
Anne yang baru selesai bersiap segera meninggalkan kamarnya, lalu menghempaskan bobot tubuhnya di kursi seberang suaminya.
Pandangannya langsung jatuh pada menu sarapan yang terhidang di atas meja makan, lalu matanya beralih ke arah dapur di mana pelayannya itu sedang sibuk di sana.
"Hari ini Mark tidak bisa mengantarmu jadi kita berangkat bersama ke kantor." ucap James memecah keheningan di antara mereka.
Anne yang sedang mengunyah makanannya langsung menatap suaminya itu. "Aku bisa naik transportasi umum." sahutnya kemudian.
"Saya tidak suka penolakan." tegas James dan seketika membuat Anne meletakkan sendoknya di atas piring dengan sedikit kasar.
"Kenapa kamu suka sekali memaksa ?" geramnya.
"Jika kamu naik kereta maka akan terlambat sampai kantor dan kantor tidak pernah mentolerin setiap karyawan yang terlambat masuk." timpal James tanpa terpengaruh oleh kemarahan istrinya itu bahkan pria itu terlihat sangat santai.
Anne nampak mengerucutkan bibirnya, walaupun yang di katakan pria itu benar adanya. Mengingat saat pertama kali ia datang terlambat, karena menggunakan kereta dan berakhir mendapatkan omelan dari sang HRD.
"Tapi bagaimana jika karyawan di kantor melihat kita datang bersama ?" tanya Anne kemudian, karena sampai saat ini tak ada yang mengetahui hubungan mereka yang sebenarnya.
"Aku tidak peduli." sahut James seraya mengelap bibirnya dengan tisu, lalu segera beranjak dari duduknya.
"Tapi aku yang peduli, bagaimana jika mereka berpikir macam-macam ?" timpal Anne lagi yang tentu saja membuat suaminya itu urung pergi, lalu menatapnya sejenak.
"Kenapa harus peduli dengan ucapan mereka? aku membayar mereka untuk bekerja bukan untuk bergosip." tegas James lalu kembali melangkah pergi.
"Iya kamu bosnya, sedangkan aku pasti akan menjadi bahan ghibahan seantero kantor." gerutu Anne dengan kesal, kemudian wanita itu menyudahi sarapannya karena sudah tak berselera lagi.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di kantornya dan sesuai yang Anne pikirkan banyak pasang mata yang melihatnya turun dari mobil wakil direkturnya tersebut.
Sepanjang ia melangkah terdengar bisik-bisik yang tak mengenakan hati, bahkan pandangan mereka pun terlihat tak bersahabat saat menatapnya.
"Hm."
Tiba-tiba suara deheman menghentikan langkah Anne saat hendak masuk ke ruangannya. "Kemarin dari mana saja? pergi begitu saja dan tak kembali, kamu pikir ini kantor nenek moyangmu ?" tegur nyonya Darrien dengan nada galak seperti biasanya, wanita itu lebih pantas di sebut James versi wanita. Karena setiap perkataan yang keluar dari bibirnya terdengar pedas dan menyebalkan.
Anne nampak menghela napasnya, malas sekali berdebat di pagi hari karena bisa membuat moodnya berantakan.
"Kenapa diam saja? asal kamu tahu tuan James mempercayakan semua karyawan padaku, jadi aku mempunyai kuasa untuk memecat siapa saja yang tidak mematuhi peraturan di kantor ini. Jadi cepat jelaskan padaku jika tidak...." ucapan Nyonya Darrien terhenti saat Anne tiba-tiba menyelanya.
"Jika tidak apa? mau memecatku? bagaimana jika kemarin tuan James yang membuatku tak bisa kembali ke kantor, apa kau juga akan memecatnya ?" sela Anne dengan tersenyum miring menatap HRDnya itu.
__ADS_1
"Apa maksudmu ?" Nyonya Darrien langsung melebarkan matanya.
"Silakan bertanya sendiri pada tuan James, karena aku tidak mempunyai waktu untuk menjelaskan." sahut Anne, lalu kembali melangkah masuk ke dalam ruangannya.
"Tunggu dulu, siapa yang menyuruhmu masuk !!" Nyonya Darrien langsung mencekal lengan Anne hingga membuat wanita itu menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan menatapnya.
"Nyonya Darrien saya sedang banyak kerjaan." keluh Anne dengan nada kesal.
Nyonya Darrien yang memperhatikan leher putih Anne nampak memicing saat melihat ada tanda merah keunguan di sana.
"Anda membuang-buang waktu saya saja." rutuk Anne saat wanita dewasa di hadapannya itu tak mengatakan apapun, kemudian ia segera masuk ke dalam ruangannya meninggalkan wanita itu yang masih nampak syok tanpa sepengetahuannya tentu saja.
"A-apa mereka kemarin tidur bersama ?"
Tanpa sadar Nyonya Darrien nampak mengepalkan tangannya, terlihat sebuah amarah tersirat di matanya.
"Bu, apa nyonya Darrien melakukan sesuatu padamu ?" cecar Andrew saat melihat managernya itu baru masuk ke dalam ruangannya.
"Tidak, memang kenapa ?" tanya balik Anne.
"Syukurlah, nyonya Darrien sedikit pun tak mentolerin sebuah kesalahan dan pasti akan langsung memecatnya." terang Andrew.
"Itu benar sekali bu, terutama karyawan wanita yang mencoba merayu tuan James." timpal karyawan lainnya yang bernama Caroline.
"Kenapa begitu? apa dia naksir tuan James? rasanya tidak mungkin, apa dia tidak ingat dengan umurnya." Anne langsung mengernyit saat mengingat HRDnya itu sudah berusia di atas 40 tahunan sedangkan James baru 30 tahun.
"Kami tidak tahu bu, tapi selama ini memang seperti itu beliau." Caroline nampak mengedikkan bahunya tak mengerti.
"Sudah-sudah jangan di bahas lagi, ayo kembali ke meja kalian masing-masing !!" perintah Anne kemudian, lalu ia juga masuk ke dalam ruangannya.
Wanita itu tak ingin pusing memikirkan hal yang bukan menjadi urusannya, lebih baik ia fokus dengan pekerjaannya saja.
Di tempat lain James yang baru mendapatkan telepon dari Grace bergegas meninggalkan kantornya siang itu, pria itu terlihat terburu-buru setelah mendapatkan kabar jika istrinya itu baru saja terjatuh.
Entah apa yang akan ia lakukan pada wanita itu, karena semenjak mengetahui penghianatannya ia belum pernah menemuinya. Bukan karena ia membiarkannya begitu saja, namun ia masih memikirkan janin yang di kandung wanita itu.
Ia khawatir emosinya bisa menyakiti kandungan wanita itu dan jika memang janin itu adalah darah dagingnya maka ia akan merasa sangat bersalah.
Jika sudah begitu lalu apa bedanya ia dan kedua orang tuanya yang tega menyakiti darah dagingnya sendiri, meski hidupnya selalu bersinggungan dengan dunia hitam James masih mempunyai hati nurani untuk tidak melakukan itu.
__ADS_1
"Apa yang telah terjadi, katakan bagaimana kandungannya ?" tanya James saat kedatangannya di sambut oleh sang ibu mertua.
"James, sebenarnya...."
James yang tak sabar mendengar penjelasan ibu mertuanya, langsung saja melangkahkan kakinya ke arah kamarnya lalu membuka pintunya dengan sedikit kasar.
Di sana nampak Grace sedang duduk dengan santai di depan televisi dan terlihat kaget saat melihat kedatangannya.
"Sayang, akhirnya kau datang juga." ucapnya seraya menghambur ke pelukan pria itu.
"Kau membohongiku ?" James langsung mengurai pelukan wanita itu.
"Maafkan aku, jika aku tak berbohong kamu tidak mungkin langsung datang ke sini. Jarak dari kantormu hanya 1 jam tapi kenapa kamu berat sekali untuk datang kemari, apa kamu tak merindukan anakmu ini ?" cecar Grace mengingat dalam bulan ini pria itu hanya mengunjunginya sekali.
"Apa kamu yakin dia anakku ?" ucap James dengan amarah yang coba ia tahan.
"Ten-tentu saja ini anakmu sayang, apa kamu lupa kita sudah beberapa kali menghabiskan waktu bersama ?" Grace terlihat gugup.
James nampak mengeraskan rahangnya. "Katakan di mana kamu menyembunyikan bajingan itu ?" geramnya saat ia kehilangan jejak Nick, pria yang ia percaya untuk menjadi bodyguard istrinya itu ternyata justru menghianatinya.
"Aku tidak mengerti maksudmu, sayang." Grace mencoba membujuk.
"Lalu ini apa ?" James yang di penuhi oleh amarah langsung melempar beberapa foto kebersamaan wanita itu dengan sang bodyguard.
"I-ini tidak seperti yang kamu lihat, kamu salah paham." ucap Grace seraya memunguti satu persatu fotonya di atas lantai.
"Salah paham ?" James langsung menyeringai mendekati istrinya itu lalu ia mengulurkan tangannya dan mencekik wanita itu.
"Sudah berapa kali kau tidur dengannya? katakan !!" hardiknya tanpa ampun.
"James, lepaskan kau sudah menyakitinya. Bagaimana jika anakmu kenapa-kenapa? ingat James kau membawa Nick kemari setelah istrimu itu di nyatakan hamil, jadi bagaimana bisa kau menuduhnya hamil dengan pria lain." terang nyonya Barbara dengan wajah khawatir, karena pria itu hampir membunuh putrinya.
James yang mendengar perkataan ibu mertuanya itu langsung mengendurkan cekikannya hingga membuat Grace langsung mendorongnya dan pergi menjauh.
Wanita itu terlihat memucat dengan napas terengah-engah. "Jika kau memang tak mempercayai ini anakmu, untuk apa aku dan dia hidup lagi." ucapnya, kemudian mengambil pisau buah di atas meja lalu menggoreskannya ke pergelangan tangannya hingga darah segar nampak mengucur.
"Grace, apa yang kamu lakukan ?" Nyonya Barbara langsung merebut pisau di tangan putrinya tersebut.
Sementara James nampak terpaku seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.
__ADS_1