Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~146


__ADS_3

Pagi itu James mengendarai mobilnya dengan laju, pria itu nampak menyunggingkan senyumnya saat baru saja membaca pesan yang ia terima di ponselnya.


"Hallo Nick, apa Grace menginginkan sesuatu ?" ucapnya saat menghubungi seseorang.


"Hanya beberapa makanan masam tuan." sahut seorang pria dari ujung telepon.


"Berikan apapun yang dia mau Nick, nanti aku akan transfer uangnya." ucap James.


"Baik tuan anda jangan khawatir, semua yang di minta oleh nyonya Grace sudah saya penuhi semua."


"Bagus, jaga mereka untukku Nick."


"Tentu saja tuan, anda jangan khawatir."


Setelah mengakhiri panggilannya James nampak menghela napasnya berkali-kali, semoga apa yang ia khawatirkan tidak akan pernah terjadi.


Kemudian pria itu menatap ke arah spion depannya dan matanya langsung memicing saat melihat sebuah mobil yang sepertinya sedang mengikutinya.


Padahal ia melihat mobil itu di belakangnya sejak ia keluar dari kompleks perumahannya, apa mereka satu arah? atau mereka sengaja ingin cari masalah dengannya?


Tak ingin mengambil resiko, James langsung mengambil senjata api yang ia simpan di dalam laci dashboard mobilnya.


Menjadi kaki tangan William selama bertahun-tahun membuatnya mempunyai banyak musuh, selain rival bisnisnya rupanya banyak musuh dari klan lain yang sepertinya sangat iri pada kehidupannya.


Karena ia tak serta merta hanya menjadi anak buah seorang William saja tetapi ia sudah seperti nyawa kedua pria itu, posisinya begitu di istimewakan oleh sang tuan hingga membuat banyak anggota klan lain merasa iri padanya.


Apalagi kini William menyerahkan klan padanya hingga membuatnya berkuasa sepenuhnya dan ia semakin tak di sukai oleh mereka.


James terus saja mengawasi mobil belakangnya itu, saat salah satu dari mereka mengangkat senjatanya maka ia akan lebih dulu melumpuhkannya.


Dan benar saja sepertinya mereka bersiap untuk menyerangnya, karena tidak hanya satu namun tiga orang sekaligus mengarahkan senjata padanya.


Tak ingin ambil resiko, James segera mengurangi laju kendaraannya kemudian membuka kaca sampingnya dan....


Dorr


Dorr


Dorr


Beberapa tembakan ia lesatkan untuk melucuti senjata mereka dan terakhir ia menembak roda mobil mereka hingga langsung berhenti dan nyaris menabrak portal jalan.


"Sepertinya mereka masih amatir." gumamnya, karena dengan mudah ia mengatasinya.


"Lalu apa yang mereka lakukan di daerah sini ?"

__ADS_1


Seketika James berpikir keras, jadi apa mereka telah mengawasi rumahnya?


"Anne ?"


James nampak memukul stirnya dengan keras, kini bertambah lagi tugasnya untuk mengawasi wanita itu. Wanita yang tak pernah ia inginkan namun tiba-tiba hadir dalam hidupnya dan mengacaukan segalanya.


"Halo Mark, jika kerjaanmu sudah selesai datanglah ke rumah dan cek keadaan di sana !!" perintahnya saat menghubungi salah satu anak buahnya.


"Baik tuan, sebentar lagi saya akan ke sana."


"Baiklah ku tunggu kabarmu."


James segera mengakhiri panggilannya dan kembali menambah kecepatan laju mobilnya.


Sementara itu Anne yang baru selesai membersihkan rumahnya nampak sedang bersiap-siap, sepertinya wanita itu akan bepergian.


"Kau siapa ?" Anne menautkan kedua alisnya saat melihat seorang pria sedang membuka gerbang rumahnya, sebenarnya tanpa ia tanya pun pria itu pasti suruhan suaminya mengingat untuk membuka gerbang rumahnya tersebut harus menggunakan remot khusus.


"Saya Mark nyonya, saya di utus tuan James untuk mengecek keadaan rumah ini." sahut pria bernama Mark tersebut.


"Oh, silakan." Anne memberikan jalan lalu ia melangkah keluar gerbang.


"Anda mau kemana nyonya ?" tanya Mark saat istri bosnya itu berlalu pergi.


Mark langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, nyonya." sahutnya.


"Ya sudah kalau begitu." kemudian Anne bergegas pergi.


"Kenapa tuan James membiarkan istrinya pergi dengan berjalan kaki ?" gumam Mark tak mengerti.


Setelah berjalan beberapa menit, kini Anne sudah keluar dari kompleks perumahannya.


"Lelah sekali." gumamnya, tinggal di luar negeri memang harus menyediakan stok tenaga karena di sana tidak ada kendaraan roda dua.


"Tidak seperti di Indo, beli cabai di warung depan saja pakai motor." gerutunya seraya melangkahkan kakinya menyusuri pertokoan demi pertokoan dan berhentilah ia di sebuah restoran.


"Jadi kau ingin melamar bekerja part time di sini nona ?" ucap sang pemilik restoran.


"Benar, tuan." sahut Anne.


"Tapi untuk posisi yang kau inginkan sudah di tempati orang lain tapi jika kau mau ada posisi pelayan di sini. Tapi...." pria tersebut menggantung ucapannya sepertinya ada yang sedang di pikirkannya.


"Tapi apa ?" Anne langsung mengernyit.


"Kau harus banyak tersenyum jika tidak, pelanggan di restoran ku ini pasti akan kabur jika kau melayaninya dengan wajah di tekuk seperti itu." ucap pria itu.

__ADS_1


"Sial."


"Ya ten-tentu saja, aku pasti akan tersenyum." Anne nampak merutuki dirinya sendiri, sejak tinggal bersama pria bermuka datar itu ia sampai lupa cara tersenyum pada orang lain.


"Baiklah kau di terima nona, upahmu akan di hitung perjam dan kau bisa memilih jam kerjamu di papan jobdesk. Usahakan jika kau tak masuk kerja harus memberikan informasi sehari sebelumnya." terang pemilik restoran tersebut.


"Baik tuan, terima kasih banyak." Anne nampak lega, akhirnya ia mempunyai pekerjaan sekarang meski posisi admin yang ia inginkan sudah terisi oleh orang lain dan selanjutnya ia akan bekerja 4 hingga 5 jam perhari sebagai seorang pelayan.


"Jika seperti ini setiap hari aku takkan takut gemuk karena makan terlalu banyak." ucap Anne sore itu setelah pulang bekerja, wanita itu nampak makan burger sepanjang ia melangkah.


"Benar-benar luar negeri rasa lokal." imbuhnya lagi karena yang makan sambil jalan hanya dia seorang, Indonesia banget bukan.


Sesampainya di rumah Anne segera membersihkan dirinya, tubuhnya benar-benar lelah. Restoran tempatnya bekerja sangat ramai dan ia hampir tak ada waktu untuk beristirahat.


"Katanya dia malam ini pulang, tapi sampai jam segini belum datang juga." Anne menatap Jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam, matanya sudah sangat mengantuk dan berbungkus-bungkus snack pun sudah ia habiskan.


Namun ia mengingat pesan suaminya itu tadi pagi jika malam ini akan pulang dan pria itu tak suka jika terlalu lama menunggu di luar pintu.


"Kenapa tidak bawa kunci sendiri, jadi aku kan tidak harus repot menunggunya." keluhnya seraya mondar mandir di depan pintu rumahnya.


"Lebih baik aku buka saja pintunya biar dia langsung masuk jika datang." Anne tiba-tiba mendapatkan ide brilian menurutnya lalu ia segera membuka pintu rumahnya dengan lebar dan setelah itu ia bergegas kembali duduk di depan televisi.


Karena kekenyangan sekaligus rasa kantuk yang menderanya semenjak tadi membuat wanita itu tak berapa lama langsung terlelap di atas sofa dan meninggalkan film yang sedang ia tonton.


Sementara itu James yang baru keluar dari sebuah club malam nampak mencengkeram lengannya yang sedang terluka.


"Tuan, apa anda baik-baik saja? sebaiknya kita segera ke rumah sakit tuan." ucap Mark yang terlihat khawatir dengan keadaan bossnya itu.


"Aku baik-baik saja ini hanya tergores sedikit." sahut James.


"Sebaiknya saya yang akan mengantarkan anda tuan, saya khawatir mereka akan mengikuti anda." tawar Mark.


"Baiklah." James terpaksa setuju, karena ia tak biasa ia di sopiri oleh orang lain namun luka di lengannya terasa nyeri saat ia buat bergerak.


James yang tadinya sedang menemui klien bisnisnya di sebuah club malam tiba-tiba di serang oleh seseorang yang tak di kenalnya, kejadian seperti itu sudah biasa ia alami namun sepertinya kali ini ia sedang apes.


Sesampainya di rumah sang tuan, Mark segera membuka gerbang menggunakan remot. Sepertinya pria itu mendapatkan akses istimewa dari sang tuan karena mempunyai beberapa kunci cadangan rumah tersebut.


Setelah gerbang terbuka Mark segera membawa mobilnya masuk ke dalam.


"Sepertinya ada tamu tuan atau jangan-jangan...." Mark menggantung ucapannya saat melihat pintu rumah tuannya itu terbuka lebar.


Sedangkan James yang duduk di sebelahnya tanpa berpikir panjang segera keluar dari dalam mobilnya, lalu melangkahkan kaki panjangnya dengan cepat.


Tiba-tiba pikirannya tidak enak semoga tak terjadi apa-apa dengan istrinya itu, istri? entahlah yang jelas kini mau tidak mau wanita itu adalah tanggung jawabnya.

__ADS_1


__ADS_2