
"Maaf kak kami merepotkan mu." Merry merasa bersalah pada keluarganya terutama kedua orangtuanya, karena berkat dirinya semua harta mereka ludes tak bersisa dan mau tak mau mereka kembali ke Amerika dengan menumpang hidup di rumah Alex.
Merry yang tak biasa merepotkan orang lain kini ia benar-benar merasa tak berguna.
"Kenapa ngomong begitu? kita adalah keluarga, milikku juga milikmu. Lagipula rumah sakit di sini juga lebih canggih dan Daddy pasti akan kembali sehat seperti dulu." sahut Alex menenangkan.
"Terima kasih, aku juga akan bekerja agar tidak terlalu merepotkanmu." ucap Merry dan bersamaan itu Celine yang baru datang nampak berjalan mendekat.
"Iya itu lebih baik, karena kami juga mempunyai masa depan yang harus kami urus." timpalnya menyela perkataan mereka yang langsung membuat Alex menatapnya dengan tajam.
"Jaga bicaramu Cel." tegur Alex dengan nada tinggi pada istrinya tersebut.
"Sudah kak, nanti mommy dan Daddy dengar." Merry langsung menenangkan, ia paham kakak iparnya itu pasti keberatan dengan kehadiran keluarganya di rumah suaminya tersebut.
"Maafkan kami ya kak merepotkanmu dan kak Alex, tapi aku janji akan segera mencari pekerjaan." ucapnya kemudian sembari menatap kakak iparnya tersebut.
"Tidak, aku tidak setuju. Aku cukup mampu menghidupi kalian semua, lebih baik kamu fokus dengan Ariel dia butuh kamu di sisinya." tolak Alex tak peduli sang istri sudah sangat cemberut.
"Baiklah sekarang kamu berstirahatlah." lanjutnya kemudian yang langsung di angguki oleh sang adik.
Setelah Merry berlalu pergi Celine nampak menatap suaminya dengan tak ramah.
"Selalu saja keluargamu itu merepotkan mu." keluhnya kemudian.
"Aku tidak pernah merasa di repotkan, bagiku mereka adalah segalanya bahkan jika bisa nyawaku akan ku pertaruhkan demi mereka." tegas Alex hingga membuat sang istri tak berkutik.
"Semoga saja mereka tidak ikut campur urusan rumah tangga kita." Celine berucap dengan kesal namun tetap dengan nada rendah, karena ia harus tetap terlihat baik di depan pria itu.
"Mereka tidak ikut campur sayang, tapi sudah kewajiban ku sebagai seorang anak sekaligus kakak membantu mereka, tolong mengertilah. Kamu mau apa hm? tas branded? perhiasan? katakan pasti akan ku belikan." bujuk Alex seraya menggenggam tangan istrinya tersebut.
Mendengar tawaran suaminya yang menggiurkan tentu saja itu membuat Celine kembali senang, meski jatah bulanan pria itu lebih dari cukup namun jika ia mendapatkan lebih lagi kenapa tidak.
"Hm, ada tas dan perhiasan yang ku taksir." sahut Celine yang mulai menerbitkan senyumnya.
"Kenapa tidak bilang ?" Alex menatap istrinya itu dengan gemas.
__ADS_1
"Karena baru launching saat kamu berada di Indonesia." sahut Celine beralasan.
"Maaf ya, ya sudah ayo pergi." ajak Alex kemudian, sebenarnya ia lelah karena baru saja tiba namun demi rasa cintanya pada sang istri pria itu mengesampingkan dirinya sendiri.
Tak peduli malam hampir larut, mereka tetap pergi ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli tas dan perhiasan yang wanita itu inginkan.
"Terima kasih sayang." Celine terlihat sangat bahagia karena Alex selalu memenuhi keinginannya, kini kalung dan tas branded sudah berada di tangannya.
"Apa kamu tak merindukanku ?" ucap Alex setelah mobil mereka mulai melaju kembali ke rumahnya, beberapa hari berada di Indonesia membuat pria itu sangat merindukan sentuhan istrinya itu.
Tangannya nampak mengusap paha wanita itu yang tak tertutup oleh rok pendeknya.
"Aku juga sangat merindukanmu." Celine sedikit melenguh dengan sentuhan suaminya itu.
Sayang sekali mereka berada di dalam mobil dengan seorang sopir, jika tidak Alex pasti sudah mengungkung wanita itu dan segera menuntaskan hasratnya.
Keesokan paginya....
Pagi itu Celine nampak bangun sangat pagi lalu mulai menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa untuk bekerja.
"Sayang, ini masih sangat pagi kau mau kemana ?" tanya Alex yang nampak masih bergelung di dalam selimutnya.
Setelah percintaannya semalam yang begitu dahsyat membuat pria itu langsung tertidur pulas dan tak menyadari jika sang istri telah bangun dan siap untuk pergi.
"Hari ini aku ada meeting penting dengan klien dan ada beberapa pengambilan gambar juga." sahut Celine yang sudah nampak rapi meski jarum jam baru menunjukkan pukul 7 pagi.
"Tapi bukannya liburmu sampai besok ?" Alex mengingatkan karena istrinya itu ia suruh mengambil cuti beberapa hari untuk menyambut kedatangan orang tuanya.
"Tapi ini sangat mendadak sayang." sahut Celine beralasan.
"Tapi kamu tidak lamakan? baiklah nanti aku akan menjemputmu, sekalian kita ajak Ariel jalan-jalan mengelilingi kota ini." tukas Alex seraya menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, ia ingin istrinya itu dekat dengan Ariel hingga menyadarkan wanita itu jika seorang anak itu sangat penting dalam berumah tangga.
Mengingat selama ini Celine selalu meminta untuk menunda momongan hanya karena masih ingin mengejar karirnya.
"Tapi aku bukan pemotretan di sini." ucap Celine dengan nada ragu yang langsung membuat suaminya itu mengernyit.
__ADS_1
"Maksud kamu ?" tanyanya tak mengerti.
"Aku ada pemotreran di California selama beberapa hari." sahut Celine seraya menutup koper pakaiannya.
Alex yang melihat istrinya membawa banyak pakaian ganti hanya bisa mendesah kasar, lagi-lagi dirinya di tinggal oleh wanita itu.
"Ayolah sayang ini semua demi karirku." bujuk Celine saat melihat suaminya yang nampak kesal, lalu wanita itu segera mendekatinya.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini? apa kemewahan yang ku berikan padamu selama ini kurang ?" ucap Alex menatap istrinya tersebut.
"Tidak, bukan itu. Kamu tahu kan aku membangun karirku selama bertahun-tahun dan tidak semudah itu aku tinggalkan begitu saja, aku janji hanya sampai kontrak kerjaku sama agency berakhir." mohon Celine seraya mengusap lembut dada bidang suaminya itu.
"Baiklah, aku tunggu waktu itu tiba dan saat itu kamu harus memberikanku banyak anak." tegas Alex kemudian.
"Tentu saja." Celine langsung mengecup sekilas bibir suaminya tersebut, lalu wanita itu segera beranjak sebelum pria itu melakukan hal lebih padanya.
"Aku berangkat bersama managerku, lebih baik kamu beristirahatlah kembali." imbuhnya lagi seraya menarik kopernya dan segera berlalu keluar dari kamar tersebut.
Alex yang masih berada di atas ranjangnya nampak mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian pria itu segera bangkit lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa kamu tidak bisa berhati-hati ?" teriak Celine saat Ariel tak sengaja menabrak kopernya.
"Maaf Aunty." ucap Ariel.
"Kalau habis mainan langsung di rapikan jangan membuat rumahku ini berantakan." ucapnya kemudian hingga membuat Merry yang berada di dapur langsung keluar.
"Dia hanya anak kecil tak seharusnya kamu berkata kasar begitu ?" tegurnya pada Celine.
"Ck, kamu di sini cuma numpang tidak usah banyak protes. Jadi lebih baik kamu bantu-bantu para pelayanan biar keberadaanmu di sini ada gunanya sedikit." cibir Celine menatap adik iparnya tersebut, kemudian ia segera berlalu pergi sebelum wanita itu menanggapi perkataannya.
Merry nampak menghela napasnya sejenak, ia tak menyangka Celine banyak sekali berubah. Padahal sebelumnya wanita itu sangat baik pada keluarganya.
"Kamu sabar ya sayang, Mommy akan segera mencari pekerjaan lalu kita akan segera pindah dari sini." ucapnya kemudian pada sang putra.
Sebenarnya ia bisa saja menghubungi mantan suaminya untuk meminta bantuannya, namun ia tak ingin menjadi duri dalam hubungan pria itu bersama sang kekasih.
__ADS_1