Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~49


__ADS_3

"Saya membawamu kesini bukan untuk menggoda setiap karyawan lelaki di sini." tegur William setelah menutup pintu ruangannya, lalu pria itu menghempaskan bobot tubuhnya di kursi kerjanya.


Merry yang sedang mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang nampak mewah itu langsung di buat terkejut oleh perkataan suaminya itu.


"Menggoda apa maksudmu ?" Merry nampak tak mengerti dengan perkataan pria itu.


"Ck, tersenyum dengan setiap pria yang kamu temui apa itu bukan menggoda ?" cibir William menatap wanita itu.


Merry langsung bersungut-sungut. "Hey tuan William yang terhormat, senyum adalah bentuk suatu keramahan seseorang asal kamu tahu itu." ucapnya dengan kesal.


"Tapi dengan senyum mu itu mereka akan merasa tergoda." cibir William lagi.


"Ya itu salah mereka." Merry menanggapi dengan santai dan tentu saja itu membuat seorang William langsung murka.


"Jadi kau memang sengaja menggoda mereka ?" tuding pria itu.


Merry nampak menghela napas kasarnya, kemudian wanita itu melangkah mendekati suaminya itu.


"Baiklah tuan William, akan ku tunjukkan bagaimana sesungguhnya menggoda itu." Merry nampak tersenyum sinis lalu sebelah tangannya meraih rahang suaminya itu lalu membelainya dengan lembut.


Kemudian mendekatkan wajahnya dan.....


Cup


Sebuah kecupan ia daratkan di pipi pria itu. "Itu yang namanya menggoda, tuan William." ucap Merry berbisik tepat di telinga suaminya itu, kemudian wanita itu segera menjauhkan tubuhnya namun sepertinya William tak semudah itu melepaskannya.


Karena detik selanjutnya, pria itu telah menarik pinggang istrinya itu hingga terduduk di atas pangkuannya.


William langsung saja menyerang bibir istrinya dengan ciuman-ciuman nakalnya lalu turun ke lehernya dan memberikan kecupan-kecupan panas di sana hingga membuat Merry merasa gila di buatnya.


Apalagi tangan pria itu yang mulai menjalar masuk ke dalam gaunnya, menyentuh apa yang bisa di sentuh lalu m3r3m4s bagian tubuh terseksi wanita itu.


Merry mendesah saat suaminya itu memainkan puncak gundukan kenyalnya bergantian, memilinnya dan sedikit mencubitnya.


William yang tak sabar langsung menarik gaun wanita itu lalu membuangnya ke sembarang arah begitu juga dengan sisa kain lainnya.


Lalu pria itu mendudukkan istrinya itu di atas meja kerjanya, menahan pinggangnya dengan sebelah tangannya lalu mulai m3lum4t puncak gundukan indah wanita itu secara bergantian.


Bibir Merry nampak menganga saat merasakan sekujur tubuhnya berdesir hebat karena sentuhan pria itu di dadanya.


Puas dengan bentuk keseksian wanita itu, William nampak menurunkan ciumannya ke perutnya lalu semakin turun dan berakhir di depan pusat kenikmatan wanita itu.


"Will..." di tengah kesadarannya Merry nampak mendorong wajah suaminya yang berada di bawah sana.

__ADS_1


Ada perasaan malu sekaligus risih saat pria itu menatap miliknya yang mungkin sekarang sudah sangat lembab akibat sentuhan-sentuhan nakal pria itu.


William yang selalu gila dengan tubuh istrinya tak mempedulikan penolakan wanita itu.


Pria itu nampak memegang kedua kaki istrinya lalu mulai menikmati pusat gairah wanita itu.


"Ahh, William." Merry mendesah nikmat.


Tak kuat menopang tubuhnya sendiri, Merry nampak merebahkan punggungnya di atas meja kerja pria itu.


Sedangkan tangannya yang terbebas langsung menjambak rambut suaminya beriring dengan pelepasan yang ia dapatkan.


Masih dengan nafas terengah-engah karena pelepasannya, Merry nampak menatap suaminya yang kini mulai membuka resleting celananya sendiri lalu membebaskan benda panjang dan berurat itu yang sedari tadi merangsek ingin di keluarkan.


"William." Merry mendesah saat merasakan keperkasaan suaminya mulai memenuhi dirinya.


"Ya sebuat namaku, honey." ucap William seraya mulai menggerakkan pinggulnya perlahan.


Pria itu nampak menengadahkan wajahnya saat merasakan miliknya terasa di urut di dalam milik istrinya itu.


Semakin lama William nampak semakin cepat memaju mundurkan tubuhnya, menghujam wanita itu dengan keras dan nikmat.


Dan tak berapa lama cairan panasnya pun memenuhi rahim istrinya itu, namun sepertinya bermain sekali tak cukup bagi pria itu.


Menghujamnya dengan keras hingga membuat istrinya itu mengerang tak karuan.


Di sela hujamannya William nampak menjauhkan anak rambut sang istri yang ada di wajahnya.


Kemudian mengusap keringat di dahi wanita itu lalu William langsung menyerbu bibirnya saat merasakan pelepasannya semakin mendekat.


Setelah melepaskan seluruh cairan percintaannya, William nampak ambruk di atas tubuh wanita itu dengan menopang sebagian tubuhnya dengan satu tangannya.


Pria itu nampak menetralkan deru nafasnya yang terengah-engah di ceruk leher wanita itu.


Setelah itu William segera beranjak kemudian mengambil tisu untuk membersihkan miliknya dan sang istri.


"Aku bisa melakukannya sendiri." Merry rasanya sangat malu saat pria itu ingin membersihkan miliknya meski ini bukan pertama kali pria itu melakukannya.


"Diamlah honey dan simpan tenagamu untuk hukumanmu selanjutnya." ucap William yang langsung membuat Merrry melotot, namun tubuhnya yang letih membuatnya malas untuk mendebat.


Setelah itu William segera memakai celana kerjanya kembali dan merapikan kemejanya yang sedikit berantakan.


Kemudian mengambil gaun istrinya yang teronggok di atas lantai lalu membantu mengenakannya.

__ADS_1


"Mel, segera bawakan beberapa makanan dan minuman kesini !!" ucap William saat menghubungi sekretarisnya itu.


Beberapa saat kemudian Camela masuk ke dalam ruangan atasannya itu bersama seorang OB yang nampak membawa sebuah nampan.


Wanita itu dengan cekatan meletakkan beberapa menu makanan tersebut di atas meja.


"Silakan, nona." ucap Camela yang nampak menatap Merry yang terlihat sangat kelelahan padahal sebelumnya gadis itu terlihat sangat bersemangat pikirnya.


"Terima kasih." Merry segera melahap makanannya dengan rakus dan itu tak lepas dari pengawasan sekretaris William tersebut.


Lalu wanita itu melangkahkan kakinya mendekati William yang kini sedang duduk di kursi kerjanya.


"Apa ada lagi tuan ?" ucapnya dengan suara seksinya.


Wanita itu sengaja sedikit membungkuk hingga dadanya yang hampir tumpah itu terlihat menggoda.


"Ck, dasar gatel." gerutu Merry saat melihat Camela berusaha menggoda suaminya itu.


Wanita itu berfikir apa selama ini Camela juga pernah tidur bersama suaminya di ruangan ini.


Mengingat hal itu, selera makan Merry seketika sirna. Makanan yang baru sedikit ia makan itu nampak tak enak lagi di lidahnya.


"Keluarlah Mel, nanti saya panggil jika ada perlu dan kerjakan pekerjaanmu dengan benar !!" perintah William saat sekretarisnya itu tak kunjung pergi.


Camela nampak kecewa karena sekeras apapun usahanya selama ini, William sedikit pun tak pernah meliriknya.


"Baik, tuan." sahut Camela, kemudian segera berlalu keluar dari ruangan bossnya tersebut.


"Cepat habiskan makananmu honey, karena hukuman selanjutnya sedang menantimu." ucap William saat melihat makanan di hadapan istrinya itu nampak masih banyak.


"Hukuman apalagi? aku sudah lelah dan tak ingin melakukannya lagi." sungut Merry, suaminya itu benar-benar tak ada lelahnya.


William nampak mengulas senyumnya kemudian pria itu meletakkan berkas di tangannya tersebut, lalu segera beranjak dari duduknya.


"Memang apa yang sedang kau pikirkan ?" tanya William seraya menghempaskan bobot tubuhnya di samping istrinya itu, tangannya nampak bertumbuh di paha wanita itu namun istrinya itu langsung menjauhkannya.


"Apalagi kalau bukan itu." sahut Merry menggerutu yang langsung membuat seorang William tertawa nyaring.


"Rupanya di otak istriku ini isinya hanya ranjang saja." ledeknya yang langsung membuat Merry melebarkan matanya.


"Mel, segera bawa kesini apa yang ku minta tadi !!" perintahnya kemudian saat menghubungi sekretarisnya itu.


Merry nampak bersungut-sungut, sungguh suaminya itu sangat sulit di tebak.

__ADS_1


__ADS_2