
"Katakan James? apa foto pernikahan Merry dan Alex waktu itu adalah rekayasa Martin ?" tanya William dengan tak sabar.
"Sebenarnya itu adalah pernikahan tuan Alex dengan nona Celine dan waktu itu nyonya muda menjadi bridesmaid di pernikahan tersebut." terang James.
"Celine ?" William nampak mengernyit.
"Sesuai yang anda pikirkan tuan, nona Celine yang baru saja menjadi brand ambasador di perusahaan anda adalah istri tuan Alex." sahut James.
"Wanita itu memalsukan data-datanya." geram William.
"Nona Celine terikat kontrak selama 5 tahun dengan agencynya jadi pernikahan beliau dengan tuan Alex di rahasiakan untuk sementara waktu dan mungkin itu di jadikan momen oleh tuan Martin untuk menjalankan rencananya." timpal James lagi.
"Atau bisa jadi nyonya muda sendiri yang merencanakan hal itu." imbuh James yang langsung membuat William memicing.
"Itu tidak mungkin, James." William nampak tak percaya istrinya itu bisa melakukan itu semua padanya.
"Itu bisa saja terjadi tuan, mungkin karena beliau ingin membalas perbuatan anda waktu itu yang telah meninggalkan beliau." timpal James.
William nampak mendesah kasar. "Bukankah kau tahu sendiri apa alasanku James, seandainya dulu kamu tak mencegahku mungkin sekarang kami sudah bersama." ucapnya dengan nada kesal.
"Waktu itu anda ingin melakukan hal konyol yang mungkin saja akan membuat nyonya muda semakin membenci anda jadi mana mungkin saya membiarkan hal itu terjadi tuan." sahut James, pria itu nampak mengingat peristiwa beberapa tahun silam.
"Tuan, apa yang ingin anda lakukan ?" tanya James waktu itu saat tuannya itu hendak keluar dari mansionnya pukul 2 malam dengan membawa sebuah senjata api yang sepertinya baru di isi penuh dengan peluru.
"Aku harus menghabisinya James, pria tua itu sampai kapan pun tidak akan pernah merestui hubungan ku dengan Merry jadi jika dia mati maka jalanku akan mudah." sahut William, sepertinya pria itu sudah frustasi bertahun-tahun mengemis restu namun tak kunjung mendapatkannya.
"Tuan, anda tidak bisa melakukan ini. Karena jika nyonya muda tahu beliau pasti akan membenci anda." James mencoba mencegah.
"Aku tidak peduli." William yang tak dapat mengendalikan mentalnya nampak tak peduli dengan perkataan James.
Namun James yang tidak ingin tuannya itu mendapatkan masalah, tiba-tiba mengeluarkan jarum suntik dari saku celananya lalu segera menyuntikkannya pada lengan pria itu hingga tuannya itu langsung tak sadarkan diri.
Begitulah cara James setiap kali penyakit tuannya itu kambuh, pria itu akan melumpuhkan pria itu dengan suntikan obat penenang agar tidak membahayakan orang-orang terdekatnya.
"Maafkan saya, tuan. Ini semua demi kebaikan anda. Kali ini saya ingin anda benar-benar sembuh." ucap James lalu segera membawa tuannya itu ke pusat rehabilitasi.
Biasanya James akan membiarkan tuannya itu beristirahat di kamarnya hingga kembali sadar dengan pikiran yang lebih tenang, namun kali ini pria itu langsung membawa sang tuan ke tempat yang seharusnya pria itu datangi sejak dahulu yaitu pusat rehabilitasi.
Hingga dua tahun kemudian William benar-benar di nyatakan sembuh, namun saat pria itu hendak pergi mencari istrinya tiba-tiba ia mendapatkan kabar jika wanita itu telah menikah dengan Alex.
"Maafkan saya tuan dan untuk menebus kesalahan itu saya janji akan mendapatkan informasi tentang nyonya muda secepatnya." ucap James kemudian setelah mengingat peristiwa beberapa tahun silam itu.
William nampak mendesah kasar, pria itu terlihat mengacak rambutnya dengan frustasi. Semoga saja pelaku pengirim foto pernikahan Merry dan Alex itu bukan istrinya itu sendiri.
__ADS_1
"Kau bilang istriku mempunyai seorang anakkan James? siapa anak itu? apa dia anakku ?" lagi-lagi William mulai tak sabar dengan kepingan-kepingan kebenaran yang baru saja ia tahu.
"Orang suruhan saya masih berusaha mencari tahu, tuan. Karena selama ini nyonya muda jarang sekali terlihat di tempat umum bersama putranya hingga publik tak begitu mengetahui." terang James.
"Celine pasti bisa membantu memberikan informasi, segera hubungi dia !!" perintah William kemudian.
"Saya masih belum bisa mempercayai nona Celine tuan, apalagi saat mengetahui beliau adalah istrinya tuan Alex." sahut James yang nampak membuat William berpikir keras.
"Merry adalah milikku dan selamanya akan menjadi milikku." gumam William kemudian.
Namun tanpa pria itu sadari, Vivian yang sedari tadi mencuri dengar pembicaraan mereka nampak mengepalkan tangannya.
"Tidak, itu tidak akan terjadi. Kau adalah milikku Will, tak peduli bagaimana statusmu dengan wanita itu di masa lalu." geram Vivian.
Tak terasa beberapa jam pun telah berlalu, William yang telah bersiap di kamar hotelnya segera menyuruh James untuk memanggil Vivian di kamarnya.
"Nona Vivian ?" panggil James saat mengetuk kamar Vivian, namun hingga beberapa kali kamar tersebut tak kunjung di buka.
Kemudian James kembali masuk ke dalam kamar tuannya tersebut. "Tuan, sepertinya nona Vivian tak ada di kamarnya." lapornya hingga membuat William langsung terkejut, kemudian pria itu segera berlalu menuju kamar wanita itu.
Seperti halnya James, William nampak mengetuk kamarnya berkali-kali juga namun tetap tak kunjung di buka lalu pria itu segera meminta kunci kamar cadangan pada pihak hotel.
William yakin Vivian ada di dalam karena wanita itu takkan mungkin keluar tanpa memberi tahukannya terlebih dahulu.
"Kau, baik-baik saja ?" tanya William dengan khawatir.
"Aku sakit perut, Will." sahut Vivian dengan lemah.
"Baiklah, kita akan ke rumah sakit." sahut William lalu segera mengangkat tubuh wanita itu lalu membawanya keluar dari kamar hotelnya tersebut.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah rumah sakit. "Bagaimana keadaannya, dok ?" tanya William dengan cemas.
"Nona Vivian terlalu banyak kehilangan cairan karena sakit perut yang di alami, sepertinya beliau salah makan atau karena kurang cocok dengan cuaca di sini." sahut dokter tersebut menjelaskan.
"Tapi dia baik-baik saja kan dok ?" tanya William lagi.
"Untuk sementara waktu beliau harus mendapatkan perawatan insentif." sahut dokter itu seraya mengatur aliran infus.
"Wil, tolong jangan tinggalkan aku. Aku takut Will, kamu tahu sendirikan ini tempat asing bagiku dan aku tak mempunyai siapa-siapa di sini." mohon Vivian dengan menggenggam tangan William.
"Hm, beristirahatlah aku di sini." sahut William.
"Kamu tidak jadi pergi ke pesta itu juga kan ?" tanya Vivian lagi.
__ADS_1
"Tidak, beristirahatlah." sahut William.
"Baiklah, terima kasih." Vivian nampak bersyukur, akhirnya rencananya berhasil.
Tadi pagi setelah mendengar pembicaraan William dan asistennya itu, Vivian segera meminum obat pencahar dengan dosis tinggi.
Hingga membuatnya keluar masuk toilet terus dan membuat tubuhnya langsung lemah karena kekurangan cairan.
"Tuan, apa saya menghubungi tuan Alan saja jika anda berhalangan hadir di acara pesta pertunangannya ?" tanya James beberapa saat kemudian.
"Tidak perlu, kamu datang saja mewakili saya." perintah William kemudian.
"Tapi tuan...."
"Pergilah James !!" perintah William dengan tegas.
James nampak kesal, harusnya momen ini bisa tuannya itu gunakan untuk membatalkan pertunangan mereka namun pria itu lebih memilih menemani tunangannya tersebut di rumah sakit.
"Baik, tuan." James mengangguk dengan patuh, kemudian pria itu segera pergi dari sana.
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, James telah sampai di sebuah hotel bintang lima di mana nyonya mudanya tersebut melangsungkan pertunangannya.
Pria itu segera masuk ke dalam setelah menunjukkan undangannya pada petugas keamanan yang berjaga di sana.
Ketika baru masuk pria itu di kagetkan oleh seorang anak kecil yang tak sengaja menabraknya karena berlarian bersama temannya.
"Kau ?" James langsung terkejut saat melihat Ariel yang juga nampak menatapnya.
"Paman." panggil Ariel.
"Kau di sini juga ?" tanya James kemudian.
"Tentu taja Paman, ini pesta mommytu." sahut Ariel.
"Mommy kamu ?" William nampak menaikkan sebelah alisnya menatap bocah kecil itu, namun pria itu langsung terkejut saat seorang pria memanggil anak itu.
"Ariel, cucu kakek jangan lari-lari sayang." ucap Martin yang nampak berjalan tertatih dengan tongkatnya mendekati Ariel dan saat menatap pria yang bersama cucunya tersebut Martin langsung terkejut.
"Kau ?" ucapnya saat menatap James.
.
yang mau bully William, waktu dan tempat di persilakan wkwkwkwk
__ADS_1