Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~191


__ADS_3

Anne langsung meronta saat tiba-tiba suaminya m3lum4t bibirnya dengan rakus, padahal pintu ruangannya tersebut beberapa kali di ketuk oleh nyonya Darrien dari luar.


"Tuan James tolong jangan macam-macam, ada nyonya Darrien di luar." ucapnya saat bibir pria itu berpindah ke lehernya, mengecupi setiap inci kulitnya dan sesekali menghisapnya dengan kuat yang pasti akan meninggalkan bekas kemerahan di sana.


Astaga, apa pria itu tak tahu jika setelah ini istrinya itu pasti akan sibuk menutupinya, karena tak ingin di lihat oleh karyawan lain yang pasti akan menimbulkan fitnah.


"Biarkan saja." timpal James yang kini mulai melepaskan satu persatu kancing pakaian wanita itu.


"Tunggu, kamu mau ngapain ?" Anne langsung menahan tangan pria itu.


"Kamu harus bertanggung jawab, dari tadi dudukmu selalu gelisah dan berhasil membangunkannya." sahut James dengan suara mulai berat seiring dengan hasratnya yang mulai naik.


"Itu karena salahmu, kamu selalu saja mencuri ciumanku tiba-tiba. Aku seperti tak berharga di matamu." protes Anne dengan kesal.


"Ssttt, kamu wanita yang paling berharga dalam hidupku." sela James seraya meletakkan jarinya di bibir istrinya itu, lalu tangan lainnya kembali melepaskan kancing baju wanita itu.


James bukanlah perayu ulung, ia tidak bisa mengutarakan perasaannya menjadi rangkaian kalimat yang indah di dengar. James pria dominan yang lebih suka mengeksekusi perasaannya melalui sebuah tindakan.


Ia tidak suka penolakan dan akan melakukan segala hal agar keinginannya dapat terlaksana, seperti saat ini ia telah berhasil membuat istrinya itu tak berbusana lagi.


Melempar semua kain yang menutupi tubuhnya ke sembarang arah lalu mulai membuat wanita itu mendesah seperti kemauannya.


"Tuan James, kamu benar-benar brengsek. Aku sangat muak padamu." Anne langsung membuang mukanya saat tiba-tiba suaminya itu memasuki inti tubuhnya dari arah bawah, hingga membuatnya mau tak mau memeluk leher pria itu dengan posisi ia masih duduk di atas pangkuannya.


"Umpatanmu membuatku semakin menginginkan mu, sayang." James nampak tersenyum menyeringai seraya menggerakkan tubuhnya dari bawah yang langsung membuat istrinya itu semakin memeluknya erat seiring rasa nikmat yang di berikan oleh pria itu.


Tak berapa lama pintu ruangan James kembali di ketuk, kali ini tidak hanya nyonya Darrien saja namun juga sekretarisnya tersebut.


"Tuan James, tolong hentikan. Apa kamu mau mereka memergoki kita seperti ini ?" mohon Anne di tengah d3s4h4nnya, tubuhnya yang sudah penuh peluh membuat James semakin semangat menghentakkan tubuh bagian bawahnya apalagi melihat rasa khawatir di wajah wanita itu seolah menjadi tantangan baginya.


Seketika ide licik muncul di benaknya, selama ini ia yang selalu aktif dan kini ia menginginkan wanita yang melakukannya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan melepaskanmu tapi setelah kamu berhasil memuaskan ku." ucapnya seraya menghentikan hentakkannya yang langsung membuat Anne mengurai pelukannya lalu memicing menatap suaminya itu.


"Apa maksudmu ?"


"Aku tahu kamu juga pasti tidak relakan jika ini berakhir begitu saja sebelum kita sama-sama puas ?"


"Kamu jangan gila tuan James." Anne benar-benar ingin mengubur suaminya itu hidup-hidup.


"Baiklah jika kamu tidak mau, mungkin tak lama lagi pintu itu akan di dobrak oleh nyonya Darrien karena mengira sedang terjadi sesuatu padaku." timpal James yang langsung membuat Anne melotot.


"Aku benar-benar ingin membunuhmu." rutuk Anne seraya mulai menggerakkan tubuhnya perlahan, ia harus segera menyelesaikan ini semua dan segera kabur dari ruangan terkutuk ini.


"Ku rasa kau mulai mahir." puji James saat istrinya itu memberikannya kenikmatan yang tiada tara. Kemudian pria itu meraup gundukan kenyalnya yang sedari tadi naik turun menggodanya seiring pergerakan wanita itu, lalu ia segera m3lum4t puncaknya dengan rakus yang membuat istrinya itu semakin tak berdaya karena hasratnya sendiri.


"Faster sayang." racau James seiring dirinya yang ingin meledak.


Merasa kurang leluasa bergerak, James segera mengangkat tubuh istrinya itu lalu membawanya ke sebuah ruangan di mana ia biasanya beristirahat. Tak ada yang mengetahui ruangan tersebut bahkan sekretarisnya sekalipun.


Sesampainya di dalam James segera meletakkan istrinya di atas ranjangnya, kali ini ia yang akan mendominasi permainan dan membiarkan wanita itu pasrah di bawah kungkungannya.


James langsung merebahkan tubuhnya di samping wanita itu, napasnya nampak terengah-engah namun kepuasan menghiasi wajah tampannya.


Setelah beberapa hari menahannya akhirnya bisa ia tunaikan hasratnya itu, lalu di lihatnya wajah istrinya yang nampak kelelahan.


Ia mencintai wanita itu dan apapun akan ia lakukan agar dia tetap berada di sisinya meski harus bersikap egois sekalipun.


"Beristirahatlah sampai jam pulang kantor selesai, kita akan pulang bersama-sama nanti." ucapnya kemudian, lalu mendaratkan kecupannya di kening wanita itu lantas menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.


James segera membersihkan dirinya kemudian kembali mengenakan pakaian kerjanya yang baru, setelah itu ia kembali ke ruangannya untuk memunguti pakaian istrinya yang berserakan di lantai.


"Masuklah !!" ucap James melalui sambung teleponnya setelah ia kembali duduk di kursi kerjanya.

__ADS_1


"Tuan, andai baik-baik saja ?" Nyonya Darrien yang baru masuk bersama dengan sekretarisnya nampak khawatir.


"Aku ketiduran." sahut James.


Nyonya Darrien nampak mengedarkan pandangannya dan tak menemukan siapapun di sana padahal tadi ia melihat Anne masuk ke dalam ruangan ini.


Seluruh ruangan juga terlihat rapi, sepertinya tuannya itu memang benar-benar ketiduran.


"Syukurlah jika anda ketiduran tuan, saya sempat khawatir karena tak biasanya anda seperti ini." timpal Nyonya Darrien kemudian.


James yang tak sengaja menatap c3l4n4 d4l4m milik istrinya teronggok di bawah mejanya nampak melotot, astaga sepertinya ia melupakan barang berharga satu itu.


Dengan pelan James segera menariknya mendekat dengan sepatu yang ia kenakan.


"Apa yang jatuh, tuan ?" Nyonya Darrien langsung mengikuti arah pandang James ke bawah meja, ia seperti melihat sebuah kain namun kurang begitu jelas.


"Bukan apa-apa." James segera menyomotnya lalu bergegas memasukkannya ke dalam kantong celananya dan itu tak lepas dari pengawasan wanita itu.


"Ngomong-ngomong ada apa nyonya Darrien ke sini ?" tanya James kemudian.


"Saya mencari Anne tuan, saya lihat tadi dia masuk ke sini." sahut nyonya Darrien kemudian.


"Benarkah? tidak ada siapa pun ke sini. Apa kamu melihat ada orang masuk ke sini ?" timpal James seraya menatap sekretarisnya tersebut dengan tajam.


"Tidak Tuan, saya juga sudah meyakinkan nyonya Darrien jika tak nada siapapun di ruangan tuan." sahut sang sekretaris dengan wajah pucatnya.


"Baiklah mungkin saya yang salah lihat tuan, ngomong-ngomong sebenarnya ada hal penting yang ingin saya bicarakan." tukas nyonya Darrien kemudian.


"Tentang ?" James nampak menaikkan sebelah alisnya menatap wanita yang sudah belasan tahun mengabdi di perusahaannya tersebut.


"Ini perihal Jennifer, tuan. Jennifer sangat menginginkan di tempatkan di posisi Anne, percayalah Jennifer lebih bagus dari pada wanita itu. Riwayat pendidikan Jennifer di luar negeri pasti membuatnya mudah mencari pasar asing." terang nyonya Darrien kemudian dan James yang mendengarnya nampak mengetuk-ngetukkan bolpoin di atas mejanya.

__ADS_1


.


Tiba-tiba gerah.....


__ADS_2