Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~281


__ADS_3

"Mommy, jadi apa benar yang di katakan oleh paman jika Daddy sudah pulang ?" ucap Axel saat membantu ibunya itu membereskan apartemennya.


"Si-siapa yang mengatakan itu sayang ?" Elsa langsung terkejut mendengar penuturan putranya itu.


"Paman tadi yang mengatakannya Mommy, katanya Daddy yang menyuruhnya datang kemari." terang Axel dengan kepolosannya dan itu membuat Elsa langsung panik, apa mungkin Alex sudah mengetahui siapa dia sebenarnya?


"Tidak, itu tidak mungkin." gumamnya.


"Sayang, dengerin Mommy!! apapun yang di katakan oleh paman tadi itu bohong sayang, dia mengatakan hal itu hanya untuk membuatmu tenang. Mommy yang menyuruh dia datang, bukan orang lain oke ?" Elsa langsung memberikan penjelasan.


"Jadi Daddy tidak jadi datang ?" bocah kecil itu langsung terlihat kecewa, padahal tadi ia sangat senang sekali karena pada akhirnya akan merasakan bagaimana mempunyai seorang ayah seperti teman-temannya yang lain.


"Belum waktunya sayang, lagipula kenapa kamu selalu mencari Daddy? apa kamu tidak sayang lagi sama Mommy ?" Elsa langsung pura-pura merajuk di hadapan putranya tersebut, meski sebenarnya itu kekhawatirannya dari hati yang paling dalam bagaimana jika nanti Alex datang dan mengambil putranya itu darinya.


Rasanya Elsa masih tak sanggup menghadapinya, putranya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini. Jika pria itu mengambilnya mungkin ia akan menjadi gila nanti.


"Aku sangat sayang Mommy." timpal Axel seraya memeluk ibunya itu.


"Tapi bolehkah jika aku juga sayang Daddy, Mommy ?" imbuhnya lagi seraya menatap ibunya itu dengan wajah memelas dan itu membuat hati Elsa seketika tercubit.


Apa keputusannya selama ini salah telah menyembunyikan putranya itu dari sang ayah kandung? tidak, putranya itu hanya miliknya.


Hanya dia satu-satunya orang yang dapat membahagiakannya dan ia berjanji akan melakukan apapun demi kebahagiaan putranya tersebut.


"Ten-tentu saja, oh ya apa kamu mau Mommy buatkan sarapan hm ?" sahut Elsa mengalihkan pembicaraan.


Kemudian wanita itu segera mengajak putranya untuk segera membereskan mainannya.


Di sisi lain Alex yang sedang menikmati paginya di sebuah Cafe yang terletak di basement Apartemennya nampak mengernyit saat menatap penampilan sang asisten yang baru saja datang.


"Kau baik-baik saja ?" ucapnya kemudian.


"Saya baik-baik saja tuan." sahut sang asisten meski wajahnya sedikit kecut.


"Baik-baik saja bagaimana? lihatlah penampilanmu sangat kacau sekali !!" Alex nampak geleng-geleng kepala tak percaya dengan keadaan asistennya itu dengan pakaian yang sangat kotor.


"I-ini semua ulah anak itu tuan, saya benar-benar kesulitan menghadapinya." keluh pria itu kemudian.

__ADS_1


"Astaga, menghadapi anak sekecil itu saja kamu sudah mengeluh." ejek Alex sedikit kesal.


"Tapi ini anak lain daripada yang lain tuan, banyak sekali akalnya untuk mengusir saya dari sana." terang Jack kemudian.


"Apa dia senakal itu ?" Alex nampak penasaran.


"Begitulah tuan, ngomong-ngomong apa tuan percaya jika ada dua orang yang tak mempunyai hubungan keluarga tapi wajah mereka bisa sangat mirip ?" ucap Jack dengan wajah penasaran.


"Aku tidak tahu Jack, apa kamu sedang membicarakan seseorang ?" Alex nampak mengernyit tak biasanya asistennya itu membahas hal yang tak penting.


"Entah kebetulan atau tidak, tapi saya melihat wajah putra nona Elsa sangat mirip dengan anda." tukas Jack kemudian.


"Kamu yakin, foto yang kamu berikan waktu itu kurang begitu jelas Jack ?" Alex nampak tak percaya.


"Ini saya tadi diam-diam mengambil beberapa foto anak itu, tuan." Jack mengulurkan ponselnya pada tuan besarnya itu dan tentu saja Alex langsung melihatnya.


"Kamu benar Jack, dia mirip sekali denganku." Alex nampak begitu lekat menatap wajah Axel.


"Sebentar, bukankah ini anak yang bersama Carla waktu itu ?" imbuh Alex lagi, ia masih mengingat bagaimana Carla bercerita jika anak itu adalah putra dari sahabatnya yang pernah menjadi korban pemerkosaan beberapa tahun silam.


Deg!!


"Tuan, anda baik-baik saja ?" Jack nampak khawatir saat melihat tuan besarnya itu tiba-tiba mengusap wajahnya dengan kasar.


"Jack, segera cari informasi seorang pelayan yang bekerja di bar X 6 tahun silam !!" perintahnya kemudian.


"Apa anda masih mengingat bagaimana ciri-ciri pelayan itu, tuan ?" tanya Jack kemudian.


"Waktu itu dia masih sangat belia, Jack. Aku benar-benar tidak ingat wajahnya, aku melakukannya dalam keadaan setengah sadar dan penerangan di bar waktu itu juga sangat kurang hingga aku tak dapat melihatnya dengan jelas." terang Alex, ia mencoba untuk mengingat kembali kejadian waktu itu.


Meski ia melakukannya di bawah pengaruh alkohol tapi ia masih sangat ingat jika gadis itu masih suci hingga membuatnya tak bisa berhenti melakukannya.


"Ja-jadi tuan telah menodai wanita itu ?" Jack nampak tak percaya, ia sudah bertahun-tahun mengabdi pada pria itu namun bagaimana bisa hal itu bisa luput dari pengawasannya.


"Hm." Alex mengangguk yakin.


"Karena waktu itu aku masih ingin mempertahankan rumah tanggaku Jack makanya aku tak mencari keberadaan gadis itu, toh di saat aku bangun dan tersadar gadis itu sudah pergi dari sana." terang Alex kemudian.

__ADS_1


"Saya mengerti tuan, jadi apa ada kemungkinan jika gadis itu adalah nona Elsa ?" tukas Jack kemudian.


"Aku tidak tahu Jack, jika gadis itu memang dia lalu kenapa dia seolah tak mengenaliku ?" pikiran Alex benar-benar buntu saat ini.


"Bahkan dia mendekatiku hanya untuk membalaskan dendam kakaknya pada Celine." imbuh Alex lagi.


"Saya akan segera mencari tahu tuan." ucap Jack meyakinkan dan bersamaan itu nampak seorang wanita melangkah mendekati mereka.


"Selamat pagi, tuan Alex." sapa Carla dengan mengulas senyum lebarnya pada Alex.


"Boleh aku duduk di sini ?" imbuh wanita itu lagi.


"Tentu saja." timpal Alex kemudian.


"Kau terlihat sangat bersemangat sekali pagi ini tuan Alex, sepertinya tidurmu sangat nyenyak semalam." ucap Carla sedikit menggoda.


"Tentu saja, apartemen rekomendasimu sangat nyaman." tukas Alex mengingat ia mendapatkan apartemennya tersebut atas rekomendasi wanita itu.


Namun bukan itu yang membuatnya sangat bersemangat pagi ini, ia bahkan kurang tidur semalam karena masih tak percaya bisa membawa Elsa kembali ke atas ranjangnya dan tidur bersamanya.


Meski semalam mereka tak melakukan apapun yang membuat tubuh mereka berkeringat tapi Alex sudah sangat puas bisa memandangi wajah wanita itu semalaman.


"Syukurlah jika kamu menyukainya, ngomong-ngomong apa aku boleh memanggilmu dengan nama saja? biar sedikit lebih akrab." timpal Carla dengan penuh harap.


"Tentu saja." Alex mengangguk pelan dan itu membuat Carla nampak sangat senang.


"Apa kamu sendirian ?" Alex nampak mengedarkan pandangannya berharap wanita itu datang bersama Elsa atau bocah kecil waktu itu, tapi rasanya tidak mungkin karena wanita itu baru saja pulang dari apartemennya.


"Hm, sebenarnya aku ingin mengajakmu sarapan bersama jika kamu tak keberatan." ucap Carla dengan nada memohon.


"Sebenarnya aku sudah sarapan tapi aku tak keberatan jika harus melakukannya lagi." timpal Alex dan tentu saja itu membuat Carla langsung tersenyum girang.


"Terima kasih." ucapnya kemudian.


"Sama-sama, ngomong-ngomong bagaimana keadaan anak kecil waktu itu ?" tanya Alex to the point, karena memang ini tujuannya menerima ajakan wanita itu.


Ia akan mencari tahu apapun tentang Elsa dan sungguh ia berharap jika gadis belia yang ia nodai waktu itu memang benar-benar wanita itu.

__ADS_1


"Kenapa kamu tiba-tiba ingin tahu keadaan anak itu ?" Carla nampak sedikit heran dengan pria di hadapannya itu.


__ADS_2