
"Apa benar yang di katakan oleh mereka ?" ucap Jennifer seraya menatap ke arah Anne.
"Begitulah, tadi tuan James memberikan ku tumpangan karena ada beberapa proposal yang mau di titipkan." sahut Anne tanpa rasa takut.
"Duduk bersebelahan ?" cecar Jennifer kemudian.
"Tentu saja masa aku duduk di atap mobil itu tidak lucukan." sahut Anne.
"Kau !!" Jennifer semakin murka namun saat akan melayangkan pertanyaannya kembali tiba-tiba seseorang berdehem hingga membuat semua orang menoleh.
"Tuan William ?" semua karyawan langsung membuat barisan lalu menyambut sang boss besar yang beberapa hari ini cuti karena sang istri melahirkan.
"Selamat pagi tuan William, selamat datang kembali di kantor." mereka langsung memberikan salam dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Sebentar lagi jam kerja di mulai kenapa masih berkumpul di sini ?" tegur William kemudian.
"Baik tuan kami akan segera ke ruangan kami masing-masing." ucap mereka dengan wajah ketakutan.
"Jangan ulangi lagi, baik itu tak ada saya maupun wakil direktur di sini. Mengerti !!" tegas William yang membuat mereka semakin ketakutan.
"Nyonya Darrien, kau senior di sini harusnya bisa menghandle para Juniormu !!" tegur William lagi pada nyonya Darrien yang baru saja datang.
"Baik tuan, maafkan kelalaian saya." ucap Nyonya Darrien dengan wajah tegang, Jennifer yang berdiri di sebelahnya pun nampak menunduk.
"Saya sudah membayar mahal kalian, jika memang sudah tak betah silakan angkat kaki dari sini. Karena di luar sana masih banyak yang antri untuk bisa bekerja di perusahaan ini." tegas William menatap satu persatu karyawannya yang nampak menunduk ketakutan.
"Baiklah, kembali ke ruangan masing-masing !!" perintah William tak ingin membuang waktu yang langsung di patuh oleh seluruh karyawannya tersebut.
"Anne, segera masuk ke ruangan saya !!" imbuh William dan sontak menghentikan langkah Anne, begitu juga dengan beberapa karyawan langsung melirik ke arah Anne.
"Baik tuan." Anne langsung mengikuti langkah William tak peduli beberapa pasang mata menatapnya dengan pandangan iri dan tak suka.
Sesampainya di ruangan William, Anne segera menutup pintunya dari dalam.
"Selamat pagi tuan, ada yang bisa saya bantu ?" ucapnya kemudian.
"Kamu kenapa masuk kerja ?" ucap William seraya menghempaskan bobot tubuhnya di atas kursi.
"Saya merasa baik-baik saja tuan, karena merasa kesepian di rumah jadi lebih baik saya bekerja saja." sahut Anne.
__ADS_1
"Tapi kamu sedang hamil." timpal William kemudian.
"Saya tak ada keluhan tuan, saya merasa baik-baik saja." terang Anne.
"Tapi tetap saja jika kecapekan akan berpengaruh pada bayi yang kamu kandung." tegur William dengan nada khawatir.
"Ada Rose yang selalu membantu saya tuan." sahut Anne beralasan.
"Baiklah jangan terlalu di paksa, istirahatlah di ruangan suamimu jika lelah." timpal William lagi.
"Terima kasih tuan atas perhatiannya." Anne sedikit membungkukkan badannya memberikan hormat.
"James sudah ku anggap seperti adikku sendiri begitu juga denganmu dan anak yang kamu kandung juga akan menjadi keponakanku jadi jagalah dia baik-baik." terang William kemudian.
"Baik tuan, terima kasih." sahut Anne.
"Baiklah, kamu bisa pergi sekarang !!"
Anne langsung menganggguk dan setelah berpamitan wanita itu segera meninggalkan ruangan bossnya itu.
"Ck, tak ada tuan James giliran tuan William yang di goda." sindir beberapa karyawan yang Anne lewati hingga membuatnya nampak tersenyum sinis.
"Wanita si4l4n, rupanya dia terang-terangan menantang kita." ucap salah satu dari mereka.
Sementara Jennifer yang memperhatikan dari kejauhan nampak mengepalkan tangannya, rupanya asisten yang ia anggap tak berarti apa-apa itu ternyata mampu mencuri perhatian dua pria penguasa kantor ini.
"Aku harus berbuat sesuatu." gumamnya lalu ia menghubungi seseorang di ponselnya.
"Halo kak, bisa bicara sebentar." ucapnya menghubungi kakaknya tersebut.
Jam makan siang pun telah tiba, Anne yang enggan makan siang bersama dengan karyawan lainnya lebih memilih memesan makanan dari luar lalu memakannya di sebuah taman umum yang ada di samping kantornya.
"Ehm, kenapa sendirian ?" ucap seseorang tiba-tiba yang langsung membuat Anne menoleh.
"Tuan Marco ?"
Anne langsung terkejut saat menatap seorang pria yang menggunakan topi itu nampak melepaskan masker di hadapannya.
"Aku senang kamu masih mengingatku." timpal Marco seraya menghempaskan bobot tubuhnya di sebelah Anne.
__ADS_1
"Apa yang anda lakukan di sini ?" Anne mencoba bersikap biasa saja meski dalam lubuk hati ia merasa khawatir.
"Ini taman umum bukankah untuk semua orang ?" Marco balik bertanya.
Anne mengangguk kecil. "Ya, kau benar." timpalnya kemudian.
"Kenapa makan sendiri di sini ?" tanya Marco penasaran, padahal kata sang adik di dalam gedung perkantoran milik William ada Cafetaria mewah.
"Hanya ingin cari suasana." sahut Anne, entah kenapa lama-lama berbicara dengan pria itu rasanya tak semenyeramkan bayangannya.
"Kau di bully ?" ucap Marco to the point yang langsung membuat Anne mengangkat wajahnya menatap pria itu.
Pandangan mereka nampak terkunci beberapa saat namun Marco yang merasakan detak jantungnya tak karuan langsung mengalihkan pandangannya.
"Wanita si4l4n." umpatnya, karena bisa-bisanya ia di buat tak berkutik hanya karena tatapan matanya yang indah itu.
"Begitulah, padahal aku hanya seorang asisten." timpal Anne kemudian dengan wajah sedihnya dan Marco yang diam-diam meliriknya nampak iba.
"Butuh bantuanku ?" ucapnya kemudian.
"Untuk ?" Anne langsung mengernyit tak mengerti.
"Memberikan mereka pelajaran mungkin." timpal Marco dengan bersungguh-sungguh dan Anne bisa melihat ketulusan pria itu.
"Kau mau melakukannya untukku ?" pancingnya kemudian.
"Tentu saja, bukankah kita berteman ?" sahut Marco kemudian.
"Sejak kapan ?" Anne langsung terkejut namun juga ingin tertawa, astaga kenapa pria garang di hadapannya ini jadi sepolos itu.
"Sejak kita kenal mungkin." sahut Marco dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Baiklah, benar-benar temankan? bukan teman makan teman ?" Sahut Anne dengan nada sindiran seraya menatap reaksi pria itu, ia khawatir Marco mendekatinya hanya karena ingin memanfaatkannya untuk menghancurkan suaminya meski ia masih yakin pria itu belum tahu statusnya saat ini.
"Selama ini aku tak pernah berteman dengan seorang wanita, jadi aku tidak tahu harus bersikap bagaimana tapi aku bersumpah benar-benar ingin menjadi temanmu." timpal Marco kemudian dan itu terdengar sangat tulus di telinga Anne.
Anne nampak terdiam, tiba-tiba terbesit ide gila di pikirannya. Sungguh ia ingin tahu sejauh mana pria di hadapannya kini ingin menghancurkan suaminya dan sepertinya ia harus mencari tahu dengan menjadi orang terdekatnya.
"Baiklah, kita berteman sekarang." sahut Anne tanpa berpikir panjang seraya mengulurkan jabat tangannya dan tentu saja itu membuat Marco seperti mendapatkan sumber mata air di tengah padang sahara.
__ADS_1