Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~207


__ADS_3

⚠️ Attention ⚠️ bacaan 21 tipis-tipis tapi sangat anu.. Jadi mohon di baca saat malam hari atau langsung skip saja.


...----------------...


James nampak tersenyum kecil saat melihat kegugupan di wajah istrinya itu, meski sebelumnya mereka sudah sering melakukannya tapi tetap saja perilakunya membuatnya merasa gemas.


"Kamu seperti anak perawan yang tak pernah di sentuh pria saja." cibirnya masih dari tempat duduknya.


"Apaan sih, jangan macam-macam tuan James ini di pesawat." Anne langsung menyilangkan kedua tangan di depan dadanya untuk membuat perlindungan dari serangan predator di sebelahnya itu.


"Macam-macam juga istri sendiri, siapa yang melarang ?" gerutu James yang kini kembali fokus dengan macbooknya dan itu membuat Anne merasa bersyukur karena pria itu kembali bekerja dan urung melakukan hal gila di dalam pesawat ini.


Namun sepertinya kelegaannya hanya sementara karena tak berselang lama sang suami mematikan macbooknya kemudian memasukkannya ke dalam tas kerjanya lalu menggeser meja di hadapannya itu menjauh.


"Kemarilah !!" ucapnya kemudian seraya menepuk pahanya yang tentu saja membuat Anne nampak menelan ludahnya.


"Tuan James ini di pesawat, bisakah kita melakukannya saat sampai di rumah saja." timpal Anne, semoga sepanjang penerbangan ia tak di kutuk oleh malaikat karena menolak keinginan suaminya itu.


"Memang mau melakukan apa? dan apa yang sedang kamu pikirkan? aku hanya ingin dekat dengan bayiku, apa dia baik-baik saja dengan penerbangan ini ?" ucap James dengan wajah datarnya yang tentu saja membuat Anne nampak salah tingkah.


"Astaga, sepertinya otakku sedikit bergeser."


Anne langsung merutuki dirinya sendiri, karena selalu menganggap suaminya itu kang mesum.


"Di-dia baik-baik saja, aku sudah meminum obat penguat kandungan dari dokter dan ku rasa dia akan baik-baik saja." sahutnya menjelaskan.


"Benarkah? syukurlah jika seperti itu. Apa aku boleh berbicara padanya ?" timpal James kemudian.


"Iya tentu saja." sahut Anne.


"Baiklah, duduklah di sini. Sejak aku datang aku belum berbicara padanya." James kembali menepuk sebelah pahanya yang mau tak mau membuat Anne segera beranjak dari duduknya lalu bergegas pindah ke pangkuan pria itu.


Gugup, itulah yang pertama kali Anne rasakan saat berada dalam dekapan pria itu. Jantungnya memang selalu tak aman jika berdekatan dengannya.


"Hei, jagoan kecil. Ini Daddy sayang, apa kau baik-baik saja di dalam ?" ucap James seraya mengusap lembut perut istrinya itu.


"Dia masih sangat kecil jadi tidak mungkin bisa mendengarmu bahkan anggota tubuhnya mungkin juga belum terbentuk sempurna termasuk telinganya." timpal Anne saat merasakan geli ketika suaminya itu mengusap perutnya dengan tangan kekarnya itu, namun usapannya langsung berhenti saat ia mengatakan itu.


"Meski dia belum bisa mendengarnya tapi paling tidak dia merasakan kehadiran Daddynya." ucap James kemudian.

__ADS_1


"I-iya tentu saja, bisakah aku kembali ke tempat dudukku ?" mohon Anne kemudian, duduknya nampak gelisah saat tak sengaja merasakan sesuatu yang mengeras ia duduki.


"Diamlah jangan bergerak, jika tidak kamu akan semakin membangunkannya." ucap James dengan suara mulai berat dan itu membuat Anne nampak menelan ludahnya.


"Makanya biarkan aku duduk di kursiku sendiri." timpal Anne, tubuhnya mulai merinding saat pria itu memeluknya dengan erat.


"Apa kamu tidak merindukanku, hm ?" ucap James seraya mengangkat wajahnya menatap istrinya itu.


"Ten-tentu saja merindukanmu." sahut Anne dengan tersenyum nyengir.


"Tapi aku takut padamu ?" imbuhnya dalam hati, beberapa waktu tak bertemu dengan pria itu membuatnya sedikit canggung.


Tubuh pria itu yang tinggi besar serta jambangnya yang entah berapa lama tak di cukur hingga tumbuh lebat di sekitar rahangnya membuat pria itu semakin terlihat misterius di mata Anne.


Sungguh meskipun pernah tinggal bersama selama beberapa bulan tapi Anne sama sekali tak bisa mengenali pria itu dengan baik.


Sisi hidupnya terlalu misterius bagi Anne sama halnya seperti seorang William, mungkin jika ada waktu ia ingin bertemu dengan Merry dan mengutarakan kegalauan hatinya apa wanita itu juga merasakan hal yang sama seperti dirinya.


Di matanya James kadang seperti pria normal namun di lain waktu pria itu terlihat seperti seorang monster yang dingin dan tak tersentuh.


"Jika merindukan ku, kenapa kamu membuang wajahmu? meski kita sempat terpisah tapi cinta dan sayangku tak pernah berubah, apa jangan-jangan kamu yang berubah ?" ucap James dengan nada dingin ketika istrinya itu selalu berpaling saat pandangan mereka bertemu.


Pandangan mereka nampak terkunci beberapa saat, tatapan yang penuh cinta dan rindu yang menggebu karena lama tak berjumpa. Lalu tanpa mereka sadari kini bibir keduanya telah saling menyatu.


Saling m3lum4t dengan lembut seiring perasaan yang membuncah karena sebuah kerinduan.


Lum4t4n yang tadinya lembut kini berangsur menjadi sedikit liar dan menuntut, Anne yang terbawa suasana pun nampak melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu dengan bibir mereka yang masih menyatu semakin dalam saling menyesap dan bertukar saliva bersama.


Merasakan istrinya mulai kehabisan oksigen, James langsung menyudahi panggutannya. Membiarkan wanita itu menghirup oksigen sebanyak yang dia mau.


Namun kini bibirnya turun ke leher putih wanita itu, memberikannya kecupan-kecupan kecil di sana dan sesekali menghisapnya dengan kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan di permukaan kulitnya.


Dan itu membuat sang istri semakin gelisah dalam pangkuannya, James yang merasakan miliknya mulai sesak tak bisa lagi menahannya.


Kemudian James segera menurunkan atasan yang di pakai istrinya itu bersama dengan bra hitamnya.


Kini wajah pria itu sudah berada di depan dada wanita itu yang tak lagi memakai apapun setelah ia singkirkan penghalangnya.


Kemudian langsung m3lum4t puncaknya dengan rakus hingga membuat sang istri berkali-kali mengerang nikmat dan itu membuatnya semakin berhasrat untuk melakukan lebih dari itu.

__ADS_1


"Aarggh, apa yang kamu lakukan ?" Anne langsung berteriak saat tiba-tiba pria itu mengangkat tubuhnya ke atas meja yang tadi di gunakannya untuk meletakkan macbooknya.


James menyeringai kecil, lalu segera menyingkap rok milik wanita itu hingga kini terlihat kain segitiga yang menutupi area sensitif wanita itu.


"Kau sudah sangat basah sayang." suara James semakin parau saat menatap pusat inti istrinya yang sudah sangat siap ia masuki.


"Tuan James apa yang kamu lakukan, ada banyak anak buahmu di luar ?" protes Anne saat pria itu tiba-tiba menarik kain segitiga yang membungkus miliknya itu lalu membuangnya begitu saja.


Anne langsung menatap horden yang masih tertutup rapat, namun bagaimana pun rapatnya horden itu suara percintaan mereka pasti akan kedengaran hingga keluar.


"Jangan khawatir mereka tidak akan peduli bahkan akan menulikan pendengarannya." sahut James dengan pandangan berkabut saat berada di depan inti wanita itu.


"Ahh, kamu benar-benar gila." umpat Anne di tengah d3s4h4nnya ketika pria itu sudah menenggelamkan wajahnya di bawah sana.


Sementara itu Mark dan beberapa anak buah James nampak memasang headset di telinganya, sepertinya mereka sedang asyik mendengarkan lagu favoritnya di lihat dari kepalanya yang sedikit bergoyang.


"Tunggu, kamu mau kemana ?" Mark langsung mencegah seorang pramugari yang sedang mendorong troli makanan menuju ruangan James.


"Mengantarkan pesanan tuan James." ucap wanita dengan dandanan menor tersebut.


"Tuan James sedang sibuk, nanti saja kamu kembali lagi." perintah Mark kemudian.


"Tapi tuan James meminta saya untuk segera membawanya." kilah sang pramugari, ia sudah berdandan cantik dan memakai parfum yang menurut sumber informasi yang ia dapatkan adalah parfum yang di sukai oleh pria itu.


Kapan lagi ia bisa menggodanya, karena pria itu jarang sekali menggunakan private jet. Meski ada seorang wanita di dalam yang menemani ia tak peduli.


Ia akan membuatnya tergoda dan berhasil mendapatkan nomor ponselnya, karena selanjutnya bisa saja mereka melakukannya di luar sana.


Lagipula ia tidak yakin James sosok pria yang setia, seperti layaknya seorang pengusaha lain yang sering bermain wanita meski sudah mempunyai kekasih atau bahkan istri dan anak sekali pun.


"Coba saja, jika kau tak ingin di lempar dari pesawat ini." timpal Mark kemudian tanpa berniat menghentikan wanita itu untuk masuk ke dalam ruangan sang tuan.


"Itu tidak akan terjadi tuan." sahut pramugari itu dengan tersenyum miring, lalu segera mendorong trolinya kembali.


Sesampainya di depan pintu yang tertutup horden, pramugari itu nampak menghentikan langkahnya saat tiba-tiba mendengar suara d3s4h4n seorang wanita yang membuat tubuhnya seketika menegang.


"Sial." gumamnya seraya mengepalkan tangannya.


.

__ADS_1


Kapok koe😬 dah ah melipir masih bocah🏃🏃


__ADS_2