
"Ganti pakaianmu."
James tiba-tiba berhenti hingga membuat Anne yang mengikutinya di belakang ikut menghentikan langkahnya.
"Kenapa di ganti? ini sudah bagus." tolak Anne seraya melihat penampilannya sendiri.
"Udara di luar sangat panas jadi tak seharusnya kamu memakai pakaian musim dingin seperti itu." James mengingatkan karena mungkin wanita itu belum mengenal musim di negaranya, lagipula sangat aneh kenapa tiba-tiba wanita itu berpakaian sangat tertutup seperti itu.
"Tapi di negaraku jika musim kemarau semua memakai jaket agar kulit tidak hitam." timpal Anne yang membuat suaminya itu langsung berdecak.
"Ck, terserah kamu saja." ucapnya lalu kembali melangkah dengan sedikit kesal, istrinya itu benar-benar keras kepala dan selalu saja menemukan jawaban untuk menyanggah ucapannya.
Sesampainya di mobil Anne segera membuka pintu bagian belakang, namun sepertinya masih terkunci. "Tuan James, bisa tolong buka pintunya." teriaknya sembari mengetuk kaca mobil.
James yang sudah berada di balik kemudi langsung menurunkan kaca mobilnya. "Duduk di depan, aku bukan sopirmu." ucapnya dengan tegas.
Anne yang mendengar itu mau tak mau membuka pintu mobil bagian depan lalu segera menghempaskan bobot tubuhnya di sana, rasanya enggan sekali berbagi udara dalam tempat yang sempit dengan pria itu.
Setelah itu James segera melajukan mobilnya meninggalkan kediamannya menuju sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kotanya tersebut.
Anne yang baru datang untuk pertama kalinya nampak terperangah menatap bangunan mall di hadapannya itu. Bangunan dengan beberapa lantai itu terlihat mewah mungkin karena masih baru di bangun. "Bagus sekali." gumamnya memuji, setelah itu ia mengikuti langkah suaminya yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mall tersebut.
Setelah melewati beberapa toko mereka tiba di sebuah supermarket besar khusus menyediakan bahan-bahan makanan.
Dengan tak sabar Anne langsung mengambil bahan makanan kering yang ia mau.
Sementara itu di tempat yang sama James nampak tak sengaja melihat Grace dari kejauhan yang sepertinya akan masuk ke dalam supermarket tersebut.
"Pilih semua barang yang kamu mau, saya pergi sebentar." James langsung menyerahkan troli belanjaan pada istrinya tersebut lalu bergegas pergi dari sana.
Anne rupanya tak peduli dengan kepergian suaminya itu namun saat melihat pria itu pergi dengan terburu-buru terbesit rasa penasaran di hatinya.
"Apa dia mau kabur dan tak mau membayar belanjaan ini ?" gumamnya seraya menatap belanjaan di dalam troli yang baru sedikit.
Akhirnya Anne menepikan trolinya lalu diam-diam mengikuti pria itu keluar dari supermarket tersebut.
"Apa yang kau lakukan di sini ?" tanya James setelah mendekati Grace yang hendak masuk ke dalam supermarket.
"Sayang kamu di sini juga ?" Grace yang terkejut dengan kehadiran James yang tiba-tiba langsung memeluk pria itu.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu." ucapnya kemudian.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini ?" ulang James seraya mengurai pelukan wanita itu.
"Aku hanya ingin melihat supermarketmu ah tidak tapi supermarket kita karena milikmu juga milikku bukan." sahut Grace yang langsung mendapatkan cubitan kecil di pinggangnya dari sang ibu.
"Kami ingin berbelanja buah James, mommy dengar supermarketmu ini menyediakan buah-buahan segar karena sejak di buka kami belum pernah berkunjung kesini dan karena sekarang Grace sudah mulai sehat dia ingin ikut juga." timpal Nyonya Barbara sang ibu mertua yang langsung menjelaskan maksud kedatangannya.
"Toko ini terlalu luas untuk membeli buah, nanti kamu kelelahan. Lebih baik kita beli di toko khusus buah saja." ajak James kemudian.
"Tapi...." ucapan Grace menggantung saat suaminya itu segera membawanya menjauh dari sana.
Sementara itu Anne yang sedari tadi melihat mereka dari kejauhan nampak melebarkan matanya, rasanya ia tak percaya dengan apa yang telah ia lihat namun melihat bagaimana suaminya berpelukan dengan wanita itu sudah menggambarkan bagaimana hubungan mereka.
"Ck, apa mereka tidak malu mengumbar kemesraan di tempat umum." gerutu Anne lalu kembali melangkah menuju trolinya berada.
Anne yang sedang kesal nampak memasukkan semua barang yang ia mau. "Kau pikir bisa berbuat curang di belakangku, aku juga bisa mencurangimu dengan merampok semua barang di sini." ucapnya sembari mengisi troli keduanya, tak tanggung-tanggung wanita itu nampak membeli barang yang paling mahal di sana.
Kini empat troli penuh sudah berada di hadapannya, dua troli makanan kering dan satu troli sayuran dan daging lalu satu troli lagi berisi alat kebersihan.
"Sepertinya ada yang kurang, apa aku harus menambah troli yang ke lima ?" Anne nampak menimbang keinginannya untuk berbelanja lagi, sepertinya kini moodnya mulai membaik setelah berbelanja. Ya begitulah wanita.
Pria itu terlihat geleng-geleng kepala melihat empat troli di hadapannya itu.
"Kenapa? kamu tidak mampu membayarnya ?" ejek Anne menatap suaminya itu.
James nampak menghela napasnya lalu memberikan sebuah debit card pada seorang karyawan supermarket tersebut.
"Bawa semua barang ini dan bayar di kasir." perintahnya kemudian.
"Maaf tuan apa semua barang ini akan di pindahkan ke supermarket cabang ?" tanya karyawan tersebut seraya menatap 4 troli di hadapannya tersebut.
"Antar ke rumah saya." ucap James lalu segera berlalu dari sana.
Karyawan tersebut hanya bisa bengong saat melihat banyak sekali belanjaan bosnya itu.
Sedangkan Anne yang di tinggal begitu saja langsung mengejar suaminya itu. "Tunggu dulu, bagaimana belanjaanku ?" ucapnya seraya menahan lengan suaminya itu.
"Nanti akan di antar ke rumah." sahut James, matanya nampak melirik ke arah lengannya yang di pegang erat oleh istrinya itu dan Anne yang menyadari langsung buru-buru melepaskannya.
__ADS_1
"Kita mau kemana ?" tanya Anne lagi saat mengikuti langkah pria itu.
James yang sedang melewati beberapa toko di mallnya tersebut nampak berhenti di sebuah butik ternama yang menjual pakaian wanita.
"Pilihlah pakaian di sini dan buang semua pakaianmu yang tidak layak." ucapnya kemudian seraya memindai penampilan istrinya itu dari atas hingga bawah.
"Pakaian ku belum berlubang jadi masih layak." Anne langsung membela diri, ia mana mungkin membuang pakaiannya yang ia beli dari hasil keringatnya.
"Tapi jika kamu memaksa aku tidak akan menolak, jadi ku harap kau tidak menyesal tuan James." sambungnya lalu bergegas masuk ke dalam butik tersebut.
"10 juta ?" Anne langsung melotot saat melihat harga sebuah kaos bermerk di hadapannya itu, namun senyumnya langsung terbit.
"Jika mau matre jangan nanggung Anne, borong semua pakaian di sini dan buat pria itu kapok dan segera menceraikanmu."
Anne langsung bermonolog dalam hati, lalu tanpa berpikir panjang wanita itu mengambil semua pakaian yang ia mau tak peduli kini meja kasir di hadapannya telah penuh dengan tumpukan barang belanjaannya.
"Total semua 17 ribu dolar ya tuan James." ucap petugas kasir setelah menghitung seluruh belanjaan Anne yang tentu saja membuat wanita itu langsung melotot bahkan hampir pingsan karena jika di rupiahkan total belanjaannya tersebut senilai 250 juta lebih.
Kemudian sudut matanya nampak melirik ke arah suaminya yang sepertinya tak bereaksi apapun bahkan pria itu dengan santainya mengeluarkan sebuah card dari dompetnya.
"Antar semua barang itu ke rumah." perintahnya kemudian.
"Baik, tuan." sahut sang kasir.
Setelah pembayaran selesai mereka segera meninggalkan mall tersebut. "Aku sangat lapar tidak bisakah kita mampir membeli makanan." mohon Anne, meski ia sempat sarapan tapi siapa tahu pria itu akan berbaik hati membawanya ke restoran mewah untuk makan siang. Bukankah matre harus totalitas.
"Kau sudah berbelanja bahan makanan senilai 50 juta apa itu masih kurang ?" cibir James dari balik kemudinya yang langsung membuat Anne menelan ludahnya.
"50 juta ?"
Anne masih tak percaya ia berbelanja sebegitu banyaknya, akhirnya wanita itu tak berbicara lagi sepanjang perjalanan mereka pulang.
Sesampainya di rumah Anne langsung melotot saat melihat belanjaannya sudah tersusun rapi di dapurnya bahkan ada sebuah lemari pendingin khusus sayuran dan daging di sana.
"Siapa yang merapikannya."
"Ini nota belanjaan kamu dan itu sebagai bukti hutangmu padaku." James tiba-tiba memberikan beberapa nota pada wanita itu.
"A-apa? hutang ?"
__ADS_1
Anne langsung melotot bahkan kini kakinya terasa lemas untuk menopang bobot tubuhnya sendiri.