
"Nona, jika boleh tahu kapan anda terakhir haid ?" tanya dokter setelah memeriksa keadaan Merry yang langsung membuat gadis itu terhenyak.
Akhir-akhir ini Merry memang melupakan periode bulanannya itu.
"Sepertinya aku sudah telat hampir dua minggu dok." sahut Merry setelah mengingat kapan terakhir kali dirinya haid.
"Untuk lebih memastikan lagi, mari kita cek urine dulu dengan alat ini ya." ajak dokter tersebut seraya menunjukkan sebuah alat di tangannya.
Dengan tubuh sempoyongan Merry segera turun dari ranjangnya lalu melangkah menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian gadis itu nampak keluar dari sana dan itu membuat Martin maupun Alex semakin penasaran dengan hasilnya.
"Ini dok." Merry langsung menyerahkan alat pengetes kehamilan tersebut pada dokter karena ia pun merasa awam dengan hal itu.
Setelah melihat hasilnya, dokter itu langsung mengulas senyumnya
"Selamat ya nona, anda hamil tapi..." ucapnya yang sontak membuat Merry terkejut, namun detik selanjutnya gadis itu terlihat senang sekali meski perkataan dokter tersebut menggantung.
Tetapi tidak dengan Martin dan Alex, wajah mereka terlihat menegang seakan tak mengharapkan ada seorang bayi tumbuh di rahim Merry.
"Dad, kak Alex sebentar lagi aku akan jadi ibu." Merry sangat terharu, gadis itu langsung menitikkan air mata bahagia.
"Tapi apa dok ?" tanya Martin kemudian saat dokter tak melanjutkan perkataannya.
"Usia nona Merry baru 19 tahun tuan dan itu sangat rawan jadi tolong di jaga dengan benar dan usahakan mendapatkan gizi dan vitamin yang cukup." nasihat sang dokter.
"Aku dan janinku pasti kuat dok." Merry meyakinkan, ia pastikan akan menjaga dirinya dengan baik.
Beberapa saat kemudian dokter tersebut segera pergi setelah selesai memeriksa dan menyarankan Merry untuk segera ke rumah sakit karena alat di sana lebih canggih.
"Dad, aku harus segera memberitahu William." ucap Merry dengan antusias meski wajahnya terlihat pucat.
"Daddy yang akan mengabarinya, lebih baik kamu banyak beristirahat. Ingat, kata dokter kamu harus menjaga dirimu dengan baik demi keselamatan janin yang ada di dalam perutmu saat ini." nasihat Martin yang langsung di anggukin oleh Merry.
Setelah itu Martin segera berlalu keluar bersama dengan Alex.
"Bajingan itu benar-benar gila. Bisa-bisanya membuat putriku hamil, tidakkah dia tahu Merry masih sangat belia untuk hamil." geram Martin seraya menuruni anak tangga.
__ADS_1
"Jika sampai membahayakan putriku, aku tidak akan pernah mengampuninya." imbuhnya lagi.
Sementara itu William yang baru menghentikan mobilnya di depan Mansion Martin terlihat sangat bersemangat.
Sudah satu bulan lebih ia tak bertemu istrinya itu dan kini rasa rindunya sudah tak bisa ia bendung lagi.
"Biarkan aku masuk, Jack. Aku janji ini untuk terakhir kalinya." mohon William saat Jack langsung menghadangnya dan di ikuti oleh beberapa anak buahnya.
William yakin kali ini ia bisa bertemu dengan Merry dan takkan ada lagi drama seperti ini lagi.
"Tunggu sebentar, aku hubungi tuan Martin dulu." tegas Jack kemudian mengambil ponselnya.
Setelah berbicara dengan seseorang di telepon, Jack langsung membuka suaranya.
"Tuan Martin mengizinkanmu masuk tapi tanpa senjata, ponsel dan juga James." tegas Jack.
"Tapi..." James ingin menyela namun William langsung mengangkat tangannya agar ia segera menutup mulutnya.
"Baiklah." William nampak merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel dan juga senjata apinya lantas memberikannya pada James.
"Semoga anda baik-baik saja, tuan." James terlihat khawatir menatap kepergian sang tuan.
Ini kali keduanya William menginjakkan kakinya di dalam mansion Martin setelah pembantaian waktu itu.
Di dalam Mansion tersebut rupanya Martin sudah menunggunya, pria itu nampak duduk angkuh di kursi kebesarannya.
"Tuan Martin, aku ingin bertemu istriku." ucap William to the point.
Martin yang masih tidak rela anak gadisnya di hamili oleh William, nampak mengepalkan tangannya.
"Bukankah aku sudah memperingatkan mu untuk menjauhi putriku ?" ujar Martin membuka suaranya, pria itu masih bergeming di kursinya.
"Maafkan aku, nyatanya aku tidak bisa." sahut William.
"Aku mencintai putrimu, sangat mencintainya." imbuh William lagi.
"Omong kosong." hardik Martin.
__ADS_1
"Jika kau mencintainya harusnya bisa menahan perasaanmu bukan justru memperdaya gadis di bawah umur." imbuhnya lagi dengan kesal, sungguh putrinya masih terlalu kecil untuk menikah bahkan mengenal lawan jenis sekalipun.
Ayah mana yang tidak marah saat putri kesayangannya yang ia jaga dan rawat sejak kecil dengan penuh kasih sayang, tiba-tiba masa depannya di hancurkan oleh pria itu begitu saja.
"Tolong maafkan aku." William tiba-tiba bersimpuh di hadapan Martin, menanggalkan segala tahta, ego dan kehormatannya demi istri tercintanya.
Melihat itu William dan Alex nampak terkejut, namun sepertinya itu tak membuat ego Martin menjadi goyah.
"Aku memang salah sudah memperdaya Merry tapi aku lakukan itu semua karena aku sangat mencintainya." imbuh William seraya menatap Martin dengan wajah penyesalannya.
"Itu bukan cinta tapi hanya obsesimu semata." hardik Martin yang langsung membuat William tercengang, benarkah perasaannya selama ini hanya sebuah obsesi?
"Tidak, itu bukan obsesi tapi aku benar-benar mencintai Merry." William mencoba menyangkalnya.
"Jika kau mencintainya pasti tidak akan pernah menyakitinya, memperkosanya dan melukai tubuhnya saat amarahmu sedang memuncak." tuding Martin, pria itu tidaklah asal bicara.
Martin begitu mengenal putrinya, gadis itu takkan mungkin tidur dengan sukarela bersama seorang pria tanpa ada unsur pemaksaan.
Apalagi saat melihat luka bekas cambukan di sekujur punggungnya, bisa di pastikan William lah pelakunya.
William nampak tertunduk, pria itu tak dapat menyangkal atau pun membela diri karena itu hanya sia-sia saja.
"Kau juga mempunyai seorang putri bukan, bagaimana perasaanmu jika putrimu di perlakuan seperti itu oleh seorang lelaki ?" ujar Martin kemudian.
William langsung mengangkat wajahnya menatap Martin, lagi-lagi pria itu tak bisa berkata apa-apa.
Membela diri pun tak ada gunanya karena pada nyatanya dirinya memang bersalah.
Akhirnya William hanya bisa tertunduk lesu, sejauh apapun ia berusaha membela diri pria di hadapannya itu pasti tidak akan menyerahkan putrinya pada monster seperti dirinya.
"Putriku masih terlalu muda, biarkan dia hidup bebas menggapai cita-citanya. Bukan terkurung di istanamu dan menjadi pemuas hasratmu, apalagi menjadi sasaran amarahmu yang tak terkendali itu." tegas Martin seraya beranjak dari duduknya lalu mendekati William.
"Aku tahu putriku tidak akan pernah mau meninggalkan mu karena dia sudah terjebak oleh ilusimu itu tapi sebagai seorang ayah aku memohon padamu tolong tinggalkan putriku." mohon Martin dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.
Sungguh Martin tidak ingin putrinya di sakiti oleh pria itu, bekas luka di punggung Merry menandakan bagaimana bengisnya William saat penyakitnya kambuh.
"Tolong tinggalkan putriku dan jangan pernah muncul di hadapannya lagi." imbuh Martin dengan mata berkaca-kaca, ia hanya seorang ayah yang ingin menyelamatkan putrinya.
__ADS_1