih belum mengerti jalan pikiran suaminya yang keukeh ingin menjodohkan mantan asistennya itu dengan James.


"Ada alasan yang belum bisa aku ceritakan, aku tidak ingin kamu terlalu banyak berpikir apa yang bukan menjadi urusanmu. Percayalah, ini semua untuk kebaikan keduanya terutama James. Kamu tahukan hanya dia yang ku punya selain kalian dan aku tak ingin dia menghancurkan hidupnya hanya demi sesuatu yang tidak penting." terang William yang sama sekali tak Merry mengerti, meski mereka sudah kembali bersama tapi baginya sosok pria itu tetaplah misteri.


"Entah apa rencanamu tapi berjanjilah jika Anne akan hidup bahagia, dia sudah terlalu menderita selama ini." mohon Merry ia pun juga sudah menganggap Anne seperti keluarganya sendiri.


"Tentu saja, Anne tidak akan di usik lagi oleh ibu tirinya itu. Karena jika itu terjadi mereka harus siap-siap mendekam di penjara." ucap William mengingat bagaimana ia memberikan surat perjanjian hitam di atas putih saat menyerahkan uang permintaan ibu tirinya Anne tersebut.


Flash back


"Sepertinya 500 juta terlalu sedikit untuk anda nyonya, bagaimana kalau kami memberikan anda 1 miliar." ucap William tiba-tiba yang langsung membuat semua orang yang ada di sana melongo terutama ibu serta adik tirinya Anne yang mulutnya sudah menganga bahkan air liurnya pun hampir menetes.


"Terima kasih tuan ya segitu lebih baik." ucap wanita itu tanpa rasa malu telah menjual anak tirinya sendiri.


"Tetapi saya rasa segala sesuatu itu tidak ada yang gratis nyonya, seperti saat anda merawat suami anda yang sedang sakit-sakitan itupun juga pasti tidak gratiskan ?" terang William yang langsung membuat wanita paruh baya itu menelan ludahnya.


"Apa maksud anda, tuan ?" ucapnya pura-pura tak mengerti, meski ia tahu maksud pria di hadapannya itu.


Selama ini ia bertahan dengan suaminya yang sakit-sakitan itu karena rumah yang mereka tinggali saat ini, rumah itu akan menjadi miliknya jika pria itu meninggal dunia.

__ADS_1


Meski sang suami bucin padanya tetapi pria itu tetap bersikeras tidak akan memberikan rumah yang mereka tempati sebelum dirinya tiada.


Rumah yang mereka tempati bukanlah rumah kecil, pak Wijaya ayahnya Anne yang mantan seorang pengusaha membangun rumah ini saat ia masih sukses di kala itu.


Hanya saja istrinya itu sangat pemalas sekali hingga membiarkan rumah yang tadi terlihat mewah kini seperti bangunan tua yang tak terawat.


William nampak menyodorkan selembar kertas yang baru saja ia ambil dari dalam tas kerjanya, bahkan James yang melihat itu pun nampak melongo tak percaya jika sang tuan sudah mempersiapkannya sedetail mungkin dan kini ia bisa menarik kesimpulan jika pria itu memang sudah lama mengincar Anne untuk menjadi pendampingnya dan kebetulan kejadian tadi pagi langsung di manfaatkan oleh tuannya tersebut.


"I-ini apa ?" ibu tirinya Anne nampak tak percaya dengan apa yang ia lihat itu.


"Ini surat perjanjian, bahwa saya akan memberikan anda uang kompensasi sebesar 1 miliar namun dengan syarat anda harus merawat tuan Wijaya dengan sangat baik dan yang kedua jangan pernah mengganggu kehidupan Anne lagi jika itu sampai terjadi maka anda harus siap mendekam di penjara." terang William membacakan poin-poin penting di dalam surat perjanjian tersebut.


Nyonya Norma sang ibu tiri nampak menelan salivanya namun kesempatan tidak datang kedua kali dan kapan lagi ia akan mendapatkan uang 1 miliar secara cuma-cuma toh jika anak tirinya itu pergi ikut suaminya ia akan semakin berkuasa di rumah ini.


"Baiklah, saya setuju." tanpa meminta pertimbangan pada sang suami, nyonya Norma langsung membubuhkan tanda tangannya.


Flash back off


...----------------...


Beberapa menit yang lalu mereka telah tiba di Amerika dan James langsung membawa wanita itu ke rumah yang selama ini jarang sekali ia tempati.


"Aku sudah berjalan cepat, langkahmu saja yang terlalu besar." protes Anne dengan kesal, wanita itu nampak membawa kopernya seorang diri tanpa bantuan pria itu.


"Dasar suami tidak peka." gerutunya, namun sepertinya James mendengarnya hingga pria itu langsung berbalik badan menatapnya.


"Kau bilang apa ?" ucapnya dengan memicing.


"Ti-tidak, aku tidak bilang apa-apa. Kamu mungkin belum sempat membersihkan telingamu." sahut Anne, ia yakin pria itu berusaha keras menahan emosinya.


"Di rumah ini tidak ada pelayan jadi kau yang harus membersihkan rumah ini." tegasnya kemudian, namun tak membuat Anne bereaksi apa-apa dan itu membuat James nampak memicing. Entah kenapa membuat wanita itu kesal adalah hobby baru pria itu saat ini.

__ADS_1


"Agar uang yang ku berikan pada keluargamu ada gunanya sedikit." sambungnya seraya melirik ke arah wanita itu dan tepat sasaran karena wanita itu saat ini nampak sangat geram.


"Jadi kau menikahiku hanya untuk menjadi babumu ?" Anne bersungut-sungut seraya berjalan mendekati suaminya itu.


"Ck." James nampak tersenyum sinis.


"Jadi kau ingin menjadi istri sungguhanku hm ?" ucapnya seraya mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah wanita itu.


"Itu hanya ada di dalam mimpimu." ucap James lalu menjauhkan tangannya dan pria itu segera berlalu membuka sebuah pintu kamar.


"Tempat tidurmu ada di sini dan tempat tidurku di lantai atas, kau bebas melakukan apapun di rumah ini tapi aku peringatkan jangan sekali-kali menginjak lantai atas apalagi kamarku." tegasnya.


Anne nampak diam mendengarkan, entah pernikahan macam apa yang ia jalani saat ini. Ingin sekali ia membatalkan pernikahan ini namun ibu tirinya itu pasti tidak akan tinggal diam apalagi setelah mendapatkan uang 1 miliar dari pria itu.


"Ambillah, itu uang nafkah dariku dan ku harap kau memakainya dengan bijak karena untuk mendapatkan itu tidaklah mudah." James mengulurkan sebuah kartu ATM yang langsung membuat Anne nampak tersenyum sinis, kemudian pria itu segera melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


"Ingat pernikahan kita hanya di atas kertas dan ku harap kau tidak mengharapkan apapun dariku dan lebih baik kita tak saling ikut campur urusan masing-masing." imbuh James lagi kamudian berbalik badan lantas melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Anne yang masih mematung di tempatnya nampak sinis menatap ATM di tangannya itu, lalu wanita itu segera mendorong kopernya dengan kasar masuk ke dalam kamarnya.


Sementara itu Merry dan William yang baru tiba di Bandara New York langsung menuju kediaman Alex, karena William ingin mengatakan pada keluarga sang istri jika mereka telah kembali rujuk.


"Will, aku masuk duluan ya sama Ariel." ucap Merry saat mobil yang membawa mereka berhenti di depan Mansion Alex.


"Hm, nanti aku menyusul." sahut William, sepanjang perjalanan pria itu nampak sibuk bertelepon dengan relasi bisnisnya.


Akhirnya Merry mengajak putranya itu turun dari mobilnya dan membiarkan sang suami menyelesaikan pekerjaannya di dalam sana.


"Apa kamu kangen kakek dan nenek ?" tanya Merry pada putranya itu sembari melangkah masuk ke dalam halaman mansion kakaknya tersebut.


"Hm, tentu saja." sahut Ariel dengan riang.

__ADS_1


"Hei, kalian dari mana saja ?" Celine yang baru keluar dari dalam rumahnya langsung memicing saat melihat adik iparnya itu datang.


"Bagus ya meninggalkan orang tuamu padaku dan kamu seenaknya pergi tanpa kabar, suami wanita mana yang sudah kau goda j4l4ng hah ?" teriak Celine dengan nada hinaan dan itu membuat Merry nampak geram karena wanita itu sudah berbicara kasar di depan putranya.


__ADS_2