Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~230


__ADS_3

"Aku tahu mencari pekerjaan di luar sana tidaklah mudah dan aku juga tahu pekerjaan kalian selama ini juga bagus, hanya saja percuma kalian bekerja dengan giat jika tak di sertai dengan atittude yang bagus juga. Ku harap setelah kejadian ini kalian bisa mengambil banyak pelajaran, karena tak semua orang bisa menjadi pemaaf." ucap Anne yang langsung membuat beberapa karyawan yang selama ini merendahkannya langsung berterima kasih padanya.


Mereka bersyukur Anne mau memaafkan kesalahan mereka dan memberikannya kesempatan untuk memperbaiki diri. "Terima kasih, nyonya. Terima kasih banyak." ucap mereka bergantian.


Sementara Jennifer dan nyonya Darrien hanya bisa melongo melihat mereka.


Beberapa saat kemudian mereka kembali bekerja, semoga setelah ini tak ada lagi pembulian di antara para karyawan.


"Kak, apa nanti malam ada waktu? aku ingin bertemu." ucap Jennifer setelah menghubungi Marco melalui sambungan telepon, mendapati sebuah kenyataan jika James telah menikah dengan Anne membuatnya benar-benar kecewa dan ia membutuhkan seseorang sebagai tempatnya berkeluh kesah.


Di tempat lain Anne yang baru masuk ke dalam ruangan James nampak menahan senyumnya saat melihat suaminya nampak geram karena keputusannya.


"Aku lebih suka jika memecat mereka semua, untuk apa mempertahankan karyawan yang sangat minus akhlak." ucapnya seraya meletakkan beberapa berkas di atas meja dengan sedikit kasar.


"Kenapa suamiku ini pendendam sekali." Anne berjalan mendekati suaminya itu lalu mengangkat tangannya untuk merapikan kerah kemeja pria itu.


"Apa kamu pernah mendengar kesempatan kedua? kadang seseorang memerlukan hal itu untuk merubah dirinya. Percayalah tidak semua masalah bisa di selesaikan dengan kekerasan dan ku mohon sedikit lembutkan lah hatimu. Mereka sudah bekerja bertahun-tahun denganmu jadi apa salahnya memberikan mereka kesempatan ?" imbuh Anne lagi seraya menatap suaminya itu dengan lekat.


"Ku harap ini terakhir kali kamu menjadi malaikat bagi semua orang, mengerti !!" James nampak kesal sekaligus gemas terhadap istrinya itu.


"Aku membawakanmu makan siang, ini semua aku yang masak meski di bantuin bi Ester juga." Anne langsung mengambil bekal yang ia bawa tadi, lalu membukanya dan nampak beberapa menu kesukaan pria itu yang mengguggah selera.


"Tapi aku mendadak ingin makan yang lain." timpal James seraya memeluk istrinya itu dari belakang.


"Sayang, geli." teriak Anne ketika suaminya mengecupi tengkuknya, rambutnya yang sengaja ia kucir kuda membuat leher putihnya terekspos jelas.


"Bukankah sudah ku bilang jangan pernah mengikat rambutmu seperti ini? Apa kamu sengaja ingin menggoda pria di luaran sana, hm ?" ucap James dengan suara seraknya, sepertinya pria itu mulai tersulut oleh gairahnya sendiri.


"Akhir-akhir ini aku merasa sangat kepanasan." timpal Anne seraya menggigit bibirnya saat merasakan kecupan suaminya menjalar kemana-mana, pria itu selalu sukses membuatnya bertekuk tulut dan menyerah.


Karena selanjutnya penyatuan di antara mereka pun tak bisa di elakkan lagi, James selalu saja berhasil membuatnya mendesah di bawah kungkungan tubuh kekarnya tak peduli saat ini mereka sedang berada di kantornya.


Pakaian mereka yang tadi rapi kini sudah berserakan di mana-mana dan hanya d3s4h4n yang saling bersahutan dari keduanya yang terdengar seiring dengan panasnya percintaan mereka.


Malam harinya....

__ADS_1


"Kakak kenapa ?" Jennifer nampak mengernyit saat melihat kakaknya itu telah menghabiskan beberapa kaleng minuman beralkohol, penampilan pria itu juga terlihat sangat kacau.


"Apa ada masalah besar ?" imbuh Jennifer lagi yang kini menghempaskan bobot tubuhnya di sebelah pria itu.


"Menurutmu ?" balas Marco.


"Ayolah kak, jangan bermain tebak-tebakan denganku. Aku sedang pusing ini, aku tidak menyangka James rupanya telah menikah dengan wanita kampungan itu dan apa kakak tahu wanita itu sekarang sudah mengandung anak James." Jennifer nampak bercerita dengan berapi-api.


"Mengandung ?" Marco langsung tersenyum sinis menertawai kebodohannya selama ini.


"Hm, aku benar-benar merasa di bodohi oleh mereka. Bagaimana bisa mereka menyembunyikan ini dari semua orang di kantor." imbuh Jennifer lagi dengan kesal.


Marco nampak menghela napas panjangnya, kemudian pria itu kembali meneguk minumannya. "Pulanglah, ini sudah malam." ucapnya kemudian seraya beranjak dari duduknya.


"Kakak mau kemana ?" Jennifer menatap lekat kakak kandungnya itu.


"Pulang." sahut Marco seraya mengambil kunci mobilnya.


"Tapi kak, aku butuh bantuanmu. Aku tidak rela jika James bersama wanita itu." mohon Jennifer kemudian.


"Carilah pria lain dan segera lupakan bajingan itu." tegas Marco, lantas pria itu segera berlalu dari sana.


Beberapa hari kemudian.....


Siang itu Anne yang berada di sebuah butik ternama di kotanya nampak terkejut saat tiba-tiba bertemu dengan Marco di sana.


"Tuan Marco ?" sapanya kemudian, pria itu pasti telah mengetahui statusnya saat ini.


"Bagaimana kabarmu ?" Marco menatap Anne dari ujung kaki hingga kepala, terakhir melihat wanita itu dalam keadaan sangat lemah dan tak sadarkan diri.


"Aku baik-baik saja." sahut Anne.


"Sudah berapa bulan ?" tanya Marco lagi seraya menatap perut Anne yang sedikit membesar, selama ini ia tak pernah memperhatikannya.


"Hampir 4 bulan." sahut Anne.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bermaksud membohongimu. Aku benar-benar tulus ingin berteman denganmu." imbuh Anne lagi.


Marco nampak tersenyum sinis. "Apa kamu yakin hubungan dua orang berlawanan jenis itu murni hanya sebuah pertemanan ?" ucapnya kemudian yang langsung membuat Anne melebarkan matanya.


"Aku tidak mengerti maksudmu." timpal Anne seraya membuang pandangannya ke sembarang arah.


"Lihatlah aku !!" ucap Marco kemudian.


Dengan ragu Anne menatap pria di hadapannya itu dan tanpa ia duga tiba-tiba Marco langsung menarik tengkuknya, kemudian m3lum4t bibirnya hingga membuat Anne langsung meronta lalu menggigit bibir pria itu hingga terluka.


Plakkk


Sebuah tamparan keras langsung Anne layangkan pada Marco hingga menimbulkan bekas kemerahan di pipinya.


"Aku sudah menganggapmu sebagai kakak lelakiku sendiri, tapi kenapa kamu lakukan ini padaku ?" Anne langsung menangis karena merasa di lecehkan oleh pria itu.


"Aku mencintaimu dan ku harap itu bukan sebuah kesalahan." Marco nampak tersenyum sinis, menertawai kebodohannya yang tak bisa menahan dirinya.


"Aku memang senang bisa mengenalmu, tapi aku sudah menikah. Tolong lupakan aku, anggap saja aku hanya seseorang yang pernah singgah di mimpimu. Saat kamu terbangun, mimpi itu akan berakhir begitu juga dengan hubungan kita." tegas Anne, kemudian ia bergegas pergi meninggalkan butik tersebut.


"Melupakanmu? takkan semudah itu." Marco nampak mengusap pipinya yang terasa nyeri sembari menatap kepergian Anne.


Sementara itu Anne yang baru keluar dari butik nampak mengedarkan matanya mencari seseorang yang mungkin saja menjadi mata-mata suaminya itu.


Ia tidak ingin kejadian di butik tadi di ketahui oleh pria itu, karena pasti akan menimbulkan masalah besar.


"Nyonya, anda baik-baik saja ?" ucap Bi Ester tiba-tiba yang langsung membuat Anne terlonjak kaget.


"Astaga Bi, bikin kaget saja." Anne langsung melayangkan protes.


"Apa terjadi sesuatu, nyonya ?" Bi Ester nampak melirik ke dalam butik.


"Tidak, tidak ada." sahut Anne yang mencoba bersikap biasa saja, beruntung ia tadi menyuruh wanita itu untuk menunggunya di luar.


"Ya sudah Bi, ayo pergi." Anne segera masuk ke dalam mobilnya, matanya nampak melirik ke dalam butik semoga saja Marco tidak segera keluar sebelum ia pergi.

__ADS_1


"Syukurlah."


Anne langsung bernapas lega, ia akan menutup rapat kejadian hari ini dari sang suami sampai kapan pun itu.


__ADS_2