
"Mommy, apa kau ingin bekerja lagi ?" tanya seorang bocah berusia 5 tahun itu yang baru saja membuka kamar sang ibu.
Bocah laki-laki yang masih mengenakan piyama tidurnya itu terlihat menatap sang ibu yang sedang merias wajahnya di depan cermin.
"Hai sayang, masuklah !!" Elsa nampak mengulas senyumnya menatap putra kesayangannya tersebut.
"Apa Mommy akan pergi bekerja lagi ?" ulang bocah itu lagi dengan wajah cemberut, karena ibunya itu jarang sekali ada waktu untuknya tak seperti teman-temannya di sekolah yang selalu berangkat dan pulang bersama ibu maupun ayahnya.
"Tidak, hari ini Mommy mau mengantar anak Mommy yang tampan ini ke sekolah." sahut Elsa seraya memegang kedua lengan putranya tersebut dan tentu saja itu membuat bocah bernama Axel itu langsung terkejut.
"Mommy hari ulang tahunku sudah lewat, apa Mommy lupa ?" ucapnya mengingatkan, karena yang ia ingat setiap dirinya ulang tahun maka ibunya itu akan memberikan waktunya sepenuhnya untuknya.
Mengantar dan menjemputnya sekolah lalu mengajaknya kemana pun ia mau, namun hanya satu hari itu saja karena hari-hari lainnya ibunya akan kembali sibuk bekerja.
Elsa tiba-tiba merasa sangat bersalah pada putranya tersebut, selama 5 tahun terakhir ini ia memang tak mempunyai banyak waktu untuk bocah laki-laki itu.
Ambisinya untuk membalas dendam membuatnya harus bekerja keras siang dan malam sampai ia menjadi desainer sukses seperti saat ini.
Wanita itu selalu berangkat kerja pagi-pagi sekali dan pulang larut malam hingga kebersamaannya dengan putranya itu sangat terbatas.
"Maafkan Mommy ya sayang, Mommy janji mulai hari ini akan meluangkan waktu buat Axel." ucapnya kemudian.
"Mommy tidak berbohongkan? apa Mommy juga akan mengantar dan menjemputku ke sekolah seperti yang lainnya ?" Axel masih nampak tak percaya, karena hari-harinya hanya ia habiskan bersama sopir dan juga ARTnya.
"Tentu saja sayang, tentu saja." Elsa nampak berkaca-kaca, lantas segera membawa putranya itu ke dalam pelukannya.
"Baiklah sekarang Axel mandi dulu ya, kemudian sarapan baru Mommy antar ke sekolah !!" imbuh Elsa kemudian setelah mengurai pelukannya.
__ADS_1
"Tentu saja, hari ini aku akan beritahu teman-temanku jika Mommy akan mengantarku ke sekolah." Axel terlihat sangat girang.
"Kenapa harus memberitahu mereka sayang ?" Elsa nampak heran dengan ucapan putranya tersebut.
"Karena mereka sering bertanya apa aku tidak mempunyai Mommy, kenapa selalu sopir yang menemaniku." sahut Axel dengan wajah polosnya dan tentu saja membuat Elsa semakin merasa bersalah.
"Apa Axel membenci Mommy ?" ucapnya kemudian.
"Tidak, karena Axel tidak punya Daddy makanya Mommy harus bekerja sendiri. Mommy adalah Mommy terhebat di dunia dan aku sangat sayang sama Mommy." sahut Axel dengan nada bangga dan itu benar-benar membuat Elsa merasa senang, karena putranya itu sangat memahaminya.
Meski baru berusia 5 tahun namun Axel sangat mengerti dan mandiri tak seperti anak-anak seusianya, sepertinya putranya itu tumbuh lebih cepat dari usianya dan itu semua karena keadaan yang membuatnya seperti itu.
"Baiklah, mau Mommy temani mandi ?" tawar Elsa kemudian.
"No Mommy, Axel sudah besar. Axel bisa mandi dan ganti baju sendiri." tolak Axel lalu segera berlalu pergi ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian mobil yang Elsa kendarai mulai membelah jalanan pagi itu, sepanjang jalan ia dan sang putra nampak bernyanyi bersama hingga tak terasa kini mereka telah sampai di sekolah.
Elsa nampak menggandeng tangan sang putra masuk ke dalam gerbang sekolah dan tanpa wanita itu sadari seseorang telah memotretnya diam-diam dari kejauhan.
Setelah memastikan Axel masuk ke dalam kelasnya, Elsa segera menemui sang guru untuk mengetahui perkembangan putranya tersebut dan setelah itu ia baru berangkat bekerja.
Hari ini ia hanya akan mengecek beberapa butiknya dan akan kembali ke sekolah sebelum putranya itu pulang.
Saat baru keluar dari salah satu butiknya Elsa merasa seperti ada yang mengawasinya, namun setelah mengedarkan pandangannya ia tak menemukan siapapun.
"Mungkin hanya perasaanku saja." gumamnya kemudian.
__ADS_1
Setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya Elsa bergegas masuk ke dalam mobilnya karena beberapa saat lagi putranya itu akan pulang sekolah dan ia tak ingin membuat bocah itu menunggu.
Mulai hari ini ia akan menjadi ibu sepenuhnya untuk putranya tersebut, ia sudah menyerahkan beberapa butiknya untuk di urus oleh orang lain hingga membuatnya mempunyai banyak waktu.
Ia juga mempekerjakan beberapa designer untuk membantunya hingga membuatnya tak harus lelah merancang semua pakaiannya seorang sendiri.
"Lihatlah itu Mommy ku, aku masih punya Mommy tidak seperti yang kalian katakan." ucap Axel pada teman-teman sekelasnya seraya menunjuk ke arah ibunya yang baru saja datang, kemudian bocah kecil itu langsung berlari ke arah wanita itu.
"Hai sayang, kenapa lari-lari hm ?" Elsa langsung terkekeh saat putranya itu memeluknya dengan erat.
"Axel sangat senang karena Mommy menepati janji untuk menjemputku pulang sekolah." sahut Axel dengan semangat.
"Tentu saja dan Mommy akan menjemputmu setiap hari, ngomong-ngomong apa mau makan es krim dulu sebelum kita pulang ?" tawar Elsa kemudian yang langsung di angguki oleh putranya itu.
Sementara itu di tempat lain Alex terlihat mulai bekerja kembali di kantornya, pria itu takkan berlama-lama meratapi nasib percintaannya dan membiarkan perusahaannya terbengkalai begitu saja.
Ia telah membangun usahanya dari nol dan ia takkan rela jika perusahaannya akan hancur begitu saja hanya karena seorang wanita.
Alex telah mengubur dalam-dalam perasaannya pada Elsa dan kini hanya dendam yang tersisa, siapa pun yang berani mempermainkannya maka ia akan membalasnya lebih kejam.
"Katakan informasi apa yang kamu bawa !!" ucapnya pada sang asisten saat pria itu baru saja datang.
"Saya membawa beberapa informasi mengenai nona, maksud saya wanita itu tuan." sahut sang asisten seraya menyerahkan sebuah dokumen, pria itu hampir saja keceplosan jika ia di larang menyebut nama wanita yang akhir-akhir ini membuat tuan besarnya itu sempat jatuh terpuruk.
Alex segera membuka dokumen yang di berikan asistennya tersebut lalu memeriksanya dengan teliti.
"Jadi dia mempunyai beberapa butik di Jerman dan beberapa negara bagian Amerika ?" ucapnya setelah itu.
__ADS_1
"Benar tuan, sudah satu tahun ini wanita itu membuka banyak cabang di berbagai negara dan beliau meraup untung yang tak sedikit dari sana." terang sang asisten yang membuat Alex nampak tersenyum sinis, bagaimana jika ia menghancurkan semua usaha wanita itu sepertinya akan menarik batin Alex tanpa perasaan.
Kemudian pria itu kembali memeriksa dokumen di tangannya itu dan matanya langsung memicing. "Di-dia mempunyai seorang putra ?" ucapnya tak percaya.