
Elsa yang sedang berperang dengan hatinya nampak bimbang antara ingin melihat ke dalam kamar Alex atau tidak, ingin sekali ia tak peduli tapi hati kecilnya juga penasaran apa yang sedang di lakukan oleh pria itu di dalam sana.
Awas saja jika pria itu membawa wanita tidak benar ke dalam Apartemennya, karena ia tidak ingin putranya mempunyai sosok ayah yang brengsek lalu di kemudian hari putranya itu akan mencontoh perilakunya.
Tidak-tidak, membayangkannya saja Elsa sudah meradang. Kelak putranya harus menjadi pria sejati yang takkan pernah tega menyakiti hati seorang wanita.
Bahkan jika sang ayah ingin menjalin hubungan dengan seorang wanita pun itu harus lolos dari seleksinya, karena Elsa tidak ingin putranya mendapatkan seorang ibu sambung yang tidak benar.
Akhirnya Elsa mengurungkan langkahnya keluar lantas segera berbalik badan dan membuka pintu kamar pria itu lebih lebar, buku-buku jarinya nampak menegang siap menghajar wanita kurang ajar yang telah berani masuk ke Apartemen seorang pria di pagi buta seperti ini.
"Astaga !!"
Elsa langsung berpaling saat tak sengaja melihat Alex yang baru keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai handuk sebatas pusar dan membiarkan dada bidangnya yang atletis terpampang nyata di hadapannya.
Bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar dada bidang pria itu pun membuat Elsa langsung merinding saat melihatnya.
"Kau ?" ucap Alex dengan wajah tak kalah terkejut.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini ?" imbuhnya lagi dengan dahi mengernyit.
"Aku hanya ingin memanggilmu untuk sarapan dan apa kau tak bisa membawa wanita itu ke tempat lain saja? bagaimana jika Axel melihatnya? putraku pasti akan mendapatkan pengaruh buruk dari tingkah lakumu." tuding Elsa tanpa menatap pria itu.
"Wanita? wanita siapa ?" Alex nampak tak mengerti dengan perkataan wanita yang berdiri tak jauh dari hadapannya itu.
"Jangan berpura-pura tidak tahu, aku akan mengeceknya sendiri." Elsa langsung melangkah menuju kamar mandi lalu melebarkan pintunya.
Mengedarkan pandangannya ke setiap sudut toilet namun tak ada siapapun di sana, hanya sisa-sisa air bekas pria itu mandi yang membasahi lantai.
"Di mana wanita itu ?" tanyanya kemudian.
"Wanita siapa ?" Alex benar-benar tak mengerti dan itu membuat Elsa nampak menelan ludahnya.
Apa ia telah salah sangka? seketika wajah Elsa langsung memerah. Sial, sejak kapan ia memiliki kekhawatiran berlebihan seperti ini.
"Tidak ada, lupakan saja dan segera ganti pakaianmu karena sarapanmu sudah siap." Elsa segera berlalu pergi dengan menahan rasa malu, semoga saja pria itu tak berpikir macam-macam terhadapnya.
__ADS_1
"Ceroboh sekali kamu Elsa." gumamnya sembari melangkah, namun seketika ia terkejut saat tiba-tiba lengannya di tarik dari belakang hingga membuatnya langsung menabrak dada bidang pria itu.
"Kamu sudah lancang masuk ke dalam Apartemenku dan sekarang mau pergi begitu saja, hm ?" ucap Alex dengan seringaiannya menatap wanita itu.
"Pintumu kamu biarkan terbuka jadi jangan salahkan aku jika masuk, karena aku kira kamu lupa menutupnya dan langsung pergi ke kantor." terang Elsa membela diri namun tanpa berani menatap pria itu, rasanya tubuhnya mendadak merinding dengan posisi seintim ini.
Apalagi pria itu sedang bertelanjang dada dengan wangi sabun yang menguar dari tubuhnya yang menimbulkan gejolak aneh dalam tubuhnya.
"Ku pikir itu hanya alasanmu saja, jujur saja jika kamu ingin tahu apa yang sedang ku lakukan." cibir Alex yang langsung membuat Elsa melotot menatapnya.
"Omong kosong, jangan menuduhku sembarangan." ucapnya tak terima.
"Dan apa kamu juga sedang tidak menuduhku sembarangan, hm? mengatakan jika aku membawa wanita lain kesini? Kamu melakukan itu seakan sedang cemburu saja." ejek Alex lagi dan itu membuat Elsa semakin salah tingkah.
"Si-siapa yang cemburu ?" kilahnya.
"Tapi aku senang jika kamu seperti ini." imbuh Alex dengan sudut bibir terangkat ke atas.
"Aku bilang aku tidak cemburu." Elsa langsung memukuli dada bidang pria itu dengan kesal namun itu justru membuat Alex nampak terkekeh.
Alex yang memang selalu tak tahan jika berada di dekat wanita itu langsung saja m3lum4t bibirnya, meski sebelumnya ia telah menuntaskan hasratnya dengan bermain solo.
Pengaruh wanita itu benar-benar membuatnya gila, ia tak pernah seperti ini sebelumnya dan haruskah ia memaksakan kehendaknya agar wanita itu menjadi miliknya sebelum Max merebutnya darinya?
Elsa yang di pepet oleh tubuh besar pria itu nampak tak berkutik, karena melawan pun ia tak mampu.
Tenaganya yang tak seberapa mana mungkin mengimbangi tenaga pria itu yang seperti seorang monster setiap kali menyentuhnya.
Bahkan kini bibir pria itu sudah beralih menyusuri lehernya dengan memberikan kecupan-kecupan kecil di sana hingga membuat tubuhnya meremang tak karuan.
Sebelah tangan pria itu yang bebas kini juga telah menelusup ke dalam piyama tidurnya, m3r3m4s bongkahan kenyal miliknya dan memilin puncaknya yang membuatnya seakan terbang ke nirwana.
Elsa benar-benar telah jatuh ke dalam buaian pria itu, setiap sentuhannya selalu sukses membuatnya lupa diri dan tanpa sadar ia menginginkan lebih dari itu.
"Mommy !!"
__ADS_1
Tiba-tiba suara teriakan Axel membuyarkan aktivitas mereka dan Alex maupun Elsa nampak salah tingkah, kemudian wanita itu segera meninggalkan kamar tersebut.
Elsa yang sedikit berlari nampak memperbaiki penampilannya yang berantakan dengan beberapa kancing piyamanya yang terlepas.
"Mommy, Mommy kenapa keluar dari sana ?" Axel yang sedang berdiri di ambang pintu nampak terkejut saat melihat sang ibu baru keluar dari unit seberangnya, padahal sebelumnya unit tersebut telah lama kosong.
"Mommy baru saja panggil Daddy agar sarapan bareng kita sayang." sahut Elsa menjelaskan.
"Daddy? Daddy tinggal di dalam sana ?" Axel nampak tak percaya.
"Hm, mulai hari ini Daddy tinggal di sana sayang." Elsa mengangguk kecil.
"Hore, aku mau ketemu Daddy dulu." Axel segera melangkahkan kakinya namun ibunya langsung menahan tangannya.
"Daddy sedang bersiap-siap ke kantor sayang, lebih baik kamu segera mandi lalu kita sarapan bersama." ucapnya kemudian.
"Baiklah Mommy, apa Daddy akan mengantarku ke sekolah ?" timpal Axel sembari masuk kembali ke dalam kamarnya.
"Tentu saja, kamu akan di antar oleh Daddy karena Mommy hari ini ada kerjaan." sahut Elsa yang langsung membuat putranya itu nampak sangat senang.
Beberapa saat kemudian mereka telah berada di meja makan, Elsa yang masih kesal dengan perbuatan Axel di Apartemennya tadi nampak tak ikut menimpali saat kedua pria beda generasi itu asyik berbincang.
"Mommy kenapa diam saja ?" ucap Axel setelah sarapannya telah tandas.
"Tidak apa-apa sayang." sahut Elsa dengan sedikit mengulas senyumnya menatap putranya itu.
"Tidak apa-apa tapi kok diam ?" tanya Axel lagi, karena tak biasanya ibunya bersikap seperti itu.
"Mungkin Mommy sedang menginginkan mainan baru sayang." timpal Alex di tengah kunyahannya.
"Mainan baru ?" Axel langsung menatap sang ayah tak mengerti begitu juga dengan Elsa.
"Hm, mainan baru seperti adik bayi mungkin." celetuk Alex dengan santai namun sukses membuat Elsa melotot.
"Adik bayi, Daddy? Aku juga mau Daddy." Axel nampak antusias namun tidak dengan Elsa, wanita itu langsung menatap Alex dengan pandangan membunuh.
__ADS_1