Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~290


__ADS_3

Pagi itu Elsa terbangun saat mendengar langkah kaki seseorang, kemudian wanita itu segera beranjak dari sofa yang semalam ia gunakan sebagai tempatnya tidur.


Di lihatnya seorang perawat sedang mengganti botol infus milik sang putra, kemudian pandangannya beralih ke sisi ranjang Axel di mana Alex nampak tertidur di kursinya.


Sepertinya pria itu tertidur saat menjaga sang putra semalaman, seketika ia menyalahkan dirinya sendiri yang justru asyik tidur. Efek alkohol yang ia minum semalam benar-benar membuatnya tertidur pulas.


"Bagaimana keadaan putraku ?" tanyanya pada sang perawat.


"Demamnya sudah mulai turun nyonya dan suami anda menjaganya semalaman." timpal perawat tersebut seraya melirik ke arah Alex yang masih tertidur di kursinya.


"Baiklah, terima kasih." Elsa mengangguk kecil.


Setelah sang perawat pergi Elsa langsung mengambil selimut yang ia pakai semalam lalu ia gunakan untuk menyelimuti Alex.


Namun itu justru membuat pria itu membuka matanya. "Kau sudah bangun ?" ucapnya dengan suara parau khas bangun tidur.


"Hm, baru saja. Maaf aku semalam ketiduran." timpal Elsa dengan wajah bersalahnya.


"Tidak apa-apa, lain kali jangan menyentuh minuman itu lagi." Alex menatap Elsa dengan tegas.


"Akan ku usahakan." sahut Elsa.


"Bukan berusaha, tapi yakin tidak akan menyentuhnya lagi." sela Alex seraya beranjak dari duduknya, setelah menatap sang putra yang masih tertidur pulas.


Ia tak ingin suaranya mengganggu tidur putranya hingga ia menjauh dari sana saat berbicara dengan sang ibu.


"Kenapa kau jadi mengaturku? lagipula aku minum atau tidak itu bukan urusanmu, tuan Alex." Elsa langsung mengikuti langkah pria itu menjauh dari sang putra.


"Tapi mulai sekarang itu akan menjadi urusanku." tegas Alex kemudian.


"Kau memang ayahnya Axel, tapi bukan berarti bebas mengaturku sesuka hatimu." Elsa mengingatkan, karena di antara mereka memang tak ada hubungan selain sebagai ayah dan ibu kandungnya Axel.


"Kamu lihat dampak dari kamu minum semalam? bahkan Axel sakit pun kamu tidak tahu dan bagaimana nanti kamu bisa menjaganya ?" Alex benar-benar geram hingga membuat Elsa tak bisa berkata-kata lagi.

__ADS_1


"Kamu tidak tahu apa yang aku alami selama ini." Elsa mulai merendahkan suaranya.


Pria itu besar dan hidup di tengah keluarga kaya raya dan bahagia, sedangkan dirinya di besarkan di tengah keluarga yang tengah bermasalah hingga sikap dan karakternya pun terbentuk sesuai lingkungannya.


Alex nampak menghela napasnya sejenak. "Aku tahu semuanya, namun bukan berarti kamu bisa merusak dirimu sendiri. Ingat, masih ada Axel yang membutuhkan mu." timpal Alex dengan lembut yang langsung membuat Elsa menatapnya.


"Kamu tahu semuanya ?" tanya Elsa memastikan.


"Hm, semuanya." sahut Alex dengan yakin, lalu mengulurkan tangannya menyentuh kedua bahu wanita itu.


"Percaya padaku, semuanya akan baik-baik saja." ucapnya meyakinkan seraya menatap manik hazel wanita itu dengan lekat.


Pandangan mereka nampak terkunci beberapa saat dan entah siapa yang memulai kini bibir keduanya sudah saling bersentuhan.


Saling menyapuh dan m3lum4t bersama, ciuman yang sangat lembut namun mampu membuat darah mereka berdesir hebat.


Namun keduanya langsung melepaskan panggutan saat tiba-tiba mendengar suara Axel memanggil.


"Mommy !!"


Alex dan Elsa yang nampak salah tingkah langsung berlalu mendekati putranya itu. "Kau sudah bangun sayang? katakan mana yang sakit ?" ucap Elsa dengan khawatir namun di sambut senyuman oleh sang putra, sepertinya bocah kecil itu merasa senang dengan kedekatan kedua orang tuanya.


"Aku sudah sembuh Mommy." sahutnya kemudian.


"Benarkah anak Daddy sudah sembuh ?" kali ini Alex ikut menimpali.


"Tentu saja, aku akan sembuh jika Mommy dan Daddy tidak berantem lagi." sahut Axel dengan tegas dan itu membuat Alex maupun Elsa nampak saling menatap.


"Kami janji tidak akan berantem lagi sayang, benar begitu Mommy ?" tukas Alex seraya menatap Elsa.


Elsa yang di panggil seperti itu pipinya langsung bersemu merah, kemudian wanita itu memalingkan wajahnya ke arah sang putra.


"Tentu saja sayang, Mommy dan Daddy tidak akan berantem lagi." ucapnya memastikan yang langsung membuat Axel tersenyum senang.

__ADS_1


"Jadi setelah ini kita akan tinggal bersama-sama kan ?" mohon Axel dan sontak membuat Elsa menelan ludahnya.


"Itu tidak mungkin sayang, Mommy dan Daddy akan selalu menjadi orang tuamu tapi kami bukan pasangan suami istri jadi tidak bisa tinggal bersama." terangnya kemudian.


"Kenapa kalian tidak menikah saja ?" mohon Axel lagi dan bersamaan itu pintu ruangan tersebut nampak di buka dari luar.


"Hai sayang, bagaimana keadaanmu tante sangat khawatir sekali ?" ucap Carla seraya melangkah mendekati mereka dengan wajah khawatirnya.


"Putraku baik-baik saja Carl, terima kasih banyak sudah datang." timpal Elsa dengan mengulas senyumnya menatap sahabatnya itu.


"Syukurlah." Carla nampak lega kemudian ia beralih menatap ke arah Alex.


"Kau masih di sini sejak semalam ?" tanyanya dengan mengerutkan dahinya menatap pria itu.


"Tentu saja, Daddy menemaniku semalaman." celetuk Axel dan itu membuat Carla semakin tak mengerti.


"Daddy ?" ucapnya dengan wajah kebingungan, sejak kapan bocah kecil itu memanggil Alex dengan sebutan ayah?


"Carl, aku ingin bicara sebentar denganmu." Elsa langsung menarik tangan sahabatnya itu dan mengajaknya berlalu keluar dari ruangan tersebut.


Kini mereka telah berada di sebuah cafetaria yang ada di rumah sakit. "Ja-jadi Alex adalah pria brengsek itu ?" ucap Carla tak percaya dengan kenyataan yang baru saja ia dengar.


"Hm, aku sudah berusaha keras untuk menyembunyikan semuanya dari kalian, tapi dia yang mencari tahu sendiri." Elsa mengangguk kecil lalu menyerahkan beberapa hasil tes DNA pada sahabatnya itu.


Carla yang melihat itu langsung tercengang. "Lalu apa langkahmu selanjutnya? apa kalian akan bersama ?" ucapnya dengan nada kekhawatiran, meskipun ia sedikit pun belum merasakan cinta Alex padanya namun ia sudah terlanjur jatuh hati pada pria itu.


Elsa menggelengkan kepalanya. "Kamu tahu sendirikan aku tidak pernah mempercayai sebuah pernikahan, jadi ku rasa kami cukup menjadi orang tua bagi Axel tanpa harus ada ikatan apapun di dalamnya." terangnya kemudian.


"Tapi kasihan Axel, Els. Aku tidak apa-apa jika kalian ingin bersama, hubungan kami belum terlalu jauh hingga resiko untuk sakit hati sangat kecil. Ku mohon hidup bersamalah dengan Alex demi putra kalian." mohon Carla dengan menggenggam tangan Elsa.


Elsa nampak menghela napasnya sejenak, kemudian wanita itu kembali menggelengkan kepalanya. "Keputusanku sudah bulat, Carl. Hubungan kami hanya sebatas orang tua Axel dan tidak lebih dari itu." ucapnya kemudian.


"Aku akan selalu mendukung keputusanmu Els, jika kamu membutuhkan sesuatu jangan sungkan mengatakannya padaku." timpal Carla dengan tulus.

__ADS_1


"Terima kasih, Carl." Elsa nampak bersyukur memiliki sahabat seperti wanita itu, sejak dahulu selalu membantunya dengan tulus dan ikhlas.


Semoga keputusannya sudah benar, ia akan mencoba berdamai dengan hatinya dan semoga ia bisa bekerja sama dengan Alex untuk menjadi orang tua yang baik bagi Axel meski tanpa ada hubungan asmara di dalamnya.


__ADS_2