
Anne dan James nampak bersuka cita dengan kehadiran putri keduanya yang mereka namai Jessy sefia scott, wajahnya benar-benar mirip dengan sang ayah dan berbeda sekali dengan Jeslin yang memiliki wajah perpaduan ayah dan ibunya.
"Satupun tak ada yang mirip denganku." ucap Anne seraya memperhatikan wajah putri mungilnya tersebut.
"Siapa dulu ayahnya, dia memang benar-benar putriku." James nampak bangga dengan hasil karyanya tersebut.
"Kamu pikir selama ini aku hamil anak siapa ?" cibir Anne sedikit kesal saat mendengar penuturan suaminya itu yang seolah puas karena apa yang ada pada dirinya semua ada di putrinya.
"Becanda sayang, dia mirip kita atau tidak tetap anak-anak kita dan kita wajib memberikannya kasih sayang yang sama rata tanpa harus di beda-bedakan." timpal James kemudian yang langsung membuat istrinya itu mengulas senyumnya kembali.
"Paling tidak Jeslin memawarisi mataku." tukasnya seraya menatap ke arah Jeslin yang nampak tertidur pulas di dalam keretanya.
"Dan itu yang membuatku jatuh cinta padamu." ucap James seraya menatap istrinya itu, lantas mendekatkan wajahnya dan m3lum4t bibir tipis wanita itu dengan penuh kasih sayang.
Belum puas mereka berciuman tiba-tiba baby Jessy berteriak menangis hingga membuat panggutan mereka seketika terlepas.
"Sepertinya mulai saat ini aku harus membiasakan untuk berbagi." gerutu James dan itu membuat Anne langsung terkekeh.
Beberapa saat kemudian baby Jeslin yang sedang tidur di keretanya nampak ikut terbangun dan menangis.
James yang sedang duduk di samping sang istri pun dengan sigap langsung beranjak lalu menggendong putri pertamanya itu.
"Sudah bangun, sayang? ayo lihat adik kamu." ucapnya seraya membawa bayi berusia satu tahun lebih itu menemui sang adik.
Jeslin yang kurang begitu paham pun nampak marah saat ibunya menggendong sang adik lalu tanpa aba-aba bocah kecil itu langsung memukul wajah adiknya dengan sekuat tenaga hingga membuat bayi mungil yang baru berusia beberapa hari itu menangis dengan kencang.
Melihat sang adik menangis tentu saja itu membuat sang kakak ikutan menangis dan ruangan tersebut kini di penuhi oleh suara tangis bayi.
Anne dan James yang memang seorang yatim piatu harus rela mengasuh bayi mereka sendiri tanpa pengawasan kedua orang tua yang memang tidak mereka miliki.
Meski ada pengasuh yang membantunya tetap saja terasa kurang bagi mereka, namun itulah hidup bagaimana pun keadaannya harus tetap di jalankan.
"Sepertinya Jeslin butuh jalan-jalan, dia terlihat bosan dengan suasana rumah sakit." Anne memberikan saran saat anak pertamanya itu tak berhenti menangis.
Bocah kecil itu menginginkan bersama ibunya namun sang adik selalu menangis saat terlepas dari gendongan ibunya hingga membuat Anne tak dapat menenangkan putri pertamanya tersebut.
"Baiklah, akan ku bawa dia jalan-jalan semoga saja bisa tenang kembali." sahut James, lantas segera membawa putrinya itu keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
James yang sedang di temeni oleh seorang bodyguardnya nampak menyusuri taman yang ada di rumah sakit itu.
"Tolong jaga putriku, aku angkat telepon dahulu." pinta James pada sang bodyguard saat ponselnya berdering nyaring.
"Baik tuan." sang bodyguard langsung mengambil kereta baby Jeslin.
"Tuan, sepertinya ada yang menghancurkan mobil anda." ucap security tiba-tiba hingga membuat James yang sibuk menelepon langsung menatap security tersebut.
"Kau yakin ?" ucapnya kemudian.
"Benar tuan."
"Tuan biar saya periksa dahulu." ucap sang bodyguard yang tadi menjaga baby Jeslin, lantas segera pergi dari sana untuk mengecek.
Sementara James nampak sibuk menghubungi orang-orangnya agar segera datang dan tanpa pria itu sadari baby Jeslin sudah berada di tangan orang lain.
"Ini imbalanmu, segera menghilang dari kota ini !!" perintah Marco pada seorang pria yang telah menculik baby Jeslin.
Kemudian pria itu segera mengemudikan mobilnya dengan kencang menuju kediamannya.
Jeslin sama sekali tidak takut pada Marco bahkan sejak bayi pun bocah itu seakan menyukai pria itu dan itu yang membuat Marco memiliki rasa sayang yang begitu besar padanya hingga membuatnya mempunyai pikiran gila untuk menculiknya.
Bukan saja karena dendam pada ayahnya yang telah menghinanya tapi Marco merasa mempunyai ikatan batin dengan bayi itu apalagi dokter telah memvonisnya tidak akan memiliki seorang keturunan.
Sementara James yang baru selesai dengan panggilannya, segera menghampiri kereta bayinya tersebut.
"Sepertinya kita harus kembali ke kamar sayang, ada hal penting yang harus Daddy kerjakan." ucapnya kemudian.
Biasanya putrinya itu akan menanggapi setiap perkataannya dengan ocehannya namun kini tak ada respon hingga membuat James langsung melihat ke dalam kereta bayinya itu.
Deg!!
"Jeslin ?" ucapnya saat tak melihat putranya di dalam kereta dan bersamaan itu sang bodyguard nampak datang dengan nafas ngos-ngosan.
"Saya sudah memerintahkan anak buah saya untuk mencari pelakunya dan mengecek cctv tuan." lapornya kemudian.
"Putriku hilang, apa kamu melihatnya ?" tanya James dengan wajah panik.
__ADS_1
"Tadi sebelum saya tinggal masih ada tuan." sang bodyguard nampak sama terkejutnya.
"Segera cari putriku dan kerahkan semua anak buahmu, aku yakin pelakunya masih ada di sekitar sini !!" perintah James kemudian.
Pria itu tak menyangka hanya dalam hitungan menit putrinya telah menghilang dan James benar-benar sangat terpukul.
Kemudian pria itu segera berlari kesana kemari untuk mencari keberadaan sang putri berharap bayinya itu tak benar-benar hilang.
Setelah beberapa jam tak mendapati keberadaan sang putri, James terpaksa kembali ke ruangan sang istri.
"Astaga, kalian kemana saja ?" ucap Anne saat suaminya itu baru datang.
"Sayang, tolong maafkan aku." James langsung bersimpuh di hadapan istrinya itu dan Anne yang tak mengerti apapun nampak terkejut.
"Ada apa ?" ucapnya kemudian, apa suaminya telah membuat kesalahan besar? apa pria itu telah melenyapkan nyawa seseorang?
Anne benar-benar nampak tegang lalu saat menyadari tak melihat keberadaan baby Jeslin, wanita itu langsung memicing.
"Di mana putriku ?" tanyanya kemudian.
"Sayang, tolong maafkan aku." ucap James lagi seraya menggenggam tangan wanita itu.
"Di mana putriku? di nama Jeslin ?" ulang Anne, perasaannya sebagai seorang ibu mulai campur aduk.
"Dia tiba-tiba tidak ada di keretanya." ujar James yang langsung membuat wanita itu langsung melebarkan matanya.
"A-apa ?" ucapnya tak percaya.
"Putri kita hilang sayang." ucap James dengan wajah bersalahnya, ia merasa seperti ayah yang tak berguna karena telah gagal menjaga putri kecilnya itu.
"Apa ?" Anne nampak syok lantas jatuh tak sadarkan diri.
Sementara Marco yang sudah sampai di kediamannya nampak mengemasi barang-barangnya, sepertinya pria itu akan membawa baby Jeslin pergi jauh.
"Kita akan pergi dari sini sayang, apa kamu suka hm? kamu adalah putriku dan aku adalah ayahmu mulai sekarang." ucapnya seraya memasukkan pakaiannya di dalam sebuah tas dengan terburu-buru.
Baby Jeslin yang sedari tadi memperhatikannya nampak terkekeh menanggapi, seolah apa yang sedang di lakukan oleh pria itu adalah hal yang lucu baginya.
__ADS_1