Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~67


__ADS_3

Malam itu setelah Arthur membiarkan Merry di bawa oleh William, pria itu nampak memesan beberapa botol wine hingga membuatnya mabuk parah dan keesokan harinya ia terbangun di sebuah kamar hotel.


"Rupanya kau." ucapnya saat melihat Alex yang baru masuk ke dalam kamarnya, Arthur terlihat memijit pelipisnya yang terasa nyeri.


"Semalam kamu terlalu banyak minum." ucap Alex kemudian berlalu ke arah jendela lantas membuka tirainya, semalam pria itu melihat Arthur di sebuah bar dengan keadaan tak sadarkan diri.


"Itu sudah biasa." sahut Arthur seraya menurunkan kakinya dari ranjangnya.


"Semalam aku tak sengaja mendengarmu menyebut nama Merry." ucap Alex seraya menatap pria di hadapannya itu.


"Jadi benar Merry bersama William ?" imbuh Alex memastikan setelah semalam tak sengaja mendengar Arthur meracau tak jelas.


"Sepertinya aku semalam terlalu mabuk." kilah Arthur, Alex tak boleh tahu karena pria itu bisa menggagalkan rencananya untuk mendapatkan Merry.


Meski Arthur tak mengetahui bagaimana hubungan William dan Merry yang sesungguhnya tapi ia bisa melihat jika gadis itu tak bahagia bersama William dan ia akan memanfaatkannya dengan membuat Merry jatuh cinta padanya.


"Apa kamu tahu di mana William tinggal ?" tanya Alex kemudian.


"Kamu mau apa ?" Arthur nampak mengernyit.


"Tentu saja mencari adikku, sedari dulu pria itu sangat terobsesi dengan Merry jadi aku yakin dia yang menculiknya." terang Alex.


"Aku tidak yakin bukannya pria itu kekasih Natalie? jadi lebih baik kembalilah dan urus perusahaan ayahmu dulu, jika aku melihat adikmu pasti akan ku kabarkan." saran Arthur, sangat berbahaya jika Alex tetap berada di kota ini.


Kota di mana Merry berada dan bisa saja pria itu tak sengaja bertemu dengan gadis itu seperti di bar semalam.


Sementara Alex nampak mendesah kasar, pria itu sudah berkeliling dari bar satu ke bar lain untuk mencari keberadaan Merry bahkan ia juga sudah mendatangi berbagai tempat-tempat publik.


Ingin sekali ia menemui William tapi pria itu tak mudah untuk di jangkau.


"Apa untuk sementara waktu aku menggantikan Daddy saja memimpin klan ?" gumamnya, karena itu akan memudahkannya mendapatkan jaringan untuk mencari sang adik.


Bagi Alex rasanya tak percaya jika ayahnya seorang mafia karena selama ini yang ia tahu ayahnya adalah pengusaha.


Sementara itu di kediaman William, pria itu nampak kembali masuk ke dalam kamarnya setelah berbicara dengan dokter Sofie.


"Honey, kamu mau kemana ?" William seketika berlari saat istrinya itu akan beranjak dari tidurnya.


"Aku ingin mandi." Merry nampak meringis menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Tidak, ayo kembali ke ranjangmu." William membawa istrinya itu kembali ke ranjangnya, lalu mengusap puncak kepalanya dengan lembut.


"Tapi badanku kotor." Merry memohon.

__ADS_1


"Aku akan membantumu, tunggu di sini."


William segera beranjak dari duduknya kemudian berlalu keluar dan tak berapa lama pria itu kembali dengan wadah berisi air hangat dan sebuah handuk kecil.


"Aku bisa melakukannya sendiri."


Merry menolak saat suaminya itu hendak mengelap tubuh polosnya.


"Diamlah honey, aku yang akan melakukannya." tegas William dan itu membuat Merry tak berkutik lalu membiarkan pria itu mengelap sekujur tubuhnya hingga bersih lalu memakaikan pakaiannya.


Merry merasa William begitu lembut dan perhatian padanya dan itu membuatnya tersanjung.


Sepertinya ia takkan menyesali pengorbanannya semalam jika itu bisa membuat pria itu jauh lebih baik.


"Will." panggil Merry saat pria itu baru mengganti pakaiannya.


"Katakan mana yang sakit ?" William nampak khawatir dan itu membuat Merry terkekeh.


"Kemarilah aku ingin memelukmu." mohon Merry dengan nada manja seraya mengangkat kedua tangannya.


William nampak lega kemudian segera duduk di tepi ranjang lalu membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku." ucapnya kemudian.


"Aku baik-baik saja Will." Merry melepaskan pelukannya, lalu membingkai kedua rahang pria itu.


Willam menatap serius istrinya itu lalu menggenggam sebelah tangan gadis itu yang ada di rahangnya.


"Apapun itu ?" lirihnya yang langsung di anggukin oleh istrinya itu.


"Apapun itu, Will. Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu bagaimana pun masa lalumu." Merry meyakinkan.


William nampak menghela napas panjangnya, kemudian ia mulai membuka suaranya.


"Ibuku meninggal bunuh diri di saat usiaku 7 tahun." ucapnya kemudian yang langsung membuat Merry membungkam bibirnya sendiri tak percaya.


"Satu minggu setelah kematian ibuku ayahku membawa seorang wanita beserta anaknya ke rumah dan mereka mengaku jika baru saja menikah." Ada nada getir di setiap ucapan pria itu.


"Sejak saat itu hari-hariku seperti di neraka."


William nampak tersenyum sinis saat mengingat bagaimana masa lalunya dulu.


Merry langsung membawa suaminya itu ke dalam pelukannya, meski pria itu tak menceritakan secara detil tapi ia tahu bagaimana sulitnya pria itu melewati hari-harinya dahulu.

__ADS_1


"Berjanjilah padaku untuk mengendalikan emosimu, demi aku." mohon Merry setelah mengurai pelukannya lalu menatap pria itu.


William mengangguk kecil, kemudian mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir istrinya itu sekilas.


"Tolong bantu aku melupakan semuanya." mohon William, pria itu butuh Merry.


Gadis kecil yang sedari dulu selalu menjadi pusat kekuatan dan semangatnya.


Sepanjang hari itu William tak beranjak dari sisih gadis itu, pria itu seakan ingin menebus semua kesalahannya yang telah ia perbuat semalam.


William telah melukai psikis dan fisik gadis itu, menggaulinya dengan kasar hingga tak sadarkan diri.


Beberapa hari kemudian Merry mulai sehat dan selama dalam perawatan William sedikit pun tak pernah beranjak darinya.


"Will, aku ingin ke kampus apa kamu mengizinkan ?" mohon Merry pagi itu saat William sedang bersiap untuk pergi ke kantornya, setelah beberapa hari tak datang kesana.


"Ku mohon." Merry memasang wajah memelas.


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama karena kamu harus banyak istirahat." sahut William yang langsung membuat Merry tersenyum senang.


"Terima kasih." ucap Merry kemudian.


"Hanya itu ?" William menaikkan sebelah alisnya menggoda istrinya itu.


"Tentu saja tidak." Merry nampak berjalan mendekat lalu mengalungkan tangannya di leher suaminya itu lantas mengecup bibirnya.


Sejak mereka saling menyatakan cinta Merry tak enggan lagi mencium pria itu bahkan tak jarang gadis itu yang memulai duluan.


Kini bibir mereka nampak saling memanggut, Willam m3lum4tnya dengan rakus dan menuntut namun saat merasakan celananya mulai sesak pria itu segera mengakhirinya.


"Tolong jangan menggodaku pagi ini aku ada meeting penting." ucapnya seraya berjalan menjauh lalu mengambil tas kerjanya.


"Aku tidak merasa menggodamu, percayalah." Merry nampak terkekeh melihat suaminya yang sedang menahan gairahnya karena sejak peristiwa malam itu pria itu menahan untuk tak menyentuhnya.


Setelah William pergi ke kantornya Merry segera berangkat ke kampusnya lalu siangnya gadis itu memutuskan pergi ke kantor suaminya.


"Siang nona Merry, lama tak melihatmu." sapa sekretaris William dengan ramah.


"Apa tuan William ada ?" tanya Merry kemudian.


"Ada tapi...."


"Baiklah aku langsung masuk saja." sela Merry lalu segera masuk ke kantor William.

__ADS_1


Deg!!


Merry nampak terkejut saat melihat Natalie sedang memeluk William, tak ingin berpikir macam-macam gadis itu langsung saja masuk lalu menutup pintunya dengan keras hingga membuat mereka langsung menoleh ke sumber suara.


__ADS_2