
"Kau baik-baik saja ?" William langsung memegang lengan istrinya saat wanita itu hampir oleng karena menabrak dirinya.
"Wil...." Merry terkesiap sejenak lalu menggelengkan kepalanya.
"Ada apa hm ?" tanya William kemudian saat melihat wajah mendung wanita itu.
"Kenapa kau berkeliaran di sini? bukankah kau harusnya menemani Vivian di sana ?" tanya Merry pada akhirnya.
"Kenapa aku harus menemani dia saat wanita yang ku inginkan ada di sini ?" sahut William dengan menatap lembut istrinya itu.
"Tapi bukannya kalian...." Merry menjeda ucapannya saat William meletakkan jarinya di bibir wanita itu.
"Ayo ikut nanti kau juga akan tahu." William langsung menggenggam tangan wanita itu lalu membawanya ke tempat pernikahan tersebut berlangsung.
"Will...." Vivian langsung mengulas senyumnya saat melihat kedatangan mantan tunangannya itu.
"Selamat ya buat kalian semoga selalu bahagia." ucap William seraya menatap sepasang pengantin di depannya itu.
Ya itu adalah pernikahan Vivian dengan pria lain dan William yang merasa bersalah pada wanita itu karena sebelumnya ia tiba-tiba mengakhiri pertunangan mereka begitu saja, lalu ia berinisiatif memberikan hadiah pesta mewah di hotelnya untuk wanita itu.
"Terima kasih untuk hadiahnya yang indah ini aku dan suamiku sangat berterima kasih padamu, ya kan sayang ?" ucap Vivian lalu menoleh ke arah suaminya.
"Tentu saja, terima kasih banyak tuan William pesta pernikahan kami benar-benar indah karena anda." timpal pria itu kemudian.
Sedangkan Merry hanya bisa mematung di sisi William, sekali lagi ia telah meragukan mantan suaminya itu padahal pria itu sudah banyak sekali menunjukkan rasa cintanya padanya.
Namun banyak sekali pertanyaan di benaknya, bagaimana bisa Vivian tiba-tiba menikah dengan pria lain bukan dengan mantan suaminya itu. Apalagi wanita itu terlihat sangat ramah padanya berbeda jauh saat terakhir mereka bertemu.
Setelah berbasa-basi sesaat William segera meninggalkan pesta tersebut lalu membawa istrinya itu masuk ke dalam lift.
"Jangan terlalu banyak melamun." ucap William saat melihat istri cantiknya itu tak bersuara sama sekali semenjak di pesta tadi.
"A-aku tidak mengerti dengan semua ini." ucap Merry kemudian.
__ADS_1
"Nanti kita bicarakan di atas." sahut William seraya menekan tombol lift.
"Kita mau kemana, itu bukan lantai kamarmu ?" protes Merry saat William bukannya pergi ke lantai 19 di mana kamarnya berada tapi justru ke lantai teratas hotel tersebut yang ia sendiri pun tak pernah menginjakkan kakinya di sana semenjak kerja di hotel itu.
"Rupanya kau lebih memilih menghabiskan malam panjang di kamar bersamaku." ucap William seraya mengulurkan tangannya untuk menekan tombol lainnya, namun Merry langsung menahan tangannya.
"Tidak, ke lantai itu saja." ucapnya, wanita itu nampak bergidik ngeri membayangkan ucapan pria itu.
William langsung tergelak lalu membiarkan lift bergerak membawa mereka ke lantai teratas hotelnya tersebut.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai dan Merry nampak tercengang saat lift terbuka dan menyuguhkan sebuah pemandangan kolam renang dengan cahaya lampu yang tak begitu terang namun terlihat romantis.
"Kau tidak menyuruhmu untuk berenangkan ?" ucapnya menatap curiga mantan suaminya itu.
"Jika mau besok pagi kau bisa melakukannya." sahut William, tangan besarnya terus menggenggam tangan kecil wanita itu lalu membawanya menyususuri bibir kolam dan tibalah mereka di depan sebuah pintu.
William langsung menekan beberapa kode hingga kemudian pintu tersebut terbuka. "Ayo masuklah !!" ajaknya kemudian.
"Ini apa ?" Merry nampak menatap sebuah ruangan dengan meja yang penuh dengan makanan dan beberapa lilin yang menambah suasana semakin romantis.
"Terima kasih." Merry masih nampak bingung, namun ia tetap memulai makan malamnya karena perutnya yang sedari tadi sudah keroncongan.
"Kenapa kamu putus dengan Vivian ?" akhirnya Merry menyampaikan pertanyaan yang sedari tadi membuatnya penasaran.
"Tanpa ku jelaskan harusnya kau sudah tahu jawabannya." sahut William kemudian mengulurkan tangannya untuk mengusap lelehan saus yang ada di sudut bibir istrinya itu, lalu ia segera membersihkan jarinya itu dengan mulutnya sendiri dan itu membuat Merry nampak menelan ludahnya saat memperhatikannya dan wajahnya pun langsung bersemu merah.
Perlakuan William padanya sedikit pun tak pernah berubah tetap perhatian meski dalam hal sekecil apapun dan itu membuat perutnya seperti ada kupu-kupu terbang. Ia senang namun malu untuk mengungkapkannya.
"Harusnya kau bertanya sejak kapan kami mengakhiri hubungan." sambung William lagi.
"Hm, sejak kapan ?" tanya Merry pada akhirnya karena jujur ia juga penasaran.
"Apa kau tidak pernah menonton televisi atau berita online di ponselmu ?" tanya William sembari menatap istrinya itu.
__ADS_1
Merry langsung menggelengkan kepalanya. "Saat ada waktu luang aku selalu habiskan dengan menemani Ariel dan jujur aku masih sangat trauma untuk membuka situs online semenjak perusahaan Daddy aku buat bangkrut." sahutnya kemudian, pandangannya nampak nanar.
Perasaan bersalah selalu menghantuinya saat ia merelakan satu-satunya harta yang ayahnya punya harus jatuh ke tangan keluarga Alan akibat kesalahannya sendiri.
"Semua akan baik-baik saja percaya padaku."ucap William seraya mengulurkan tangannya lalu menggenggam tangan dingin istrinya itu.
"Aku mempunyai sesuatu buatmu, ku harap kau tidak terkejut setelah membukanya." William nampak mengambil sebuah kotak besar yang di ikat dengan pita merah.
"Ini apa ?" tanya Merry setelah menerimanya meski besar tapi kotak tersebut terasa ringan.
"Bukalah kau akan tahu isinya." perintah William kemudian.
Merry langsung membukanya dan di sana nampak sebuah dokumen dan ia segera mengambilnya dan memeriksanya.
"Ini ?" Merry nampak menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Dahulu itu adalah impiannya namun saat itu William yang tak kunjung mendaftarkan pernikahannya ke negara membuatnya seakan hilang harapan dan kini sebuah akta pernikahan mereka tercetak dengan rapi di dalam kotak tersebut.
"Ini asli ?" tanyanya kemudian entah kenapa ia masih tak percaya, ia kira saat meninggalkan pria itu ikatan pernikahan mereka telah berakhir karena sebelumnya tak terdaftar di negara.
"Tentu saja itu asli sejak 5 tahun yang lalu, maaf waktu itu aku belum sempat memberikannya padamu karena ku pikir kita akan selalu bersama." sahut William.
"Kau senang ?" sambungnya lagi yang langsung membuat istrinya itu mengangguk lalu menangis terharu.
William yang melihat itu segera beranjak, lalu melangkah mendekat. "Percayalah setelah ini, semua akan baik-baik saja." ucapnya lalu membawa wanitanya itu ke dalam pelukannya.
"Ini seperti mimpi, aku kira kita takkan bisa bersama lagi." ucap Merry di tengah isak tangisnya.
"Maafkan aku, maafkan aku." William nampak mengusap lembut punggung istrinya itu, pria itu juga nampak terharu dan tak terasa sudut matanya mulai mengembun namun ia segera menghapuskan.
William tak ingin terlihat lemah di depan wanita itu, meskipun itu air mata kebahagiaan sekali pun.
.
__ADS_1
Menuju part uwu, semoga nanti saya tidak mules saat menulisnya🤣🤣🤣