
"Kau bicara padaku ?" Anne langsung melepaskan headset bluetooth di telinganya, rupanya sedari tadi wanita itu mendengar musik melalui alat itu.
James terlihat kesal, kekhawatirannya ternyata hanya sia-sia belaka. Kemudian pria itu segera berbalik badan dan berlalu pergi dari sana.
Anne bukannya tidak mendengar teriakan suaminya itu namun ia memang sengaja ingin membuatnya kesal, berharap pria itu segera membuat keputusan untuk menceraikannya. Ia tidak mau hanya di jadikan boneka dan di tiduri saat pria itu sedang berhasrat saja.
Setelah keluar dari kamar mandinya, pandangan Anne sedikit melebar saat melihat seprai kasurnya yang telah di ganti.
"Apa pria itu yang melakukannya ?"
Anne sungguh tak peduli, bagus jika pria itu yang membersihkan sisa perbuatannya semalam yang membuatnya muak jika mengingatnya.
Beberapa saat kemudian Anne telah rapi dengan pakaian rumahan, ia memilih menggunakan celana training panjang dan sebuah sweater berleher tinggi untuk menutupi tanda kemerahan di lehernya.
Sepertinya mulai hari ini ia akan mengenakan pakaian tertutup jika pria itu di rumah, ia tak ingin kejadian semalam terulang kembali.
Merasakan perutnya yang tiba-tiba keroncongan membuat Anne segera keluar kamarnya kemudian berlalu ke dapur. mengambil beberapa butir telur lalu memecahkannya.
"Saya mau pergi."
Tiba-tiba sebuah suara menyapanya saat ia sedang memasak, Anne hanya menjawabnya dengan singkat tanpa menoleh.
"Hm." ucapnya.
"Apa kau mendengarku? apa kau memakai alat si4l4n itu lagi ?" James yang merasa di abaikan langsung mencercah beberapa pertanyaan.
"Aku mendengarnya tuan James dan jika mau pergi ya pergi saja aku tidak peduli." Anne menoleh sekilas lalu kembali menatap penggorengannya.
"Mulai hari ini jauhkan alat si4l4n itu dari telingamu jika tidak, segera terima hukumanmu." tegas James menatap istrinya itu yang sepertinya tak peduli dengan ucapannya, karena wanita itu terus membolak-balik omelet di atas penggorengan hingga hancur.
"Tuan, anda memanggil saya ?"
Tiba-tiba ada seorang pria masuk dan tentu saja itu memancing Anne untuk meliriknya sekilas karena tak biasanya rumahnya di masuki oleh orang lain selain mereka berdua.
"Mulai hari ini Mark akan menjadi sopir pribadimu." ucap James setelah melihat kedatangan anak buahnya itu yang langsung membuat Anne menatapnya.
"Sopir pribadi ?"
Bukannya senang, Anne justru bersungut-sungut. Jika ada sopir maka ia takkan bisa pergi bekerja atau pergi sesuka hatinya.
"Aku tidak membutuhkan sopir, jadi lupakan ide gilamu itu." tolaknya dengan lugas.
__ADS_1
"Aku tak harus membutuhkan persetujuanmu, meskipun ada sopir kamu tetap harus izin dahulu padaku sebelum pergi." balas James tak kalah tegas.
Anne tak menanggapinya lagi karena ujung-ujungnya pasti ia akan tetap kalah dan tetap harus mematuhi pria itu. Lebih baik wanita itu melanjutkan membuat omeletnya yang ternyata telah hancur akibat kekesalannya.
"Nyonya Merry sedang hamil, jika mau Mark bisa mengantarmu ke sana." ucap James kemudian yang langsung membuat istrinya itu menghentikan tangannya lalu mematikan api kompornya.
"Benarkah ?" tukasnya seraya menatap suaminya itu.
"Hm." sahut James kemudian melangkahkan kakinya pergi.
"Jadi nyonya Merry hamil? sepertinya aku harus kesana." gumam Anne, namun wanita itu tiba-tiba mengurungkan niatnya.
"Lebih baik besok saja." sambungnya saat merasakan tubuhnya masih lelah akibat pertempurannya semalam.
"Tidak, itu bukan bertempur tapi dia yang menyerangku semalam." Anne mangacak-acak rambutnya dengan kesal hingga membuat Mark yang masih berdiri tak jauh darinya itu nampak mengernyit.
"Anda baik-baik saja, nyonya ?" tanya pria berusia sekitar 40 tahunan itu.
"Astaga." Anne langsung terlonjak kaget saat mendengar suara pria itu.
"Ke-kenapa kau masih di sini ?" ucapnya kemudian.
"Tidak, aku lagi tidak ingin pergi." sahut Anne sembari melangkah membawa sepiring omelet yang telah hancur ke meja makannya.
Mark yang melihat pun nampak tak berselera. "Apa hari ini anda ingin pergi ke tempat lain ?" tanyanya lagi.
"Tidak, aku tidak ingin kemana-mana." sahut Anne di tengah kunyahannya, meski bentuknya gagal total rasanya tetap nikmat di lidahnya atau memang ia sedang lapar akibat percintaannya semalam.
Mengingat hal itu Anne nampak memasukkan satu sendok penuh omelet ke dalam mulutnya hingga membuat Mark langsung melongo.
"Baiklah nyonya sepertinya ada membutuhkan lebih banyak istirahat." timpalnya kemudian, namun sepertinya ucapannya terdengar salah di telinga nyonyanya tersebut hingga membuat wanita itu langsung menatapnya kesal.
"Saya sedang tidak sakit tuan Mark tapi saya sedang kesal." ucap Anne dengan berapi-api yang langsung membuat pria hampir paruh baya itu nampak tergelak dalam hati.
Pria itu sangatlah tahu apa permasalahan sang nyonya mudanya itu, menikah dengan pria yang tak mencintainya memang begitu sulit untuk di jalani.
"Bersabarlah sedikit lagi nyonya, saya yakin kebahagiaan anda akan semakin dekat. Baiklah jika memang hari ini anda tidak ingin kemana-mana, saya akan kembali ke gudang." ucapnya kemudian, namun sepertinya Anne tak begitu peduli dengan ucapannya karena wanita itu terus saja menyuapkan omeletnya ke dalam mulutnya dengan tak sabar.
Mark tersenyum kecil kemudian pria itu segera berlalu pergi dari sana, pekerjaannya sangat menumpuk namun Tuannya itu menambahi pekerjaannya lagi tapi ia sedikit pun tak masalah karena sudah menganggap James seperti anaknya sendiri.
"Tuan, sepertinya saya akan kembali ke markas saja karena nyonya sedang tidak ingin kemana-mana." tukas Mark setelah menghampiri mobil yang di kendarai oleh James, sebagai penanggung jawab klan pria itu harus slalu mengkoordinir para anggotanya.
__ADS_1
"Kamu yakin dia tidak ingin pergi ?" James kembali memastikan.
"Benar tuan."
"Baiklah kamu bisa pergi sekarang dan awasi terus Marco." ucap James kemudian.
"Baik tuan, ngomong-ngomong perihal nyonya Grace...." Mark langsung menghentikan ucapannya saat James mengangkat tangannya.
"Terima kasih sudah membantuku, selanjutnya biar aku yang mengurusnya." sela James kemudian.
"Baik tuan, apa anda ingin pergi sekarang tuan ?" tanya Mark saat melihat James nampak rapi dengan setelan kerjanya.
"Tidak, saya hanya memanasi mesin." sahut James lalu mematikan mesin mobilnya, kemudian pria itu bergegas turun.
"Baik tuan, kalau begitu saya pergi dulu." Mark mengangguk kecil lalu segera meninggalkan tempat tersebut, pria itu nampak geleng-geleng kepala menatap tuannya yang telah rapi dengan setelan kerjanya itu masuk kembali ke dalam rumahnya.
"Saya lapar bisa kamu buatkan omelet untuk saya." ucap James seraya meletakkan kunci mobilnya di atas meja makan.
Anne yang sedang mencuci bekas alat makannya hanya meliriknya sekilas lalu kembali fokus dengan cuciannya.
"Saya bilang buatkan saya makanan, apa kamu tidak mendengarnya ?" James mulai menaikkan oktaf suaranya.
"Aku dengar tapi tak biasanya kamu makan di rumah." sahut Anne seraya mengeringkan tangannya, karena selama mereka menikah pria itu baru satu kali makan masakan buatannya.
"Anne, tidak bisakah kamu membuat saya tidak mengulang perkataan saya lagi." ucap James dengan kesal bercampur gemas melihat wanita keras kepala di hadapannya itu.
"Iya, tapi masalahnya bahan makanan di rumah sudah habis semuanya." tukas Anne sembari melangkah ke arah lemari pendingin lalu membukanya.
"Sepertinya kau sangat sia-sia membayar listrik." cibir Anne seraya menunjukkan lemari pendingin yang nampak kosong melompong.
"Ayo belanja !!" ucap James kemudian yang langsung membuat Anne membola, apa pria itu sadar saat mengatakan hal itu karena semenjak ia tinggal di rumahnya tersebut pria itu tak pernah mengajaknya untuk berbelanja bahkan mungkin ia makan atau tidak dia tidak pernah peduli.
"Kamu serius mau belanja ?" tanyanya memastikan.
"Saya tidak ada waktu, mau ikut atau tidak."
Setelah mengatakan itu James langsung berbalik badan lalu melangkahkan kakinya menunju pintu keluar rumahnya.
"Tentu saja aku mau."
Anne bergegas menyusul, selama ini ia hanya berbelanja sedikit demi sedikit di market dekat tempatnya bekerja tapi kali ini ia akan membuat pria itu bangkrut.
__ADS_1