
"Sudah ku katakan, jika berjalan lebih cepatlah sedikit." tegur James yang terlihat kesal karena terlalu lama menunggu untuk di bukakan pintu oleh istrinya itu.
"Maaf aku ketiduran." sahut Anne.
"Apa kau sengaja ingin menggodaku dengan berpenampilan seperti itu ?" cibir James saat melihat pakaian istrinya itu sedikit terbuka karena kancingnya terlepas hingga menampakkan kedua asetnya yang sedikit menyembul.
"Menggoda apaan ?" sungut Anne, namun saat mengikuti arah pandang pria itu ia langsung menelan ludahnya lalu seketika ia menemukan ide jahil.
"Jadi kau tergoda ?" ucapnya sembari memainkan kedua matanya bergantian, namun tangannya nampak menutupi dadanya yang sedikit terbuka itu.
"Dalam mimpimu." James langsung menyentil dahi wanita itu.
"Ish sakit." gerutu Anne seraya mengusap dahinya yang terasa panas lalu ia mengikuti langkah pria itu masuk ke dalam rumahnya.
"Apa dia tidak suka wanita ?"
Anne masih sangat heran dengan sikap suaminya itu, dua kali mereka pernah tidur dalam seranjang bahkan yang terakhir kalinya mereka tidur dengan saling berpelukan tanpa busana namun pria itu sedikit pun tak melecehkannya.
"Apa jangan-jangan dia penyuka sesama jenis ?"
Anne langsung bergidik ngeri, jangan-jangan pria itu menikahinya hanya untuk menutupi aibnya saja.
Sedangkan James nampak mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumahnya, terlihat bersih dan rapi hingga tak ada alasan lagi untuk mencela wanita itu.
Akhirnya pria itu segera menaiki anak tangga lalu saat berada di tengah-tengah tangga ia berbalik badan. "Buatkan saya kopi !!" perintahnya kemudian hingga membuat Anne yang tadinya ingin masuk ke dalam kamarnya langsung berhenti.
"Iya." sahutnya kemudian, bagaimana pun juga ia seorang istri dan sudah kewajibannya melayani pria itu. Toh hanya membuat kopi dan bukan melayaninya di ranjang pikirnya.
Anne bergegas ke dapur lalu segera membuat air panas, Setelah selesai baru meletakkannya di atas meja makan.
Saat hendak masuk kembali ke dalam kamarnya, ia melihat suaminya itu menuruni anak tangga dengan pakaian rumahan dan rambut yang nampak basah.
Pria bermuka datar itu memang terlihat sangat tampan dengan bentuk tubuh yang atletis namun tetap saja mulutnya pedas seperti cabe.
"Mau kemana ?" tanya James saat istrinya itu hendak membuka pintu kamarnya.
"Masuk kamar memang mau ngapain lagi." sahut Anne, lagipula di antara mereka sudah tidak ada urusan apapun lagi.
"Duduk, saya mau bicara !!" James menggerakkan dagunya sebagai isyarat agar istrinya itu duduk di kursi yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Anne yang sebenarnya malas berurusan dengan pria itu nampak melangkah ogah-ogahan lalu menghempaskan bobot tubuhnya di sana.
"Apa kau mengadu sesuatu pada tuan William atau nyonya Merry ?" tuding James setelah menyesap kopinya.
"Mengadu apa? aku belum pernah bertemu atau berhubungan dengan mereka semenjak kita menikah." sahut Anne tak mengerti.
"Ku harap kau bisa menjaga mulutmu untuk tidak membicarakan rumah tangga kita ke mereka atau pun orang lain." tegas James dan tentu saja itu membuat Anne langsung tersinggung.
"Kau pikir aku tukang gosip? tenang saja tuan James yang terhormat mulutku bisa kau jamin untuk tidak menceritakan perihal apapun yang kau sebut sebagai rumah tangga itu." sahut Anne dengan nada sindiran, rumah tangga? ia benar-benar tak merasa berumah tangga dengan pria itu. Rumah tangga macam apa yang ia jalani jika keduanya saling menghindari dan tak ingin ikut campur urusan masing-masing.
"Ya lebih baik seperti itu." ucap James, kemudian membawa secangkir kopinya lalu segera beranjak dari duduknya dan kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Huss huss, pergi sana yang jauh kalau perlu tidak usah kembali lagi." gerutu Anne sambil mengibaskan-ngibaskan tangannya ke udara seolah sedang mengusir pria itu.
"Jangan lupa besok pagi siapkan kopi lagi untukku." perintah James yang tiba-tiba berbalik badan hingga membuat Anne langsung tersenyum nyengir dan salah tingkah saat menatapnya.
"I-iya, ini ada nyamuk yang bandel." Anne nampak menepuk udara seolah ada nyamuk di sana.
"Dasar nyamuk nakal ku grepek juga ginjalmu itu." imbuhnya lagi yang sontak membuat James yang kembali menaiki anak tangga nampak menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah kepergian suaminya itu Anne nampak bernapas lega, kemudian ia segera kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Astaga aku kesiangan." Anne langsung loncat dari ranjangnya saat baru membuka matanya dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
Wanita itu bergegas keluar dari kamarnya, semoga saja suaminya itu belum turun dari kamarnya. Karena ia harus membuatkannya kopi sebelum pria itu berangkat bekerja, jika tidak maka menu sarapan yang akan ia dapatkan adalah perkataan pedas dari mulut pria itu.
"Baru membayangkan saja asam lambungku sudah kambuh." gerutunya sembari membuat air panas.
"Hm, mau makan apa hari ini ?"
Samar-samar Anne mendengar seseorang berbicara dari lantai atas, bisa di pastikan itu pasti suaminya.
"Nanti biar Nick yang belikan, kamu jangan kemana-mana."
Anne nampak menajamkan pendengarannya saat mendengar suaminya itu berbicara lagi, sepertinya pria itu sedang menghubungi seseorang di telepon. Namun siapa yang di hubunginya sepagi ini, apalagi pria itu berbicara dengan nada lembut tak seperti saat berbicara padanya jika tidak datar ya pedas seperti cabai.
"Aku juga merindukanmu, love you too."
Anne langsung melotot saat mendengar kata terakhir pria itu sebelum terdengar derap langkahnya menuruni anak tangga.
__ADS_1
"Rindu? siapa yang dia rindukan ?"
Anne yang nyawanya belum sepenuhnya terkumpul pun lagi-lagi di paksa untuk berpikir.
"Bodoh amat, dia mau punya selingkuhan atau apa aku tak peduli." akhirnya Anne kembali fokus dengan menyeduh kopi untuk suaminya itu.
"Tapi kalau di pikir-pikir jika aku terlalu cepat minta cerai darinya, pasti aku yang akan rugi karena tidak akan mendapatkan harta gono gini belum lagi statusku juga janda nanti."
Saat sedang mengaduk kopinya Anne kembali berpikir, jaman sekarang ia harus pintar-pintar jadi perempuan. Ia harus mengesampingkan perasaannya dan lebih mengedepankan logikanya.
"Janda ting-ting dan kaya raya sepertinya itu lebih baik, paling tidak saat itu aku bisa menangis meratapi nasib di dalam mobil lamborghini bukan di pojokan dapur."
Anne nampak terkikik sendiri saat memikirkan ide gilanya dan itu tak luput dari perhatian James yang sedari tadi memperhatikannya dari meja makan.
"Apa kau akan mengaduknya sampai dingin ?" ucap James yang langsung membuat Anne terlonjak kaget.
"Astaga, sejak kapan di situ ?" Anne terlihat seperti maling yang terpergok mencuri.
"Sejak kau tertawa sendiri seperti orang gila." cibir James lalu mengambil kopi yang baru di hidangkan oleh wanita itu.
"Baru juga memikirkan ide gila itu sudah hampir jantungan begini."
Anne nampak menghela napasnya berkali-kali untuk menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan.
"Tenang Anne, tenang. Kau itu wanita kuat."
"Baiklah rencana pertama aku harus berakting menjadi istri yang baik dengan begitu dia takkan keberatan jika aku mulai menguras uangnya."
Anne langsung terkikik dalam hati, menguras uang suami bukannya itu halal? Lagipula siapa suruh setuju menikah dengannya.
Beberapa saat kemudian setelah menghabiskan kopinya, James segera beranjak dari duduknya. Namun saat ia hendak pergi Anne langsung mengulurkan tangannya hingga membuat pria itu menautkan kedua alisnya tak mengerti.
"Bawa sini tanganmu." Anne langsung mengambil punggung tangan pria itu lalu menciumnya dengan takzim.
"Kau..." James nampak terkejut.
"Itu adat di negaraku, saat suami hendak pergi bekerja istri harus mencium tangannya berharap setiap langkah sang suami di berkahi oleh Tuhan." terang Anne menjelaskan.
James yang tak paham dan sepertinya tak peduli hanya geleng-geleng kepala kemudian bergegas pergi.
__ADS_1