Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~60


__ADS_3

"Paman."


"Paman, kamu baik-baik saja ?" seorang gadis kecil berusia sekitar 11 tahun nampak menarik seorang pria yang terkulai di semak belukar pinggir jalan pagi itu.


"Paman, jawab aku apa kau baik-baik saja?" gadis kecil itu dengan sekuat tenaga membalikkan tubuh pria tersebut yang penuh dengan luka dan darah serta wajahnya pun tertutup oleh darah yang mulai mengering.


"Syukurlah masih bernapas." ucapnya lagi setelah meraba lubang hidung pria tersebut.


"Siapa pun tolong aku." Gadis itu langsung berteriak meminta bantuan namun beberapa mobil yang lewat pun sepertinya tak menghiraukannya.


"Tolong."


"Tolong, ku mohon. Tolong."


"Honey, kau baik-baik saja ?"


William yang baru selesai berganti pakaian kerja pagi itu langsung mendekati sang istri saat wanita itu mengigau dalam tidurnya.


"Apa kau bermimpi buruk ?" tanya William lagi seraya duduk di tepi ranjang sebelah istrinya itu tidur.


"Aku takut." lirih Merry.


"Kemarilah !!" William membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.


"Katakan, kamu bermimpi apa !!" William mengusap lembut surai indah wanita itu, namun Merry nampak terdiam.


Sepertinya wanita itu masih syok dengan mimpinya yang selalu sama dan berulang-ulang seperti kaset rusak.


"Baiklah jika tidak mau cerita, kamu bisa tidur lagi. Hari ini tidak ada kuliah juga kan." ucap William lalu mengurai pelukannya.


"Kamu mau kemana ?" tanya Merry kemudian saat melihat suaminya sudah rapi dengan setelan kerjanya.


"Hari ini aku ada meeting penting." sahut William lalu beranjak dari duduknya.


"Bisakah kau jangan pergi ?" mohon Merry, entah kenapa tiba-tiba perasaannya tidak enak.


"Hanya sebentar saja setelah itu aku akan segera pulang." William mengusap puncak kepala istrinya itu, ada perasaan membuncah dalam dadanya karena wanita itu mulai sedikit perhatian padanya.

__ADS_1


"Tapi perasaanku tiba-tiba tidak enak." ucap Merry dengan wajah khawatir.


"Kamu baru saja bermimpi buruk jadi itu wajar." William meyakinkan lalu mengecup sekilas bibir wanita itu.


Setelah itu segera menjauh lalu memakai dasinya di depan cermin.


"Semoga saja." gumam Merry.


Sementara itu di tempat lain Alex nampak masuk ke sebuah gedung perkantoran di mana perusahaan ayahnya berdiri di sana.


"Tuan, ada keperluan apa anda datang kemari ?" cegah seorang pria bertubuh gempal saat Alex hendak melangkah masuk.


"Tentu saja mau masuk, ini adalah perusahaan ayahku tuan Martin." sahut Alex.


"Tapi ini bukan perusahaan tuan Martin lagi, karena tuan Arthur telah mengambil alih." tegas pria tersebut.


"Omong kosong, Daddy tidak pernah menjual perusahaannya ke orang lain." hardik Alex.


"Tapi sejak menghilangnya tuan Martin dan keluarganya, tuan Arthur sudah mengakuisisi perusahaan ini." terang pria itu.


"Daddy tidak menghilang tapi dia masih hidup." tegas Alex yang langsung membuat pria itu nampak terperanjat begitu pula dengan seorang pria yang sedari tadi mencuri dengar pembicaraan mereka dari dalam.


"Alex, bagaimana kabarmu ?" tiba-tiba Arthur keluar dari gedung tersebut dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Tuan Arthur, bagaimana kau bisa di sini ?" Alex nampak memicing menatap relasi kerja ayahnya tersebut.


"Tenanglah, kita bisa bicara di dalam." Arthur mengajak Alex masuk ke dalam kantornya tersebut.


Beberapa karyawan nampak terkejut saat melihat kehadiran Alex, mereka langsung menunduk. Beberapa juga ada yang terlihat bersyukur di wajahnya entah karena apa.


"Katakan bagaimana kamu bisa berada di kantor Daddy ?" Alex nampak tak sabar, pria itu menghempaskan tubuhnya setelah masuk ke dalam ruangan sang ayah


"Sejak peristiwa itu, aku yang mengelolah perusahaan ini meski waktu itu di ambang kebangkrutan." sahut Arthur berdusta.


"Jadi kamu mengetahui peristiwa waktu itu ?" Alex memicing menatap pria di hadapannya itu, sepertinya pria itu bisa memberikannya informasi tentang kejadian di mana ayah dan ibunya telah di bantai dengan keji.


"Tentu saja aku berada di sana waktu itu hanya saja aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong ayah dan ibumu karena William begitu banyak membawa pasukan." terang Arthur yang langsung membuat Alex terperanjat.

__ADS_1


"William? jadi pria gila itu pelakunya ?" geram Alex.


"Tentu saja siapa lagi." Arthur meyakinkan, pria itu berusaha membuat Alex mempercayai perkataannya.


"Apa kau mempunyai bukti ?" Alex tak mempercayai perkataan Arthur begitu saja meski besar kemungkinan William yang melakukannya mengingat bagaimana hubungan ayahnya dan pria itu kurang baik.


"Aku tidak mempunyai bukti, tapi percayalah padaku karena aku melihat sendiri bagaimana James asisten William telah menembak orang tuamu. Lalu bagaimana keadaan mereka sekarang, aku harap mereka baik-baik saja. ?" ucap Arthur dengan wajah khawatir.


"Mereka masih koma." sahut Alex yang sontak membuat Arthur nampak lega padahal sebelumnya pria itu terlihat sangat tegang.


"Jadi kedatangan mu kesini hanya untuk mencari adikmu saja ?" tanya Arthur kemudian.


"Sementara waktu mungkin aku akan mengelola perusahaan ini sembari mencari keberadaan adikku." sahut Alex, namun itu justru membuat Arthur nampak tak suka.


"Tenang saja perusahaan ayahmu sudah ku kelola dengan baik jadi lebih baik kamu fokus mencari adikmu saja." saran Arthur yang terlihat tidak rela jika Alex mengambil alih perusahaan tersebut.


"Tidak, mungkin ini saatnya aku mengurus perusahaan daddy. Terima kasih sudah membantu Daddy selama ini tuan Arthur." keukeh Alex.


Arthur nampak mengepalkan tangannya diam-diam, sudah sangat lama pria itu mengincar perusahaan Martin dan saat dirinya yang berkuasa tanpa ia duga anak pungut pria tersebut muncul.


"Baiklah, tapi perusahaan ayahmu tidak seperti dulu lagi. Sejak kepergiannya yang tiba-tiba, keuntungan perusahaan mulai menurun." Arthur menjelaskan.


"Tidak masalah tuan Arthur, sekali lagi terima kasih banyak." Alex mengulurkan tangannya sebagai tanda terima kasih yang langsung di sambut oleh Arthur.


"Lalu apa kamu sudah tahu keberadaan adikmu ?" tanya Arthur menyelidik.


"Aku yakin akan segera menemukannya." sahut Alex.


"Baiklah semoga berhasil." Arthur segera beranjak dari duduknya kemudian pamit pergi, meski pria itu mengetahui keberadaan Merry tapi ia tidak akan mengatakannya karena gadis itu adalah satu-satunya senjatanya untuk menguasai harta kekayaan Martin lagi.


Sebelum keluar pria itu nampak menatap ruangan itu sejenak, di mana selama beberapa bulan ini ia berkuasa di sana.


"Tuan." seorang pria nampak menghampiri Arthur yang baru keluar dari ruangan tersebut.


"Segera kemasi barang-barangmu, sebelum perbuatanmu di perusahaan ini tercium oleh anak pungut itu !!" perintah Arthur lirih namun penuh ketegasan pada pria yang dahulu menjadi kepercayaan Martin tersebut.


"Baik, tuan." pria itu bergegas pergi ke ruangannya.

__ADS_1


Sementara itu Alex yang sedang mencerna perkataan Arthur nampak terdiam di kursi kerjanya.


"Apa mungkin saat ini Merry bersama William ?" gumamnya kemudian, mengingat bagaimana pria itu tega membantai kedua orang tuannya sesuai cerita Arthur.


__ADS_2