Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part-109


__ADS_3

"Pegangan jika tak mau jatuh !!" perintah William saat mantan istrinya itu baru naik ke atas motornya dan tentu saja membuat wanita itu sontak melebarkan matanya.


"Cepatlah jalan, aku tidak mungkin jatuh." sahutnya dengan tak sabar.


William nampak tersenyum miring, kemudian segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


"Kamu yakin tidak ingin pegangan ?" ucap William lagi saat baru keluar dari kediaman wanita itu.


"Tidak." sahut Merry dengan yakin.


"Dan tidak usah banyak bicara, fokuslah ke jalanan di depanmu itu !!" imbuhnya lagi.


Melihat mantan istrinya yang masih enggan berpegangan padanya membuat pria itu nampak menemukan sebuah ide licik.


1km di depannya adalah trafict light, karena sebelumnya ia telah melewati jalan tersebut lalu pria itu segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi hingga membuat Merry langsung berpegangan pada body motor.


"Apa kamu tidak bisa pelan sedikit ?" tegurnya dengan kesal, sepertinya pria itu ingin membuatnya trauma padahal ini adalah kali pertama ia naik motor.


"Aku hanya tidak ingin kamu terlambat sampai kantor." sahut William meski suaranya hampir tertelan oleh angin.


"Tapi nggak begini juga....Arrrggghhh." Merry langsung berteriak saat pria itu mengerem mendadak hingga membuatnya hampir terlempar dari atas motor tersebut.


Beruntung ia langsung melingkarkan tangannya di pinggang pria itu jika tidak mungkin nyawanya sudah melayang.


"Apa kau sengaja ingin membunuhku ?" teriak Merry dengan berapi-api.


Sedangkan William nampak menahan senyumnya, lalu pria itu menatap tangan mantan istrinya yang sedang memeluknya dengan erat dan itu membuat hatinya menghangat.


Ingin sekali ia menggenggam tangan itu namun ia tak ingin wanita itu merasa tidak nyaman.


"Aku tidak mungkin membuat putraku menjadi piatu, lagipula kamu tidak melihat di depan ada lampu merah." ucapnya kemudian.


Tak berapa lama lampu lalu lintas kembali berwarna hijau dan William mulai melajukan motornya.


Merry yang masih trauma sepertinya enggan melepaskan pelukannya dan tentu saja itu membuat William tak ingin buru-buru sampai ke kantor wanita itu.


"Apa kau tidak salah jalan ?" Merry nampak melebarkan matanya saat pria itu membelokkan motornya ke arah lain.


"Tidak." sahut William.


"Tapi sepertinya kamu salah jalan, harusnya kantorku tetap lurus saja." protes Merry.

__ADS_1


"Diamlah honey, aku tahu apa yang aku lakukan." tegas William.


"Bisakah kamu tidak memanggilku seperti itu lagi ?" protes Merry, mereka sudah tak mempunyai hubungan apa-apa lagi jadi pria itu tak berhak memanggilnya dengan mesra seperti itu.


Karena ia tak ingin Alan salah paham jika mendengarnya nanti, mengingat ke depannya mereka pasti sering bertemu.


"Ada apa dengan panggilanku ?" tanya William, pria itu nampak melajukan motornya dengan pelan agar bisa leluasa berbincang dengan wanita itu.


"Kita sudah tak mempunyai hubungan apa-apa lagi jadi tolong rubah panggilanmu." mohon Merry kemudian.


"Tentu saja ada, kau adalah ibu dari anakku." sahut William.


"Aku hanyalah ibu dari anakmu bukan kekasihmu." terang Merry.


"Baiklah lalu aku harus memanggil apa? Mommy sepertinya lebih baik." sahut William yang sepertinya sengaja ingin membuat wanita itu kesal.


"Panggil nama saja, astaga." Merry rasanya kehabisan kata-kata menghadapi mantan suaminya itu.


"Baiklah, Merry sayang." sahut William yang langsung mendapatkan cubitan di perutnya dari wanita itu, bukannya kesakitan pria itu justru terkekeh senang.


Kini mereka pun sudah melewati jauh dari arah tujuan dan William nampak membelokkan motornya masuk ke dalam sebuah kompleks perumahan.


"Diamlah Merry sayang dan jangan banyak protes." ujar William seraya membuka pintu gerbang setinggi dua meter tersebut.


"Panggil namaku saja tidak usah pakai sayang." protes Merry, ingin rasanya ia membungkam mulut pria itu.


"Sudah mau di tempati ya pak ?" tiba-tiba seorang wanita paruh baya bertanya saat melewati depan rumah tersebut.


"Iya bu." sahut William kemudian.


"Pantas beberapa hari ini banyak pekerja yang keluar masuk dari sana, padahal rumah ini sudah bertahun-tahun kosong." ucap wanita itu lagi.


"Ini istrinya ya pak, wah cantik sekali." puji wanita paruh baya itu lagi ketika melihat ke arah Merry.


"Bu-bukan...." ucapan Merry sontak terjeda saat William langsung menyelanya.


"Iya dia istri saya bu." ucapnya dengan melingkarkan tangan kekarnya di pinggang mantan istrinya tersebut dengan posesif.


"Kalian pasangan yang sangat serasi, semoga langgeng ya dan betah tinggal di sini. Kalau saya tinggal di ujung sana." ucap Wanita tersebut seraya menunjuk ke arah rumahnya.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu ya pak, bu." imbuhnya lagi kemudian segera berlalu pergi.

__ADS_1


"Kenapa kamu bilang kita pasangan suami istri ?" protes Merry dengan suara rendah namun penuh penekanan.


"Jadi kamu mau kita di gerebek oleh warga sini dan langsung di nikahkan ?" seloroh William yang langsung membuat Merry mencebikkan bibirnya.


"Kau benar-benar membuatku marah, sekarang cepat bereskan urusanmu lalu segera antar aku ke kantor." tukasnya kemudian.


"Urusan kita lebih tepatnya." sahut William seraya membawa wanita itu masuk ke dalam rumah tersebut.


Rumah yang di dominasi warna putih itu terlihat mewah dengan segala furniture di dalamnya yang membuat Merry nampak kagum.


"Ini rumahmu ?" Merry yang penasaran langsung bertanya.


"Punya kita." sahut William.


"Apa ?" tanya Merry saat tak begitu jelas mendengar perkataan pria itu.


"Ini rumahmu dan Ariel." sahut William kemudian.


"Apa? kamu becanda kan? kami sudah mempunyai rumah meski tak sebesar ini." Merry nampak tersenyum sinis menatap mantan suaminya itu.


"Aku menghadiahkan rumah ini buat putraku, jadi ku harap mulai hari ini kalian tinggal di sini." sahut William.


"Tidak, aku tidak bisa menerimanya." tolak Merry.


"Aku memberikannya pada putraku, bukan kamu. Terserah kamu menerima atau tidak. Tapi aku ingin yang terbaik buat putraku." tegas William.


"Dia juga putraku dan selama ini aku masih mampu memenuhi kebutuhannya." Merry menolak dengan tegas.


"Aku tahu itu, tapi apa aku salah jika aku menginginkan yang terbaik buat dia ?" William mulai merendahkan suaranya, pria itu tak ingin membuat wanita itu semakin membencinya karena rencananya pasti akan gagal.


"Bukan begitu, aku hanya tidak enak dengan Alan. Bagaimana pun juga dia sekarang akan menjadi ayah sambung Ariel, aku harus meminta izin dahulu padanya." sahut Merry dan sontak membuat William mengeraskan rahangnya.


"Bisakah kau tidak menyebutkan nama pria itu di depanku ?" ucapnya dengan menatap tajam mantan istrinya itu.


"Ariel adalah putra kandungku dan hanya aku satu-satunya ayahnya." imbuhnya lagi seraya berjalan mendekati wanita itu.


Merry yang merasakan perubahan sikap William, langsung melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dinding belakangnya.


"Wil, bukan itu maksudku. Bagaimana pun juga kita semua akan menjadi keluarga, Alan akan menjadi ayah sambung Ariel. Begitu juga dengan Vivian, wanita itu juga akan menjadi ibu sambung Ariel jadi kenapa kita tak mencoba untuk memutuskan bersama-sama saja." terang Merry dan itu membuat seorang William semakin murka lalu mengurung wanita itu yang kini nampak terhimpit di dinding.


"Katakan, apa kamu benar-benar mencintai pria itu ?" ucapnya dengan penuh penekanan dan itu membuat Merry langsung menelan ludahnya.

__ADS_1


__ADS_2