Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~231


__ADS_3

"Mau ku temani ?" ucap seseorang malam itu saat Marco berada di sebuah Bar.


Pria yang sedang duduk di depan bartender itu langsung menoleh saat seorang wanita menyapanya.


"Kau ?" ucapnya sedikit terkejut dengan kedatangan seseorang yang lama tak pernah ia jumpai itu.


"Bagaimana kabarnya ?" ucap wanita berpakaian seksi yang langsung duduk di sebelah Marco.


"Seperti yang kau lihat." sahut Marco lalu mulai meneguk minumannya kembali.


"Apa sedang ada masalah ?" tanya wanita itu lagi saat menatap pria di sebelahnya nampak banyak sekali minum.


"Sejak kapan kau peduli ?" timpal Marco kemudian menyulut sebatang rokok, menghisapnya lalu mengeluarkan asapnya yang mengepul.


"Aku bisa sedikit meringankan jika kau mau." ucap wanita itu yang langsung membuat Marco nampak tersenyum sinis, pria itu sangat tahu apa yang di tawarkan oleh wanita itu.


"Aku serius." imbuh wanita itu lagi.


"Ck, apa kau sudah bosan dengan suamimu ?" cibir Marco kemudian.


"Dia terlalu datar dan aku sedikit bosan." sahut wanita itu jujur.


"Celine, Celine. Rupanya waktu tak pernah bisa merubahmu." cibir Marco lagi lalu kembali menyesap minumannya.


"Wow sejak kapan kau bijak seperti ini? apa ini perlu di rayakan ?" Celine tak kalah mencibir, karena sebenarnya mereka dua orang yang sama-sama gila berpetualang dengan kenikmatan surga duniawi.


"Sejak saat ini." sahut Marco dengan wajah datarnya, sejak ia mengenal Anne pria itu tak lagi tertarik dengan kebiasaannya yaitu berpetualang dari pelukan wanita satu ke wanita lainnya.


Pertemuan sesaat dengan wanita itu benar-benar membuat hidupnya berubah drastis dan ia semakin tahu apa tujuan hidupnya, sisi kemanusiaannya seakan bangkit kembali mengalahkan iblis yang selama ini menguasai dirinya.


Celine nampak tercengang menatap pria yang selama ini selalu mempunyai ambisi tinggi itu, hampir satu tahun tak berjumpa banyak sekali perubahan pada diri pria itu.


Padahal sebelumnya jika mereka bertemu maka pasti akan di lanjutkan dengan malam panjang yang lumayan menguras keringat.


"Aku merindukanmu." ucap Celine seraya mengulurkan tangan mengusap punggung pria yang sedang duduk di sampingnya itu.


"Jauhkan tanganmu Cel !!" perintah Marco dengan nada dingin.


"Kenapa hm? apa kamu takut jika kita akan mengulang lagi malam hebat setahun lalu ?" cibir Celine yang kini memindahkan tangannya di atas paha pria itu, mengusapnya dengan lembut yang membuat pria mana saja pasti akan terpancing gairahnya.


"Cel !!" Marco nampak mengeraskan rahangnya.


"Jangan di tahan, bukankah kau dulu sangat menyukai sentuhanku? bahkan kau sangat memuja tubuh seksiku ini." timpal Celine yang malam itu memang nampak berpakaian seksi, pakaiannya yang sedikit ketat membuat dua buah bongkahan dadanya hampir menyembul keluar dan menggoda siapa saja yang melihatnya.


Sebagai mantan seorang model Celine memang sudah mempermak sebagian tubuhnya yang membuatnya semakin terlihat sempurna.

__ADS_1


Hanya saja sampai saat ini kehidupannya ada yang kurang karena belum di karunia seorang malaikat kecil di tengah-tengah pernikahannya dengan Alex.


"Jauhkan tanganmu, Cel !!" perintah Marco kemudian yang langsung membuat Celine tercengang.


"Kenapa ?" ucapnya tak mengerti.


"Fokuslah pada suamimu sebelum kamu menyesal di kemudian hari." Marco langsung beranjak dari duduknya dan itu membuat Celine menatapnya sinis, ia benar-benar tak menyangka dengan perubahan drastis pria itu.


"Sial."


Celine nampak mengepalkan tangannya, baru kali ini ia di tolak oleh seorang pria. Apalagi seorang Marco yang dahulu pernah tergila-gila pada tubuh seksinya.


...----------------...


Beberapa bulan pun telah berlalu, tak terasa kini kehamilan Anne tinggal menunggu hari kelahiran. Ia senang hubungannya dengan James akhir-akhir ini sangat harmonis.


Pria itu sepertinya juga tidak pernah tahu jika ia pernah di lecehkan oleh Marco sebelumnya dan semoga saja rahasia ini akan tertutup rapat hingga nanti.


Anne juga sangat bersyukur suaminya itu selalu siaga kapan pun ia butuhkan, bahkan pria itu sering membatalkan meeting pentingnya hanya karena ia tiba-tiba menginginkan sesuatu.


Sementara Jennifer sepertinya telah menyerah karena wanita itu dan juga nyonya Darrien tiba-tiba memilih untuk resign dari kantor lalu memutuskan tinggal di luar negeri.


Sedangkan Marco, entah di mana pria itu. Sejak kejadian di butik waktu itu pria itu tak lagi menampakkan dirinya di hadapan Anne maupun James lagi.


"Sayang, cepat pulang."


Tanpa berpikir panjang pria itu langsung berlari meninggalkan ruang meeting.


"Tuan, apa ada masalah ?" tanya Rose dengan wajah khawatir.


"Istriku sedang membutuhkan ku, meeting sementara waktu kita tunda." sahut James saat berhenti di ambang pintu.


"Tapi tuan James, ini meeting sangat penting kita tak bisa tiba-tiba menundanya begitu saja. Saya harap anda bersikap profesional jika tidak lebih baik kerja sama kita batalkan saja." tegas seorang pria yang menjadi klien James.


"Istri dan calon bayi saya lebih penting, silakan di batalkan saya tak peduli." tegas James kemudian.


Setelah itu ia segera berlari keluar lantas memacu mobilnya dengan laju menuju rumahnya.


"Sayang, kamu baik-baik saja ?" ucapnya sesampainya di rumah, napasnya nampak ngos-ngosan tak beraturan.


"Kamu cepat sekali pulang ?" sahut Anne yang sedang berada di meja makan dengan tersenyum nyengir menatap suaminya itu sembari menikmati beberapa menu makanan dengan lahap.


James yang melihat itu nampak menghela napasnya sejenak, wajahnya terlihat lega bercampur kesal karena tadi sangat mengkhawatirkan wanita itu.


Ia kira terjadi sesuatu padanya hingga membuatnya langsung memutuskan untuk segera pulang.

__ADS_1


"Aku benar-benar mengkhawatirkan mu." ucapnya seraya melangkah mendekat.


"Aku tiba-tiba ingin makan di temani kamu." sahut Anne tanpa perasaan bersalah.


"Kamu berkeringat, apa di luar sangat panas ?" imbuhnya seraya mengusap kening sang suami.


"Lumayan." dusta James, padahal ia berkeringat akibat berlari karena mengkhawatirkan wanita itu.


"Ayo duduklah, kamu pasti laparkan ?" Anne langsung membawa suaminya untuk duduk di meja makan.


"Aku belum lapar." tolak James, karena ia sudah menyelesaikan makan siangnya sebelum meeting di mulai.


"Kamu sedang ada masalah ?" tanya Anne lagi saat menatap wajah datar suaminya itu.


"Tidak, ayo makanlah lagi." sahut James lalu menggeser beberapa menu makanan ke hadapan wanita itu.


"Melihatmu aku tiba-tiba sudah kenyang, kamu boleh ke kantor lagi sekarang." tolak Anne, lagi-lagi dengan tanpa perasaan kemudian wanita itu segera beranjak dari duduknya.


James nampak mengusap wajahnya dengan kasar, demi wanita itu ia rela kehilangan proyek jutaan dolar lalu sekarang ia di usir begitu saja.


"Kau sedang mempermainkan ku sayang ?" ucapnya kemudian seraya menahan tangan wanita itu yang hendak pergi.


"Ti-tidak sayang, tadi aku memang benar-benar ingin ketemu kamu." sahut Anne.


"Dan sekarang tidak ?" timpal James kemudian.


"Hm." Anne langsung mengangguk.


"Tapi sepertinya bayi kita yang ingin ketemu Daddynya." James langsung membawa istrinya itu naik ke kamarnya.


Menutup pintunya dengan rapat lalu mulai melucuti pakaian wanita itu satu persatu.


"Sayang, ini masih siang." Anne mencoba menahan tangan suaminya itu meski ia tahu itu takkan berhasil.


"Arrghhh sayang, perutku tiba-tiba sakit." Anne langsung berpura-pura berteriak hingga menghentikan pria itu saat akan melucuti pakaiannya sendiri.


"Apa sakit sekali ?" James langsung memicing.


"Hm, sakit sekali." angguk Anne.


Akhirnya James kembali memakaikan wanita itu pakaiannya. "Mark, siapkan mobil istriku sepertinya mau melahirkan !!" perintahnya saat menghubungi asistennya itu.


"Tapi aku belum waktunya melahirkan." timpal Anne mengingat hari perkiraan melahirkan masih satu minggu lagi.


Namun tiba-tiba perutnya terasa sakit sekali. "Astaga, apa aku kena karma." gumamnya sembari meringis menahan sakit.

__ADS_1


.


Berhubung othor lagi liburan keluar kota, jadi maaf ya belum sempat balas komentar kalian. Nanti kalau sudah pulang baru di balas satu-satuπŸ˜πŸ™πŸ™


__ADS_2