
Sesuai rencana sebelumnya akhirnya malam itu Elsa pergi ke salah satu casino, di mana ia mendapatkan informasi jika bisnis gelap itu adalah milik mantan kakak iparnya.
Ia harus segera menyelidikinya, jika benar maka pria itu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Pertama kali menginjakkan kakinya di tempat tersebut, Elsa harus di hadapkan pada beberapa bodyguard bertubuh gempal dengan pakaian jas lengkap.
Mereka langsung memeriksanya bersama dengan Sam sang asisten, setelah melewati serangkaian pemeriksaan baru wanita itu dan sang asisten di izinkan masuk.
Semakin masuk ke dalam hingar bingar musik sudah terdengar di telinganya, asap rokok pun bertebaran di mana-mana dan para pengunjung terlihat sudah memenuhi beberapa mesin judi yang ada di sana meski malam sudah mulai larut.
Setiap pengunjung pria nampak di temani oleh wanita cantik dengan pakaian seronok, bahkan mereka tak hanya menemaninya bermain namun juga siap memuaskan hasrat mereka jika di minta.
"Anda baik-baik saja, nona ?" tanya Sam khawatir ketika melihat Elsa nampak menggeleng kecil.
"Tiba-tiba perutku mual." ucap Elsa saat pandangannya tak sengaja melihat seorang wanita sedang memuaskan hasrat tamunya.
"Nona, tuan, apa anda ingin memesan meja? di sebelah sana ada yang kosong." timpal seorang pria saat menyambut kedatangan Elsa dan Sam.
"Tidak, nanti saja. Kami ingin minum dahulu." tolak Elsa seraya melangkah menuju bar yang ada di sana.
"Baiklah, jika membutuhkan sesuatu panggil saja aku." timpal pria tersebut.
Sementara Elsa dan Sam kini duduk di sebuah meja depan bartender, sesekali mereka nampak mengawasi setiap pengunjung yang datang kesana.
Lebih tepatnya mereka mencari sosok Bennedict yang belum terlihat sejak mereka datang.
"Di mana bosmu ?" tanya Elsa to the point pada sang Bartender yang baru saja menghidangkan minuman untuknya.
"Bosku? dia ada di meja paling ujung." sahut sang Bartender seraya menunjuk seorang pria paruh baya berperut buncit yang nampak berperan sebagai seorang bandar di mana terlihat tumpukan uang berada di hadapannya.
"Maksudku bos besarmu, pemilik casino ini ?" tanya Elsa lagi, ia yakin Casino ini bukan milik pria yang di tunjuk tersebut.
Sang Bartender nampak terdiam, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa berniat menjawab pertanyaan Elsa.
"Kau tak mau mengatakannya ?" desak Elsa seraya meminta gelas kedua setelah ia menghabiskan minumannya tersebut.
__ADS_1
"Rupanya kau peminum ulung." timpal sang Bartender seraya menuang kembali minuman ke dalam gelas milik Elsa, minuman mahal yang bisa menunjukkan tingkat sosial seseorang dan pria itu yakin wanita di hadapannya ini bukan wanita biasa.
"Jadi kau tak mau mengatakannya ?" desak Elsa tak menyerah.
"Tetaplah di sini kau akan tahu nanti." sahut sang Bartender penuh misteri.
"Baiklah." Elsa kembali menyesap minumannya.
"Ngomong-ngomong, ada apa ingin bertemu dengan bos besar kami ?" tanya sang Bartender mulai penasaran.
"Aku ingin membicarakan bisnis dengannya." sahut Elsa beralasan yang langsung membuat pria itu nampak mengangguk-anggukan kepalanya.
Malam pun semakin larut, namun pria yang di maksud sang Bartender pun belum kunjung datang. "Kau membohongiku ?" ucap Elsa dengan tak sabar.
"Mungkin beliau tidak datang malam ini, karena tidak setiap malam beliau ada di sini." sahut sang Bartender.
"Kau tahu di mana dia tinggal ?" tanya Elsa tak menyerah, namun Bartender itu sepertinya enggan memberitahu, pria itu justru sibuk meracik minumannya kembali.
Tak kehilangan akal, Elsa langsung mengeluarkan beberapa gepok uang dari dalam tasnya. "Ku rasa itu cukup untuk membuatmu mengatakannya." ucapnya dengan wajah sedikit angkuh dan tentu saja itu membuat sang Bartender terbelalak saat menatap uang tersebut.
"Beliau tinggal di tower Apartemen tengah kota, tanyalah pada security di kamar berapa Ben 201 tinggal." ucap Bartender tersebut memberikan informasi.
"Ben 201 ?" Elsa nampak tak mengerti.
"Itu sebuah kode rahasia ku harap kau tak mengatakan siapa yang memberitahumu, karena tuan Ben akan murka jika tahu." terang Bartender tersebut.
"Tuan Ben ?" Elsa memastikan orang yang ia maksud adalah mantan kakak iparnya tersebut.
"Tuan Bennedict." ucap Bartender tersebut yang tentu saja membuat Elsa nampak sangat senang, tak sia-sia ia mengeluarkan banyak uang hanya untuk mengetahui keberadaan bajingan itu.
Namun saat Elsa hendak meninggalkan tempat tersebut tiba-tiba terdengar suara tembakan hingga membuat para pengunjung berhamburan.
"Nona pegang tanganku." teriak Sam saat banyak pengunjung lalu lalang untuk meninggalkan Casino tersebut, ia takut nona mudanya itu terdesak oleh mereka.
"Kita harus segera pergi dari sini, Sam." teriak Elsa kemudian.
__ADS_1
Suara tembakan masih saja terdengar dan beberapa pengunjung pun nampak menjadi korban, beginilah sisi gelap tempat tersebut.
Jika ada pengunjung yang kalah berjudi dan tak bisa menerimanya mereka akan menggunakan kekerasan untuk merampok uangnya kembali tak peduli harus menimbulkan banyak korban.
Elsa yang sudah masuk dalam kerumunan untuk keluar dari sana, tiba-tiba tangannya terlepas dari genggaman Sam akibat desak-desakan para pengunjung hingga membuatnya berpisah jauh dari asistennya tersebut.
"Sam, tidak ku mohon jangan tinggalkan aku." teriak Elsa, bagaimana pun juga pria itu yang selama ini melindunginya hingga membuatnya mempunyai keberanian seperti saat ini selain uangnya tentu saja.
Saat Elsa hampir kehilangan napas karena terdorong kesana kemari, tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang.
"Lepaskan aku." teriaknya.
"Diamlah, untuk sementara waktu di sini aman." ucap seseorang yang suaranya terdengar tak asing di telinganya hingga membuat Elsa langsung mendongakkan kepalanya menatap pria bertubuh tegap dan kekar itu.
"Tu-tuan Alex ?" ucapnya tak percaya saat melihat Alex berada di sana juga.
"Ck, dasar J4l4ng kecil. Apa kau tak mempunyai tempat lain untuk menjajahkan tubuhmu selain di tempat seperti ini ?" cibir Alex dengan nada mengejek.
"Bukan urusanmu." sahut Elsa dengan kesal, kemudian wanita itu segera menjauhkan tubuhnya namun pria itu kembali menariknya merapat.
"Sudah ku bilang tempat ini aman tanpa kau harus keluar dari sini, kecuali jika kau ingin terinjak-injak oleh mereka." tegas Alex hingga membuat Elsa diam tak berkutik.
Beberapa saat kemudian semua pengunjung sudah keluar dan nampak seorang pria yang tadi membuat ulah telah tertangkap.
"Tuan, kami sudah menangkapnya." lapor seorang pria pada Alex.
"Bawa ke markas, buat dia menyesal karena telah masuk ke tempat ini !!" perintah Alex kemudian.
"Baik, tuan."
Beberapa anak buah Alex langsung membawa pria tersebut keluar dari sana dan yang lainnya membawa para korban ke rumah sakit.
Sementara Elsa yang masih berdiri di tempatnya nampak tercengang, apa hubungan Alex dengan tempat ini. Apa pria itu juga mengenal seorang Bennedict? mantan kakak iparnya tersebut.
Banyak sekali pertanyaan di benak Elsa dan ia harus segera mencari tahu.
__ADS_1