
"Kau yakin wanita ini simpanan William? lalu kenapa posisinya hanya sebagai asisten? itu posisi yang sangat rendah." selidik Marco ingin tahu setelah menatap potret Anne di ponsel milik adiknya tersebut.
"Mungkin biar tidak ada yang curiga kali, tapi lihat saja saat aku mendapatkan bukti pasti akan ku permalukan dia." geram Jennifer mengingat Anne selalu melawan perkataannya.
Marco nampak sedikit kecewa saat mengetahui rumor dari adiknya itu, lagi-lagi ia selalu kalah cepat dari William.
"Lagipula kenapa kakak begitu peduli pada wanita itu ?" Jennifer langsung mengernyit tak biasanya kakaknya itu memiliki ketertarikan pada seorang wanita.
"Tidak, apapun itu jika menyangkut William bukankah aku pasti akan tertarik ?" timpal Marco meyakinkan.
"Oke baiklah, sepertinya aku harus pulang." Jennifer langsung beranjak dari duduknya.
"Tunggu Jen, kamu tak bisa pergi begitu saja." Marco langsung menghentikan adiknya itu saat hendak pergi.
"Apalagi sih kak ?" Jennifer nampak jengah.
"Kau harus bertanggung jawab atas kegagalan proyek itu." tegas Marco tak ingin di bantah.
"Astaga, itu bukan urusanku. Itu gara-gara wanita kampungan itu jadi memintalah pertanggungjawaban padanya." Jennifer langsung bersungut-sungut, hubungan dengan kakaknya tidaklah sebaik hubungan saudara seperti pada umumnya. Hubungan mereka hanya saling memanfaatkan satu sama lainnya saja.
"Itu yang ku maksud, sekarang berikan kontak wanita itu aku harus memberikannya pelajaran." Marco langsung meminta nomor telepon Anne.
"Aku tidak punya." timpal Jennifer.
"Alamat rumahnya ?" tanya Marco lagi.
"Aku juga tidak tahu, lagipula untuk apa aku mencari tahu tentang dia tidak penting banget." sahut Jennifer dengan cuek.
"Kalau begitu sekarang menjadi tugasmu untuk mencari tahu itu." perintah Marco kemudian.
"Aku tidak mau, aku merasa alergi jika berdekatan dengan wanita kampungan itu." tolak Jennifer.
"Baiklah, jangan salahkan aku jika akan mengusik bajingan itu." tegas Marco yang langsung membuat Jennifer melebarkan matanya.
"Selalu saja memaksa." Jennifer langsung bersungut-sungut lalu segera pergi dari sana.
"Aku tunggu secepatnya." seru Marco saat adiknya itu mulai berjalan menjauh.
"Aku bersumpah kau harus menjadi milikku."
__ADS_1
Marco nampak menatap potret Anne yang baru saja ia kirim dari ponsel sang adik, lalu mengecupnya dengan sepenuh hatinya.
Sepertinya tanpa pria itu sadari dirinya telah jatuh cinta sejak pertemuan pertama mereka.
Keesokan harinya.....
"Ayo ku antar, bi Ester sedang berhalangan pagi ini." ajak James setelah Anne bersiap pergi ke kantor.
"Tapi bagaimana jika yang lain melihatku satu mobil denganmu? mereka pasti akan membicarakan ku nanti." Anne nampak ragu.
"Perduli apa dengan mereka." James langsung menarik pergelangan tangan istrinya itu, lalu menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya dan di susul oleh dirinya yang duduk di sebelahnya.
"Jalan Mark !!" perintahnya kemudian.
Setelah mobil melaju Anne terlihat gelisah, bagaimana jika nanti para karyawan akan melihatnya turun dari mobil wakil direkturnya itu? sungguh ia belum siap untuk mengumumkan hubungan mereka.
"Apa yang sedang kamu pikirkan ?" tanya James saat melihat istrinya itu nampak diam membisu.
Anne menggelengkan kepalanya. "Tidak ada." sahutnya kemudian.
"Apa kau akan lama di luar kota ?" tanyanya kemudian sembari menatap wajah tegas suaminya itu.
"Tentu saja." sahut Anne dengan wajah sedihnya.
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu tapi aku takut kamu kelelahan, jadi lebih baik kamu di kantor saja. Ada Rose yang akan menemanimu, jika lelah beristirahatlah di ruanganku." ucap James yang terlihat sedih karena harus meninggalkan istrinya itu untuk tugas ke luar kota, sangat berbahaya jika mengajaknya ikut serta karena musuh-musuhnya selalu mengintainya di mana pun berada.
"Baiklah, tolong jaga dirimu baik-baik." mohon Anne dan tak terasa mobil mereka telah berhenti di depan kantornya.
"Astaga, harusnya turunkan aku di luar saja tadi." protes Anne saat melihat beberapa karyawan siap menyambut kedatangan wakil direkturnya itu.
"Itu tidak masalah." timpal James seraya melepaskan sefty beltnya dan di ikuti oleh sang istri juga.
"Aku akan keluar duluan, setelah itu baru kamu." ucap Anne seraya bersiap untuk membuka pintu mobilnya, ia akan beralasan jika mendapatkan tumpangan dari wakil direkturnya itu jika ada yang bertanya.
Saat hendak membuka pintu tiba-tiba sebelah tangannya di tarik oleh suaminya itu hingga teriakannya karena terkejut langsung di bungkam oleh bibir pria itu.
Anne nampak melotot namun keahlian suaminya dalam berciuman membuatnya akhirnya terbawa suasana hingga membuatnya ikut membalasnya dengan tak kalah agresif.
Setelah beberapa saat panggutan mereka terlepas seiring dengan pasokan udara di paru-paru semakin menipis.
__ADS_1
James langsung mengusap sudut bibir istrinya yang sedikit basah karena ulahnya tadi.
"Kamu merusak lipstikku." gerutu Anne seraya mengoles kembali lipstik di bibirnya.
"Bawa ini ke meja kerjaku." James nampak memberikan beberapa dokumen pada istrinya itu agar ada alasan jika ada yang bertanya kenapa naik mobilnya.
"Jika ingin makan siang, pergilah ke Cafetaria atau suruh Rose memesan dari luar. Jangan meninggalkan kantor sebelum Bi Ester datang, mengerti ?" perintah James kemudian.
"Hm, jangan lupa menghubungi ku jika sampai." Anne mengangguk kecil, lalu segera keluar dari mobilnya dengan membawa tumpukan dokumen di tangannya.
Kemudian ia sedikit membungkukkan tubuhnya memberikan hormat saat mobil suaminya ketika hendak meninggalkan kantornya kembali.
"Semoga perjalananmu baik-baik saja." gumamnya, sungguh Anne sangat khawatir pada pria itu.
Lalu wanita itu segera berbalik badan masuk ke dalam kantornya, beberapa pasang mata nampak menatapnya dengan pandangan tak suka.
Beruntung ia tak melihat Jennifer maupun nyonya Darrien di sana, jika tidak mereka pasti akan dengan senang hati ikut memojokkannya.
"Apa kamu habis menjual dirimu pada tuan James ?" cibir salah satu dari kumpulan para wanita pemuja sang suami saat Anne melewati mereka.
"Tadi tuan James tak sengaja melihat ku di pinggir jalan, lalu memberikanku tumpangan karena ada beberapa dokumen yang harus di serahkan pada nona Rose untuk di periksa kembali." sahut Anne beralasan.
"Apa kami percaya ?" ucap yang lainnya saat melihat rambut Anne sedikit berantakan.
"Terserah kalian mau percaya atau tidak, itu tak penting bagiku." sahut Anne lalu segera berlalu melewati mereka.
"Kau? dasar asisten kurang aja !!" teriak salah satu dari mereka dengan geram dan bersamaan itu Jennifer nampak datang mendekati mereka.
"Ada apa ini? apa kalian tidak bekerja ?" tegurnya saat melihat beberapa karyawan wanita berkumpul di lobby kantornya.
"Nona Jennifer lihatlah, asisten penggoda ini sedang berusaha menggoda tuan James atau jangan-jangan mereka semalam telah menghabiskan waktu bersama." ucap yang lainnya dan tentu saja membuat Jennifer langsung geram.
"Apa kau sedang becanda ?" ucapnya tak percaya.
"Itu benar nona Jennifer, karena kami semua tadi melihatnya keluar dari mobil tuan James dengan rambut berantakan."
"Apa ?"
Jennifer langsung menatap nyalang ke arah Anne seakan ingin melenyapkan wanita itu sekarang juga.
__ADS_1