Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~247


__ADS_3

Alex yang fokus mencari dokumen-dokumennya di atas meja langsung terkejut saat tiba-tiba Elsa duduk di sana.


"Kau !!"


Astaga, kenapa j4l4ng kecil ini selalu saja mengganggunya. Apa dia sedikit pun tak punya harga diri hingga rela merendahkan dirinya seperti itu? batin Alex.


"Kenapa ?" timpal Elsa dengan mengulas senyumnya menatap Alex yang nampak sedang kesal.


"Tidak bisakah kau tidak menggangguku? aku sedang mencari berkas penting jadi lebih baik jika kau menjauh dari sini !!" geram Alex namun juga bercampur gemas.


"Tidak bisa, aku sedang ingin di sini." tolak Elsa masih dengan menduduki berkas-berkas milik pria itu di atas mejanya.


"Oh, astaga." Alex mulai tak sabar, gadis di hadapannya ini seperti anak kecil yang merengek sebelum mendapatkan mainannya.


Tanpa berpikir panjang, Alex langsung mengangkat tubuhnya dari sana. Namun itu justru di manfaatkan oleh Elsa dengan melingkarkan kedua tangannya di lehernya hingga membuat Alex semakin kesal karena ia tak dapat menurunkannya.


"Apa yang kau inginkan? cepat katakan !!" ucap Alex dengan tak sabar.


"Bukankah sudah ku bilang aku menginginkan mu." sahut Elsa.


"Apa kau sedikit pun tak punya harga diri hingga rela mengemis pada lelaki seperti ini ?" hardik Alex dengan nada cibiran yang langsung membuat Elsa menggelengkan kepalanya.


"Harga diriku sudah kamu renggut beberapa tahun silam." gumamnya dalam hati.


"Ck, jadi sudah berapa banyak pria yang menyentuhmu selama ini hah ?" cibir Alex kemudian.


"Aku tak mengingatnya." sahut Elsa asal dan entah kenapa itu membuat Alex nampak kesal, membayangkan bagaimana para lelaki telah menyentuh tubuhnya.


Kemudian Alex langsung menghempaskan tubuh wanita itu di atas sofa saat merasakan pelukan di lehernya mulai mengendur.


"Diam di situ dan jangan menggangguku atau tidak, pergi saja dari sini. Aku sedang tidak ingin bermain-main !!" tegas Alex memberikan ultimatum, lalu kembali melangkah ke meja kerjanya karena ia harus menemukan berkas itu secepatnya.


Sementara Elsa yang lagi-lagi di abaikan nampak kesal, namun ia senang paling tidak pria itu tak mengusirnya.


"Memang kamu sedang mencari apa ?" tanyanya saat pria itu nampak sibuk membolak-balik berkas-berkasnya di atas meja.


"Bukan urusanmu." sahut Alex.


"Siapa tahu aku bisa membantumu." timpal Elsa tak menyerah dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


"Memang kau bisa apa selain tidak menggangguku ?" cibir Alex dengan setengah menggerutu tanpa menatap wanita itu.


"Siapa tahu aku bisa mengurangi kesulitanmu saat ini." sahut Elsa.


"Omong kosong !!" Alex nampak semakin tak sabar.


"Aku cuma ingin tahu saja kenapa kamu marah seperti itu ?" tanya Elsa dengan nada pelan dan itu membuat Alex nampak menatapnya.


Pria itu terlihat menghela napasnya sejenak sembari menatap Elsa yang memasang wajah datar dari tempat duduknya. "Aku sedang mencari berkas rancangan untuk proyek tower itu tapi tiba-tiba tidak ada." ucapnya kemudian dan tentu saja itu membuat Elsa nampak terkejut.


"Benarkah? tidak-tidak, aku sudah menginvestasikan banyak uangku di sana dan aku tak mau rugi begitu saja." protes Elsa mengingat ia sudah berinvestasi di beberapa proyek milik pria itu dan salah satunya proyek tower tersebut.


Karena merasa memiliki beberapa saham di perusahaan pria itu membuat Elsa tadi mampu mengancam sang sekretaris untuk segera meninggalkan mereka berdua di ruangan ini.


"Makanya diamlah di sana dan jangan ganggu aku." tegas Alex kemudian.


"Bagaimana aku bisa diam jika uangku akan melayang begitu saja ?" Elsa langsung beranjak lalu mendekati pria itu.


"Baiklah, kalau begitu bantu aku mencarinya dari pada terus-menerus protes itu bisa membuat kepalaku meledak !!" perintah Alex kemudian.


"Aku tidak mau, kamu yang menghilangkan kenapa aku yang repot mencarinya ?" tolak Elsa dan tentu saja membuat Alex langsung geram, karena wanita itu justru memperlambat pekerjaannya saja.


Bukannya takut Elsa justru melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. "Jika aku tidak mau, bagaimana ?" ucapnya dengan tersenyum menggoda.


Alex mulai kehilangan kesabaran, gadis ini benar-benar membuat kepala atas dan bawahnya emosi saja. Lalu melepaskan tangan wanita itu yang melingkar di lehernya dengan sedikit kasar.


"Diam di sana dan jangan menggangguku !!" perintahnya kemudian, lantas Alex kembali sibuk mencari berkas-berkasnya yang hilang.


"Dari pada kamu mencari yang sudah hilang kenapa tidak membuat yang baru saja ?" Elsa memberikan idenya tiba-tiba.


"Itu membutuhkan waktu lagi dan aku yakin berkas itu tidak hilang, pasti terselip di sekitar sini." timpal Alex yang kini pindah ke lemari di mana banyak berkas penting tersimpan di sana.


"Tapi aku yakin berkasmu itu sudah hilang." timpal Elsa lagi yang langsung membuat Alex menatapnya.


"Darimana kamu tahu? lagipula siapa yang berani mengambilnya, baik kantor maupun rumahku terproteksi dengan baik." terang Alex kemudian.


"Mungkin saja istrimu yang mencurinya." tukas Elsa dan tentu saja membuat Alex nampak geram.


"Jaga bicaramu, jika tidak tahu apa-apa jangan menuduh sembarangan. Istriku tidak mungkin melakukan itu lagipula untuk apa dia mengambilnya, aneh." sela Alex tak terima.

__ADS_1


"Ya namanya juga sudah biasa mencuri." timpal Elsa lagi.


"Astaga, apa kau tak bisa diam !!" Alex mulai jengah dengan lontaran demi lontaran yang keluar dari bibir j4l4ng kecil itu.


Akhirnya Elsa patuh dan hanya memperhatikan pria itu yang masih sibuk mencari berkas-berkasnya sembari mengumpat kesal.


"Apa kau masih menyimpan kerangka materinya ?" tanyanya kemudian.


"Hm." Alex nampak enggan menjawabnya.


"Berikan padaku !!" pinta Elsa kemudian yang tentu saja membuat Alex nampak mengernyit.


"Untuk apa ?" tanyanya tak mengerti.


"Ya tentu saja membuatnya ulang." sahut Elsa.


Alex menatapnya sinis. "Itu mustahil, aku dan timku bahkan membutuhkan waktu tiga hari untuk membuat itu. Lagipula nanti sore sudah harus di serahkan jadi lupakan ide bodohmu itu." cibirnya kemudian.


"Kamu saja belum memberikan ku kesempatan, bagaimana bisa kamu mengatakan aku bodoh atau jangan-jangan kamu dan timmu itu yang bodoh." balas Elsa dengan tersenyum miring.


"Kau !!" Alex kembali geram, astaga tidak bisakah wanita itu duduk diam dan tak mengganggunya?


"Bagaimana jika aku berhasil melakukannya ?" timpal Elsa kemudian.


"Tentu saja apapun yang kau mau akan ku kabulkan." sahut Alex tanpa berpikir panjang.


"Tapi jika kau tak dapat melakukannya, kau yang harus menuruti apapun kemauanku." imbuhnya lagi seraya menatap wanita itu dengan tersenyum licik, tiba-tiba otaknya traveling kemana-mana.


Si4l4n, virus wanita itu benar-benar sudah meracuni otaknya hingga membuatnya langsung membayangkan bisa menjamah setiap jengkal tubuhnya.


Apalagi saat mengingat bagaimana potret yang di kirim oleh wanita itu semalam, sangat seksi dan membuat miliknya di bawah sana seketika sesak.


"Baiklah." Elsa langsung mengulurkan jabat tangannya pertanda ia setuju dengan permintaan pria itu dan langsung di sambut oleh Alex.


Lantas pria itu segera mengambil kerangka materi yang di inginkan wanita itu. "Ku rasa kau terlalu percaya diri." cibirnya seraya meletakkan dokumen tersebut di hadapan wanita itu.


Harusnya Alex senang karena wanita itu mau berusaha membantunya, tapi kenapa tiba-tiba jauh dalam lubuk hatinya ia tak masalah kehilangan proyek jutaan dolar itu. Asal bisa mendapatkan wanita itu, tanpa harus melakukannya di kamar pribadinya.


Sepertinya Alex benar-benar sudah gila, karena mulai berniat melanggar prinsipnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2