Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~140


__ADS_3

"Me-menikah saya sama dia? tidak saya tidak mau." tolak Anne, amit-amit ia mempunyai suami seperti James.


"Anne, ini bukan permintaan tapi perintah. Saya tidak suka orang yang sudah saya anggap keluarga bersikap pengecut dan lari dari tanggung jawab." tegas William menatap wanita itu lalu beralih menatap ke arah James.


"Benar Anne, kita sebagai wanita harus tetap meletakkan harga diri di atas segalanya." sambung Merry membenarkan perkataan suaminya.


Anne nampak menunduk kesal, karena pria di sampingnya itu sama sekali tak menyangkal dan menolak ucapan William.


"Bagaimana James ?" kini William beralih menatap James dengan serius.


James terdiam sejenak, meski ia tak merasa melakukan apapun tapi bossnya itu sudah melihatnya tidur dengan memeluk Anne tanpa busana dan siapa pun yang melihat pasti akan berpikiran yang sama dengan pria itu.


Tak ingin mengecewakan sang tuan yang sudah mengangkatnya dari jalanan membuat James tak berdaya untuk menolak meski sesungguhnya ini akan membuat masa depannya semakin rumit mengingat dia....ah sudahlah James terlalu pusing memikirkan hal itu.


Kemudian pria itu langsung mengangguk kecil. "Baik tuan, saya akan bertanggung jawab." tegasnya yang langsung membuat wanita yang duduk di sebelahnya itu nampak melotot menatapnya.


"Bagus, aku bangga padamu James." William terlihat bangga menatap pria yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu.


Sementara itu Anne terlihat sangat kesal. "Aku tidak mau menikah denganmu." lirihnya seraya menyikut lengan James dengan sedikit kasar.


"Baiklah Anne sekarang hubungi orang tuamu, kami akan segera kesana untuk melamar sekaligus menikahkan mu !!" perintah William kemudian.


"Tapi tuan...." Sungguh Anne tak rela menikah dengan pria itu.


"Cepat An, percayalah ini semua demi kebaikanmu." bujuk Merry, ia merasa senang jika sosok James yang akan menjadi pendamping wanita itu.


"Baik bu." Akhirnya Anne tak bisa menolak, lalu ia segera menghubungi orang tuanya.


Setelah menempuh satu perjalanan William dan rombongan sudah sampai di rumah Anne, rumah sederhana yang nampak tak terurus.


"Maaf tuan dan bu Merry jika anda kurang nyaman di sini." Anne merasa tak enak hati dengan keadaan rumahnya, ibu serta adik tirinya memang sangat pemalas mereka lebih menyukai menghias dirinya dari pada merapikan rumahnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, An." Merry mengulas senyumnya menatap mantan asistennya tersebut.


Setelah beberapa kali mengetuk pintu sang pemilik rumah nampak sinis saat membuka pintu apalagi ketika menatap ke arah Anne, namun saat pandangannya ke arah dua orang bule di belakangnya wanita paruh baya itu langsung mengulas senyum lebarnya.


"Sayang, akhirnya kamu datang juga. Kami semua sudah menantikan mu." seketika wanita paruh baya itu langsung bersikap ramah pada Anne, lalu menyuruhnya dan tamunya untuk segera masuk.


Anne hanya bisa tersenyum sinis, ibu tirinya itu memang pandai sekali berakting dan itu membuatnya muak.


"Silakan duduk tuan-tuan dan nyonya." perintah wanita paruh baya itu.


"Siapa yang datang, ma ?" tiba-tiba seorang gadis cantik keluar dari kamarnya dan saat menatap William gadis itu langsung terpesona.


"Ini lagi masih bocah sudah ngerti barang bagus." cibir Anne dalam hati saat menatap adik tirinya yang berbeda 3 tahun lebih muda darinya itu.


"Sudah diam, ayo duduklah !!" ibu tirinya Anne langsung menarik putri kesayangannya itu untuk duduk di sisinya dan tak berapa lama seorang pria nampak berjalan di bantu oleh tongkatnya itu datang mendekat.


"Papa." Anne yang sedari tadi hanya berdiri langsung berlari mendekati sang ayah, ayahnya yang dulu pria gagah dan berwibawa kini tinggal tulang karena penyakitnya namun tatapan tegas pria itu masih tetap sama.


"Hm, duduklah." sahut pria itu, hubungannya dengan sang putri memang kurang membaik karena di mata pria itu Anne sosok anak yang selalu melawan orang tuanya terutama sang ibu tiri.


"Baiklah sepertinya langsung saya mulai saja, sebenarnya kedatangan kami kesini karena ingin membicarakan suatu hal penting." ucap William memulai pembicaraan setelah memperkenalkan dirinya dan keluarganya tersebut.


"Hal penting apa? apa Anne membuat ulah lagi? apa dia mencuri di rumah anda? benar-benar anak tak tahu di untung." cibir sang ibu tiri menatap sinis ke arah Anne, mengingat waktu anak tirinya itu menghubunginya tak mengatakan apapun dan hanya mengatakan jika mau pulang.


"Ma, biarkan mereka bicara dahulu." sang ayah langsung menegur istrinya itu namun dengan nada lembut.


"Baiklah saya lanjutkan, jadi maksud kedatangan kami sebenarnya adalah ingin melamar putri anda untuk James adik saya." ucap William yang langsung membuat kedua orang tua Anne nampak melongo, terutama sang ibu tiri.


"Apa kau sedang becanda ?" cibir wanita paruh baya itu, bagaimana mungkin anak tirinya yang tidak seberapa cantik itu mendapatkan calon suami seorang bule.


"Benar bu, adik saya ini secepatnya akan menikahi Anne putri kalian." tegas William dan seketika wanita paruh baya itu merubah sikapnya pada Anne.

__ADS_1


"Ternyata diam-diam kamu pintar mencari suami nak, mama bangga padamu. Tasya itu contoh kakakmu jika cari calon suami itu yang benar." ucap wanita itu dengan tersenyum manis pada anak tirinya tersebut.


Gadis yang bernama Tasya itu nampak memberengut namun diam-diam ia melirik ke arah William dan Merry. Sepertinya ia sangat iri saat tangan wanita itu tak pernah lepas dari genggaman sang suami.


"Jadi bagaimana pak, ibu, apa lamaran kami di terima ?" tanya William memastikan.


"Oh tentu saja tuan, tapi ada syarat yang ingin kami ajukan." ucap wanita itu yang langsung membuat Anne menatapnya.


"Ma..." Anne ingin menyela tapi ibu tirinya langsung mengangkat tangannya sebagai isyarat agar ia diam.


"Putri kami adalah mahasiswi lulusan terbaik di kampusnya dan kami tak sedikit menghabiskan uang untuk membiayainya jadi sebagai kompensasi...." ucapan wanita itu langsung terjeda saat William menyelanya.


"Berapa yang anda minta ?" tanya William yang malas berbasa-basi.


"Tuan anda tidak perlu...." Anne tak dapat melanjutkan perkataannya saat mendengar bisikan dari ibu tirinya itu.


"Diam dan menurutlah jika ingin ayahmu tetap selamat." bisiknya yang langsung membuat Anne seketika terdiam.


"500 juta, tuan. Karena putri kami berkuliah di universitas favorit di kota ini." tegas sang ibu tiri yang membuat Anne langsung m3r3m4s bajunya.


Anne benar-benar tak berdaya dengan ancaman ibunya itu, padahal dulu ia bisa berkuliah karena usahanya sendiri yang mendapatkan beasiswa namun kini ibunya itu memutar balikkan fakta.


Dan ayahnya itu lihatnya, hanya diam saja seakan mendukung ucapan sang istri, ayahnya itu memang sangat bucin dengan ibu tirinya yang setiap hari selalu berakting sangat mencintainya hingga membuat ayahnya selalu menuruti kemauannya.


Dan kini harapannya hanya pada James, semoga pria bermuka datar itu tidak setuju hingga rencana pernikahan mereka gagal.


"Baiklah, berikan nomor rekening kalian saya akan transfer sekarang juga." tegas James yang langsung membuat Anne nampak melotot menatapnya.


"Tentu, tentu saja." ibu tirinya Anne segera membuka ponsel yang sedari tadi berada di dalam genggamannya itu.


Sementara itu James yang hendak mentransfer uang tersebut nampak menatap ponselnya di mana sebuah wallpaper menampakkan dirinya sedang memeluk seorang wanita.

__ADS_1


Wanita yang selama ini ia sembunyikan keberadaannya dari William, semoga ia siap menerima konsekuensi atas tindakannya saat ini. Menikahi wanita yang tidak pernah ia cintai hanya demi sebuah kata "Pengabdian".


__ADS_2