
"Tuan, ada informasi terbaru perihal tuan Alan." lapor James siang itu saat masuk ke dalam ruangan William.
"Katakan !!" William yang berada di kantor barunya nampak menatap pemandangan kota dari kaca jendelanya.
"Saya mendapatkan informasi jika tuan Alan juga terlibat dalam human trafficking internasional, bahkan tidak hanya wanita saja tapi juga anak-anak menjadi sasarannya." lapor James yang langsung membuat William berbalik badan menatap asistennya tersebut.
"Kau serius ?" tanyanya dengan mata memicing.
"Iya tuan, sudah banyak wanita dan anak-anak yang beliau perdagangkan ke luar negeri." sahut James.
"Bajingan." William nampak mengepalkan tangannya.
"Awasi terus pergerakannya James, saya tidak mau putraku dan ibunya dalam bahaya !!" perintah William kemudian.
"Baik tuan."
William nampak mengepalkan tangannya, secepatnya ia harus menjauhkan mantan istrinya itu dari pria berbahaya seperti Alan.
Sementara itu di tempat lain, Merry nampak baru tiba di sebuah Cafe.
"Maaf aku terlambat, jalanan sangat macet." ucap Merry saat baru menghampiri meja kekasihnya tersebut.
"Apa kau dari tadi ?" imbuhnya kemudian.
"Tidak, ayo duduklah !!" Alan langsung menarik kursi untuk di duduki oleh kekasihnya itu.
"Terima kasih." sahut Merry.
"Ini apa ?" Merry nampak terkejut saat kekasihnya itu tiba-tiba memberinya sebuah paper bag padanya.
"Pakailah, untuk gala dinner nanti malam." sahut Alan.
Merry segera memeriksa isi dari paper bag tersebut lalu mengeluarkan isinya.
"Bagaimana, apa kamu suka ?" tanya Alan dengan mengulas senyumnya.
"Gaun ini sangat bagus, meski sedikit terbuka." sahut Merry saat melihat sebuah gaun pesta dengan dada sedikit terbuka, rupanya pria itu sangat menyukai jika dirinya berpenampilan seksi.
"Aku yakin gaun itu pasti akan sangat pas di badanmu." tukas Alan.
"Hm, terima kasih banyak." sahut Merry, meski ia sedikit kurang nyaman dengan pakaian seperti itu.
"Oh ya sudah sejauh mana proyek yang kamu kerjakan ?" tanya Alan kemudian di sela makan siangnya.
"Sudah hampir 90%, terima kasih berkat bantuanmu aku bisa menyelesaikannya hingga akhir. Aku janji secepatnya akan mengembalikan pinjaman itu padamu." terang Merry.
__ADS_1
"Kenapa kau berkata begitu, bukankah tak lama lagi kita akan menjadi keluarga ?" Alan nampak kesal saat calon istrinya itu mengungkit dana yang ia berikan beberapa waktu lalu hingga membuat wanita itu setuju untuk menikah dengannya.
Meskipun hubungan mereka berawal dari sebuah kesepakatan, namun pria itu bertekad membuat wanita itu menjadi miliknya seutuhnya apalagi mantan suaminya kini telah kembali.
Alan tidak akan membiarkan mereka kembali dekat, selama ini ia selalu mendapatkan apapun yang ia mau. Jadi apapun yang terjadi ia juga harus mendapat wanita itu.
"Aku tidak enak saja sama keluargamu, Al." terang Merry, bagaimana pun juga yang masih berkuasa di perusahaan calon suaminya itu adalah sang ayah.
"Papa sudah tidak mempermasalahkannya, jadi kamu jangan khawatir. Malahan papa menginginkan kita untuk segera menikah." tukas Alan yang langsung membuat Merry yang sedang mengunyah makanannya langsung tersedak.
"Pelan-pelan." Alan langsung mengulurkan segelas air mineral pada wanita itu.
"Terima kasih." ucap Merry setelah merasa lebih baik.
"Bagaimana menurutmu, apa kamu setuju bulan depan kita menikah ?" tanya Alan kemudian.
Merry nampak menghela napasnya dalam, benarkah ia sudah siap untuk menikah dengan pria itu padahal seluruh hatinya masih menjadi milik pria lain.
"Aku janji akan berusaha lebih dekat dengan Ariel." tukas Alan lagi saat wanita itu tak kunjung menanggapi ucapannya.
"I-iya, semua ku serahkan pada Ariel. Jika dia setuju kita menikah lebih cepat maka aku ngikut saja." sahut Merry pada akhirnya.
"Terima kasih." Alan menggenggam tangan wanita itu dengan erat, kemudian mereka kembali melanjutkan makan siangnya di sertai obrolan santai.
"Mau coba ?" Alan nampak menawarkan makanannya dan mau tak mau Merry langsung membuka mulutnya untuk menerima suapan pria itu.
"Enak." sahut Merry.
"Mau lagi ?" Alan kembali menyuapi wanita itu hingga makanannya tersebut tandas tak bersisa.
Mereka terlihat seperti pasangan yang berbahagia, namun tanpa mereka sadari seorang pria nampak mengawasi mereka dari kejauhan.
"Hallo, apa perusahaan yang ingin ku akuisisi sudah beres ?" tanya pria tersebut pada lawan bicaranya di seberang telepon namun pandangannya tetap fokus pada sepasang kekasih yang duduk tak jauh darinya itu.
"Sudah tuan."
"Bagus, tetap rahasiakan siapa aku dan mulai jalankan rencana kita." perintahnya kemudian.
"Baik tuan, segera kami laksanakan."
Setelah menutup panggilannya, pria itu nampak kembali menatap datar ke arah sepasang kekasih yang sedari tadi sukses membuatnya meradang itu.
"Sayang, maaf aku baru datang tadi di klinik sangat antri." teriak seorang wanita berjalan mendekat hingga beberapa pengunjung langsung menoleh ke arahnya.
"Bagaimana penampilanku, apa aku terlihat lebih cantik ?" tanyanya seraya menunjukkan penampilan barunya setelah menjalani perawatan di sebuah klinik kecantikan.
__ADS_1
"Hm." pria tersebut hanya mengangguk kecil.
"Terima kasih." sang wanita segera duduk di sebelahnya, lalu segera memesan makan siangnya.
Sementara pria di sisihnya itu nampak menatap ke arah sang wanita yang sedari tadi mencuri perhatiannya dan tanpa pria itu duga wanita tersebut juga tiba-tiba menatapnya.
"William ?" gumam Merry saat tak sengaja melihat mantan suaminya yang sedang duduk tak jauh darinya.
"Sejak kapan pria itu ada di sana? lagipula apa peduliku, dia juga sedang bersama kekasihnya." gumamnya.
"Al, aku ke toilet sebentar ya." ucap Merry kemudian, sedari tadi ia menahan untuk buang air kecil dan sekarang tak bisa ia tahan lagi.
"Mau ku temani ?" tawar Alan.
"Tidak, kamu di sini saja." tolak Merry, kemudian segera beranjak dari duduknya lalu bergegas ke arah toilet yang berada di restoran tersebut.
Beruntung toilet sedang sepi hingga membuatnya tak perlu antri lagi dan segera menunaikan hajatnya.
"Akhirnya, lega juga." gumamnya setelah keluar dari bilik toilet, kemudian wanita itu melangkah menuju wastafel yang berada tak jauh dari sana untuk mencuci tangannya dan memperbaiki penampilannya.
Saat sedang mencuci tangannya, Merry tak sengaja melihat bayangan seseorang dari pantulan cermin depannya.
"Ka-kau ?" ucapnya saat melihat mantan suaminya di sana, kemudian ia segera berbalik badan.
"A-apa yang sedang kau lakukan di sini ?" tanyanya kemudian.
Namun bukannya menjawab, William justru menatap wanita itu dengan geram.
"Apa yang aku lakukan di sini? Ck harusnya aku yang bertanya apa yang kamu lakukan disini? bukannya menjaga putraku malah asyik-asyikan bermesraan dengan bajingan itu." tegur William kemudian.
"Aku sedang makan siang, lagipula Ariel sedang di rumah bersama Mommy dan Daddy jadi kamu tak perlu khawatir dengannya." tegas Merry.
"Ck, alasan. Katakan jika kamu memang tak sanggup mengasuh putraku maka aku yang akan mengasuhnya." tukas William yang langsung membuat mantan istrinya itu menggeleng cepat.
"Tidak, kamu jangan berani-beraninya merebut putraku." Merry langsung bersungut-sungut.
"Kenapa tidak? lebih baik dia bersamaku dari pada bersama ibunya yang hanya mementingkan kekasihnya." cibir William dengan sinis.
"Aku tidak seperti itu, kami hanya makan siang." balas Merry.
"Makan siang saja? aku tidak yakin, bisa saja setelah ini kalian menghabiskan waktu bersama di hotel." tuding William.
"Aku bukan wanita seperti itu, jadi jangan sembarangan menuduhku." kilah Merry membela diri.
"Ck, kau pikir aku tidak mengenal Alan? Dia pria brengsek. Bagaimana sepak terjangnya aku sangat tahu dan ku harap kau memikirkan lagi hubunganmu dengan bajingan itu." cibir William yang langsung mendapatkan sebuah tamparan dari mantan istrinya itu.
__ADS_1
Plakkk
"Alan pria yang baik, jauh lebih baik daripada kamu. Jadi lain kali jangan menuduhnya macam-macam." tegas Merry dengan geram, kemudian segera berlalu meninggalkan pria itu.